
Han kali ini tampil rapi dengan kaos ketat di balut jas yang menempel sempurna di tubuh atletisnya. Ia memasuki restoran mewah itu sambil melihat layar ponselnya. Mencari sosok cantik sesuai gambar yang ia peroleh dari kakeknya.
Seorang gadis terlihat melambaikan tangannya pada Han yang sedang mengitarkan pandangan untuk mencarinya. Gadis yang terlihat lebih cantik dari foto yang dikirimkan kakeknya itu berdiri sambil tersenyum ke arahnya.
Han terpana melihatnya. Sambil berjalan ia coba memastikan apakah gadis ini yang dilihatnya saat ia menjemput kedua orang tuanya di bandara kemarin.
Gadis itu memperkenalkan diri sambil mengangsurkan tangannya meminta berjabat tangan.
"Celin..."
"Han.." Jawab Han sambil menjabat tangan si cantik.
Buru-buru ia menarik tangannya karena jantungnya berlompatan ketika telapak tangannya bersentuhan dengan kulit halus Celin.
Celin menatap Han dengan senyum di kulum membuat lelaki di depannya menelan ludah. Han merasa salah tingkah dengan sorot mata penuh puja dari si cantik jelita yang ada di depannya.
"Han....." Panggil Celin.
__ADS_1
"Iya saya..." Han tiba-tiba menjadi seperti orang bodoh yang sedang terpesona dengan gadis sempurna di hadapannya. Penampilannya kali ini lebih modis dari pada kemarin saat ia baru turun dari pesawat. Menggunakan rok sepan di atas lutut dengan atasan yang memperlihatkan leher jenjangnya yang seputih susu.
"Masih ingat denganku?" Tanya Celin masih menatap wajah Han dengan senyuman di bibirnya yang berwarna merah. Ini di luar ekspektasi Han yang mengira mereka akan berkomunikasi memakai bahasa Inggris tapi ternyata gadis blasteran itu fasih bicara dengan menggunakan bahasa Indonesia dan logatnya juga tidak kebule-bulean. Bahkan ia seperti orang asli Indonesia.
Mendengar pertanyaan Celin Han merasa tersadar dan kembali ke dunia nyata.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu ?" Tanya Han heran. Seingatnya ia tak pernah punya teman atau kenalan gadis blasteran secantik dia. Celin adalah sosok sempurna sesuai dengan kriterianya.
"Waktu sekolah dasar dulu di mana?" Tanya Celin seperti menginterogasi membuat Han merasa tidak nyaman. Lelaki dewasa itu kemudian menyilangkan kedua tangannya untuk menetralisir degupan jantungnya juga untuk membuat dirinya lebih berwibawa agar tak diremehkan oleh gadis cantik di depannya.
"Jawab saja.....! Aku hanya mau bertemu dengan Han ku. Aku mau memastikan kalau kamu adalah Han yang kukenal dulu...."
Han semakin mengernyitkan keningnya. Bagaimana bisa seorang gadis blasteran bersikap impulsif pada pertemuan pertama mereka.
"Ayo jawab.... dulu kamu sekolah dimana ?" Celin sudah tak sabar untuk mendengarkan penuturan Han dan ia berharap kalau Han yang ia cari adalah Han yang sedang duduk di depannya sekarang.
"Wait, kita disini bukannya untuk membicarakan perjodohan yang dilakukan oleh kakek kita?" Tanya Han ingin mengetahui arah pembicaraan mereka. Kenapa jadi membicarakan tentang masa kecil.
__ADS_1
"Aku hanya mau melanjutkan perjodohan ini kalau kamu memang benar-benar Han yang kucari..." Kata Celin mantap.
Han menarik nafasnya dalam-dalam karena pada pertemuan pertamanya justru dia yang ditolak oleh wanita. Han merasa tidak pernah mengenal atau bertemu dengannya dan Han tidak tahu Han yang dimaksud oleh si gadis itu Han yang mana, Han yang bagaimana. Satu yang pasti, ia ingin melanjutkan perjodohan ini.
"Apa kamu suka gadis yang.... bertubuh gendut?" Celin mulai lagi dengan interogasinya.
"Gendut? Well.... aku lebih suka gadis seksi sepertimu...." Ujar Han jujur.
Celin kemudian mengambil ponselnya untuk mencari fotonya di masa lalu.
"Asal kamu tahu, aku dulu gendut seperti ini...." Celin menunjukkan gambar masa kecilnya pada Han kemudian segera berdiri.
"Tunggu dulu..." Han mencekal lengan kecil Celin sesaat tapi segera dilepaskannya.
"Kenapa? Apa sekarang kamu mau bilang kalau kamu pernah melihatku di masa lalu?" Kata Celin menebak apa yang akan dikatakan Han.
Dan memang benar pria itu ingin mengatakan kalau ia seperti familier dengan foto gadis kecil yang gendut tadi tapi diurungkannya saat melihat Celin marah dan kecewa padanya.
__ADS_1