
Kemacetan yang terjadi di luar bandara membuat seorang lelaki muda yang duduk di balik kemudi mengitarkan pandangannya. Tak sengaja matanya melihat sosok gadis cantik yang berputar-putar dengan kebahagiaan yang terpancar dari senyuman di wajahnya.
"Tin tin tin....."
"Tin.... tinnnn.....tinnnn ...... tinnnnnnn!!!!"
"Han...!!!" Teriak seorang wanita yang tidak lain adalah ibunya.
"Ya Alloh.... Hann!! Itu yang di belakang sampai macet begitu....!" Teriak sang ibu membuyarkan lamunan sang putra.
Han yang sadar telah menambah kemacetan segera melajukan mobilnya kembali meski tak rela melepaskan si cantik dari pandangan matanya.
"Matanya dijaga Han....!!!" Gerutu ibunya.
"Iya mami,... pandangan pertama itu hadiah kan?" Jawab si anak tanpa merasa bersalah.
"Iya yang pertama itu hadiah tapi harusnya langsung menundukkan pandangan bukannya malah nggak berkedip dan menikmatinya... Dasar lelaki..... semuanya sama saja!" Katanya penuh emosi.
__ADS_1
"Ada pemandangan indah masa dilewatkan begitu saja... " Jawab Han berkilah.
"Aku nggak kayak anak kamu ya Ay....!!" Sergah sang suami yang duduk disampingnya dan sedari tadi hanya diam saja.
"Like father like son..." Jawab Han lagi.
"Kamu.....!!" Pria paruh baya bernama Basofi itu merasa geram pada putranya sendiri tapi ia mengurungkan niatnya untuk marah karena sang istri terlihat ngambek dan memalingkan muka ke arah jendela.
"Yank.... kamu kan tahu aku sudah bosan dengan berba...." Basofi menghentikan kata-katanya karena ingat ada putranya di antara mereka. Basofi lebih memilih diam terlebih dahulu. Dia berniat akan merayu sang istri kalau sudah sampai di rumah nanti.
Namanya Laksamana Burhan, putra dari Basofi Sudirman dan Sofiyah. Ia adalah salah satu pewaris keluarga Han. Keluarganya adalah orang keturunan Cina dan Jawa yang punya kerajaan bisnis di beberapa titik di Indonesia.
Meski keturunan Cina tapi ia tidak punya bakat berdagang dan enggan masuk ke dunia bisnis untuk mewarisi usaha keluarga. Hidupnya hanya digunakan untuk bersenang-senang sesuai jiwa mudanya.
Dia ikut komunitas sosial untuk membantu korban bencana alam dan berbagai kegiatan sosial yang diadakan. Terkadang dia juga pergi ke suatu desa terpencil yang membutuhkan jasa guru atau kesehatan untuk memberi penyuluhan.
Dalam satu bulan bisa dihitung jari berapa hari ia ada di rumah karena selebihnya dia lebih suka mengembara pergi berkeliling dunia.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, kedua orang tuanya nampak bertengkar kecil seperti biasa dan Han acuh saja dengan pemandangan seperti itu. Sudah biasa. Ujung-ujungnya nanti drama orang dewasa dan keuwuan yang membuatnya ingin muntah.
Saat memasuki ruang tamu ternyata ada kakeknya yang bermata sipit sedang duduk dengan wajah ditekuk-tekuk.
"Yeye.....!!!" Han memeluk kakeknya untuk melunakkan hati sang pria yang sudah tak lagi muda.
"Duduk!" perintah sang kakek tak terpengaruh dengan rayuan gombal cucunya.
"Miss you a lot ye.....!" Kata Han sambil melepaskan pelukan kemudian duduk di depan sang kakek yang berwajah garang.
"Nanti malam kamu harus ketemu sama Celin. Yeye nggak mau tahu....." Katanya dengan tegas.
"Yeye.... ayolah please !!! Han bukan anak kecil yang harus diatur ini itu. Apalagi ini untuk masalah pernikahan. Kenapa mesti harus dijodohkan? Han masih sangat muda ye..... Han masih ingin berpetualang...."
"Dia adalah cucu teman yeye yang baru datang dari Belanda. Kalau kamu ingin yeye kena tekanan darah tinggi dan masuk rumah sakit tidak perlu datang. Nanti kau akan menangis kalau yeye sudah dikuburkan..."
"Ye...!!!" Han memanggil kakeknya yang pergi meninggalkannya setelah mengatakan hal yang tidak-tidak.
__ADS_1