
"Kenapa you bisa kerja keras seperti ini? Padahal kalau you mau Uncle Daniel pasti mau nransfer uang tiap bulan ke rekening you....." Kataku mencoba menggali alasan dibalik semua yang ia lakukan.
"Kita ini beda ko....aku tahu siapa diri ini...."
"Mulai la-gi...." Kata ku jengah saat ia mengungkit jati dirinya.
"Bagaimanapun aku mencoba meyakinkan diriku tapi kenyataannya aku ini memang hanya seorang anak yang beruntung dan bisa diterima dengan sangat baik oleh keluarga besar Han"
"Rasanya sudah lama sekali kita tidak pernah berbincang seperti ini. Kenapa selama ini you nggak pernah cerita apa-apa?" Tanyaku pelan karena rindu dengan masa kecil kami.
"Kapan kita ketemu nya....? Koko aja jarang di rumah, sibuk baksos kemana-mana sampai lupa sama keluarga".
Deg
Aku merasa tertampar sekaligus marah mendengar sindiran lana tapi aku mencoba diam saja karena ingin mendengar penuturannya. Aku ingin tahu bagaimana tanggapannya tentang diriku selama ini. Apa aku ini dianggap benalu keluarga? Tidak kan?
"Aku ingin berterima kasih pada papa yang sudah mau menyayangiku seperti anak sendiri, aku ingin membuatnya bangga" katanya yang membuatku diriku langsung terhempas dari ketinggian.
Kenapa selama ini aku hanya berusaha untuk berbuat baik pada banyak orang yang tidak kukenal tapi keluarga sendiri malah kuabaikan? Kenapa aku tidak punya rasa seperti Lana yang ingin membanggakan kedua orang tua dan keluarga besar kami.
"Iya pak?" Lana tiba-tiba berdiri ketika ada seorang bapak yang datang dan langsung melihat pajangan vocer di dalam etalase.
"Pulsa...." Jawab si bapak tanpa melihat Lana.
"Pulsa biasa, paketan internet atau paket telpon ?" Tanyanya dengan ramah.
"Yang biasa itu lho mas, buat nelpon.... wong hapenya jadul kok..." Si bapak merogoh sakunya dan menunjukkan hape tempoe doeloe. Aku sampai ternganga melihatnya. Di jaman modern seperti ini ternyata masih ada orang yang memakai hape kecil tebal yang hanya bisa buat telpon dan berkirim pesan.
"Kalau mau, ada yang bisa buat telpon saja dengan masa aktif satu bulan..........." Lana menjelaskan panjang lebar sampai mulutnya berbusa tapi kemudian si bapak hanya menjawab sekilas saja.
"Pulsa biasa saja mas , saya nggak ngerti paket-paketan. Pulsa saja dua puluh ribu..."
Pulsa dua puluh ribu? Aku baru tahu itu karena selama ini aku tidak pernah ngisi pulsa untuk ponselku. Semua sudah ditangani oleh mami, aku tinggal pakai saja tanpa tahu diisi mami berapa.
Lana kembali duduk setelah si bapak pergi.
"Ngapain you jelasin panjang lebar kalau ujung-ujungnya dia tetep kekeh sama permintaannya yang tadi"
"Aku cuma ingin para pelanggan itu mendapatkan apa yang mereka butuhkan tapi mereka kerap menolak. Mungkin caraku menjelaskan yang kurang dipaham kali ya ko?"
__ADS_1
"Ngabisin waktu nyo...."
"Yah..... niat baik kan nggak sia-sia. Niat menolong orang biar uangnya nggak habis buat beli pulsa aja. Kalau beli sesuai kebutuhan kan uangnya bisa buat keperluan yang lain..."
Aku diam mendengar penjelasannya. Coba kalau dulu aku diperbolehkan masuk ke pesantren sama seperti Lana pasti sekarang aku juga punya ilmu agama yang banyak.
"Ko....!" Lana ragu-ragu memanggilku.
"Hem....!" Jawabku.
"Sampai kapan koko marah sama keadaan?"
"Maksud you?" Aku mengernyit mendengar pertanyaannya yang ambigu.
"Aku rasa I'ie dan pak-pak sekarang juga menyesal karena dulu tidak mengizinkan Koko untuk belajar di pesantren."
Ku tatap tajam matanya yang tenang. Aku cukup terkejut dengan apa yang dia katakan tapi aku juga penasaran dengan apa lagi yang akan ia utarakan.
"I'ie pernah bilang sama aku kalau dia nggak akan bisa nahan rindu kalau koko jauh. I'ie juga bilang kalau sering sakit kepala dan akan hilang kalau koko yang mengusap kepalanya."
Pikiranku mencoba menganalisa perkataan Lana. Memang benar dulu mami sering memegang tanganku dan mengusapkannya di kepalanya beberapa kali tapi seingatku mami nggak pernah bilang apa-apa.
"Pak-pak dan I'ie sekarang nggak pernah ngelarang-ngelarang koko itu karena mereka merasa bersalah ko...."
Aku memang masih punya rasa kesal pada papi mami yang tidak mengizinkanku untuk sekolah di pondok pesantren. Aku ingin menunjukkan pada mereka kalau seperti inilah anak yang sekolah di sekolah internasional. Tapi sampai kapan aku akan balas dendam pada kedua orang tuaku?
"Tidak memaafkan kesalahan orang lain itu seperti minum racun tapi ingin orang lain yang mati..." Katanya lagi yang membuatku langsung memberengut.
"Jauh amat perumpamaannya..." Kata ku ketus.
"Iya emang gitu ko. Memaafkan orang lain itu karena kebutuhan kita bukan karena orang yang berbuat salah. Toh bagaimanapun mereka berdua orang tua kandung yang punya banyak hak atas diri anaknya. Mereka ingin koko bekerja karena banyak orang yang bergantung pada perusahaan besar milik keluarga. Itu juga termasuk sedekah dan menurutku lebih mulia daripada bakti sosial. Membantu para karyawan memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara yang terhormat. Be-ker-ja" Lana diam sesaat sambil menatapku yang sedang mengalihkan pandangan karena semua yang dia ucapkan memang benar tapi aku belum klik juga.
"Ada banyak hadist tentang keutamaan bekerja yang sering kuingat-ingat kalau lagi malas. Salah satunya
Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.”
Kami diam beberapa saat sampai
terlihat Purwanto memarkirkan motor bebek milik Lana dan sepertinya dia tidak membawa apa-apa.
__ADS_1
"Mas, orangnya nggak jualan..." Kata Purwanto. "Terus aku beli ini satu, buat aku aja" Katanya lagi.
"Kenapa nggak beli tiga sekalian?" Tanya Lana.
"Ini nasi jagung mas, nasi rakyat. Kalau mas Lana dan koko nanti perutnya nggak cocok terus diare kan bisa berabe...." Katanya berargumentasi.
"Sok iye lu..... Tiap hari kan aku beli macam-macam jajanan di pasar dan perutku aman-aman saja, Alhamdulillah.... Kamu ya...." Lana kemudian menatapku dan berkata, "Jalan-jalan yuk ko.... cari jajanan...."
"Jangan mas.... matahari nya sudah panas nanti kulitnya jadi gosong kayak saya lho. Sayang kan.... Nanti gantengnya pindah ke saya semua loh....,.."
Lana menggelengkan kepala mendengar pegawainya yang ternyata suka bercanda.
"Ambil aja tuh .... gantengnya si koko. Kebanyakan dia..." kata Lana sambil menunjukku dengan dagunya.
"Apaan?" Jawabku.
"Orang ganteng itu emang beda ya sama orang biasa. Kalau orang ganteng itu kayak nggak merasa kalau dia ganteng tapi kalau orang yang mukanya pas-pasan seperti saya pasti suka ngaku-ngaku mirip aktor yang gantengnya kelewatan" Katanya sambil duduk di bawah.
"Duduk sini....." Kataku sambil berdiri dari kursi
"Nggak suka duduk di kursi dia koh.... " Kata Lana sambil berjalan menuju motornya yang terparkir di depan tokonya.
"Aku pinjam motor kamu aja.... pingin keliling-keliling pasar sendirian" Kataku sambil berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.
" Nih....!" Lana melempar kontak sepeda motornya padaku dan langsung kutangkap dengan kedua tanganku.
Yup
"You selalu bawa helm dua?" Tanya ku penasaran.
"Iya buat jaga-jaga barangkali ada yang mau nebeng pulang dan searah ..." Jawabnya logis.
"Buat yang muda-muda aja apa buat yang tua?"
"Diprioritaskan yang sudah tua dan berumur tapi kalau ada gadis cantik yang ikut nebeng itu rejeki yang tidak bisa ditolak....Hehe...."
"Modus.....!" Kataku sambil mencoba menstarter tapi tak bisa.
"Duh.... naik motor matic aja nggak bisa!" Kata Lana mengejekku.
__ADS_1