
Akhirnya Celin keluar dari kamar tamu setelah hampir satu jam ia berada di dalam sana. Ia menghabiskan waktunya di kamar mandi dan mencari baju yang paling cocok kemudian merias diri sampai benar-benar merasa perfect barulah ia mau menampakkan diri di hadapan orang lain.
Pagi itu semua keluarga berkumpul untuk sarapan. Tak terkecuali dengan keluarga Sinyo Daniel yang paling ribet dengan anak-anaknya yang masih kecil. Dan itu selalu menghidupkan suasana rumah menjadi lebih ceria.
"Ayo sini Celin.....!" Mami Sofiyah yang pertama kali melihat gadis cantik blasteran Eropa Asia itu mengajaknya untuk duduk bergabung di meja makan.
Celin menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia melangkahkan kakinya dengan malu-malu. Gadis itu tentu saja sangat canggung karena belum mengenal mereka sama sekali kecuali Han tapi sudah menginap di rumah mereka.
Sofiyah menarik kursi yang sudah ia persiapkan untuknya. Kursi disamping putranya yang biasanya di tempati oleh anak-anak Daniel. Untungnya anak-anak itu tidak protes dan malah terlihat bahagia karena mami Aya mengatakan akan ada princess yang akan ikut makan bersama mereka.
Semua orang terpana dengan kehadirannya terutama kedua putri Daniel dan Indah. Meskipun pakaian yang dipakai oleh Indah adalah pakaian longgar yang panjang dan kedodoran tapi wajahnya malah semakin terlihat cantik dan bersinar.
"Ting ting ting !!" Mami Aya mendentingkan sendok ke gelas beberapa kali untuk meminta perhatian para anggota keluarga.
"Ini Celin..... calon istrinya koko Han" Kata Mami Sofiyah sambil merangkul pundak Celin.
"Celin .... selamat datang di kediaman Adi Wijaya. Santai saja.... jangan terlalu tegang ya....." Kata Aya sembari menarik lembut janggut Celin.
"Princess....!" Kata Sukma yang duduk di meja bayinya.
"Iya princess..." Kata kakaknya. Gadis kecil itu memandang Celin dengan sorot mata penuh kekaguman.
"She is my princess...!!. Now I'ie have a Princess ....!!" Kata Aya memamerkan Celin yang seperti boneka hidup pada kedua putri Daniel.
"Princess Celin.... itu yeye, oma, kemudian papi, uncle Daniel dan aunty Indah. Yang Ini anak-anak mereka. Sinyo Maulana biasa dipanggil Lana, ini Sukma dan Memei..." Mami Aya menunjuk nama setiap orang dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Yang ini.... my son, the one and only...." lanjut Aya lagi sambil menepuk pundak putra satu-satunya.
"Selamat datang di keluarga kami princess Celin...." Kata oma ramah full senyuman di bibirnya.
Celin tersenyum kikuk mendapat sambutan hangat yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Lama hidup di Belanda membuatnya memiliki kepribadian acuh pada orang asing tapi ini di Indonesia. Rasanya ia jadi tak enak hati untuk menyatakan ketidaksukaannya pada salah satu anggota rumah itu.
Aneh rasanya karena ia sama sekali belum mengenal keluarga ini kenapa jadinya ia malah di sambut hangat dan diterima dengan sangat baik seperti ini. Sudah jelas kalau ia tak mau melanjutkan perjodohannya tapi kenapa malah jadi seperti sekarang. Apa jangan-jangan tuan muda jadi-jadian itu yang tidak mau berterus terang pada keluarganya dan tidak mengatakan kalau ia menolak perjanjian ini, batin Celin.
'Awas saja kalau kenyataannya demikian, aku akan bikin perhitungan...!' Celin menggerutu dalam hati.
"Ayo sarapan dulu princess.....!" Kata Oma ikut-ikutan menantunya.
Celin jadi geli sendiri mendapat julukan baru dari orang-orang yang belum ia kenal sepenuhnya. Ia pun ikut sarapan bersama dengan keluarga Han. Menu yang tersaji di atas meja tak tanggung-tanggung. Terdiri dari berbagai macam makanan dari yang sehat sampai yang berat. Ada salad buah, roti bakar, nasi goreng, mi, jus, kopi, teh, susu dan aneka lauk pauk yang memenuhi meja. Sangat-sangat bervariatif sekali padahal hari masih pagi.
Celin yang memang terbiasa hidup sehat hanya mengambil buah-buahan saja untuk sarapan paginya.
"No thanks. This is enough...." Katanya sambil mengupas pisang.
Indah dan mami Sofiyah saling berpandangan. Mereka merasa iri karena ingin bisa menjalani diet seperti itu tapi belum bisa mengendalikan nafsu. Tak ayal berat badan yang diimpikan rasanya sulit tergapai karena aneka menu favorit selalu tersaji di depan mata.
"Kalau cuma makan buah saja apa nggak cepat lapar?" Tanya mami Aya yang sedang mengaduk mi dengan sumpit.
"Sekitar jam sepuluh nanti harus makan karbo, roti atau yang lainnya." Jawab Celin yang kini sudah menghabiskan satu pisang dan mau mengupas buah apel yang sudah berada di tangannya.
Indah dan mami Aya menyimak dengan seksama. Dalam hati mereka bertekad akan memulai misi diet lagi. Biasa kalau baru dapat inspirasi atau motivasi seperti ini langsung semangat empat lima tapi biasanya tidak akan bertahan lama. Tiga atau paling lama lima hari saja menjalankan misi setelah itu akan kembali ke habitat seperti biasanya.
__ADS_1
Seluruh keluarga yang ada makan dengan seksama kecuali para wanita yang sesekali bertanya pada Celin dengan antusias. Dari oma sampai dua cucunya semuanya punya pertanyaan untuk bintang pagi hari ini. Sosok gadis cantik yang mirip boneka hidup dan seperti dalam film-film animasi.
Setelah sarapan semua orang melanjutkan aktifitasnya masing-masing. kecuali oma, yeye dan Han yang kini duduk bersama Celin di ruang tengah. Sedangkan Mami Aya, ia sedang mengantarkan suaminya yang hendak berangkat kerja.
Aunty Indah berangkat bersama suami dan anaknya. Mengantar ke sekolah dulu baru setelahnya berangkat ke tempat kerja.
"Bagaimana kabar Oma nak?" Yeye memulai percakapan. Meski beliau adalah salah satu pencetus ide untuk menjodohkan para cucu tapi Yeye sama sekali belum pernah bertemu Celin. Ini adalah kali pertama mereka bertemu. Apalagi ide menjodohkan cucu itu tercetus begitu saja saat para sesepuh bahkan belum memiliki seorang cucu saat itu.
"Baik....!" Jawab Celin to the point.
"Panggil Yeye saja...!" Kata Yeye sambil memandang Celin dengan muka datarnya.
"Katanya kamu tinggal di Belanda tapi bahasa Indonesia kamu lancar sekali nak?" Tanya Oma menyela suaminya yang ingin berbicara lagi. Terlalu formal membuat semua orang jadi tegang.
"Mama menyekolahkan saya di komunitas orang Indo. Sehari-hari bergaul dengan mereka jadi sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Mama juga mengajari tata krama dan banyak hal pada saya agar tidak lupa dengan Indonesia...." Jelas Celin pada oma.
"Owh....pantas saja ..... wajahnya bule tapi logat bicaranya fasih seperti orang lokal ..." Kata Oma sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Kamu tahu kenapa kami menjodohkan kalian?" Tanya yeye saat istrinya sudah kehabisan kata.
" Ehmm.... apa mungkin tuan muda Han belum mengatakan kalau saya tidak berniat untuk....." Kalimat Celin tiba-tiba dipotong oleh Mami Aya yang baru muncul setelah mengantarkan sang suami berangkat kerja.
"Oh ya Celin.... mau berangkat sekarang?" Tanya mami Aya menyela perbincangan sang mertua dengan calon menantunya. Ia tak ingin membuat mertuanya bersedih ketika tahu Celin tak ingin melanjutkan perjodohan yang dibuat oleh para sesepuh.
"Ma, pa, Celin mau ke toko sama Han. Tidak apa-apa kan kalau kami berangkat sekarang?" Tanya Aya pada kedua mertuanya.
__ADS_1
"Iya nggak papa. Ajak Celin berkeliling..... Jangan diajak kerja terus .....! Kalau bisa kamu harus sering-sering kemari ya nak....! " Kata oma panjang lebar.