
Chintya menatap Celin dengan perasaan tak bersahabat. Mulanya ia sangat excited ketika sang ayah mengatakan kalau kakak nya yang tinggal di Belanda akan datang. Namun saat bertemu langsung ia merasa insecure. Apalagi papanya memperlihatkan kasih sayang yang berlebihan saat bertemu kakaknya yang berbeda ibu itu.
Perasaan kesal, cemburu, iri dan marah bercokol dalam hati kecilnya. Ia iri dengan kecantikan kakaknya yang sempurna. Mulai dari wajah sampai bodi goalsnya. Tiba-tiba saja penyakit hati berkumpul dan menyerbu rongga dadanya. Ia tak rela papanya berbagi kasih sayang meskipun mereka masih satu darah.
Mulai detik itu ia bertekad akan merebut apa saja yang dimiliki oleh kakaknya. Apa saja yang menjadi milik kakaknya maka ia bertekad untuk mendapatkannya. Entah itu harta warisan, kasih sayang keluarga maupun pria yang akan menjadi kekasihnya.
"Tya.... Ajak kakakmu ke kamar.... ! Mulai hari ini Celin akan tinggal bersama kita" Kata papa saat dirinya hendak menuju kekamarnya yang ada di lantai dua.
Muka Tya seketika langsung berubah. Ia tak ingin berbagi kamar dengan kakaknya.
Celin yang memang tak berniat tinggal bersama dengan keluarga sang papa juga ikut mengernyitkan kening. Sedari tadi papanya tak membahas tentang hal itu sekarang beliau malah memutuskan tanpa mengajaknya berundig terlebih dulu.
"Pa.... Maaf sebelumnya... tapi Celin akan tinggal di apartemen saja..."
"Kenapa? Kita sudah lama berpisah ? Kenapa tak mau hidup satu atap dengan papa? Mereka ini keluargamu. Dia ini adikmu dan itu ibumu...." Kata papa tak suka dengan keputusannya.
__ADS_1
"Apartemen itu hadiah dari papa dan mama kan? Celin juga ingin belajar mandiri. Celin sudah memasuki usia dewasa pa.... Lagi pula sepertinya Celin tak lama di Indonesia. Han yang dijodohkan dengan Celin itu bukan Han yang Celin cari...."
"Kamu yakin nggak mau sama tuan muda Han? Dia itu sama sepertimu. Dia aktif di bidang sosial.... Tak perlu buru-buru memutuskan. Jalani saja dulu....!" Kata papa menjelaskan.
Celin menggelengkan kepalanya kemudian ia menunduk. Rasanya sedikit putus asa kalau melihat dm-dm di Instagram miliknya. Tidak ada yang menanggapinya dengan serius. Hanya pria-pria kurang kerjaan yang mengirimkan pesan tak penting.
"Tuan muda Han menyetujui perjodohan ini. Dia mau melanjutkannya...."Kata Papa lagi.
"Hah? Tapi Celin nggak mau pa....!"
Chintya yang sudah diajak bicara lagi kemudian melanjutkan langkah kakinya untuk menuju ke lantai atas.
"Tya.....! Mana sopan santunmu? Ada kakakmu di sini..... Ajak dia jalan-jalan mengelilingi rumah...." Perintah papa.
"Ayo Tya.....Celin.....!" Mama Linda yang merupakan nyonya keluarga itu mencoba mencairkan suasana yang terlihat kurang kondusif.
__ADS_1
"Tya mau ke atas dulu, perut Tya sakit...." Katanya sambil berlalu meninggalkan ketiga orang lainnya yang memandangnya dengan pikiran yang berbeda-beda.
"Ayo Celin..... Kita jalan-jalan kedepan. Adikmu perutnya sakit jadi dia agak senewen saja bawaannya.... Ayo....!"
Celin tersenyum sambil mengikuti wanita yang seusia mamanya. Dua wanita berbeda usia itu berjalan beriringan menuju ke arah depan.
"Bahasa Indonesia kamu sangat lancar. Kukira kami harus pakai bahasa Inggris kalau berkomunikasi...."
"Iya... Celin disana punya guru Bahasa Indonesia. Tante.... maaf... mungkin saya belum bisa panggil mama sekarang. Saya sudah punya mama sendiri...."
"Nggak masalah, tante ngerti kok.... Kita memang tidak punya hubungan darah tapi Chyntia adalah adik kamu. Jadi Tante harap kamu bisa bersikap layaknya seorang kakak. Tante tidak tahu kalau di negara mu bagaimana tapi kalau disini seorang kakak harus menjadi contoh yang baik untuk adiknya, menjaga,, menyayangi dan mengalah untuk kebahagiaan adiknya..." Jelas mama Linda.
Chintya menganggukkan kepala meski pun belum bisa menerima semua masukan dari wanita yang sedang berada disebelahnya.
"Pohon jambu itu ditanam oleh adik dan papamu dulu. Sekarang kamu bisa menikmati buahnya...." Kata Linda sambil menunjuk sebuah pohon jambu yang sudah berbuah masak.
__ADS_1