Jodoh Tuan Muda

Jodoh Tuan Muda
Piggi


__ADS_3

Celin menyandarkan tubuh rampingnya di sofa sesampainya ia di apartemen. Ia menghela nafasnya dengan kasar karena harapannya kandas. Kedatangannya ke Indonesia kali ini karena ia ingin mencari sosok bernama Han yang dulu pernah menolongnya.


Sejauh ini upayanya tidak menunjukkan hasil sama sekali. Ia jadi agak frustasi. Apa Han yang ia cari masih ada di negara ini atau jangan-jangan justru orang yang dicarinya malah sedang berada di negeri orang.


"Dia masih hidupkan Tuhan?" Gumamnya pelan.


"Tolong biarkan kami bertemu.... Aku ingin mengucapkan terima kasih dengan benar " Ucapnya seperti sebuah gerutuan.


.


.


.


"Piggi piggi...!!! piggi!!"


"Awas ada Biggi pig lewat....."


"Minggir semua ada babi besar lewat....!"


Celin kecil yang bertubuh tambun selalu menjadi bahan olok-olokan saat ia lewat di lorong menuju ke kelasnya. Tak ada yang mau berteman dengannya karena tubuh nya yang besar dan karena wajahnya blasteran Jawa Belanda.


Bukan hanya teman-teman nya saja tapi hampir semua orang mendiskriminasinya. Hanya ada sebagian kecil yang bersikap wajar padanya.

__ADS_1


Perkataan menyakitkan yang sampai di telinga nya banyak dan beragam. Dari mulai menyebutnya dengan nama-nama hewan sampai ada yang menyebutnya sebagai penjajah yang harus diusir dari negeri ini.


Mulanya Celin menganggap semua itu akan berlalu seiring berjalannya waktu. Ia mengira teman-temannya akan berubah menjadi baik jika sudah mengenalnya dan lama kelamaan mereka semua akan bisa menjalin pertemanan dan bermain seperti layaknya anak-anak seusianya.


Di sekolah Internasional itu Celin bisa bertahan hingga dia duduk di kelas tiga. Di kelas tiga itulah Ia punya seorang teman yang setia padanya. Namanya Aliya. Gadis kecil yang jago bela diri, yang selalu melindunginya saat teman-temannya mengganggunya.


Meski bertubuh tambun tapi Celin adalah anak yang aktif dan cekatan. Ia juga tergolong pintar dalam pelajaran matematika dan menggambar sehingga guru yang berkebangsaan asing sering menyuruhnya untuk mengerjakan tugas di papan tulis.


Karena pelajaran matematika itulah ia akhirnya berteman dengan Aliyah yang sangat payah dalam pelajaran itu. Kerap kali Celin membantunya mengerjakan Matematika dan Aliyah juga melakukan hal sebaliknya. Melindungi Celin dengan menantang teman-temannya adu silat. Meski tubuhnya kecil tapi tak ada yang berani melawannya karena ia punya kakak kembar yang juga jago silat. Melawan Aliyah berarti melawan kakak kembarnya juga.


Sampai suatu saat Aliyah tidak masuk sekolah dan Celin menjadi bulan-bulanan teman-teman sekelasnya. Sejak pagi di ruangan olahraga ia sudah di dorong kesana kemari oleh segerombolan siswi yang punya pengaruh di sekolah itu.


Saat jam istirahat ia dikunci di toilet dan tak ada yang menolongnya hingga dua jam lamanya. Ia menangis ketakutan sambil berteriak minta pertolongan.


"Apa ada orang? Saya terkunci di toilet.... !"


"Tolong......"


"Tolo.... ng.... saya di dalam toilet.....!"


Padahal dia sudah teriak-teriak minta tolong tapi telinga siswa yang mendengarnya seolah tuli dan tak menghiraukannya.


Sampai ada seorang siswa yang mendengar teriakannya.

__ADS_1


Siswa itu dari kelas 5 yang sedang izin ke toilet dan secara tak sengaja mendengar suara rintihan seseorang minta tolong dari arah toilet perempuan.


"Mami...... Ayah...... Celin terkunci di kamar mandi...." Rintihnya sambil menangis.


"Siapapun tolong Celin..... Hiks....."


Lelaki kecil tadi memberanikan diri masuk ke toilet wanita untuk mendengarkan dengan seksama. Ia Ingin memastikan kalau itu bukan hayalannya saja.


"Siapa di dalam?" Tanya bocah kecil itu.


"Aku Celin kak... tolong.... Celin terkunci .... tolong...!" Katanya pelan karena sudah kehabisan suara.


"Tunggu dulu aku akan memanggil pak kebun dulu...." Kata si bocah lelaki kecil nan tampan itu.


Tak berapa lama bocah kecil itu datang bersama dengan pak kebun dengan tergesa-gesa. Pria tua itu bergegas membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia punya.


Begitu pintu toilet terbuka Celin langsung keluar dengan muka pucat dan ketakutan. Tubuhnya yang besar ambruk tepat mengenai bocah kecil tadi yang langsung oleng karena tak kuat menahan beban berat Celin. Untungnya punggungnya menabrak tembok sehingga mereka tidak sampai terjatuh.


Celin kemudian menatap wajah bocah lelaki dihadapannya dan segera berdiri tegak. Ia kemudian berjalan meninggalkan pak kebun dan bocah kecil tadi tanpa mengucap sepatah kata.


"Are you ok?" Tanya si lelaki kecil.


Celin tak sanggup menoleh, ia hanya menganggukkan kepala sambil berjalan menuju ke kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2