
Sesampainya di toko Bakrie milik Sofia mereka bertiga turun sambil membawa beberapa barang kemudian berjalan masuk ke pelataran toko.
Celine membaca papan nama diatas bangunan, Han bakery bawahnya tertulis Halal dan Toyyib. Gadis cantik yang kali ini memakai pakaian panjang itu tersenyum di kulum.
"Ini toko milik aunty... Nggak tahu kenapa sudah bertahun-tahun menggeluti bidang ini tapi jalannya masih biasa-biasa aja? Padahal tempatnya berada di pusat kota. Kita juga pakai bahan- bahan yang bagus dan rasanya juga enak. Apa yang salah coba...."
Celin hanya mendengarkan keluhan wanita yang baru ia kenal ini dengan seksama. Ia bisa mengambil kesimpulan kalau ternyata sosok Sofiyah adalah wanita yang super ceriwis. Dan ia suka itu. Mamanya sendiri adalah wanita yang pendiam sedangkan papanya adalah pria pendiam dan sensitif sehingga mudah marah bila ada sesuatu yang tidak cocok dengannya.
Sambil berjalan mengikuti Sofiyah ia mengamati tempat yang ia lewati. Mereka melewati pintu samping karena tokonya sepertinya belum buka karena tulisan close masih terlihat dari arah jalan.
Han yang berjalan di belakang kedua wanita tadi kemudian menaruh barangnya di dekat pintu. Lelaki bermata sipit itu kemudian kembali lagi ke mobil untuk mengambil barang belanjaan yang masih tersisa.
Sedangkan Sofia yang berjalan di depan Celin kemudian masuk ke dapur tempat proses pembuatan kue yang sudah berlangsung. Bau harum khas kue kering dan roti langsung tercium semerbak di rongga penciuman. Menggugah selera. Membuat perut meronta-ronta dan minta jatah.
"Tolong ambilin barang-barang yang ada di mobil ya...!" Sofiyah memberi perintah kepada salah seorang pegawainya.
"Ya cik.... dikunci nggak mobilnya?" Tanya seorang lelaki muda yang memakai celemek warna merah muda.
"Ada Koko disana..." Kata Sofiyah lagi.
"Siapa Ci? " Bisik salah seorang gadis yang bernama Komaro kepada Sofiyah.
"Semuanya....! Kenalin ya...! Ini calonnya Koko, namanya Celin. Dia bisa bahasa Indonesia dan masih warga negara Indonesia. Jadi jangan coba-coba menggunjingnya apalagi kalau ada didekat nya...." Sofiyah merangkul pundak Celin dan menempelkan kepalanya di pundak sang gadis.
"Hallo semuanya...." Sapa Celin sambil tersenyum.
"Hallo.... juga...." Jawab para pegawai serentak.
"Asli Indo Ci ?"Tanya salah seorang pegawai.
"Blasteran Indonesia-Belanda..." Jawab Sofiyah.
"Selfie cik....! Buat dipajang di Instagram....!" kata salah seorang diantara mereka.
"Sudah.....! Kalian ini.... Nggak disini nggak disana sama aja. Minta foto melulu. Foto sama aku aja kenapa? Ayo sudah....sambil kenalan sambil kerja. Ini adonannya sudah mengembang sempurna apa belum?" Tanya Sofiyah sambil mengintip adonan yang sudah terlihat mumpluk dan menul-menul.
Celin ikut memperhatikan semua hal yang ada disana terutama setiap hal yang dipantau oleh Sofiyah.
"Ayo ke depan sebentar!. Coba nanti kamu lihat apa yang harus aunty benerin. Salahnya ada dimana. Celin anak manajemen kan?" Ajak Sofiyah sambil menggandeng Celin yang membuat anak buahnya jadi iri. Ingin berada di posisi Celin. punya wajah cantik dan disayangi bos mereka yang imut dan mungil.
Begitu masuk ke ruangan depan yang terlihat oleh mata ya biasa saja, seperti toko kue pada umumnya. Etalase yang belum semuanya dipenuhi aneka kue dan roti. Ada meja kasir yang posisinya ada di pojokan ruangan.
Semua pegawai yang ada di depan sedang bersiap-siap sesuai dengan jobdesk nya masing-masing. Ada yang menyapu, menata beberapa kue basah, ada yang membersihkan kaca dan beberapa perabot yang ada di sana. Di bagian kasir juga sedang sibuk menghitung uang yang akan dipakai sebagai kembalian kemudian menulis datanya di laptop seperti biasa.
Sofiyah meninggalkan Celin begitu saja karena disibukkan dengan berbagai keriwehan yang sedang terjadi. Padahal dia hanya bagian mengawasi saja tapi nyatanya mami Aya malah tampak lebih sibuk daripada para pekerjanya.
Etalase yang bergeser ditata kembali agar sejajar dengan etalase lain sehingga nampak presisi. Ruangan paling depan adalah tempat para pembeli bisa berinteraksi dan melihat aneka kue dan roti yang disediakan sehingga harus terlihat bersih dan rapi.
Sepuluh menit kemudian saat jarum jam menunjukan pukul sembilan kurang lima menit, satu persatu dari para pekerja yang berjumlah 10 orang itu mulai berdiri berjajar membentuk barisan dua sap di depan etalase toko.
"Sudah siap semua Ci...." Lapor salah seorang yang bertugas sebagai kepala staff.
Sofiyah kemudian berkaca dan membenahi kerudungnya. Ia juga memperbaiki penampilannya agar sempurna di mata anak buahnya. Wanita kecil mungil itu kemudian maju ke depan para pekerjanya dan mengawalinya dengan mengucap salam dan hamdalah.
Celin yang sedari tadi berdiri di pojokan memperhatikan gerak-gerik tiap orang yang ada disekitarnya dengan seksama.
Tiba-tiba ponsel Celin berdering dan gadis itu segera mengangkatnya sambil berjalan masuk ke dalam area dapur agar tidak mengganggu kegiatan briefing yang sedang berlangsung.
"Ya ama....! Aku sedang di toko kue keluarganya Han...."
"Iya... tuan muda Han...."
"Iya maaf ......nanti aku hubungi papa...."
"Iya nanti Celin kesana....."
"Iya...."
Celin kemudian memeriksa notifikasi di hp-nya. Ada beberapa panggilan dari papanya dan ada beberapa notifikasi pesan dari mama dan beberapa temannya di Belanda.
__ADS_1
Gadis berkulit seputih susu itu kemudian membuka pesan satu persatu. Yang pertama adalah mamanya. Setelah mengetikkan pesan jawaban pada mamanya ia pun menggulirkan jari-jarinya dengan lincah untuk membaca dan membalas pesan-pesan yang dirasanya penting.
Celin kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berniat untuk kembali ke depan
"Oh my God...!" gadis itu terkejut karena di belakangnya telah berdiri seorang lelaki tampan yang sedang bersedekap dan sepertinya sudah mengawasinya sejak tadi.
"Sejak kapan you di sini? Kenapa diam saja? Bikin orang kaget saja?"
"Sejak tadi. Kamu sepertinya serius sekali jadi aku diam saja agar tidak mengganggu. Ternyata cuma wajah you aja yang bule. Kelakuan you persis seperti orang Indo...." Kalimat Han terdengar seperti ejekan.
"I am originally Indonesia you know....." Jawab Celin ketus menanggapi ucapan Han barusan.
"Ok..... I am sorry. Mau pulang sekarang?" Tanya Han mengalah.
"You mau antar I pulang? Memangnya you nggak kerja?" Tanya Celin penuh selidik.
Ia bisa menyimpulkan kalau Han adalah pria baik. Tapi kenapa mami Aya mengatakan kalau putranya ini tak mau bekerja.
Han menatap Celin dengan tatapan tidak suka. Pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan yang paling tidak ia harapkan mampir di telinganya.
"Kan sudah kubilang, bos itu punya waktu yang fleksibel dia bisa berangkat jam berapa saja, terserah dia. Mau berangkat terserah nggak berangkat juga terserah. Lagi pula siapa yang mau antar kamu pulang. Sudah bagus tadi malam tidak kutinggalkan begitu saja...!" Han kini ikut terpancing emosi.
"Kenapa tidak kau tinggalkan saja? Siapa juga yang minta tolong?" Celin semakin emosi.
"Sudah ditolong malah nggak tahu terima kasih. Kalau tahu begini lebih baik kubiarkan saja kemarin. Biar dibawa sama lelaki bajingan itu...!!" kata Han berapi-api antara kesal dan cemburu karena ingat bagaimana Celin bergelantungan di lengan lelaki lain.
"Ada apa ini?" Tanya Aya yang melihat beberapa pegawai bagian dapur berdiri memenuhi pintu karena melihat dua orang sejoli sedang berbeda pendapat alias bertengkar.
"Han....!" Aya melihat putranya yang masih menatap Celin dengan mata garangnya.
"Sudah....! Ayo...... kalian kembali bekerja! Malah suka kalau ada tontonan beginian....!" Kata Aya yang disambut oleh anak buahnya dengan kekehan sambil berhehe hehe.
Keenam orang tadi berjalan antara Han dan Celin sambil membungkukkan badan. Posisi keduanya memang berada di jalan menuju ke dapur. Mereka berdua saling berhadapan dan tatap-tatapan. Belum ada yang mau mengalah.
"Celin....!" Sofiyah menepuk pundak Celin untuk mengalihkan perhatian si gadis. "Apa mau pulang sekarang?"
"Iya aunty, Celin mau ke tempat Ama..."
Celin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Lewat sini saja, tokonya udah buka...." Kata Aya mengajak Celin lewat ke area toko.
"Tunggu sebentar ya...! Purwati tolong ambilkan cake kelapa satu yang motif itu, yang waru. Sama puding buah itu satu paket!"
Sofiyah kemudian mendekatkan dua kotak ukuran besar yang disodorkan oleh pegawainya dan hendak membawa dua-duanya.
"Nitip ini buat Ama ya!. Insya Allah dalam waktu dekat ini kami akan berkunjung ke sana!"
"Biar saya bawa aunty...."
"Satu aja....!" Jawab Sofiyah sambil menyerahkan satu kotak berisi puding pada Celin.
Kedua wanita yang tinggi badannya terlihat sangat berbeda itu kemudian keluar dari toko. Mereka berjalan beriringan setelah melewati pintu. Terlihat baru ada dua orang pengunjung yang datang setelah tulisan close di pintu berganti menjadi open.
Han yang sedang duduk sambil bersedekap dan menumpukan kakinya itu langsung berdiri saat melihat maminya keluar sambil membawa kotak kue. Tanpa banyak bicara ia mengambil alih kotak yang dibawa maminya.
Celin sempat melirik Han yang memperlihatkan muka juteknya.
'Ternyata dia sangat respect pada maminya' Dalam hatinya Celin mengagumi sikap baik Han yang satu ini.
'Tapi kalau sama aku suka nyebelin ' Batin Celin lagi sambil melengos karena kesal.
"Celin mau naik taksi saja aunty...." Gadis berparas cantik itu menghentikan langkahnya saat sudah dekat dengan mobil yang tadi dikendarai oleh Han.
"Loh.... Biar diantar sama Han. Nanti biar dia yang menjelaskan sama Ama kenapa tadi malam tidak pulang...."
"No problem aunty.... Celin bisa jelasin sendiri..."
"Koh...." Aya menatap putranya yang sedang menaruh kotak yang dibawanya ke dalam bagasi. " You nggak mau nganterin Celin?" Lanjutnya dengan tatapan sayang pada putra satu-satunya yang usianya makin matang dan terlihat makin tampan.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Han mengambil kotak ditangan Celin dan memasukkannya ke dalam bagasi juga.
Gadis cantik bak barbie itu melirik Han dengan sengit seolah ingin menegaskan kalau perdebatan mereka belum selesai dan harus dilanjutkan.
Han melengos tak menghiraukan keberadaan Celin. Ia berjalan memutari mobil dan masuk ke dalamnya. Lelaki itu kemudian menyalakan mesin mobil dan membiarkan dua orang wanita yang sejak tadi bersamanya memandangnya. Han lantas mengambil sebatang rokok dari bungkusnya dan menaruh diantara kedua bibirnya. Ia menyalakan korek api dan menyulut rokoknya. Dijepitnya batang rokok yang sudah menyala lalu dihisapnya dalam-dalam. Kepulan asap rokok memenuhi wajah Han setelah pria itu menghembuskan nafasnya seolah ingin melepaskan himpitan perasaan yang ada dalam dadanya.
"Haa....annn.....!" Suara Aya terdengar menghiba pada putranya.
"Iya mi.... Han antar sampai ke rumah!" Meski kadang ia bertindak semaunya tapi ia sangat sayang pada maminya. Ia tidak suka kalau maminya menjadi sedih seperti saat ini.
Mami Aya segera membukakan pintu depan untuk Celin. Ia tahu putranya sedang marah dan biasanya ia akan bertindak gegabah kalau terus diajak bicara. Sofiyah tahu karakter Han yang tidak suka di kasih nasehat kalau sedang marah seperti ini.
"Maaf ya Celin.....! Jangan lupa sampaikan salam kami pada Ama ya..!"
Celin yang merasa kasihan pada Aya kemudian memeluk wanita mungil itu dan berbisik, " Aunty sabar ya.... Han hanya sedang marah"
Tidak tahu darimana datangnya kata-kata itu tapi celin berharap Sofiyah tidak bersedih lagi karena melihat putranya sedang emosi. Itu hal lumrah bagi para pemuda tapi orang tua punya sudut pandang yang berbeda. Para orang tua bisa menjadi sedih ketika melihat anak-anaknya berperilaku buruk, mereka akan beranggapan kalau anaknya bersikap seperti itu karena mereka sebagai orang tua tidak bisa mendidik anak-anaknya dengan baik.
"Hati-hati koh...!" pesan Mami Ayah sambil memandang putranya penuh harap
Han hanya menganggukkan kepala kemudian menyentil ujung rokoknya yang sudah menjadi abu ke luar jendela.
Mami Aya kemudian berjalan memutar untuk mendekati Han.
"Celin sendirian disini......!" Sofiyah berbisik pada putranya yang sudah besar tapi masih saja dianggap seperti anak kecil olehnya.
"Iya mii...." Han menekan suaranya karena ia tidak suka dianggap tidak bisa berperilaku seperti orang dewasa.
"Han berangkat...." Katanya sambil meminta tangan Sofiyah dan menciumnya.
Melalui jendela Mami Aya menciumi pipi putranya seperti perlakuan seorang ibu pada anaknya yang masih kecil saat ia pamit mau berangkat sekolah.
"Hati-hati...!" Pesannya lagi.
Celin yang sebenarnya masih kesal pada Han perlahan hatinya mulai mencair saat melihat perlakuan Aya pada Han dan begitupun sebaliknya. Han tidak malu diciumi oleh ibunya di depan umum seperti itu.
Di dalam mobil keduanya saling berdiam diri. Berkali-kali Celin melirik Han berharap lelaki itu mau mulai percakapan. Ia yang jadi kesal kembali karena Han diam seribu bahasa.
"You tahu rumah Ama?" Akhirnya Celin mengalah karena Han menjalankan mobilnya tak tahu kemana. Apalagi Celin juga tidak tahu jalan.
"Nggak...." Jawab si pria singkat.
"Lalu?"
"Jalan saja sampai ketemu rumahnya...."
"Are you crazy?" Celin sudah tak bisa menahan lagi. Kekesalannya langsung memuncak.
"Dasar kekanakan..... Turunkan aku disini!" Suaranya sudah naik beberapa oktaf.
Tanpa dinyana Han menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dengan kesal Celin langsing membuka pintu dengan kekuatan penuh karena saking marahnya. Tapi tak bisa. Ia mencoba berkali-kali tapi tetap tidak bisa.
Gadis cantik itu menoleh pada lelaki yang duduk di balik kemudi. Matanya menyorot dengan tajam pada si pria sipit yang masih saja asyik menikmati rokoknya tanpa perduli pada gadis yang ada di sampingnya.
"Open the door !!" Bentak Celin dengan kepala yang sudah keluar tanduknya.
"Buka saja.... Huff...!" Han mengarahkan tiupan nafasnya pada muka Celin.
"Uhuk uhuk uhuk..... kau....!! Uhuk uhuk....!"
Han segera membuang puntung rokoknya ke tempat yang tidak dilewati orang. Ia memijat tengkuk Celin yang masih terbatuk akibat ulahnya. Meski gadis itu mencoba menyingkirkan tangannya tapi ia tak perduli dan kembali menaruh tangannya untuk memijit Celin.
Han kemudian membuka segel tutup minuman yang ada dashboard dan mengangsurkannya pada Celin. Lagi-lagi Celin menolak dengan menyingkirkan botol itu dari mukanya.
Lelaki bak opa Korea itu dengan tangan besarnya mengarahkan wajah Celin tepat di depan mukanya.
"Pilih minum ini atau kucium?" Tanya Han tanpa ekspresi.
Kontan hal itu membuat barbie hidup itu langsung mengambil minuman di tangan Han dan segera meminumnya banyak-banyak.
__ADS_1
"Kita ke arah mana?" Tanya Han sambil memberikan tisu pada Celin yang baru selesai meneguk air dengan penuh keyerpaksaan.