
Celin yang sedang duduk di kursi belakang disamping papanya ikut melongok ke depan. Mereka sedang berada di pom bensin tapi sepertinya di depan ada sesuatu yang terjadi sehingga antrian semakin panjang mengular membuat orang-orang tidak sabar.
Gerutuan dari para pengendara motor yang sedang mengantri terdengar bersahutan. Mereka mencoba melihat sosok yang sudah membuat suasana siang semakin memanas. Tapi setelah melihat orang tampan yang berbuat kesalahan sebagian besar justru memaklumi dan tidak mempermasalahkan.
Seseorang dengan postur tinggi tegap mengenakan pakaian kaos dibalut jas tanpa dikancingkan sedang kesulitan mencari bagasi motor yang dipakainya.
"Dari belakang aja cakep banget dah...."
"Putih banget kulitnya, kalau aku dekat sama dia kayak susu sama panci gosong ini mah...."
"Kayaknya si koko-koko itu. Matanya sipit gitu..."
"Kalau ganteng ya wajar aja. Orang ganteng mah bebas di negara kita...."
Mereka bukan lagi fokus pada biang masalah yang menyebabkan antrian panjang di pom bensin justru kebanyakan dari kaum wanita malah sibuk menilai wajah dari si pria yang kini tengah berdiri dengan sedikit membungkukkan badan . Ia sedang melihat petugas pom bensin membuka bagasi di sebelah kiri bagian belakang dengan kunci kontak motornya.
"Ada apaan pak?" Tanya Celin pada sang sopir.
"Kayaknya ada orang baru punya motor tapi nggak tahu tempat tangki bensinnya dimana. Mungkin juga orang kaya yang pinjam motor pegawainya dan nggak tahu cara buka bagasinya.
__ADS_1
Celin mencoba melihat sosok orang paling depan di barisan motor yang baru keluar dari antrian. Terlihat sekali kalau dia baru belajar naik motor karena jalannya tersendat-sendat.
Orang kaya mau eksplor jalanan pakai motor pembantunya? , batin Celin menerka.
Hari ini Celin diajak oleh papanya untuk menghadap pada keluarga besar dari pihak sang ayah. Ia hanya menurut saja. Meski tak berniat untuk tinggal lebih lama di Indonesia tapi setidaknya ia tak ingin memutus hubungan dengan keluarganya.
"Bagaimana kabar mama?" Tanya papa tiba-tiba.
Celin menoleh ke arah papanya sambil mengernyitkan kening.
"Baik.... sangat baik...."Jawab Celin sambil menatap wajah papanya yang sudah berkeriput di mana-mana.
"Entahlah.... Semenjak papa mama berpisah beberapa kali ada yang mencoba mendekati mama tapi ujung-ujungnya mereka menyerah karena mama seperti membuat tembok yang tinggi dan tidak mungkin terjamah oleh pria"
Papa menghembuskan nafas dengan keras seperti ingin mengenyahkan sesuatu yang ada di dalam rongga dadanya.
"Katakan pada mama mu agar ia mau membuka hatinya karena kami tidak mungkin kembali bersama...."
" Jadi menurut papa, mama masih berharap kalian akan bersama lagi?" Tanya Celin ragu tapi dijawab dengan anggukan oleh papanya yang membuatnya melongo.
__ADS_1
'Masa iya mama masih cinta sama papa?' Batinnya tak percaya.
"Menurutku mama hanya sedang mencari seseorang yang benar-benar tulus menyayangi nya"
"Jadi menurut mu papa dulu tidak tulus menyayangi mama mu?"
Celin menelan ludah mendengar jawaban yang berupa pertanyaan dari papanya.
"Entahlah..... I don't know.... Kenapa kita mesti mengungkit masa lalu? Aku tidak tahu pasti siapa yang salah diantara papa dan mama yang membuat kalian harus berpisah. Yang pasti aku juga ikut menderita, sama seperti kalian. Lebih baik kita lanjutkan hidup kita dengan kebahagiaan. Biarkan yang sudah berlalu menjadi pelajaran untuk kita karena kita tidak mungkin kembali lagi ke masa itu..." Celin menatap ke arah depan dengan air yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Mengingat masa lalu hanya akan membuka luka lama yang coba ia lupakan. Bagaimana dulu ia dibully, bagaimana hampir tiap hari ia menangis karena mendengar pertengkaran mama papanya.
Keadaan di mobil menjadi hening setelah itu. Celin dan papanya mencoba menjelajah waktu dan mengurainya menurut versi mereka. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya hanya mencoba merancang dan mengusahakannya sebaik mungkin setelah itu biar tangan Tuhan yang bekerja.
Setelah beberapa lama mobil itu berhenti di kediaman yang luas dan indah dengan gaya bangunan klasik ala Eropa.
Celin turun dari mobil kemudian memandang ke sekeliling dan merasa tidak ada yang berubah di sana meskipun tahun-tahun sudah berlalu. Bunga-bunganya tetap sama dan semua ornamen-ornamennya sepertinya terlihat sama dan makin tua.
Celin rindu dengan kakeknya yang ia panggil Opa, yang dulu selalu memeluknya saat ia datang kemari.
__ADS_1