Jodoh Tuan Muda

Jodoh Tuan Muda
About all


__ADS_3

"Celin.... !"


"Iya...."


Mami Aya meraih tangan halus Celin dan menggenggamnya. Kedua wanita beda generasi ini sedang berada di ruang tamu dan duduk bersisian di atas tempat tidur.


"Benarkah Celin tidak mau melanjutkan perjodohan ini?" Tanya mami Aya sambil menatap manik mata Celin yang mempesona.


Gadis itu pun menganggukkan kepala meski tak enak hati karena menolak seorang pria di depan ibunya. Tapi ia sudah terbiasa berterus terang dan mengatakan apa yang terbersit di dalam benaknya.


"Jadi tuan muda Han sudah mengatakan hal itu?" Tanya Celin yang tadinya berpikir kalau Han belum berterus terang pada keluarganya mengenai hal ini.


"Jangan memanggilnya seperti itu.... Terdengar aneh di telinga...! Panggil saja Han!" Mami Aya menjeda kalimatnya sebentar. " Iya.... dia sudah bicara pada onty dan uncle tapi yeye dan yang lainnya masih belum tahu...."


Mami Aya mengusap tangan putih Celin sambil berkata dengan sangat pelan dan penuh pengharapan, "Bisakah aunty minta tolong....?"


Celine menatap wanita dewasa yang seumuran mamanya itu dengan seksama sambil menelan ludah. Padahal ia belum mendengar permintaan Sofiyah tapi sudah takut tak bisa mengabulkan permintaan nya.


"Apa yang bisa Celin bantu aunty?" Tanya si princess deg-degan. Ia takut kalau Sofiyah memintanya untuk menerima Han dan melanjutkan perjodohan ini. Ia takut tak bisa menolak permintaan seorang ibu.


"Tolong rahasiakan dulu dari keluarga kita kalau kamu tidak bersedia melanjutkan perjodohan ini. Aunty bisa melihat kalau Han sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Aunty berharap Celin bisa membuatnya bersemangat. Dia anak satu-satunya aunty dan kami sudah tidak tahu lagi harus bagaimana agar dia bersemangat kembali...."


"Bersemangat ?" Tanya Celin tak mengerti.


"Dia sama sekali tidak punya keinginan untuk bekerja. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk kesana kemari ikut bakti sosial di mana saja dan jarang sekali berada di rumah. Dalam satu bulan biasanya paling lama hanya satu minggu dia berada di rumah. Selebihnya aunty hanya menahan rindu karena tak bisa melihatnya. Dan sekarang ia berjanji mau bekerja di perusahaan keluarga asalkan aunty bisa meyakinkan Celin agar mau melanjutkan perjodohan ini...."


Mendengar keluh kesah Sofiyah, Celin jadi ingat mamanya dulu saat kedua orang tuanya akan bercerai. Mamanya dituduh selingkuh oleh papanya sendiri yang sampai saat ini tidak pernah terbukti. Saat itu ia melihat sendiri bagaimana sang mama menangis dan bersimpuh di depan papanya sambil bersumpah kalau ia tak pernah melakukan hal hina seperti yang dituduhkan kepadanya. Celin paling tak bisa kalau melihat seorang ibu menangis apalagi bersedih demi buah hatinya.


Apalagi setelah keduanya tinggal di Belanda, mamanya sering sekali menangis di malam hari. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali ikut menangis di dalam kamarnya sendiri agar mamanya tak melihatnya.


"Tapi aunty..... Celin punya seseorang yang Celin cintai. Hanya saja sekarang Celin tak tahu dia sekarang dia ada di mana..." Jawab Celin tak enak hati.


"Hanya sementara saja sampai Han benar-benar mau bekerja. Selama itu kamu bisa mencari orang yang kamu cintai.... Nanti kita bisa bicarakan lagi. Aunty yang akan menjelaskan semuanya pada Han dan keluarga kita. Bagaimana?" Sofiyah merasa Celin sudah luruh dan bisa mengabulkan permintaannya.


 Matanya berbinar bahagia karena Celin hanya menatapnya tanpa mengucap kata yang diasumsikan oleh Sofiyah sebagai persetujuan. Karena diamnya seorang gadis berarti iya.


"Thank you Celin, thank you so much..... !!" Sofiyah mencium punggung tangan Celin kemudian memeluk gadis cantik itu dengan meneteskan air mata bahagia.


Celin tak mampu berkata apa-apa karena takut menyakiti hati seorang ibu yang punya harapan tinggi pada putranya. Ia tak berani berjanji tak pula berani menolak. Ia hanya diam saja dan berdo'a semoga diberi jalan oleh Tuhan sampai saatnya tiba nanti saat ia sudah dipertemukan kembali dengan sang pujaan hati.


Sofiyah melihat penampilan Celin setelah mengusap air matanya. Ia mau memastikan kalau pakaian Celin layak untuk jalan keluar.


Perfect, tidak ada celanya sama sekali. Pantas saja Han langsung jatuh cinta dana klepek-klepek dibuatnya.


"Onty antar pulang ke ke apartemen atau mau ikut ke toko kue milik aunty?" Tanya Sofiyah sambil tersenyum bahagia.


Celin yang masih sedikit bingung kemudian menjawab, " ke toko saja"


Diantara kebingungannya Celin masih mencoba mencerna bagaimana semalam ia bisa pulang bersama Han ke rumah ini.


"Baju kamu biar dicuci disini saja nggak papa kan?" Tanya Sofiyah yang dijawab anggukan oleh Celin.


"Ayo....!" Sofiyah mengambil tas milik Celin dan menyelempangkannya di pundak Celin yang diam saja ketika tibuhnya diutak atik Sofiyah. Ia masih merasa apa yang terjadi saat ini seperti mimpi yang acak dan belum sepenuhnya ia mengerti.

__ADS_1


"Lhoh.... belum berangkat ?" Oma yang baru datang dari taman melihat Sofiyah dan Celin ternyata baru keluar dari kamar tamu.


"Hehe....iya ma. Ada yang ketinggalan". Sofiyah menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum untuk menutupi kebohongannya.


"Berangkat dulu ya ma...!" Sofiyah mencium punggung tangan mertuanya dan Celin yang berada di belakang secara otomatis mengikuti gerakan Sofiyah.


Sofiyah memeluk lengan Celin dengan posesif. Ia merasa bahagia karena seperti punya anak gadis. Hal yang sangat ia inginkan tapi tak pernah kesampaian.


Saat masuk ke dalam mobil terlebih dahulu ia membukakan pintu untuk sang putri yang kini memenuhi hatinya. Ia sangat berharap pada akhirnya Celin dan putranya akan benar-benar menikah dan mengarungi kehidupan bersama-sama.


"Celin....! Aunty dan uncle dulu juga dijodohkan lho...!" Kata Sofiyah begitu dia duduk di kursi penumpang di samping Celin dan mobil pun mulai berjalan keluar dari gerbang.


"Oh ya...?" Celin menatap wajah Sofiyah yang kini lebih ceria tidak seperti tadi saat mereka berada di dalam kamar.


"Pada mulanya Koko menolak perjodohan kami tapi tidak mau berterus terang pada orang tua. Ia meminta agar kami bersandiwara dulu sambil menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan perjodohan yang tidak kami setujui kepada para orang tua. Tapi pada akhirnya takdir berkata lain dan kami diikat dalam tali pernikahan hingga kini dan semoga sampai nanti sampai di bangkitkan lagi di surga nanti" Tanpa ia sadari air matanya berderai saat mengucapkan do'a.


"Amiiin....!"


Celin melihat ke arah sopir yang barusan berkata Amiin. Ia tak sadar kalau sedari tadi Han yang berada di balik kemudi dan berada satu mobil bersamanya.


Mata mereka bersirobok di spion tengah dan Han segera mengalihkan pandangan ke arah depan untuk melihat jalan. Sedangkan Celin menatap Han yang menurutnya hari ini kelihatan tampan daripada sebelumnya.


"Sebenarnya Han itu anak yang baik kok Celin hanya saja ......"


"Mi......!" Han memotong ucapan mamanya agar ibu yang melahirkannya itu tidak mengumbar aibnya.


"Hanya saja dia terlalu tampan untuk disia-siakan ....." Kata Sofiyah menggoda putranya.


"Kita ke pasar dulu ya ko....!" Kata mami Sofiyah yang terkadang memanggil putranya dengan koko.


"Iya...." Jawab Han sambil menganggukkan kepala.


Celin merasa sedikit aneh karena pergi ke pasar bukanlah kebiasaan orang kaya macam mereka. Ia ingat bagaimana pasar di jaman dulu itu tempatnya banyak orang berkerumun dan berlalu lalang untuk mencari kebutuhan dalam area yang terlihat kumuh. Ia sama sekali belum pernah masuk ke pasar tradisional. Celin hanya pernah melintas di depan gerbang pasar yang terlihat kotor dan kumuh. Ia cukup merinding kalau harus ikut masuk ke dalam sana.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka bertiga sampai di pasar kota. Mami Aya segera turun dari mobil dan mengajak gadis cantik yang masih duduk tenang di dalam mobil.


"Ayo.....!"


"Eee....." Celin menatap daerah sekitar tempat mobil itu berhenti dan mendapati keadaan pasar ternyata sudah tidak seperti dulu. Sudah lebih bersih dan tertata meskipun manusianya masih saja berjubelan.


"Apa mau disini saja ?" Tanya Sofiyah.


Entah kenapa Celin memandang Han yang sudah keluar dari dalam mobil dan kini berdiri di samping maminya.


Secara kebetulan Han juga sedang menatapnya dengan sendu. Hal itu mampu membuat gadis berparas cantik itu salah tingkah. Ia pun segera turun dari mobil dan disambut dengan hangat oleh Sofiyah.


Wanita yang sudah matang itu kemudian menggandeng Celin layaknya seorang ibu yang sedang menggandeng putri kecilnya saat mengantarnya ke sekolah.


Mereka pun menjadi pusat perhatian karena ada seorang qanita berkerudung bermata sipit sedang menggandeng gadis cantik bak boneka barbie. Ditambah lagi keberadaan lelaki muda seperti opa Korea berjalan di belakang mereka.


"Opa....!!!"


Salah seorang gadis muda yang sedang menjaga stand baju memanggil Han yang bermata sipit kemudian tertawa cekikikan bersama para pengunjung toko pakaian saat Han menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Opa..... !!! Saranghae.....!!!" Teriak gadis lain yang menjaga di toko sandal sepatu ketika Han beserta Celin dan. Sofiyah sudah berada agak jauh.


Celin penasaran dengan wajah Han saat digoda oleh para gadis dan ibu-ibu di sepanjang perjalanan mereka. Ia berpura-pura menoleh ke arah suara yang memanggil Han kemudian ia melirik ke arah lelaki yang sedari tadi berjalan di belakangnya. Lelaki berkulit putih dan bermata sipit itu sedang melihat-lihat ke sembarang arah dan segera menoleh ketika ada seseorang yang sedang memandangnya.


Celin segera mengalihkan pandangan saat ketahuan oleh Han. Ia pun segera berpura-pura sedang melihat-lihat apa saja yang ada di sekitarnya. Ia baru menyadari kalau kini sedang berada di kawasan penjual ikan.


"Ahhhh.....!!" Celin berjengit kaget saat melihat ikan lele yang berkecipak-kecipuk di dalam bak besar seolah-olah akan meloncat keluar. Tangannya reflek mencengkeram lengan Sofiyah sambil memejamkan mata.


"Nggak papa kan?" Tanya mami Aya sambil berjalan menjauhi para pedagang ikan. Ia meneliti pakaian Celin.


" Ada yang basah nggak? Soalnya tadi ikannya pada loncat-loncat karena lihat boneka barbie yang bisa berjalan...." Kata Mami Aya menggoda Celin yang juga jadi pusat perhatian orang-orang yang berada di dalam sana. Hanya saja karena ada Han dan Sofiyah mereka jadi segan untuk menggodanya.


"Sedikit aunty.... but it is ok.... don't worry....!"


"Baiklah..... ayo cepat sedikit jalannya biar nggak terlalu panas....!" Kata Sofiyah sambil menarik tangan Celin. Meskipun Sofiyah yang paling mungil diantara ketiganya tapi langkahnya ternyata lebih cepat daripada dua orang anak muda yang berjalan bersamanya.


Sampai mereka tiba di toko bahan-bahan kue yang tokonya cukup besar meskipun berada di tengah-tengah pasar.


"Cik..... siapa nya itu cantik banget....?" salah seorang gadis yang sudah biasa melayani Sofiyah terkagum-kagum dengan kecantikan Celin yang terlihat bersinar meskipun tidak ada cahaya matahari yang masuk ke sana.


"Calonnya koko...." Bisik Sofiyah takut kalau Celin mendengar perkataannya.


"Anaknya nanti pasti cuuuuaanntik dan guuuuanteng-guanteng nanti Ci.... Kokonya ganteng itu cicinya juga cantik banget kayak boneka hidup..." Bisik pelayan toko 0ada Sofiyah sambil melirik Celin dan Han yang berdiri bersisian sambil melihat-lihat keadaan sekitar.


"Hayya...!!! Jangan ngomong telus lu.... Kelja sana!!" Kata si koko pemilik toko.


"Nonik...! Lu bawa boneka dalimana itu?"


"Yaelah kong....sudah tua juga...!!." Gerutu pegawainya sambil membuang muka agar tak ketahuan sedang mengolok-olok bos nya.


"Dari Belanda itu Ooom.... Calonnya Han....!" Kata Sofiyah dengan mengeraskan suaranya karena si engkong keturunan Tionghoa itu pendengarnya sudah agak berkurang tapi kalau itung-itungan belum pernah sekalipun salah. Tokcer kalau menghitung barang belanjaan. Dia juga hapal semua barang yang ada di tokonya. Pokoknya kalau masalah uang nggak usah tanya, nggak pernah meleset pokoknya.


Sementara Sofiyah memilih barang dan minta ini itu pada pegawai yang sedang melayaninya Han dan Celin akhirnya melipir keluar karena toko itu penuh sesak dengan para pembeli yang datang silih berganti. Mereka juga risih karena semua orang melihat ke arah mereka seperti meneliti gerak-gerik yang mereka lakukan.


Han menyuruh Celin duduk di kursi yang ia ambil dari dalam toko sedangkan ia sendiri berdiri disamping Celin.


Awalnya keduanya hanya diam saja karena merasa canggung satu sama lain tapi akhirnya Han memulai bicara.


"You nggak nelpon ke rumah dulu? Mungkin mereka sedang nyari-nyari kamu sekarang..." Kata Han tanpa melihat Celin.


"Aku tinggal sendirian di apartemen. Nggak akan ada yang nyari ..." Jawab Celin sambil melirik Han karena sepertinya sekarang dia agak tertarik ingin mengenal sosok Han lebih jauh lagi.


"Nggak kerja?" Tanya Han begitu saja. Dia lupa kalau dirinya sendiri malas untuk bekerja.


"Aku belum memutuskan hal itu. Kamu sendiri nggak kerja? Jam segini masih ngantar mami kamu ke pasar....?" Tanya Celin sambil menatap Han karena ia ingat kalau Sofiyah mengatakan jika Han, putra kesayangannya ini tidak mau bekerja


untuk membantu perusahaan keluarga.


Han menelan ludah karena pertanyaannya sendiri seperti bumerang untuknya. Ia berusaha agar tidak berbohong tapi juga tidak mau bilang kalau sebenarnya dia belum pernah bekerja.


"Atasan itu bebas masuk jam berapa saja..... Punya jam kerja yang fleksibel...." Jawabnya sambil mengusap tengkuknya. Ia merasa malu dengan jawabannya sendiri.


Celin tersenyum mendapat jawaban yang diluar dugaannya.

__ADS_1


__ADS_2