Jodoh Tuan Muda

Jodoh Tuan Muda
Masa lalu


__ADS_3

Keesokan harinya Celin masuk sekolah karena yakin kalau Aliyah akan menjaganya dari anak-anak nakal yang kemarin merundungnya. Tapi naas ternyata Aliyah juga abangnya tak terlihat di sekolah membuat Celin ciut nyali. Ia sungguh ketakutan menghadapi hari itu.


Benar saja saat jam istirahat dia disuruh membeli makanan ke kantin oleh teman-temannya yang nakal. Tanpa berani protes ia melakukannya seperti seorang budak sampai ia tak punya waktu untuk makan bekalnya sendiri.


Ia menahan rasa laparnya karena tidak bisa berbuat apa-apa.


Belum berhenti sampai di situ, Saat waktunya pulang ia kemudian disuruh membersihkan ruangan kelasnya seorang diri. Tak ada satu orang pun yang boleh membantunya.


Satu persatu anak-anak keluar dari kelas untuk pulang ke rumah masing-masing sampai hanya tinggal dia dan lima anak yang tadi membulinya. Mereka menyebarkan sampah saat Celin sudah selesai menyapu ruangan kelas mereka.


"Piggi ..... Masih kotor nih....!"


"Eh ndut.... nyapu yang bener...!"


Celin menarik nafas panjang sebagai reaksi rasa kesal. Ditambah lagi perut gendutnya yang keroncongan karena dia belum makan apa-apa setelah sarapan tadi pagi.


"You nggak terima nyapu sendirian?" Ucap gadis yang paling jangkung diantara semuanya.


Celin menggelengkan kepalanya dengan perasaan takut. Ia tidak ingin semakin di permainkan oleh mereka karena kini suasana sekolah sudah semakin sepi.


"Berlutut !" Kata si jangkung yang kemungkinan adalah ketua geng mereka.


Celin tak habis pikir dengan ulah teman-temannya yang masih bau kencur seperti dirinya. Bagaimana mereka bisa berbuat hal semacam ini yang biasanya hanya dilakukan oleh anak-anak remaja. Usia mereka bahkan belum genap sepuluh tahun tapi tindakan mereka membulinya sudah seperti orang dewasa.


Meski begitu Celin melakukan apa yang diperintahkan tanpa berani protes sama sekali. Tidak ada yang akan ada yang menolongnya jika ia memberontak.

__ADS_1


Ia pun berlutut meskipun kesulitan karena tubuhnya yang besar sedikit banyak menghambat pergerakan.


Salah seorang dari mereka kemudian mengalungkan berbagai macam snack yang dirangkai membentuk kalung ke lehernya yang hampir tak tampak.


"Ahahahhhhhaaaa......."


"Lucu sekali pig....."


"Itu hadiah dari kami agar perut gendut you tidak kelaparan....."


"Sekarang merangkak keluar kelas!" Kata si jangkung memberi perintah.


Celin menelan ludah, ia merasa seperti anjing yang harus mengikuti perintah tuannya. Ia tak punya daya untuk menolak karena ia tak punya kekuatan apa-apa.


"Ayo.... tunggu apalagi...!"


"Good job piggi...! Sekarang sambil menggonggong !! " Perintah si jangkung dengan suara lebih keras.


Celin berteriak minta tolong dalam hatinya. Berharap ada seorang guru atau tukang jaga sekolah yang datang ke kelasnya dan menolongnya.


"Guk guk guk guk..... seperti itu piggi....."


"Ayo gendut.... melolong seperti serigala juga tidak apa-apa.Nanti kalau sudah sampai di pintu sana you boleh makan snack-snack ini...."


Perlahan-lahan Celin merangkak sambil mengeluarkan suara seperti seekor anjing.

__ADS_1


"Guk...." Katanya pelan.


"Kami tidak dengar. Lebih keras lagi....!" perintah si jangkung.


"Guk ...... guk...." Suara Celin tercekat karena air matanya kini sudah berkumpul di pelupuk matanya.


"Apa yang kalian lakukan ????!" Tiba-tiba terdengar suara laki-laki seumuran mereka dari arah pintu .


Sontak saja kelima anak tadi menoleh tapi tidak dengan Celin. Ia merasa malu untuk mendongakkan kepala karena posisinya sekarang yang seperti anjing. Ia malu karena tak bisa melawan mereka. Ia malu karena selalu jadi bulan-bulanan tanpa melakukan perlawanan sama sekali.


"Han?"


"Ada Han ada Han...!!!"


"Ayo kabur ada Han....!!!"


Kelima anak tadi segera berhamburan sambil mengambil tas masing-masing. Mereka berlarian lewat pintu belakang dan meninggalkan Celin yang masih membatu di lantai.


Han hanya melihat kelima anak tadi pergi menjauh tanpa berusaha mengejarnya. Ia lebih fokus pada bocah gendut yang masih menatap lantai dengan posisi merangkak.


"Ayo bangun...!" Kata Han lembut sambil menarik kedua lengan Celin.


Setelah Celin berdiri, Han kemudian melepaskan kalung snack yang ada di leher Celin.


Gadis kecil itu tak berani menatap bocah lelaki di depannya. Ia ingin mengucapkan terimakasih tapi perasaan malunya lebih mendominasi.

__ADS_1


Celin kemudian mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kelas dengan menundukkan kepala. Ia pergi meninggalkan Han tanpa sempat mengucap sepatah kata.


Bocah lelaki yang lebih tua dari Celin itu menatap kepergian si bocah gendut sampai ia naik ke mobil yang menjemputnya. Barulah setelah itu Han menuju mobil yang sedari tadi sudah menunggunya.


__ADS_2