
...🌸🌸🌸...
*
"Myesha," ucap Myesha mengatupkan kedua tangannya di dada tanpa berani menatap Ilham.
"Ilham," jawab Ilham melakukan hal yang sama. Namun berbeda dengan Myesha yang menundukkan pandangan nya, Ilham sendiri malah menatap lekat wajah gadis itu.
Dan memang pada waktu pertemuan di pondok, mereka hanya melihat Ilham secara sekilas saja, karena Ilham yang buru buru pergi untuk mengisi jam pelajarannya.
Hingga mungkin Ayah Ardi dan Bunda Realyn kurang memperhatikan jika pemuda yang mereka temui di pondok adalah pemuda yang kini ikut bergabung di meja yang mereka tempati.
Bahkan, saat di pertemukan kembali satu tahun yang lalu di perusahaan. Baik Ayah Ardi maupun Ilham tidak menyadari jika mereka pernah bertemu satu tahun sebelumnya.
"Sepertinya, saya pernah melihat Nak Ilham tapi dimana ya? Saya lupa, tapi kok wajah nya seperti tidak asing ya?" tanya Bunda Realyn yang melihat sekilas sosok Ilham dulu saat mengantar putrinya mondok di pesantren Al Abdurahman.
"Mungkin wajah saya pasaran Bu, jadi Ibu merasa seperti itu." jawab Ilham yang juga tidak mengingat pertemuan pertama mereka dua tahun yang lalu.
"Masa sih? Tapi bisa saja sih. Oh Iya, apa Nak Ilham datang sendiri?" tanya Bunda Realyn lagi.
"Iya Bu, kebetulan saya masih sendiri. Jadi ya datang sendiri," jawab Ilham yang membuat Myesha tersentak kaget hingga membuatnya menoleh ke arah Ilham dan menatap lekat wajah pria itu.
"Wah masa sih? Kan sudah mapan, usia juga sudah cukup. Kenapa masih sendiri?" lanjut Bunda Realyn hingga mampu menyadarkan Myesha dari apa yang tengah di lakukan nya, memandangi wajah pria yang bukan mahram untuknya.
"Astaghfirullahaladzim," gumam Myesha lagi sambil menundukkan kepalanya.
Sepanjang menunduk, Myesha merutuki dirinya sendiri karena lepas kendali saat Ilham mengatakan jika dirinya masih sendiri.
Bagaimana mungkin masih sendiri, sedangkan Myesha jelas jelas mendengar kabar dari Nurma, jika Ilham akan menikah tepat di hari yang sama dengan keberangkatan nya ke Kairo dulu.
Lalu, bagaimana bisa Ilham dengan begitu lantang nya mengatakan jika dia masih sendiri? Lantas apa yang terjadi pada pernikahan nya dulu? Batin Myesha bertanya tanya.
__ADS_1
"Lalu kenapa Nak Ilham belum menikah? Apa belum menemukan yang cocok?" tanya Bunda Realyn lagi, hingga menarik perhatian Myesha untuk pasang telinga. Menunggu dengan tidak tenang jawaban dari Ilham.
"Masih cukup trauma saja Bu. Gagal menikah satu jam sebelum akad, rasanya masih menyisakan luka yang sulit untuk di lupakan." jawab Ilham yang kembali membuat Myesha tersentak kaget.
"Oh jadi seperti itu. Ibu turut prihatin ya, semoga Nak Ilham segera di pertemukan dengan jodoh Nak Ilham yang sebenarnya,"
"Aamiin Bu, terima kasih. Semoga saja disegerakan," jawab Ilham yang sengaja melirik ke arah Myesha yang diam diam mencuri pandang padanya.
Pemuda itu tampak tersenyum gemas saat Myesha langsung berpaling dan salah tingkah saat kedapatan tengah melirik ke arah nya.
Acara pun berlanjut dengan di isi oleh obrolan antara Ayah Ardi dan juga ilham. Sementara Bunda Realyn dan Myesha hanya bisa menjadi pendengar saja.
Karena kedua wanita itu memang kurang paham dunia bisnis jadilah. Mereka memilih menjadi pendengar saja dari pada ikut berbincang tapi tidak tahu apa yang tengah kedua pria itu obrolkan.
"Bun Shasa ke belakang dulu ya, mau ngadem." bisik Myesha pada Bunda nya.
"Iya sayang, jangan jauh jauh ya," jawab Bunda Realyn yang diangguki oleh putri sulung nya itu.
Myesha pun segera beranjak meninggalkan meja itu dan bergegas menuju ke halaman belakang untuk bersantai di sana.
Myesha tampak duduk seorang diri di sebuah gazebo mini yang terletak di pinggir kolam ikan yang ada di halaman belakang rumah keluarga Asifa.
Menatap anteng ke indahan ikan ikan koi yang menjadi penghuni kolam ikan yang ada di depan matanya. Hingga seseorang datang menghampirinya dan duduk di samping Myesha dengan jarak aman.
"Assalamu'alaikum, ijin duduk ya," ucap seseorang yang cukup membuat Myesha kaget.
"Wa_waalaikumsalam. Iya, silahkan." jawab Myesha canggung lalu sedikit menggeser duduknya.
"Kamu, apa kabar?" tanya nya setelah beberapa menit terdiam didalam keheningan.
"Baik, Gus Ilham sendiri? Bagimana?" tanya balik Myesha.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat dan kamu dengar. Saya semakin sibuk dengan dunia pekerjaan." jawab Ilham apa adanya.
Dia memang begitu disibukan dengan pekerjaan. Apalagi sejak gagal menikah dengan Fathia dan ditinggal pergi oleh Myesha membuat Ilham kian gila kerja.
Bukan ke gagalan nya yang membuat Ilham larut akan dunia kerja. Namun, Ilham mencoba melupakan seseorang yang terlanjur ada di dalam hatinya. Namun sayang, Ilham menyadari itu setelah orang itu menghilang dari hidupnya.
"Lalu, bagaimana dengan kabar Nyai Aida dan juga Nyai Mayra? Rasanya kangen sekali sama beliau beliau," lanjut Myesha tanpa berani menoleh ke arah Ilham sedikit pun.
"Alhamdulillah baik, Kalau kangen kenapa tidak datang berkunjung ke pondok? Saya yakin kalau Yangti sama Umma juga kangen dengan kamu," jawab Ilham.
"Iya, Insya Allah nanti mampir kesana,"
"Kapan? Jam berapa? Apa perlu saya jemput?" cecar Ilham, membuat Myesha menatap sambil mengerutkan dahi nya.
"Saya hanya menawarkan tumpangan, kanapa menatapnya sampai seperti itu? Aneh ya?" lanjut Ilham saat melihat Myesha menatapnya penuh dengan tanda tanya.
"Ah, ti_tidak. Eh, iya sih." jawan Myesha terbata.
"Aneh kenapa?" tanya Ilham bingung.
"Aneh saja, dulu kan Gus nggak suka deket deket sama saya. Kenapa sekarang malah menawarkan tumpangan? Lagi pula, saya bisa kesana sama Mahesa atau supir Ayah. Jadi tidak perlu repot repot di jemput sama Gus Ilham," jelas Myesha yang sedikit menyentil hati Ilham.
Tidak bisa di pungkiri memang, jika dulu Ilham begitu tidak suka dengan Myesha. Namun, sejak kehilangan sosok gadis itu. Ilham baru menyadari jika ternyata, hatinya sudah terpaut pada gadis bar bar itu.
"Itukan dulu Sha, manusia itu bisa berubah seiring berjalan nya waktu. Begitu pun dengan saya,"
"Iya sih, tapi Gus Ilham tidak perlu repot repot. Nanti saya akan mampir ke pondok bersama Mahesa atau supir saja,"
"Baiklah, kami tunggu kedatangan nya,"
"Iya, terima kasih. Kalau begitu saya pamit dulu ya, sepertinya Ayah dan Bunda sudah mau pulang," jawab Myesha langsung berdiri dan pergi dari sana.
__ADS_1
Rasanya tidak akan aman untuk hatinya jika terus menerus berdekatan dengan Ilham. Satu tahun sudah Myesha bersusah payah melupakan pria itu.
Dia tidak ingin kerja kerasnya selama ini berakhir sia sia dengan terus menerus berada di dekat Ilham. Myesha sudah bertekad untuk melupakan pria itu. Terlepas pria itu sudah menikah atau belum, namun Myesha sudah berjanji akan melupakan nya.