
...🌸🌸🌸...
...~Happy Reading~...
*
"Nanti ada yang akan datang, orang yang akan membantu bersih bersih rumah dan masak saat kamu sibuk atau tidak sempat untuk memasak," ucap Ilham setelah keduanya selesai beribadah.
"Siapa Mas?" tanya Myesha sambil merapihkan alat sholat yang baru saja di gunakan oleh keduanya.
"Namanya Bi Ida. Beliau akan ikut tinggal di sini namun di paviliun belakang. Mas sengaja mencari orang yang bisa menginap, biar kalau ada apa apa kita jauh lebih mudah untuk meminta bantuan nya," jawab Ilham sembari melepas baju koko untuk diganti dengan kaos rumahan yang biasa dia gunakan saat berada di rumah saja.
Kebetulan hari ini Ilham masih mengambil cuti, atau lebih tepatnya mengambil cuti tambahan untuk mengurus segala keperluan yang dibutuhkan di rumah baru yang akan dia tempati bersama sang istri.
Termasuk orang yang akan bekerja di rumah nya yang kebetulan akan datang siang ini bersama dengan suaminya. Pasangan pasutri itu sengaja di pekerjakan Ilham atas saran dari Abah Yusril.
Abah Yusril cukup mengenal pasangan suami istri yang memang kerap melakukan pekerjaan serabutan demi mencukupi kebutuhan hidup mereka. Ditambah lagi, mereka masih memiliki seorang anak yang masih dalam tanggung jawab mereka karena belum menikah.
Karena itu adalah rekomendasi dari sang kakek, akhirnya Ilham pun setuju untuk mempekerjakan keduanya di dalam satu rumah dan akan ikut tinggal di rumah itu. Ilham akan mempekerjakan suami dari Bi Ida sebagai tukang kebun sekaligus satpam rumah yang berjaga di sekitar rumah.
Dan tentu saja, hal itu disambut baik oleh kedua pasutri itu. Selain bisa bebas dari uang sewa rumah, mereka bisa fokus bekerja tanpa harus memikirkan rumah yang mereka tinggalkan, karena memang selama ini Bi Ida dan suami belum memiliki rumah sendiri dan masih mengontrak salah satu rumah warga.
“Oh begitu, baiklah. Kira kira kapan mereka datang kemari?” tanya Myesha lagi.
“Mungkin sebentar lagi. KIta tunggu saja, mungkin mereka masih dalam perjalanan menuju kemari,” jawab Ilham yang kini telah berganti pakaian dan duduk di bibir ranjang sembari memainkan gadgetnya.
__ADS_1
Dan benar saja, tidak lama kemudian bel rumah itu pun berbunyi. Ilham dan Myesha sama sama langsung keluar dari kamar dan menuju ke lantai bawah untuk membukakan pintu rumah mereka.
Ceklek
“Assalamu’alaikum, permisi apa benar ini rumah Gus Ilham?” tanya wanita paruh baya yang berdiri paling di depan pintu paling depan.
“Benar, ini Bi Ida ya?” jawab Myesha penuh dengan kesopanan dan keramahan nya.
“Benar nyonya, saya Bi Ida dan ini suami serta putri saya,” jawab Bi Ida sembari memperkenalkan dua orang yang ikut bersama dengan nya.
"Mari silahkan masuk Bi, kita bicara di dalam." Lanjut Myesha mempersilahkan keluarga calon art nya itu untuk masuk kedalam rumah.
Ketiga tamu nya itu pun masuk, lalu mengikuti langkah sang calon majikan ke arah dalam rumah itu. Myesha membawa keluarga Bi Ida untuk bicara di ruang keluarga.
"Mas, ini Bi Ida sama keluarga nya sudah datang," ucap Myesha mendekati sang suami lalu duduk tepat di samping nya.
"Iya sayang, mari Bi, Mang silahkan duduk," jawab ilham mempersilahkan tamu nya untuk duduk.
"Baik Gus terima kasih, perkenalkan saya Bi Ida dan ini suami saya namanya Marno. Dan ini putri saya, Melani maaf saya harus membawa serta putri saja karena tidak ada yang bisa menjaga nya. Selain itu, rumah kontrakan kami juga sudah tidak di kontrakan lagi jadi saya terpaksa membawa putri saya untuk ikut bersama kami. Melani juga bisa ikut bantu bantu di sini," jelas Bi Ida yang cukup di mengerti oleh Ilham dan Myesha.
"Baiklah, tidak masalah Bi. Bibi dan Mang Marno akan mulai bekerja dari sore ini. Bibi dan keluarga akan tinggal di paviliun belakang. Semua kebutuhan untuk keluarga Bibi sudah tersedia di sana. Jadi sekarang, Bibi serta keluarga boleh istirahat dulu di sana. Nanti sore, bantu istri saya siapkan makan malam. Ini kunci paviliun nya, jadi silahkan beristirahat dulu saja. Nanti sore baru mulai bekerja," jelas Ilham sembari memberikan kunci paviliun yang ada di bagian belakang rumah mewah nya.
"Baik Gus, terima kasih." Jawab Bi Ida yang masih merasa sungkan pada majikan barunya itu.
"Mas, aku antara ke belakang dulu ya?" Ucap Myesha pada suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang, Mas tunggu di kamar saja ya? Pulang dari belakang langsung ke kamar saja," jawab Ilham yang di angguki oleh Myesha.
"Ya sudah, mari Bi saya tunjukkan paviliun nya," ucap Myesha sembari berjalan lebih dulu dan diikuti oleh satu keluarga yang akan mulai bekerja di rumah itu.
Ilham sendiri langsung beranjak menuju ke arah kamarnya. Setiba nya di kamar, Ilham beranjak menuju ke arah balkon kamarnya bersama dengan Myesha. Ilham menghabiskan waktu disana sembari menunggu istrinya kembali dengan mengecek pekerjaan nya lewat laptop yang ada di pangkuan nya.
Dari atas sana, Ilham juga bisa melihat dengan jelas pemandangan yang ada di bawah sana. Dan saat melirik ke bawah balkon, tanpa sengaja netranya menangkap seseorang yang tengah menatap ke arah nya.
Ilham langsung memalingkan wajahnya saat menyadari jika dia telah menatap seseorang yang bukan mahram nya. Ilham pun kembali disibukkan dengan laporan laporan pekerjaan yang masuk ke dalam laptopnya. Hingga Ilham pun tidak menyadari jika sang istri sudah ada di samping nya.
Cup
Ilham tersentak kaget saat merasakan pipi nya di kecup seseorang. Ilham langsung menoleh dan di lihatnya sang istri kini tengah duduk tepat di samping nya dengan tersenyum manis.
"Astaghfirullah, sayang. Bikin kaget saja," seru Ilham sambil mengusap usap dadanya karena kaget.
"Serius amat sih? Sampai nggak sadar kalau istrinya datang," jawab Myesha bergelayut manja di lengan sang suami.
"Ini, pekerjaan yang harus diselesaikan. Kenapa? Kok tumben manja gini?" Tanya Ilham merubah posisi menjadi memeluk Myesha dan mendekap erat tubuh wanita yang berhasil mencuri hatinya itu.
"Cuacanya enak banget ya Mas, adem begini." Ucap Myesha semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Kamu benar, lebih enak lagi kalau kita lanjut dengan yang panas panas dan enak enak," jawab Ilham seringai licik tergambar di wajahnya.
Melihat hal itu, Myesha pun mulai memberi jarak lalu bersikap waspada terhadap suaminya itu. Entahlah, kenapa Ilham yang dulu dingin dan cuek kini mendadak menjadi seorang Ilham yang bucin dan mesum.
__ADS_1