
...🌸🌸🌸...
*
Sungguh, rasanya ingin sekali kedua orang tua itu melihat putrinya memiliki pasangan. Namun sayang, berulang kali ayah Ardi mengutarakan keinginan nya untuk memperkenalkannya putrinya itu pada seseorang.
Namun, selalu saja mendapatkan penolakan dari sang putri. Dan kini, sepertinya semesta tengah berpihak pada pria paruh baya itu. Dimana Ilham dan Myesha dekat dengan sendirinya tanpa ada campur tangan dirinya.
Acara makan malam pun berlangsung dengan baik. Kini Ilham pun terlihat sudah jauh akrab dengan kedua orang tua Myesha. Bahkan pemuda itu tidak segan segan tertawa lepas di depan kedua orang Myesha.
Dan jujur, Ayah Ardi semakin menyukai Ilham karena memiliki sikap yang humble dan mampu bergaul dengan siapa saja. Termasuk para kaum tua seperti ayah Ardi dan juga Bunda Realyn.
Ilham benar benar bisa bergaul dengan semua usia. Dia begitu bisa mengimbangi lawan bicara nya dan itu membuat semua yang ada di dekatnya nyaman.
Namun, lagi lagi. Myesha tidak ingin terjebak dengan perasaan nyaman yang hanya Myesha sendiri yang merasakan. Myesha sudah tidak mau lagi banyak berharap pada manusia.
Biarkan lah jalan takdir yang membawa jodoh itu kepadanya. Bukan dia lagi yang akan mencari, namun membiarkan Allah yang mempertemukan dan menyatukan mereka nantinya.
*
*
"Assalamu'alaikum," seruan salam mengalihkan perhatian Myesha dari buku yang saat ini tengah dia baca ke arah sumber suara.
Myesha menekuk wajah nya saat tahu siapa di balik siara bariton yang saat ini tengah menyapanya. Bagaimana tidak menekuk wajah cantik nya, Myesha sudah dibuat menunggu selama satu jam lebih oleh pemuda itu.
"Kebiasaan," cebik Myesha kesal pada pria tampan yang sudah mendudukkan dirinya bahkan sebelum di persilahkan oleh si pemilik meja.
"Maaf dan sabar. Jangan marah marah mulu, nanti cepat tua loh," goda si pemuda tengil itu.
"Memang nya yang buat aku kesel sama marah itu siapa coba?" jawab Myesha lagi dengan nada yang sedikit ketus.
__ADS_1
"Ya kan tadi sudah minta maaf. Lagian tuh jalan raya kenapa nggak di perlebar lagi si? Jadikan nggak akan ada drama terlambat karena kejebak macet,"
"Jangan jadikan macet sebagai alasan, kalau kamu bisa lebih gesit sedikit maka tidak akan ada kata terlambat. Lihat, aku juga bisa datang tepat waktu,"
"Iya ,iya Maaf. Udah mending sekarang pesan makanan deh, dari pada marah marah mulu,"
"Oh iya, ngomong ngomong ada apa kamu meminta ku kemari?" tanya Myesha sambil meraih buku menu dan memilih makanan yang akan dia pesan.
"Nggak ada, lagi pengen ketemu aja. Sudah lama loh kita nggak jalan bareng," jawab pemuda itu sambil memanggil salah satu waiters karena ingin memesan makanan.
"memang nya nggak ngantor?" tanya Myesha lagi lanjut memesan menu makanan yang akan menjadi menu makan siang nya hari ini.
"Off lah, kerja mulu. Bisa lumutan di kantor kalau nggak ada libur nya, aku itu nggak kaya di Mahesa yang gila kerja. Mau nikah aja masih aja sibuk ngurusin kerjaan, beruntung di Sifa sabar banget orang nya," jelasnya.
Obrolan keduanya kembali terjeda saat pramusaji datang untuk menyajikan menu makanan yang tadi sudah mereka pesan.
"Silahkan dinikmati Mbak, Mas nya," ucap pramusaji itu setelah selesai menata menu makanan di atas meja.
"Iya Mbak, sama sama."
Pramusaji itu pun kembali meninggalkan kedua pelanggannya yang sudah siap melahap menu makan siang mereka hari ini. Dengan di isi oleh perbincangan hangat yang selalu mengisi setiap pertemuan keduanya. Myesha dan sang pemuda pun mulai memakan makan siang nya.
*
*
"Kita makan di sini Tuan?" tanya Bayu setelah berhasil memarkirkan mobil yang dia bawa di sebuah cafe ternama yang banyak di datangi oleh para pelanggan nya.
"Di sini saja, biar tidak terlalu jauh dari lokasi meeting selanjutnya," jawab Ilham yang langsung menutup laptop yang sejak awal Ilham masuk kedalam mobil itu, sudah Ilham pandangi.
Kesibukan dan padatnya jadwal hari ini membuat Ilham harus membawa laptopnya kemana-mana. Ilham tidak bisa membuang waktunya hanya untuk bolak-balik kantor dan tempat meeting selanjutnya yang memiliki jarak agak jauh dari kantor tempatnya bekerja.
__ADS_1
Karena itu Ilham pun menggunakan waktu luangnya selama di perjalanan untuk mengecek beberapa pekerjaan lainnya.
Setibanya di sana, Ilham dan Bayu pun langsung bergegas masuk ke dalam cafe itu karena memang diburu oleh waktu. Namun Ilham juga tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dalam keadaan perut yang lapar.
Ilham pun akhirnya memutuskan untuk makan siang di sebuah cafe yang tengah dia lewat di saat akan pergi ke kantor rekan bisnisnya. Dengan sikap Bayu membantu membukakan pintu cafe itu untuk sang atasan.
Saat masuk ke dalam cafe, Ilham dan Bayu pun disambut ramah oleh karyawan yang bertugas menjaga pintu Cafe tersebut.
"Permisi Pak, Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya tersenyum ramah pada Ilham dan juga Bayu.
"Saya mencari tempat untuk dua orang Mbak," Jawab Bayu karena melihat Ilham yang masih sibuk dengan gadget di tangannya.
"Oh baik, mari silakan ikut saya Pak," jawab pegawai itu membimbing Ilham dan Bayu untuk masuk lebih dalam ke cafe itu.
Ilham dan Bayu pun tampak menurut, mengikuti kemana langkah kaki pegawai Cafe itu membawa mereka.
"Ini mejanya Pak, dan ini buku menunya. Silakan panggil lagi kami Jika anda sudah siap untuk memesan menu makanannya," ucap pegawai Cafe itu lagi, lantas meninggalkan Ilham dan Bayu yang sudah duduk di meja yang tadi dia Tunjukkan.
"Simpan dulu ponselnya Pak. Sekarang waktunya kita makan siang dulu," tegur Bayu yang sejak tadi melihat Ilham hanya fokus dengan ponsel di tangannya.
Tanpa menjawab, Ilham pun langsung mematikan ponselnya dan menyimpannya di atas meja. Ilham pun langsung meraih buku menu yang ada di depannya setelah memilih beberapa menu untuk di santap siang ini.
Bayu pun tampak terlihat memanggil salah satu waiters untuk melayani mereka. Saat tengah menunggu menu makanan mereka datang, Ilham pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling Cafe dan Alangkah terkejutnya Ilham saat netranya menatap sesosok orang yang begitu familiar di matanya, Tengah duduk bersenda gurau dengan seorang laki laki.
Ilham pun semakin mempertajam penglihatannya, meyakini jika orang itu adalah orang yang sangat dia kenali.
"Anda lihat apa Pak?" tanya Bayu saat menyadari Jika ada yang aneh dari tatapan atasannya.
Namun Ilham bergeming, pria itu tetap fokus menatap sosok yang saat ini ada di depannya. Terhalang oleh beberapa meja lainnya namun Ilham masih bisa melihat dengan jelas Siapa orang itu.
Tidak mendapat jawaban dari sang atasan Bayu pun akhirnya mengikuti Arah pandangan Ilham.
__ADS_1
"Mbak Myesha? Bukannya itu Mbak Myesha ya pak?" celetuk Bayu menyadarkan Lamunan Ilham tentang wanita yang sejak tadi dia tatap.