Jodoh Untuk Gus Ilham

Jodoh Untuk Gus Ilham
Bab.22


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


*


"Sepertinya Mbak Myesha juga senang makan siang di sini pak. Tapi ngomong-ngomong, dia sama siapa ya? Apa itu calon suaminya?" lanjut Bayu lagi yang semakin membuat hati Ilham bergemuruh tidak karuan.


Bahkan tanpa sadar Ilham pun semakin menatap tajam ke arah dua orang yang tengah duduk berhadapan itu. Sementara Myesha sendiri tampak Acuh saja, karena dia tidak menyadari jika ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya berinteraksi dengan seorang laki-laki.


Myesha pun tampak tersenyum lembut kepada pemuda itu dan itu semakin membuat hati Ilham bergemuruh dengan begitu hebatnya. Tanpa Kata, Ilham pun langsung bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Myesha dan pemuda itu.


"Sha kamu sedang apa di sini?" tanya Ilham membuat Myesha dan si pemuda itu tersentak kaget lalu menoleh ke arah sumber suara.


Myesha Semakin dibuat tersentak kaget saat melihat Ilham berdiri di sampingnya dengan Tatapan yang cukup tajam ke arahnya.


"Gus Ilham?" tanya Myesha saat melihat Ilham berdiri tepat di sampingnya dengan mata menatap tajam segaris lurus ke arah wajahnya.


Baru saja Ilham akan membuka mulutnya kembali untuk bertanya. Namun urung dia lakukan saat suara dering ponsel milik Myesha berbunyi.


"Maaf, sebentar." ucap Myesha meminta ijin untuk mengangkat sambungan telpon yang di lakukan oleh sang Bunda.


Ilham bergeming, namun Ilham mengangguk kepala nya sebagai tanda jika dia mempersilahkan Myesha mengangkat panggilan telpon dari Bunda nya.


Sementara si pemuda yang bersama Myesha, hanya diam mengamati interaksi antara Myesha dengan pria dewasa yang baru saja mendatangi meja nya.


"Menarik," gumam pemuda itu tersenyum penuh arti dengan pandangan tertuju pada Ilham.


"Halo, assalamu'alaikum Bunda? Kenapa?" tanya Myesha setelah dia menekan tombol hijau untuk menerima telpon dari Bunda Realyn.


["Wa'alaikum salam Nak, masih sama Zayden Kah?"] tanya Bunda Realyn dari sebrang sana.


"Masih Bun, ini baru selesai makan. Sebentar lagi kita pulang kok,"


["Suruh Zayden ke rumah Oma ya, kebetulan Papa sama Mama nya ada di rumah Oma. Dan kita disuruh kumpul di sana untuk makan malam bersama,"]


"Iya baiklah, nanti Shasa sampaikan. Nanti pas kita pulang, langsung ke rumah Oma,"

__ADS_1


["Baiklah kalau begitu, kalian hati hati ya. Sampai ketemu di rumah Oma, assalamu'alaikum,"]


"Iya Bun, wa'alaikum salam."


Myesha pun kembali menyimpan ponselnya di tas tas kecilnya setelah menutup panggilan telpon nya. Myesha menatap bingung ke arah Ilham yang ternyata masih berdiri di samping nya.


"Bunda? Bilang apa tadi?" tanya pemuda yang ternyata bernama Zayden itu.


"Iya, Bunda bilang nanti kita pulang nya langsung ke rumah Oma. Ada acara makan malam bersama," jawan Myesha.


"Oh iya Maaf, Gus Ilham lagi makan siang di sini juga ya?" lanjut Myesha yang kini bertanya pada Ilham.


"Iya, sangat kebetulan kita bertemu di sini." jawab Ilham sedikit bernada dingin.


Ada aroma kecemburuan di setiap penekanan kaya yang Ilham ucapkan dan hal itu di sadari betul oleh Zayden.


Sebagai pemuda yang sudah memasuki usia dewasa, tentu Zayden tahu betul apa yang di rasakan oleh Ilham saat ini.


Bahkan hanya melihat tatapan matanya saja, Zayden langsung tahu. Jika pria yang kini berdiri didepan nya memiliki perasaan khusus pada Myesha.


Jujur, Myesha bingung menghadapi situasi saat ini. Ada perasaan aneh di dalam dirinya saat melihat sikap Ilham sejak kembali di pertemukan dalam beberapa waktu ini.


Namun, balik lagi. Myesha tidak ingin kembali terjerumus dalam perasaan sepihaknya lagi. Meski perasaan itu masih menggebu dan sama sekali tidak pernah redup.


Namun Myesha kini menyadari, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Rasa sakit yang kian menusuk dan meluluh lantahkan karena perasaan yang tak berbalas cukup menjadi pelajaran berharga untuknya agar tidak lagi ambisius dan berharap kepada manusia.


"Berhubung Kita sudah selesai, kita juga lagi ditunggu keluarga besar. Lebih baik kita pulang sekarang Sha, ayo." tanpa menunggu jawaban dari Myesha, Zayden pun langsung menarik tangan Myesha untuk pergi dari sana.


Beruntung semua makanan yang mereka makan, sudah di bayar oleh Zayden hingga mereka berdua pun tinggal pergi dari sana.


Namun, saat melewati tubuh Ilham yang masih nerdiri di sana. Langkah Myesha terhenti karena pergelangan tangan nya di cekal oleh seseorang.


Myesha membulatkan matanya dengan sempurna saat melihat tangan siapa yang kini tengah mencekal pergelangan tangan nya.


"Tunggu, biar aku yang antar pulang," ucap Ilham mencekal pergelangan tangan Myesha.

__ADS_1


"Mohon maaf tuan, tidak bisa begitu. Aku yang membawanya pergi dan aku juga yang harus membawanya pulang. Itulah adab dan etika saat mengajak seseorang pergi keluar. Terlebih dia adalah seorang wanita, bukan begitu Myesha?" jawab Zayden dan sambil melepaskan cekalan tangan Ilham di tangan Myesha.


"Permisi, kami sudah di tunggu oleh seluruh keluarga. Selamat siang dan selamat menikmati makan siang anda tuan," lanjut Zayden langsung menarik Myesha dan membawa gadis itu keluar dari cafe.


Ilham tampak bergeming, berdiri membeku di tempatnya. Ada seonggok daging yang berdenyut nyeri saat harus melihat Myesha pergi bergandengan tangan dengan pria lain.


Ilham lalu menghela nafas kasar demi mengurai rasa sesak di dalam dadanya. Sungguh, rasanya ingin sekali menahan Myesha agar tidak pergi bersama pria itu.


Namun Ilham sadar betul jika di antara mereka belum ada ikatan yang membuat Ilham memiliki hak untuk melarang Myesha untuk tidak dekat dengan pria lain.


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di dalam mobil milik Zayden. Pemuda itu saat ini tengah memekik kesakitan karena telinganya tengah di plintir oleh Myesha.


"Dasar kurang ajar, sejak kapan kamu belajar manggil Kakak dengan sebutan nama, hah? Jadi ini yang kamu pelajari selama di Singapura, Hah. Anak kurang ajar, dasar tidak sopan," pekik Myesha tanpa melepaskan tangan nya dari telinga Zayden.


"Aw, aw, aw, iya maaf Kak. Tadi itu cuma akting. Udah dong lepas Kak, sakit." rintih Zayden saat telinga di pelintir oleh Myesha.


"Akting? Akting buat apa?" tanya Myesha sambil melepaskan tangan nya dari telinga Zayden.


"Kakak beneran nggak tahu?" tanyq balik Zayden pada Myesha.


"Tahu apa? Memang nya ada apa? Kamu Itu beritahu Kakak aja nggak, mana Kakak tahu?"


"Tentang pria tadi. Eh, ngomong Kakak sejak kapan kenal sama dia?"


"Gus Ilham? Memangnya kenapa dengan Gus Ilham?"


"Oh namanya Gus Ilham, sejak kapan kalian saling kenal?"


"Sudah dua tahun. Tapi, memang nya kenapa dengan Gus Ilham?"


"Kakak nggak nyadar ya? Benar benar nggak tahu?" tanya Zayden lagi yang di jawab gelengan kepala oleh Myesha.


"Masa Kakak nggak nyadar sih?"


"Nyadar tentang apa?"

__ADS_1


__ADS_2