
...🌸🌸🌸...
...~Happy Reading~...
*
Akhirnya, setelah memghabiskan waktu swlama dua hari di hotel. Ilham dan Myesha pun kembali pulang ke rumah keluarga Myesha lebih dulu untuk berpamitan serta meminta ijin untuk membawa Myesha pindah rumah ke rumah baru yang sudah Ilham siapkan.
"Begini Ayah, Bunda. Ilham ijin untuk membawa Myesha pindah ke rumah yang sudah Ilham sediakan untuk kami memulai hidup berumah tangga dengan mandiri," ucap Ilham saat menghadap pada kedua mertuanya untuk membawa Myesha pindah ke rumah baru mereka.
"Jika itu sudah menjadi keputusan kalian berdua, sebagai orang tua, Ayah dan Bunda hanya bisa mendoakan. Semoga pernikahan kalian selalu dalam lindungan nya. Dan pernikahan kalian langgeng selamanya, bawalah karena Myeaha kini menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya, namun ingat satu hal. Ayah titip Myesha, tolong jaga dan lindungi dia seperti Ayah dan Bunda menjaga nya selama ini." Jawab Ayah Ardi yang meski berat hati, namun tetap harus melepaskan putrinya untuk dibawa oleh suaminya.
"Baik Ayah, Ilham akan berusaha menjaga amanat Ayah ini dengan baik."
"Baiklah, kalau begitu kapan kalian akan mulai pindah?"
"Mungkin besok lusa Ayah, hari ini kami akan menginap dulu di sini. Dan besok rencananya kami akan mengunjungi pondok sekalian berpamitan juga d3ngan Umma dan Abi." Jawab Ilham yang di iyakan oleh istrinya.
"Baiklah kalau begitu, kalian istirahatlah. Nanti malam kembali lah turun untuk makan malam bersama,"
"Baik Ayah, kalau begitu kami permisi dulu."
Ilham dan Myesha pun akhirnya beranjak menuju kembali ke kamar Myesha. Selama satu minggu ini, Ilham memang tinggal bersama keluarga istrinya. Dan itu Ilham lakukan atas permintaan dari sang mertua yang menginginkan mereka tetap berkumpul setidaknya sampai pernikahan Mahesa selesai digelar.
Dan kini, sudah waktunya Ayah Ardi melepaskan putra putrinya untuk memulai kehidupan baru mereka dengan pasangan masing masing. Setelah Mahesa yang sudah lebih dulu pindah ke rumah pribadinya bersama dengan Asifa.
Kini giliran Myesha yang akan dibawa oleh suaminya untuk menempati rumah pribadi mereka yang memang sudah Ilham siapkan khusus, dan akan dia tempati setelah dia menikah nantinya.
__ADS_1
"Tidak terasa ya Bun, waktu berlalu begitu cepat. Dulu kita menghadapi begitu banyak rintangan untuk menghadirkan Myesha di dalam kehidupan kita. Dan kini, tanpa terasa kita sudah harus melepaskan Putri kita itu untuk hidup bersama dengan pria pilihannya," ucap Ayah Ardi sendu.
Saat ini kedua paruh baya itu tengah duduk berdua Bersama dengan sang istri di halaman belakang, sambil menikmati secangkir teh dan juga cemilannya.
"Ya, seperti inilah cara kerja bumi Ayah, dulu begitu banyak rintangan yang kita hadapi hanya untuk memiliki seorang anak dan sekarang Waktu berjalan dengan begitu cepat dan tanpa terasa akhirnya kita harus melepaskan Putri kita untuk hidup bersama dengan pria pilihannya. Bunda hanya berharap semoga pernikahan putra-putri kita ini menjadi pertama dan yang terakhir yang terjadi di kehidupan mereka, yang akan berlangsung selamanya sampai mereka memiliki anak dan cucu, seperti kita," jawab Bunda Realyn.
Benar, jika mengingat ke belakang begitu banyak rintangan dan kesulitan yang dihadapi oleh ayah Ardi dan Bunda Realyn saat ingin memiliki seorang anak dan kini bumi berputar dengan begitu cepatnya. Hingga tanpa terasa kini Bunda Realyn dan Ayah Ardi harus melepaskan Putra dan putrinya untuk memulai kehidupan baru bersama dengan pasangan mereka masing-masing.
*
*
Setelah menginap di rumah kedua orang tua Myesha. Kini giliran mereka untuk menginap di pondok, lebih tepatnya di rumah kedua orang tua Ilham sebelum mereka pindah ke rumah pribadi mereka.
"Umma dengar, kalau kalian akan pindah ke rumah yang sudah Ilham siapkan. Apa itu benar?" tanya Umma Mayra saat satu keluarga itu tengah makan siang bersama.
"Apa, tidak sebaiknya kalian tinggal di sini saja. Rumah akan sepi jika kalian pindah," ucap Yangti Aida yang merasa keberatan jika cucunya itu pindah dari sana.
"Kami akan sering main kemari Yangti, jadi jangan khawatir. Lagipula, rumah Ilham juga tidak jauh dari sini. Kalau Yangti kangen tinggal panggil kami atau Yangti yang main ke rumah kami, iya kan sayang?" Jawab Ilham.
"Iya, nanti Myesha akan datang setiap hari ke sini. Saat Mas Ilham berangkat kerja, Myesha akan datang kemari dan menghabiskan waktu disana selama menunggu Mas Ilham pulang dari kantor,"
"Apa itu tidak merepotkan? Bukan kah lebih baik kalian tetap di sini saja?"
"Biarkan mereka Ummi. Ilham sudah dewasa dan sudah waktunya memiliki keluarga sendiri. Jujur, Abah juga sebenarnya merasa keberatan. Hanya saja, Abah tahu jika kalian memiliki hak untuk membangun keluarga kalian sendiri. Pergilah, doa Abah dan yang lainnya akan selalu menyertai langkah kalian berdua,"Â
Setelah mendapatkan ucapan dari sang suami, Ummi Aida pun akhirnya pasrah untuk melepaskan cucunya yang akan membentuk keluarganya sendiri. Dengan tinggal di rumah pribadi mereka.
__ADS_1
Dan tentu saja hal itu sangat disambut bahagia oleh Ilham dan Myesha yang memang ingin hidup mandiri setelah menikah. Dan memang sedikit sulit untuk membujuk Ummi Aida jika bukan oleh suaminya.
Wanita paruh baya yang lemah lembut itu memang kerap sedikit keras kepala di beberapa kesempatan. Dan hanya sang suaminya lah yang mampu membuat Ummi Aida luluh dan menurut.
*
*
Keesokan harinya, Ilham benar benar membawa Myesha pindah kerumah baru mereka. Sebuah rumah yang cukup besar di pilih Ilham untuk di tempati oleh dirinya dan keluarga.
Myesha sendiri menatap takjub pada keindahan rumah baru yang akan ditempatinya bersama dengan Ilham dan anak anaknya kelak.
"Mas, rumah nya besar sekali," Seru Myesha saat turun dari mobil, dan menatap sebuah bangunan besar yang akan menjadi istana nya bersama dengan keluarga barunya.
"Bagaimana, kamu suka tidak?" Tanya Ilham sambil merengkuh bahu sang istri.
"Suka banget Mas, terima kasih. Tapi, apa ini tidak terlalu besar?"
"Tentu saja tidak, Mas punya rencana untuk memiliki banyak anak. Makanya Mas siapkan rumah ini agar kelak anak anak kita lebih leluasa saat bermain," Jawab Ilham yang seketika membuat Myesha merinding dibuatnya.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo, lebih baik kita masuk," Lanjut Ilham membawa istrinya untuk masuk kedalam rumah yang akan mereka tempati saat ini.
Ceklek
"Bismillahirrahmanirrahim, assalamu'alaikum. Silahkan masuk sayang," Ucap Ilham setelah membuka kan pintu rumah itu untuk istrinya.
"Masya Allah, bagus sekali Mas," seru Myesha saat melihat seisi rumah itu.
__ADS_1