
Bagaikan petir untuk keluarga Altezza,kematian salah satu anak maupun cucu mereka yang baru memasuki umur 1bulan,di mana belum mengenal apa apa dan tidak mengerti apa apa,sungguh malang nasib Della.
Retta dari tadi terus menangis dalam diam,dia tidak ikut pergi ke pemakaman anak nya sehingga kini ia berada di rumah sendiri dengan Bi Sri yang masih di bawah,air mata nya membasahi bantal putih itu,mata nya sangat sembab,sesekali dia menyebut nama anak perempuan nya yang telah pergi meninggal kan ibu nya dari dunia untuk selama nya.
Retta pergi ke kamar mandi,padahal dia baru saja selesai mandi beberapa jam yang lalu,entah sudah berapa lama Retta di dalam kamar mandi yang di ketahui Bi Sri adalah hanya air yang terus mengalir 20 menit setelah Retta menangis di dalam kamar mandi,Rey kini sudah pulang dari pemakaman putri nya,berat? Iya tapi sebagai laki laki dia harus tegar.
“Bi kenapa?” Tanya Rey yang sudah tiba di pintu menemukan Bi Sri yang mematung memanggil nona nya yang tak kian muncul “itu tuan,nona muda dia tidak keluar dan hanya ada suara air mengalir dari tadi”kata Bi Sri seketika membuat Rey membulat kan mata nya tak percaya,dia membuka pintu yang tak di kunci itu “RETTA!” Teriak nya dari luar pintu kamar mandi yang terkunci,merasa tak ada jawaban Rey terpaksa mendobrak pintu, brakk satu tendangan berhasil membuat pintu itu terbuka,benar saja Retta kini tengah tak sadar kan diri merendam diri nya di dalam bath tub membiar kan air yang tadi nya mengisi dan menyelimuti diri nya sudah hampir menutupi kening nya,beruntung nya Rey datang tepat waktu sebelum itu terjadi.
“Ya ampun sayang apa yang kamu lakukan”Rey bertanya pada Retta yang sudah tak sadar kan diri hati nya kini sungguh berkecamuk rasa sedih makin menggebu gebu diri nya,dengan cepat dia membawa Retta melaju ke rumah sakit,setelah mengganti kan pakaian nya yang kian basah dari tadi terkena air dingin “sadar sayang...jangan biar kan seorang anak kecil memutus kan semangat mu” kata Rey memegang tangan Retta yang sedang di infus.
“Kuat kan batin mu nak...dia terpukul mungkin...Retta anak yang tangguh tapi dalam hal seperti itu dia akan sangat lemah” ucap mama tiri Retta yang dari tadi kian menemani Retta di ruangan nya yang belum sadar kan diri juga.
__ADS_1
Rey memutus kan untuk keluar dan mencari udara segar untuk menjernih kan pikiran nya satu orang kesayangan nya sudah pergi meninggal kan nya dan kini dia tidak mau orang yang paling di sayang nya meninggal kan nya lagi,senyuman nya,amarah nya,wajah cantik nya selalu terbayang bayang di benak Rey dari tadi mungkin sangat sulit menjernih kan pikiran nya saat seseorang itu tengah dalam kondisi yang tidak mengenak kan hati.
2 jam sudah berlalu Retta masih belum sadar juga,Rey kini tengah duduk di kursi yang berada di depan pintu ruangan Retta menunggu istri nya sadar,tak lama dari itu “nak ayo masuk...Retta sudah sadar”kata mama Mia yang juga ada di dalam setelah pulang dari pemakaman cucu satu nya itu.
Rey yang mendengar hal itu langsung bangkit dari duduk nya melangkah cepat ke dalam menemui sang istri yang kini tengah sadar,posisi Retta yang sedang membelakangi diri nya membuat Rey sulit untuk bertemu Retta “sayang...”kata Rey lirih,sedang kan mama Mia dan mama mertua nya sudah keluar.
Mungkin ini salah satu cobaan yang Tuhan berikan untuk nya “sayang...makan dulu yah...aku suapi”Retta menggelengkan kepala nya pengganti kata “tidak” dengan posisi masih membelakangi Rey,kejadian itu sangat membuat Retta amat terpukul kehilangan buah hati nya meski masih ada Dilan namun hati nya merasa sangat sangat terpukul,ibu mana yang tidak sedih akan sepeninggalan anak nya.
Retta hanya membuka mulut nya pasrah saat Rey menyuap kan sesendok bubur ke mulut nya,tidak ada satu kata pun yang di ucap kan dari kedua nya hingga bubur yang tadi nya penuh sudah kosong,Rey menuang kan segelas air dan memberi kan nya pada Retta,dan dia hanya meneguk gelas itu hingga habis tanpa sepatah kata pun.
“Kamu mau sampai kapan diam terus sayang...kasihan loh Dilan masih di rumah”kata Rey mengusap kepala Retta pelan berharap Retta segera pulih dari kebisuan nya dari tadi “tapi Della...”kata Retta lalu kembali menetes kan air mata nya “jangan nangis besok kita ke makam nya yah supaya tenang,mama nya gak ada sih tadi waktu pemakaman gimana mau tenang”kata Rey mencoba membujuk Retta agar dia mau mengunjungi makam putri nya.
__ADS_1
Retta menggigit bibir bawah nya merasa canggung dan bersalah,dia membuang nafas nya kasar “iya” hanya kata itu yang di keluar kan dari bibir nya setidak nya itu sudah membuat diri Rey sedikit tenang melihat istri nya tidak berendam di kebisuan.
****
“Sayang makan dulu yuk ayo makan yah nanti sakit loh”dari tadi itu lah yang di lakukan Rey yah membujuk Retta yang masih membisu menemani anak laki laki nya yang hampir terlelap,Retta terus menjawab nya dengan menggeleng kan kepala nya entah apa yang di pikiran Rey kali ini tapi justru dia sangat khawatir dan takut akan keadaan istri nya yang seperti ini.
Rey mengusap wajah nya kasar dan pergi meninggal kan Retta di kamar “aku rindu....aku rindu Retta yang ceria,Retta yang bawel,Retta yang galak aku rindu semua nya senyuman manis nya....kenapa hal ini menimpa kami,sungguh kembalikan diri Retta yang periang dulu Tuhan”Rey bergumam dalam hati nya mengutara kan isi pikiran nya dengan hati nya sangat sesak.
“Maaf jika merepot kan mu Rey...tapi aku hanya ingin diam...maaf jika aku belum bisa menerima keadaan...aku bukan gadis yang tangguh dalam hal seperti ini...semoga kau mengerti aku”gumam Retta yang melihat Rey dari jendela tengah mengacak ngacak rambut nya.
****
__ADS_1