Kan Ku Kejar Cintamu

Kan Ku Kejar Cintamu
14


__ADS_3

Perjalanan dari Bali menuju kota A memakan waktu kurang lebih 1 jam 45 menit.


Waktu yang sebentar, tapi begitu lama bagi pasangan halal namun tak sehati ini.


Ibra yang membisu, matanya terus melihat awan dengan berbagai bentuk dan ukuran melalui kaca jendela pesawat yang ditumpangi nya dengan sang istri.


Istri dalam status, tapi tidak dalam hati.


Sedangkan Indah, gadis ini tetap ceria meski dihatinya terdapat banyak luka.


Sesekali mengajak sang suami bercengkerama dan bergurau meski dibalas


dengan acuh oleh sang suami.


Ibra hanya sesekali menoleh dan tersenyum dengan candaan Indah yang sekiranya perlu untuk ditanggapi.


Semenjak kejadian malam itu Ibra memutuskan untuk pulang .


Ibra tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi seperti waktu itu.


Walaupun di kota A mereka tetap tinggal serumah dan tidur sekamar tapi mereka tidak akan banyak waktu untuk berduaan.


Terlebih mereka sama-sama punya pekerjaan dan kesibukan masing-masing.


Indahpun tidak keberatan, ia tetap menuruti suaminya yang ingin menyudahi liburan honeymoon versi pasangan tak selaras ini.


Tapi Indah tidak terlalu kecewa kali ini.


Karena semenjak kejadian kemarin, Ibra sudah tidak terlalu cuek dengannya.


Sedikit banyak Ibra sudah mau menjawab dan mengeluarkan suara emasnya yang dulu sangat mahal itu.


Entah karena Ibra menikmati momen kecelakaan itu, atau justru karena Ibra merasa bersalah atau tak enak hati pada Indah.


Yang jelas bagi indah, ini merupakan kemajuan hubungan yang patut ia banggakan pada diri sendiri dan sang mertua.

__ADS_1


Flashback Bali


Sarapan pagi ini di iringi musik dentingan sendok.


Bagaimana tidak, sejoli yang hampir merengkuh surga dunia bersama tadi malam ini hanya saling diam menunduk sambil mengapsen makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


Indah yang kikuk dan malu pada suaminya.


Dan Ibra yang merasa bodoh dan tak enak hati pada Indah.


"Maaf..."


Ucap mereka bersamaan. Pandangan mereka bertemu beberapa detik.


Namun langsung keduanya menunduk kembali.


Suasana makin hening.


Bahkan suara musik yang dihasilkan sendok pun tak terdengar lagi karena mereka sudah sama-sama menyelesaikan sarapannya.


Indah membereskan meja makan, mencuci piring dan gelas yang terpakai.


"Aku harus bicara dengan Indah.


Aku tidak ingin dia salah paham dengan perlakuanku tadi malam".batin Ibra sambil matanya yang terus fokus menatap televisi tapi pikiran nya entah kemana.


"Mas , mau aku buatkan kopi untuk menemani nonton TV?" Ini sudah ketiga kalinya Indah bertanya. Tapi sepertinya Ibra masih belum kembali dari lamunannya.


"Mas.." menepuk pundak Ibra.


Yang ditepuk kaget, menatap Indah sebentar namun tetap diam. Dan kembali fokus ke layar televisi sambil memilah-milah kata untuk disampaikan pada Indah.


"Mau aku buatkan kopi mas.?" Bertanya sekali lagi.


"Nggak usah,, sini duduk aku mau ngomong". Ibra mencoba sedikit ramah demi tujuannya menjelaskan perasaannya yang sesungguhnya.

__ADS_1


Indah duduk di sofa lain di sebelah sang suami. Ada perasaan bahagia saat suaminya mengajaknya berbicara seperti ini.


Karena ini adalah momen yang langka.


"Mungkinkah mas Ibra sudah mau menerima aku?" Batinnya senang


"Indah, kita sudah sama-sama dewasa.


Aku yakin kita sama-sama tau bahwa apa yang terjadi tadi malam adalah normal bagi pasangan suami istri."


Indah mengangguk dan tersenyum, dalam hatinya merasa senang sang suami bicara panjang lebar padanya


"Tapi terus terang Indah. Aku sangat menyesali dengan apa yg terjadi tadi malam.


Indah, maaf karena aku sudah lancang menyentuhmu.


Karena kita ini bukanlah pasangan seperti mereka yang memang saling mencintai.


Tidak seharusnya kita melakukan hal seperti itu Indah.


Aku harap kamu bisa melupakan kejadian tadi malam dengan ikhlas" sesal Ibra


Cairan bening itu meleleh begitu saja.


Rasanya Indah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Bagaimana mungkin , hal seindah itu Indah lupakan.


Itu adalah harapannya setiap saat, saat hal itu terjadi Indah merasa tidak ada dinding pembatas lagi diantara hubungan mereka.


Seolah semua rasa bahagia telah menyatu.


Namun tanpa disangka suaminya itu ingin Indah melupakannya dengan mudahnya.


Tidak! Tidak! Ini tidak adil.

__ADS_1


Sambil menghapus air matanya kasar Indah berlari ke kamar meninggalkan Ibra yang terdiam dan serba salah.


*****


__ADS_2