
"Hahahaha..... Hahahaha......" Arif tak bisa menahan tawanya setelah mendengar cerita Ibra yang gagal belah duren
"Lo bener-bener payah bro..
Kenapa se mesti berhenti di tengah jalan.
Lo nggak tau aja kalo perawan itu......
Beehhhh...... Rasa enaknya itu......."
"Gue pulang aja deh!" Potong Ibra , tak ingin termakan oleh omongan sahabat nya itu
"Eitssss..... Gitu amat bro..... Santai bro... Santai....santai....." Cegah Arif saat melihat Ibra yang mulai berdiri dari duduknya.
"Ya udah.....ya udah.... Gue diem ne...
Terus sekarang maunya lo gimana??
Lo mau ninggalin Indah gitu?
Apa Lo tega? Menurut gue Indah itu wanita baik-baik.
Buktinya dia tetep masih kerja dan nggak matre juga, dia juga nggak pernah minta yang aneh-aneh kan sama lo" Arif menyampaikan pendapat nya
"Entahlah,, pengennya gue juga pisah aja daripada punya rumah tangga kayak gini .
Tapi pasti sulit, bunda keliatan setuju dan sayang banget sama Indah."keluh Ibra
"Rif,, kapan Lo mau bantu gue cari Amel?
Gue kangen banget sama Amel Rif." Sambung Ibra beralih ke tujuan awalnya menemui Arif
"Sebenarnya gue udah mulai nyoba mencari informasi tentang mantan tunangan lo, tapi sepertinya bukan cuma Lo aja yang dipantau gerak geriknya sama bunda.
__ADS_1
Tapi gue juga" jelas Arif menyampaikan kebenaran, bahwa saat memulai pencarian tentang kekasih sahabatnya itu, tiba-tiba bunda menelfon dan mengingatkan bahwa Arif tidak perlu susah payah mencari informasi.
Karena kalau memang Amel mencintai Ibra, dia tidak akan kabur saat hari pernikahan sudah di depan mata.
Terlebih dia pergi tanpa berkata atau memberi penjelasan apapun.
Arifpun mengiyakan nasehat bunda dan menghentikan pencarian nya.
"Huhh....." Ibra mendesah frustasi
Merebahkan badan pada sofa yang ia duduki
"Gue nggak nyangka, kisah cinta gue sama Amel harus berakhir kayak gini" menatap langit-langit ruang tamu Arif
.......
"Ind..... " Arya akhirnya menyapa sahabatnya itu setelah beberapa saat terbengong tak percaya melihat Indah menjadi pedagang siomay keliling.
"Haiii.. Arya..... Haaiii Raisa....." Sapa Indah ramah dan sok tau. Karena Indah juga tidak pernah bertemu secara langsung dengan Raisa.
Anak mungil itu bersembunyi dibalik kaki sang ayah.
"Jangan takut sayang.... Sini sama Tante Indah" Indah mencoba merayu sambil berjongkok menyamakan sejajar tubuhnya dengan anak manis itu
"Nanti tante Indah bikinkan siomay ya sayang.... Rasanya enaaakkkk sekali, Tante yakin Raisa pasti suka" rayunya lagi.
Raisapun mulai merespon dan akhirnya mau di gendong Indah.
Mereka pun duduk dibangku taman dekat dengan gerobak dagangan Indah.
Menyantap siomay, sambil melihat pemandangan taman di sore hari.
"Jelasin sama aku Ind..?? , Bagaimana mungkin kamu yang sudah menikah dengan orang berada tapi kamu malah kerja seperti ini?? Apa ... Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" Arya begitu penasaran.
__ADS_1
Dadanya sesak melihat sang pujaan hati yang ternyata tidak seperti yang ia bayangkan.
"Tenang dulu donk Ar.... Ini aku lagi nyuapin anak kamu loh" elak Indah, sambil memilah-milah kata yang sekiranya tepat dan tidak membuat sahabatnya itu semakin cemas.
"Ini aku cuma sambilan kok,,, biar nggak kesepian aja dirumah.
Akhir-akhir ini mas Ibra sering lembur se, jadi aku cari-cari kesibukan sendiri deh" jelas Indah berbohong.
Sebenarnya Indah berpegang pada pendiriannya yang tidak ingin menerima rejeki dari suaminya jika suaminya belum ikhlas menerima kehadirannya..
Meskipun tiap bulan Ibra selalu mentransfer sejumlah uang yang tidak sedikit kerekening nya, tapi Indah belum berani menggunakannya.
Indah yakin Ibra memberikannya karena paksaan dari sang bunda.
Bukan keikhlasan seorang suami yang menafkahi istrinya.
"Jangan bohong Ind....
Kamu nggak pintar menyembunyikan masalah dari aku." Tatapan interogasi Arya membuat Indah salah tingkah
Bagaimana mungkin indah membohongi sahabat yang dari kecil sudah tau luar dalam kehidupan Indah.
"Sekarang aku disini Ind,,,, apa kamu sudah tidak menganggap ku sebagai sahabatmu lagi?" Menggenggam tangan Indah dengan tatapan teduhnya
Hati indah menghangat,, mungkin status mereka sudah sama-sama berubah.
Tapi persahabatan tetaplah persahabatan, selama keduanya masih bisa saling mendukung, berbagi keluh kesah mungkin dapat sedikit meringankan beban dihati.
"Tante,,,Raisa udah kenyang.
Raisa mau minum". Indah dan Arya terkejut dan reflek melepaskan tangan mereka.
Terlalu terbawa perasaan, mereka sampai melupakan makhluk manis itu ada disana.
__ADS_1
"Baiklah sayang,," menyodorkan minuman untuk Raisa
******