Kan Ku Kejar Cintamu

Kan Ku Kejar Cintamu
9


__ADS_3

"Mas , kamu masih marah ya?"


Pertanyaan yang sudah entah keberapa kalinya Indah tanyakan , namun Ibra sepertinya masih enggan menjawab.


Saat ini, Indah dan Ibra sedang berada di pulau Bali.


Saat Ibra pamit mengecek email kemarin, ternyata bukanlah tugas pekerjaan.


Melainkan 2 tiket honeymoon ke Bali untuk Ibra dan Indah , hadiah dari sang bunda.


Ini adalah tiket yang ke enam yang disiapkan oleh bunda Martha,.


Lima tiket sebelumnya kemana???


Tentu saja hangus sia-sia, karena Ibra tak pernah mau pergi bersama Indah.


Kali ini Ibra tak bisa menolak karena Indah yang terbuka kemarin membahas masalah segel keperawanan nya yang masih tak tersentuh,.


Bunda Marta dengan tegas mengharuskan pasangan tak sejalan ini untuk pergi bersama.


"Mas,, marahnya disimpen dulu ya, buat stok besok lagi." Indah berjalan mendekati sang suami yang tengah menatap ke arah pantai dari kaca apartemen yang telah disiapkan sang bunda.


"Mas,," menyentuh lengan Ibra, namun seketika itu juga Ibra langsung menghempaskan tangan Indah dengan kasar.


Ibra menatap Indah dengan sorot mata yang tajam, terlihat sangat jelas ada banyak kebencian untuk istri sabarnya itu.


Sebenarnya bukan kebencian yang terfokus pada Indah, namun lebih kepada takdir yang memisahkan dirinya dengan sang pujaan hati.


Tanpa sepatah katapun Ibra melangkah pergi meninggalkan Indah yang diam menatap punggung suaminya dalam kebisuan.


Setetes cairan bening itu lolos begitu saja.


Sedih bercampur sesak di dada.


....

__ADS_1


Ibra mengendarai mobil sewaannya selama di Bali dengan perlahan, tak ada arah tujuan.


Ia hanya ingin melepas rasa penat dan amarahnya yang sudah dari kemarin Ibra pendam.


Kecewa pada bundanya, namun tak bisa marah pada sang bunda.


Ibra bukanlah sosok anak yang suka membantah orang tua.


Ibra teringat saat hari menjelang pernikahan nya dengan sang kekasih yang tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi.


Saat itu tidak mungkin membatalkan acara yang sudah tersusun rapi dengan biaya yang tidak sedikit.


Sang bunda lah yang mencarikan pengantin pengganti sebagai pasangan Ibra, ,Ibra begitu terkejut karena ternyata istri yang dipilih kan sang bunda adalah karyawan dari sang bunda yang sudah pasti Ibra telah mengenalnya.


Ibra menolak , namun tak bisa membantah orang tuanya yang sudah begitu menyayanginya.


Sehingga terciptalah rumah tangga yang tidak menyenangkan ini.


Ibra menghentikan mobilnya disebuah club.


Suara bising mulai terdengar, terlihat banyak sekali wanita-wanita berpakaian minim sedang asik meliuk-liuk lincah sambil menggoda pasangannya..


"Haaiii.... Sendirian aja ne tampan.


Aku temenin ya" sapa seorang wanita cantik dan seksi menghampiri Ibra yang baru saja masuk dan akan duduk.


Ibra menelan Slavina nya kasar , menatap dua gunung kembar yang putih mulus , dan waww besarnya itu membuat sesuatu dibawah sana berontak.


Namun Ibra mencoba tetap cuek, dan mengalihkan pandangannya.


Bagaimanapun Ibra adalah pria normal yang sangat ingin merasakan kenikmatan itu.


Namun untungnya Ibra bisa mengendalikan hasrat gilanya itu agar tidak tergoda.


"Maaf,, saya kesini hanya ingin minum." Jawabnya tegas

__ADS_1


Wanita tadi pun tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah,, selamat menikmati ya tampan" berlalu pergi meninggalkan Ibra


Ibra duduk di depan bartender dan memesan minuman.


"Kemana sebaiknya aku setelah ini," sambil menyesap winenya


"Rasanya sangat malas kalau aku harus kembali ke apartemen" sambungnya


"Aahhh.... Bunda benar-benar terlalu ikut campur urusan rumah tangga ku .


Bahkan bunda mengirimkan mata-mata untuk memantau kegiatan ku selama disini" Ibra menggeleng , benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh bundanya.


Setelah merasa puas merenung dan dengan hati yang mulai menerima pasrah akhirnya Ibra pun pulang.


Dengan sedikit tertatih Ibra keluar dari club tersebut untuk menuju ke mobilnya.


Tak ada yang bisa di lakukan selain kembali ke apartemen karena Ibra yakin bahwa bundanya pasti tau gerak geriknya.


Ibra tak ingin bundanya itu semakin marah dan membuat aturan yang lebih rumit lagi.


Menyedihkan memang, diusianya yang sudah dewasa ini , Ibra selalu mengutamakan perasaan orang tuanya.


Ibra tak ingin membantah dan melukai hati wanita yang telah mengandung , menyusui, serta membesarkan nya dengan kasih sayang tulus itu.


Juga sang ayah yang tak pernah cacat di mata anak semata wayangnya itu.


Biarlah Ibra berkorban sedikit, asal ayah bundanya bahagia.


Ibra hanya belum bisa menerima keadaan dan Indah sebagai istrinya.


Ibra masih berharap Amel sang kekasih akan kembali suatu hari nanti dan memberikan penjelasan yang masuk akal tentang kepergiannya.


******

__ADS_1


__ADS_2