Karena Apel

Karena Apel
Kenalan Dulu


__ADS_3

Helaan napas lelah terdengar dari sebuah ruangan di pagi ini.


Suara yang berasal dari seorang pemuda yang terbangun dari tidur. Entah tiba-tiba rasa kesal sudah memenuhi jiwanya.


Muhammad Adam al-Ghifari, nama pemuda itu. Remaja yatim piatu yang tinggal sendirian di sebuah apartemen.


Well, sebenarnya tidak bisa dikatakan apartemen. Hanya gedung lawas yang untungnya masih berdiri dan layak huni. Bahkan bisa dibilang hanya satu level di atas rusun dan belasan level di bawah apartemen pada umumnya.


Hanya sebuah ruangan yang dibagi lagi menjadi beberapa ruangan lebih kecil. Satu kamar, ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga dan ruang makan sekaligus bersantai, dapur kecil, dan kamar mandi. Oh, dan juga sebuah balkon berukuran 1,5x1 meter.


Kembali soal Adam. Dia adalah seorang siswa di salah satu SMA swasta. Baru empat bulan menempati tempat tinggalnya sekarang, dan baru sebulan menyandang status siswa menengah atas.


Adam adalah seorang yatim piatu yang besar di panti asuhan. Tak tahu siapa orang tua kandungnya. Katanya sudah berada di panti sejak berumur sepuluh hari.


Ia tak pernah tahu asal-usulnya. Adam tidak ingin tahu tentang itu. Sudah lama melupakan keinginan untuk mencari tahu tentang sang orang tua.


Hanya nama yang orang tuanya tinggalkan untuknya. Juga sebuah kalung dengan bandul sebuah safir berbentuk prisma.


Hidup di panti bersama anak-anak lain, yang bernasib sama seperti dirinya. Hingga memutuskan kabur hanya seminggu setelah lulus SD.


Bukan hal mudah untuk hidup sendiri di kota ini. Apalagi bagi seorang anak kecil yang tak memiliki apa-apa selain sebuah tas berisi pakaian. Hidup luntang-luntung di jalanan pernah Adam jalani selama hampir sebulan.


Sebelum akhirnya bertemu dengan Abdullah dan Eka, sepasang suami istri yang kemudian mengajaknya tinggal bersama. Berempat bersama putri mereka, Fitriani, menempati sebuah rusun sederhana selama satu tahun.


Kemudian Adam memilih tinggal sendiri, meskipun masih berada di gedung yang sama. Hanya berbeda unit.


Dia juga mencoba mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan. Tidak banyak yang mau menerima anak SMP untuk bekerja saat itu. Hanya pekerjaan kasar sebagai pengantar makanan dengan gaji 400 ribu per bulan.


Jelas belum cukup.


Membayar sewa rusun, SPP sekolah, untuk makan, dan lainnya. Adam masih harus bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah rumah makan guna menambal kekurangan itu.


Abdullah sudah berkali-kali memaksanya untuk tinggal bersama mereka lagi. Namun berkali-kali juga Adam menolak. Dia tak ingin lebih menyusahkan orang yang sudah ia anggap sebagai keluarganya itu. Apalagi Fitri masih kuliah, yang tentunya membutuhkan biaya besar.


Dua tahun Adam menekuni pekerjaan itu, hingga beberapa bulan lalu lulus SMP.


Dia tak berpikir untuk melanjutkan sekolah ke SMA, apalagi sekolah swasta. Adam lebih memilih SMK, awalnya.


Keinginannya gagal terwujud karena sang kakak memaksanya untuk masuk ke SMA. Gadis itu tak peduli dengan segala penolakan Adam. Sampai si pemuda bosan sendiri dan terpaksa menerimanya.


Beberapa bulan lalu pindah ke sini. Tiga minggu yang lalu mendapatkan pekerjaan baru karena yang lama sudah Adam tinggalkan.


Hingga sekarang.


Pintu kamar Adam terbuka. Menampilkan wajah gusar si pemilik. Berjalan gontai ke dapur, mengambil segelas air.


Inilah hal yang Adam benci. Selalu terbangun pagi-pagi buta saat dia baru beberapa jam tidur. Dia baru pulang jam 10 malam tadi. Itu belum seberapa, dia sering baru pulang jam 1 atau 2 pagi.


Bekerja sebagai pelayan di sebuah warung kopi dengan sif malam membuatnya harus merelakan jam tidur.


“ Capek banget lagi, “


Adam kembali. Dua menit kemudian keluar dengan handuk melilit pinggangnya.


“ Dingin banget! Sialan!! “ gumamnya memeluk tubuh sendiri.


Mengganti baju, salat Subuh, menyiapkan buku, adalah urutan Adam melakukan kegiatannya. Lalu berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.


Lupakan sarapan. Itu adalah hal istimewa yang hampir mustahil terjadi.


“ Adam! “


Si pemilik nama menoleh, “ Apa, Mbak? “


“ Kamu udah sarapan? “ Fitri melangkah mendekati Adam.


“ Kayak Mbak enggak tau aku gimana. “


Fitri mendengus, menyusul Adam yang sudah berjalan lebih dulu.


“ Kamu tuh harus sarapan tau enggak! Itu penting, apalagi kamu masih sekolah! “

__ADS_1


“ Mbak tau alasan aku, kan? “


“ Karena uang? Udah Mbak bilang, kalau mau sarapan atau apa, datang aja. Abi sama Umi sampai maksa kamu. “


“ Aku sungkan. “ jawab Adam malas.


Kalimat itu membuat Fitri kesal. Dia sudah menganggap Adam sebagai adik kandungnya. Dan Adam masih beralasan sungkan.


“ Alah! Dengar ya, pokoknya kamu itu tiap hari harus sarapan! Kalau enggak bisa, datang aja! Kalau la- “


“ Iya-iya, bawel! “


“ Heh! Dibilangin kakaknya malah dikatain bawel!! “ Fitri memiting Adam gemas.


Sementara si pemuda malah terkekeh puas.


“ Udah! Buruan masuk sana! “


Adam lega, “ Dah, kakak cantikku!! “


***


“ Dam, kantin kuy! “


Adam menggeleng malas menanggapi ajakan Leon, salah seorang sahabatnya. Ini sudah jam istirahat, hanya tersisa beberapa siswa di kelas.


“ Gue traktir deh! “


Kali ini giliran Affan yang berkata. Namun tetap, Adam bergeming. Menelungkupkan kepalanya di meja. Seolah itu tadi hanya angin lalu baginya.


Dia lebih memilih kelaparan daripada harus mengeluarkan uang untuk sarapan. Harga makanan di kantin memang tak terlalu mahal, tapi tetap saja Adam tak mau keluar uang untuk itu. Dia jarang sekali ke kantin untuk makan.


Dan tiba-tiba tubuhnya sudah diseret dari meja.


“ Apaan sih, Yan! “


Ryan menarik sahabatnya paksa. Dia sudah hafal dengan sifat Adam. Tidak mau selalu dibantu, meski nyatanya mereka tak keberatan sama sekali.


“ Dika mana? “ tanya Leon.


Pesanan mereka datang. Bersamaan dengan seorang pemuda lain yang menghampiri.


“ Anjirr, gue ditinggal! “ Dika langsung duduk di samping Adam.


Mencomot sebuah bakso dari piringnya.


“ Orang kaya masih nyolong aja, “


Dika hanya terkekeh. Tak peduli delikan kesal Adam. Dialah satu-satunya yang berbeda kelas.


Mereka memang sudah bersahabat sejak SMP. Sudah saling mengenal keluarga masing-masing. Juga sudah mengetahui tentang latar belakang Adam.


Itu sama sekali bukan masalah. Gengsi? Ia sudah membuang jauh rasa itu sejak lama.


Masuknya Adam ke sekolah ini membuat keempat pemuda itu tersenyum sumringah. Mereka tak terpisahkan sejak saling kenal. Walau berbeda keyakinan sekalipun.


Leon dan Dika merupakan Kristiani, sedangkan Adam, Ryan, dan Affan adalah Muslim. Mereka tak perlu contoh untuk toleransi, karena mereka sendiri sudah melakukan itu sejak lama.


“ Tumben lo diam aja, Fan. Masalah apa kali ini? “ kata Dika.


“ Lah, lo enggak tau? “


Dika menggeleng menjawab pertanyaan Adam. Memangnya seberapa besar masalah sahabatnya yang satu ini sampai membuatnya diam.


“ Affan itu hampir aja kena skors gara-gara berantem sama kakak kelas. “


“ Kalah apa menang lo? “


Affan mendelik kesal, “ Ya menang lah!! “


“ Mana ada sejarahnya seorang Firza Affan ash-Shiddiq kalah kalau berantem?! “ balas Adam.

__ADS_1


Sementara Leon dan Ryan hanya tertawa ringan. Mereka menjadi saksi saat kejadian tadi, sampai membuatnya diinterogasi di ruang kepala sekolah selama setengah jam.


“ Gara-gara apaan? “


“ Gue dipalak. Mereka enggak terima gue cuekin, terus ya gitu. “


“ Mereka? Emang berapa orang? “ Dika semakin penasaran.


“ Awalnya sih empat orang. Tapi waktu lihat yang dua udah babak belur, yang lain pada mundur. “ jawab Ryan santai.


Dika mengangguk mengerti.


“ Lo masih kerja di warkop? “


Adam mengangguk dengan mulutnya sibuk mengunyah bakso yang sedari tadi belum habis, “ Mau gimana lagi, “


“ Kenapa enggak di café aja? “


“ Gue kan juga kerja di café, “


Leon mendengus, “ Maksud gue kerjaan lo yang di café dilamain aja jamnya, biar enggak usah sampai malam. “


“ Gajinya kurang, Pung. Enggak cukup buat hidup kalau cuma satu kerjaan. “ jawab Adam lelah.


Yang lain hanya diam menikmati makan, sesekali menggodai kakak kelas yang lewat. Sudah bosan memberitahu Adam agar tak bekerja terlalu keras sementara mereka bisa membantu.


“ Buat hidup aja kurang, masih ditambah bayar sekolah. “


***


Seperti sekolah lain, Arastamar juga memberlakukan biaya gedung dan semacamnya. SMA ini hanya satu bagian kecil dari Yayasan Arastamar pimpinan Deny Prasetyo.


Seorang pebisnis kaya dengan banyak perusahaan. Suami dari Vina Rosalina ini memiliki koneksi yang luas jika berbicara usaha. Tapi yayasan ini bukanlah salah satunya, melainkan mimpinya sedari kecil untuk membangun sekolah sendiri.


Yayasan ini terdiri dari sekolah dasar hingga tingkatan menengah atas, yang masing-masing lokasinya berbeda.


Memang seperti SMA biasa. Yang menggunakan kurikulum nasinonal. Meski menggunakan kurikulum yang sama, Arastamar tidak memakai sistem pendidikan Indonesia. Pembelajaran di yayasan ini menggunakan sistem pendidikan Eropa. Bahkan sengaja mengambil beberapa konsep dari Finlandia dan Korea Selatan untuk diterapkan di sini.


Tidak ada PR, pembelajaran intensif hanya 70% dan sisanya pengembangan bakat. Materi yang diajarkan juga standar Eropa Korea Selatan.


Jadi tidak heran jika banyak dari lulusan sekolah ini yang sudah ahli di bidangnya.


Pria berusia 42 tahun ini masih saja tampak gagah dengan suitnya. Duduk tenang di kursi dengan kacamata bertengger di hidung seakan membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda.


Hari ini ada jadwal mengunjungi yayasan. Kunjungan rutin sebagai pimpinan.


“ Masuk! “


Pintu ruangannya di SMA Arastamar terbuka, menampilkan seorang guru.


“ Pak, saya bawa file yang Bapak minta. “


“ Oh, taruh aja di situ. Makasih ya, Pak Herman! “ balas Deny tersenyum.


“ Iya, Pak. Kalau begitu, saya keluar dulu. Assalamualaikum! “


“ Iya, Wa’alaikumsalam. “


Selepas keluarnya pria yang menjabat sebagai kepala sekolah itu, Deny mulai membaca arsip yang baru saja ia terima.


Hanya arsip tentang murid ajaran baru tahun ini. Membaca setiap baris nama siswa. Lalu terhenti di satu nama. Mata pria itu membola.


“ Ya Allah!! “


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2