
Adam sedang berada di lapangan indoor, sedang berlatih bola voli bersama tim saat tiba-tiba pintu gedung terbuka.
Hampir semua menatap pelaku utama heran. Ketua yayasan mereka datang bersama waka kesiswaan.
“ Selamat pagi! “
“ Pagi, Pak! “ jawab semuanya serentak.
Deny melangkah ke lapangan. Yang seakan penuh dengan bola berwarna kuning itu. Lalu berhenti di dekat Sigit, pelatih tim voli putra SMA Arastamar.
“ Istirahat sebentar. “ perintah Sigit.
“ Maaf kalau mengganggu latihan kalian. “
“ Ah, nggak kok, Pak. Kita cuman kaget aja. “ balas Ainun, kapten tim putra.
“ Tumben Pak Deny datang ke sini? Ada perlu apa ya? “ tanya Sigit sopan.
“ Cuma mau lihat perkembangan tim kita. Turnamen sebentar lagi, kan? “
“ Iya, Pak. Dua bulan lagi turnamen provinsi, terus kurang dari tiga bulan ada Kejurnas. “ jelas Sigit.
Hampir semua kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler di Arastamar berprestasi. Baik tingkat povinsi maupun nasional. Beberapa bahkan sampai internasional.
Basket, voli, sepak bola, dan badminton adalah contohnya. Sekolah di sini bukan hanya belajar pelajaran umum, namun juga mengembangkan bakat dan minat. Siswa yang menentukan minat, dan pihak sekolah yang akan memolesnya.
Tidak sedikit juga dari mereka yang berkarir sebagai atlet setelah lulus.
“ Ada yang dibutuhkan lagi? Fasilitas yang kurang? Untuk putra dan putri? “
“ Insyallah cukup, Pak. Waktu latihan aja yang sepertinya perlu dijadwal ulang. “ jelas Mega, pelatih tim putri.
“ Oh, ya udah kalau gitu. Satu lagi, hampir lupa, Muhammad Adam al-Ghifari? “
Merasa namanya dipanggil, Adam menoleh. Melihat ketua yayasannya dari ujung lain lapangan.
Lalu bertatap-tatapan dengan Leon yang sama bingungnya dengan dia.
“ Apaan? “ bisik Adam.
Leon mengedikkan bahu tak tahu.
“ Dam! “
Si pemuda menoleh lagi. Lalu beranjak saat tangan pelatihnya melambai ke arahnya.
“ Ada apa, Pak? “ tanyanya pada Sigit.
“ Kamu yang namanya Adam? “ suara Deny membuat Adam menoleh.
“ Iya, Pak. Ada apa ya? “ tanyanya dengan raut wajah bingung.
Deny hanya memandang pemuda itu dalam diam. Sementara Adam benar-benar bingung, apalagi dengan tatapan itu.
“ Ikut ke ruangan saya sebentar. “
“ Hayo loh, Dam! Kasus lo! Pasti gara-gara dekatin anaknya! “ seru Dela heboh. Tidak peduli dengan tatapan aneh dari para kakak kelasnya.
“ Berisik lo! “
Ainun hanya terkekeh geli melihat reaksi sang adik kelas. Hiburan di sela padatnya waktu belajar untuk UN.
“ Silakan dilanjutkan. “
Pintu gedung yang terletak di depan lahan parkir sekolah itu tertutup. Aktivitas yang sempat terhenti kembali dilanjutkan.
Sementara di tempat berbeda, Adam duduk berhadapan dengan Deny.
Hampir semenit terlewat tanpa ada yang membuka suara. Deny yang masih sibuk dengan pikirannya, dan Adam yang bingung dengan situasi saat ini.
Kesalahan apa yang diperbuatnya sampai dipanggil langsung oleh ketua yayasan, hukuman apa yang mungkin akan diterimanya, dan masih banyak lagi hal yang mengganjal dalam benak Adam. yang jelas, ia cukup gugup.
“ Kamu kelas X IPA 2 kan, Dam? “
__ADS_1
Adam mengangguk, “ Iya, Pak. “
“ Rileks aja, Dam. Kamu di sini bukan karena masalah kok! “ kata Deny yang mengetahui wajah tegang anak didiknya.
“ Saya mau tanya tentang kamu, enggak apa-apa kan? “
Remaja itu mengernyit, “ Maksudnya? “
Deny melepas kacamata. Merenggangkan tubuh, mencari titik rileks lebih santai.
“ Saya mau tanya latar belakang kamu. “
Si pemuda mengangguk, meski belum sepenuhnya paham dengan maksud Deny.
“ Dari arsip pendaftaran, tertulis kalau kamu hidup sendiri di. Benar, Dam? “
Deny berdeham, “ Bisa tolong kamu ceritakan hidup kamu? “
Kali ini giliran alis Adam yang terangkat naik. Mulai paham dengan keinginan Deny. Meski sebenarnya dia tidak suka jika membicarakan topik ini.
“ Saya tumbuh dan besar di panti asuhan. Kata Bu Eca, pengasuh sekaligus wali saya di sana, saya udah di panti sejak umur sepuluh hari setelah lahir. Diserahkan sendiri sama perempuan yang mengaku sebagai ibu saya, tanpa ada alasan yang jelas. “ Adam mulai bercerita.
“ Kehidupan saya sama kayak anak-anak umumnya, suka main sama teman-teman di panti. Bedanya, saya enggak merasakan kasih sayang orang tua kandung. “
Deny bisa melihat sorot mata kesal dan sakit di sana. Namun dia tak menemukan tatapan benci di mata Adam.
“ Sepuluh tahun lebih saya hidup di sana. Sampai saya kabur setelah lulus SD. “
“ Bentar. Kenapa kamu pergi, Dam? Kamu enggak betah tinggal di panti? “ potong Deny yang tak tega melihat wajah nelangsa di depannya.
Adam menggeleng dan tersenyum, “ Justru saya betah tinggal di sana. Saya pergi karena saya enggak mau lebih nyusahin Bu Eca sama Pak Imam sebagai orang tua saya selama di panti. Makin banyak anak yang datang ke panti, makin banyak juga kebutuhan yang harus terpenuhi. “
“ Saya enggak tega lihat adik-adik saya kelaparan sementara orang tua kami juga sedang kekurangan. Bantuan yang biasanya datang juga jadi jarang. “
Adam menghela napas berat. Mengingat betapa sulit hidupnya dan keluarga panti dulu.
“ Di jalanan saya ketemu suami istri yang baik banget! Nawarin saya buat tinggal bareng. Saya mau karena waktu itu benar-benar bingung mau ngapain dan ke mana. “
“ Tiga tahun saya tinggal sama mereka di rusun. Sekolah dibiayain, padahal putri kandungnya masih sekolah juga. Buat kebutuhan sehari-hari juga kurang. “
“ Iya. “
“ Masih mau dilanjutin, Pak? “ lanjut Adam.
Deny mengangguk, “ Iya, lanjutin! “
“ Nih! Minum dulu, “
Adam meraih gelas di depannya. Menengguk isinya hingga tinggal setengah.
“ Saya merasa kalau enggak mungkin terus-terusan jadi beban buat orang lain. Jadi, kelas 8 saya mulai kerja. “
“ Ha? Serius kamu? “
“ Iya, Pak! “
Adam mulai jengkel dengan pria di depannya ini karena terus memotongnya. Apalagi di telinga kiri pria itu terpasang earphone yang tersambung ke ponsel.
“ Kerja apa emangnya? “
Si pemuda menoleh sebentar, “ Ya seadanya aja waktu itu. Jadi tukang antar makanan sama tukang cuci piring dalam sehari. “
“ Setelah lulus SMP, saya diajak pindah ke apartemen yang saya tinggali sampai sekarang. Udah, gitu aja. “
Sengaja ia tidak menjelaskan semuanya secara detail. Tidak ada hal penting yang harus ia bagi pada orang asing. Pada pemimpin tempat ia menuntut ilmu sekalipun.
“ Eee, kok bisa daftar ke sini? “
Adam mengembuskan napas panjang. Pertanyaan yang ia duga, benar terjadi.
“ Saya dipaksa Mbak Fitri buat sekolah di sini. Dia itu anaknya yang tinggal sama saya waktu SMP. “
“ Sebenarnya saya enggak mau sekolah di sini. Saya lebih condong masuk SMK, habis lulus bisa langsung kerja. “
__ADS_1
Dia sadar bahwa dirinya salah karena telah menuduh Deny bertanya seperti itu karena masalah ekonomi.
Adam tidak akan protes jika perlakuan yang diterimanya akan berbeda hanya gara-gara uang. Ia sadar tidak akan mampu melawan jika itu memang terjadi. Dia hanya yatim piatu yang tak mempunyai apa pun untuk diperjuangkan.
Sementara Deny bingung harus melakukan apa. Separuh otaknya berpikir keras tentang semua kemungkinan yang terjadi. Separuh lagi sibuk dengan suara tangisan istrinya yang dari tadi ia dengar di telinga.
Adam tidak tahu jika ponsel milik Deny sedari tadi sudah tersambung ke sebuah nomor. Deny sengaja mendekatkan ponselnya pada Adam agar istrinya mendengar semua yang dibicarakan Adam.
“ Kamu pernah cari tau soal orang tua kamu, Dam? “ tanya Deny hati-hati.
Lagi, Adam menghela napas kesal.
Menegakkan tubuh, mencari posisi ternyaman, sementara hatinya mulai mengeras. Mengusap wajah dengan gusar.
“ Pernah. “
“ Dan hasilnya? “ tanyanya setelah tak ada lanjutan dari Adam.
“ Enggak ada. “
Kening pria itu berkerut, “ Enggak ada? “
Adam mengangguk tanpa suara. Tak ingin membahas masalah yang satu ini lebih lanjut. Tak peduli dengan hegemoni pria gagah di depannya.
“ Maksud kamu enggak ada? “
Kehati-hatian Deny seperti lenyap begitu saja. Entah kenapa dia sangat penasaran sekaligus cemas dengan jawaban Adam.
“ Saya pernah cari tau. Enggak ada hasil. Jadi saya rasa enggak ada yang perlu dibahas lagi soal itu. “ ujar Adam mutlak.
Di ujung, Vina terus terisak. Memohon pada suaminya agar diizinkan bicara.
“ Kamu sejak kapan suka voli, Dam? “
Adam agak memicingkan mata saat tiba-tiba Deny mengalihkan topik.
Pria kelahiran Helsinki itu memang sengaja mencari topik lain. Bukan hanya karena tak tega dengan Adam, juga karena agar tak terpengaruh istrinya.
“ Udah dari kecil, Pak. “
“ Di SMP kamu juga ikut ekstrakurikuler? “
Adam mengangguk.
“ Saya lihat kamu serius banget sama voli. Sepatu kamu Mizuno Tornado 9, kan? “
“ Saya enggak mampu beli yang tipe Wave Lightning. Itu juga sepatu dikasih orang. “
“ Siapa? “
“ Waktu SMP ada seseorang yang hadir di pertandingan saya. Enggak tau siapa, habis tanding dikasih gitu aja. Katanya suka sama kemampuan saya. “
Deny menelan ludah tak percaya. Remaja di hadapannya penuh kesederhanaan.
Juga hal misterius yang dengan baik Adam tutupi. Siapa yang menyangka jika pemuda ceria seperti Adam menyimpan banyak misteri dan rahasia.
“ Masih ada yang ditanyakan, Pak? “
Deny tersentak, namun dengan cepat bisa menguasai dirinya kembali.
“ Udah, itu aja. Terima kasih ceritanya, kamu boleh lanjut latihan. “
Deny menjatuhkan tubuh lelah ke kursi kebesarannya itu. Mencabut kabel earphone yang sedari tadi tertancap. Membuat suara tangisan terdengar memenuhi ruangan.
“ Mas? “
Vina masih terdengar sesenggukan di ujung sambungan.
Deny menghela napas, “ Udah kita temuin. “
Kalimat itu semakin membuatnya menangis terisak. Tapi tak urung membuatnya tersenyum bahagia, walau tidak sebesar rasa sedih dan bersalahnya.
__ADS_1