
Tidak ada yang istimewa di Kamis pekan ini. Sama seperti biasanya.
Tapi ya, begitulah. Standar keadaan biasa untuk Adam berbeda dari orang lain. Jika di apartemennya ada Leon, Ryan, Affan, dan Dika, itu baru biasanya. Jika tak ada mereka, itu baru dikatakan aneh.
Memang seperti biasa. Hanya Dika dan Ryan yang tak ada. Ditambah kedatangan Deny, istrinya, dan Nadine. Tak ada agenda atau acara khusus sebenarnya.
Tentu saja mereka terkejut. Lalu menjadi maklum saat mengingat hal ini sering terjadi selama beberapa bulan terakhir. Kembali melanjutkan aktivitas mereka tadi.
Adam, Leon, dan Affan memang sedang ada tugas kelompok. Tugas kerja prakarya membuat kerajinan dari stik. Untuk kesenian, sepenuhnya diserahkan pada Affan. Lainnya hanya penyemangat.
Dela dan Vira sebenarnya juga ikut kelompok ini, namun mereka pulang lebih dulu tadi. Sejak pulang sekolah hingga setelah Magrib barusan.
“ Dikumpulin kapan itu? “
“ Kata Bu Ami minggu depan. “ Leon menjawab pertanyaan Nadine.
Mereka berdua sedang di dapur. Sekadar membuatkan camilan dan minuman untuk pejuang tugas prakarya dan dua tamu di depan sana.
Lupakan Adam. Lelaki itu malah sudah bersantai di balkon, dengan Deny dan Vina di sofa, menonton tv. Meninggalkan Affan bekerja sendiri.
Yah, Affan sendiri juga masa bodoh dengan itu. Dia terlalu fokus dengan puluhan stik es krim dan lem di hadapannya kini.
“ Kamu ngerokok, Dam? “
Adam menoleh. Mengangguk pada Vina. Dengan batang rokok terselip di bibirnya.
Lalu kembali menghadap ke luar. Duduk santai menikmati udara malam. Sambil melihat banyaknya orang lalu-lalang di jalanan depan apartemen.
“ Dam? “
Adam berbalik sambil berdiri.
“ Om boleh tanya? “
“ Nah itu udah nanya, “
Deny mendengus. Pemuda di hadapannya ini susah sekali diajak serius.
“ Boleh, Om. Santai aja, “ lanjut Adam terkekeh.
“ Misal ya, ini misal aja. “
Adam mengangguk, “ He’eh. “
“ Misal, kalau ketemu sama orang tua kandung, kamu gimana? “
Seketika ruangan menjadi hening. Hanya suara tv dan denting gelas di dapur yang terdengar. Affan bahkan juga berhenti mengerjakan kegiatannya tadi dan menoleh ke arah Adam.
Adam sendiri terkejut. Menormalkan ekspresi. Kembali membelakangi ruang tamu menghadap ke luar menatap jalanan.
“ Sering banget aku lihat orang-orang kantoran pulang. Ramai banget, sampai macet di depan. “ kata Adam.
Vina dan Deny saling lirik.
“ Wajah-wajah mereka itu kelihatan bosan sama capek. Dan itu bikin aku sadar. Kerja kantoran itu ngebosenin. “
“ Makanya, kalau nanti aku ketemu orang tua aku dan ternyata dia itu bos, punya perusahaan gede, aku enggak mau ikut kerja di kantor kayak mereka-mereka itu. “
“ Anggap aja, itu balas dendam aku. “
Deny membelalak. Merasa sedikit tersentil akan ucapan itu, “ Kamu serius, Dam? “
Namun Adam kemudian terkekeh ringan. Lebih tepatnya tertawa miris.
“ Ya enggak lah, Om. Aku enggak pernah harapin lagi buat ketemu mereka, punya orang tua bos besar. Dua hal itu cuma khayalan aku. “
Untuk sejenak Vina dapat bernapas lega.
“ Tapi kalau ternyata nanti aku ketemu mereka, aku cuma mau nanya. “
Pasangan suami istri itu tercekat. Menanti kelanjutan kalimat Adam penuh penasaran.
“ Aku mau nanya kenapa dulu buang aku? Kenapa buat aku ada kalau akhirnya dibuang, enggak diharapkan. Itu aja, enggak ada yang lain. “
Hanya tiga detik setelah kalimat itu meluncur dari mulut Adam, setetes air mata jatuh. Namun dengan segera Vina mengusapnya. Tak pernah tahu bagaimana perasaan putranya itu selama ini.
Yap, benar sekali.
Adam adalah putra kandungnya. Yang telah dinyatakan hilang selama 16 tahun lebih. Terhitung sejak hari ke sepuluh setelah ia melahirkan Adam, tak sekalipun Vina bertemu lagi.
Hingga setahun lalu, saat Deny mengecek data siswa baru. Menemukan sebuah nama yang tidak asing bagi mereka. Nama milik seorang pemuda tampan yang selalu ceria seolah tak pernah memiliki beban hidup.
Berlanjut dengan Nadine yang mengajak Adam bertemu dengan Vina. Pelukan pertama sejak belasan tahun.
__ADS_1
Satu yang membuat wanita itu yakin Adam adalah putranya. Kalung berliontin safir berbentuk prisma yang dikenakan Adam.
Vina ingat sekali. Tepat setelah akikah, ia memasangkan sendiri kalung itu pada Adam. Hingga satu masalah datang dan memaksanya menyembunyikan sang putra.
Dan kini putranya berterus terang tentang perasaannya. Sangat sakit mendengar kalimat terlampau jujur itu.
“ Oi, oi!! Kok pada malah melankolis gini? Nih, nih, minum dulu! Santai, camilannya masih banyak. “ Leon datang membawa banyak makanan bersama Nadine.
Kedatangan Leon benar-benar membuat Affan bersyukur. Dari tadi ia sungkan untuk pergi. Sungkan juga untuk menanggapi percakapan mereka.
***
Tak henti-hentinya Dita menampilkan senyum menawannya. Sejak di rumah hingga di kampus, bibirnya hampir selalu tertarik ke atas. Persis seperti anak SD yang mendapat sepeda baru karena berhasil meraih peringkat pertama di kelas.
Dua adiknya saja dibuat bingung.
Katanya ada alasan istimewa untuk senyuman itu. Adalah ‘kecemburuan’ Adam dan ulang tahun pemuda itu.
Memang Dita sih, yang menganggap Adam cemburu. Mau bagaimana lagi, hati orang kasmaran itu unik dan tak bisa ditebak.
Omong-omong soal ultah, benar sekali.
Hari ini adalah ulang tahun Adam yang ke tujuh belas. Sweet seventen, kalau kata orang-orang alay.
Ia sudah merencanakan sesuatu untuk kejutannya kali ini. Bekerja sama dengan Nadine. Hingga rela tidak mengajar di Arastamar hanya untuk memersiapkan ini.
Padahal, si tersangka ulang tahun sendiri malah tak peduli. Adam sekarang hanya duduk malas di kelas. Mengorek telinganya yang sering sekali ia bersihkan.
Sambil sesekali menengok ke belakang. Di mana jam dinding berada.
Sekarang sedang jam kosong. Suasana kelas tak seramai biasanya. Kebanyakan siswi bergosip ria dan para siswa lebih memilih bermain gim atau hanya bermalas-malasan.
Untuk yang terakhir, ia salah satunya.
Ingin sekali rasanya sekolah hari ini segera berakhir. Bukan karena hari Sabtu ini ia akan pesta ulang tahun, tapi karena dia mempunyai agenda sendiri. Rutin setiap tahun.
Jangankan mengadakan pesta, mendatangi pesta ulang tahun pun Adam tak pernah. Hanya di ulang tahun sahabatnya saja ia mau datang.
Makanya untuk mengganti pesta itu, dia sudah mengadakan syukuran kecil-kecilan semalam. Hanya dia, Leon, Affan, Dika, dan Ryan, yang kebetulan baru pulang dari Jawa Tengah. Juga Fitri yang datang ke apartemennya membawa beberapa camilan dan nasi tumpeng.
Cukup seperti itu. Tak perlu acara mewah seperti yang sering ia lihat di tv.
Mendesah kesal karena tiba-tiba seorang guru masuk. Bukan guru yang mengajar, tapi guru dari bagian Tata Usaha.
“ Selamat siang! “
Sebagian lagi sudah terlanjur malas. Gara-gara guru baru yang menjadi favorit tidak masuk. Dan diganti oleh guru BK yang terkenal sering membuat para murid berdecih kesal.
“ Ini kalian jam kosong? “
Seorang siswi menjawab, “ Iya, Bu. “
“ Sampai jam ke berapa? “
“ Sampai pulang. Makanya, kita pulang duluan aja ya, Bu? “ kata Adam.
Guru yang diketahui bernama Imroatul itu terkekeh, “ Pulang aja sana kalau berani, “
“ Ya kalau mau debat sama Pak Siswoyo ya enggak apa-apa. “ lanjut Bu Im.
Adam langsung mendengus begitu mendengar nama satpam sekolah.
“ Maaf ya, saya mau ambil data siswa kelas ini. Sama sekalian yang belum bayar uang semester, ini ada suratnya. “
Mendengar itu, Adam kicep. Wajahnya memucat. Menelan ludah dengan susah.
Menantikan namanya dipanggil dengan penuh rasa gelisah. Ini lebih berat daripada harus menahan sakit perut di bis.
“ Muhammad Adam al-Ghifari? “
Ia langsung maju. Dengan membawa seluruh doa yang ia hafal. Duduk di depan guru berhijab itu dengan tenang. Menarik napas samar guna membuang rasa gugup.
“ Untuk semester ini kamu belum lunas kan? “ tanya Bu Im.
Ini yang Adam suka dari Bu Im. Beliau tak pernah bercakap kasar, selalu halus. Bahkan ketika mengingatkan untuk membayar SPP.
“ Eee, berapa ya, Bu? “ Adam bertanya.
“ Kelas sebelas ini totalnya Rp. 3.890.000. “
Adam cengo. Itu sama saja gajinya selama tiga bulan lebih, “ Bisa dicicil, Bu? “
“ Boleh banget, Dam! Dibayar per semester masih boleh kok! “
__ADS_1
Si pemuda agak lega.
“ Batas waktunya sebelum PAS, ya! Nih suratnya, “
Adam menerima surat itu dan tersenyum kaku, “ Makasih, Bu! “
Kembali ke bangkunya dengan pasrah.
“ Santai, Dam. Sekarang bukan waktunya mikirin ini, “ monolognya.
Hingga yang ditunggu datang. Bel pulang.
Buru-buru ia memasukkan bukunya ke loker. Sengaja tidak ia bawa pulang untuk hari ini.
“ Pung, buruan!! “
Leon berdecak, “ Bentar napa! Masih belum selesai nyatat ini! “
“ Lo jadi seminggu, Dam? “ Adam mengangguk.
“ Oleh-olehnya, jangan lupa! “ kata Affan lagi.
“ Santai! Pamitin ke Dika sama Ryan, “
Adam berangkat dengan Leon menggunakan motornya. Menuju stasiun.
Di tempat lain, Nadine dan orang tuanya sudah bersiap. Memberi kejutan ulang tahun untuk Adam di apartemennya.
Jangan tanyakan bagaimana ia bisa masuk. Dengan uang, segalanya bisa.
Namun hingga sore, Adam tak kunjung datang. Dita saja sampai mendatangi apartemen karena Adam tak juga muncul di tempat ia dan Nadine sudah rencanakan.
Sampai akhirnya Dita juga ikut menunggu di apartemen. Bersama orang tua Nadine.
Baru setelah Magrib, terdengar suara kunci diputar di lubang kunci. Begitu terbuka, seorang pemuda muncul.
“ Ipung?? “
Leon sendiri juga terkejut. Heran kenapa ada Nadine dan keluarga beserta Dita di apartemen Adam.
“ Pada ngapain di sini? “
“ Lo ngapain di sini? “
Leon dan Nadine saling bertanya bersamaan.
“ Gue mah mau ngasih makan kucingnya Adam, “ kata Leon.
Si pemuda kemudian terkekeh. Menyadari sesuatu.
“ Pada nungguin Adam ya? Mau bikin kejutan, kan? Kak Anin juga? “ tebaknya saat melihat sebuah kue tart.
“ Adam ke mana, Lee? “ tanya Vina. Dia lebih suka memanggilnya Lee.
“ Ini nih, pada belum kenal Adam sepenuhnya. “ kata Leon sambil berjalan masuk dengan santai.
Lalu duduk di lengan sofa, “ Adam tuh punya kebiasaan. “
“ Kebiasaan apaan? “
“ Tiap hari ulang tahunnya, Adam enggak pernah di rumah. “
“ Ke mana? “ tanya Deny.
Leon mengedik, “ Traveling lah, Om. Mau ke mana lagi emang? “
“ Udah dari kapan kalian di sini? “ tanya Leon.
“ Jam 2 siang. “
Leon seperti menjatuhkan rahang, “ Lama banget! Orang Adamnya udah berangkat waktu pulang sekolah tadi. Gue yang antar ke stasiun malah. Palingan sekarang juga udah sampai, “
“ Adam pergi ke mana? Ha? Ke mana? “ tanya Dita tak sabar.
“ Oi, sabar dong! “
“ Adam tahun ini traveling ke Jogja. “ lanjut Leon.
Tanpa banyak bicara, Dita keluar apartemen.
Leon hanya menatapnya sekilas. Lalu kembali ke Deny yang menunduk.
Juga pada Vina dan Nadine yang terduduk lesu begitu mendengar penjelasannya. Pantas saja mereka melihat Adam mengepak baju ke dalam tas dua hari lalu.
__ADS_1
“ Berat ya, kebiasaan anak sendiri sampai enggak tau. “
Jleb!