
Adam menghindarinya. Dita dapat dengan jelas melihat itu. Dan ia sadar karena apa.
Ditelepon tidak diangkat. Ia datangi ke apartemen, tidak ada. Lalu saat bertemu di sekolah, Adam bersikap seakan tidak pernah mengenalnya.
Dita sangat gusar. Ia ingin menjelaskan semuanya. Tidak ingin Adam semakin salah paham.
Hanya gara-gara kejadian berengsek itu, hubungannya jadi membingungkan. Tentu dengan risiko putus juga. Karena hingga sekarang tak ada kata itu yang keluar dari mulut Adam. Dita sendiri jelas tidak mau putus. Makanya dia bertekad untuk segera berbaikan dengan kekasihnya.
Malam itu tanpa Dita tahu, mantannya datang. Masih dengan tujuan mengajaknya balikan. Dan meski sudah berkali-kali menolaknya, Ryo tetap saja keras kepala.
Puncaknya ya malam itu. Saat Dita hanya berdua dengan adik perempuannya di rumah. Terpaksa menemani mantannya, hanya mendengar semua ocehan lelaki itu. Ia sudah tentu tak peduli. Dalam hati terus bertanya-tanya sebenarnya kapan Adam akan datang menjemputnya.
Sialnya, Dita tidak mendengar suara motor Adam. Sedang Ryo yang dari tadi berusaha mengajak berbincang mulai kesal karena ia tak menanggapi. Bahkan dengan berani lelaki itu mendekat duduk di sampingnya. Mencoba menggenggam tangannya.
Dita kesal. Mencoba mengusir laki-laki itu agar pergi dari kediamannya. Naas, saat ia berdiri, Ryo bergerak cepat memeluknya. Dia yang terkejut tidak bisa mengelak. Hanya terdiam tidak membalas untuk sepersekian detik.
Lalu di detik berikutnya, tatapannya tak sengaja bersinggungan dengan Adam. Dita langsung melepas paksa pelukan. Di depannya Adam tersenyum sinis. Seolah sudah menduga jika kejadian ini akan terjadi. Berusaha mengejar pemuda itu untuk menjelaskannya. Tapi Adam lebih memilih pergi. Tidak ingin mendengar semua ucapannya.
Dita bahkan meninggalkan Ryo di ruang tamu. Demi mengejar kekasihnya.
Sayangnya motor matic yang ia kendarai jauh lebih lambat. Membuatnya tertinggal dengan napas tersengal karena hatinya kalut. Dan tidak bertemu dengan Adam lagi hingga sekarang.
“ Bu Anin!? “
Dita tersentak, “ Iya? “
“ Tugasnya dikumpulin kapan? “ tanya salah seorang murid.
“ Dikumpulin sekarang. Kalau belum selesai kumpulin di meja saya hari ini sebelum jam sebelas. “
Melirik ke arah Adam yang sama sekali tak peduli dengan kehadirannya. Pemuda itu malah sibuk bermain ponsel. Dengan earphone yang bertengger di telinganya.
“ Lagi berantem ya? “
Leon menyerahkan buku tugasnya.
Dita mengangguk mengiakan. Dengan mata meneliti tugas yang baru ia berikan. Bahkan Adam menitipkan bukunya pada Dela tadi.
“ Santai, Adam tuh bukan pendendam. Gampang banget maafin orang, “
Dita menyerahkan kembali buku bersampul batik itu ke Leon, “ Makasih. “
Ia bingung sendiri. Bagaimana caranya agar kekasihnya itu mau mendengar penjelasannya. Sedang Adam sendiri malah tertawa girang bersama Dela. Tidak tahu apa yang sedang mereka obrolkan. Yang jelas Dita tidak suka itu.
“ Lagi ngobrolin apa sih? Seru banget kayaknya, “
Tawa dua remaja itu terhenti. Adam menoleh ke sampingnya. Lalu tanpa minat kembali fokus ke ponselnya.
“ Enggak, Bu. Adam cerita soal Kimi. “
Garis perempatan imajiner muncul di kening si guru. Ia hampir lupa dengan nama misterius itu.
“ Kimi? Siapa? “
Tidak tahu ditujukan untuk siapa, namun Adam yang menjawabnya.
“ Bukan siapa-siapa. “
Melirik pemuda yang tengah streaming F1.
“ Pacarnya Adam ya? “ Dita mencoba bercanda pada Dela. Tapi kenyataannya hatinya sakit saat menanyakan itu.
Menggigit bibir bagian dalamnya sembari berharap agar Dela menggeleng.
“ Bukan, Bu. Masa Kimi mau pacaran sama bocah model kayak gini, “ Dela menoyor kepala di sampingnya usil.
“ Dih, gini-gini juga banyak yang suka! Lo kan pernah suka sama gue, “
Dita menghela napas lega. Namun terkejut dengan pengakuan sepihak kekasihnya. Jadi, boleh saja kan dia sedikit khawatir dengan kedekatan Dela dan Adam sekarang. Bagaimanapun, Adam masih berstatus sebagai kekasihnya.
Kembali ke mejanya saat ada siswa yang selesai mengerjakan tugasnya.
“ Adam! Tolong bantuin bawa buku saya ke ruang guru. “
Adam mendengus. Dia jelas tahu jika itu hanya akal-akalan Dita saja. Meski guru itu membawa banyak buku paket besar, ia masih bisa meminta bantuan ke siswa lain. Ketua kelas misalnya.
__ADS_1
“ Vira tuh, Bu! “
Si gadis ketua kelas menoleh, “ Kok gue! Yang dimintain tolong kan lo! “
“ Gue malas. “ balas Adam tak sengaja bertatapan dengan Dita.
“ Adam, bawain buku saya atau kamu saya kasih tugas lagi!! “ ancam Dita.
“ Kasih tugas aja, emang saya peduli. “
Dan karena kalimat itu, semua murid di kelas menatap Adam terkejut. Ia hanya menghela napas berat kala teman-temannya seolah sedang menyalahkan ucapan kasarnya barusan. Lalu dengan terpaksa berdiri dan menghampiri Dita.
Mengambil buku tebal di meja dan berjalan tanpa menyapa gurunya. Sedang Dita hanya mengembuskan napas.
“ Thank’s for the day! See you! “
Berjalan lambat di belakang punggu tegap si pemuda. Hingga sampai di mejanya di ruang guru pun tidak ada yang berinisiatif membuka suara.
Adam langsung menaruh buku itu di meja tanpa suara. Dan berbalik untuk kembali ke kelasnya. Namun urung ia lakukan karena Dita mencekal tangannya.
“ Aku bisa jelasin, Dam. “
Sebelah alisnya naik, “ Jelasin apa? “
“ Duduk sini! “
Dengan malas ia duduk di kursi.
“ Aku beneran enggak ada apa-apa sama Ryo! Dia yang peluk aku tiba-tiba, “
“ … “
“ Dan aku juga udah enggak ada perasaaan sama dia lagi! “
Adam melirik sekitar, “ Saya boleh balik, Bu? Masih ada tugas biologi, “
Dita mencebik. Dengan menyisakan sedikit cubitan di hatinya. Ia tahu Adam berbohong. Tidak ada jadwal pelajaran biologi di kelas XI IPA 2 hari ini.
“ Dam, aku serius. Jangan ngehindar lagi ya?! Aku enggak mau kamu cuekin aku gini, “ balas Dita.
“ Ya kamu, Dam!! Enggak sadar apa, kamu tuh kayak enggak peduli sama aku, “ balas Dita dengan suara agak tertahan. Ingat dengan tempat mereka berada.
“ Kenapa saya harus peduli lagi? “
“ Adam, please… “
Mencoba meraih tangan si pemuda.
“ Aku enggak ada apa-apa lagi sama Ryo, “ lanjut Dita.
“ Kalaupun ada juga udah bukan urusan aku lagi. “ balas Adam.
“ Kok kamu gitu!! “
Adam mendesah pelan, “ Emang aku siapa kamu? “
“ Kamu pacar aku! “
“ Bukan lagi, “
Dita menggeleng tak terima, “ Kamu enggak pernah bilang putus. Dan aku juga enggak pernah!! “
Adam mencebik, “ Kalau gitu ki- “
“ Enggak!! Aku enggak mau putus sama kamu, Dam! “
“ Mau kamu tuh apa sih, Dit? Ha?! “
Dita menunduk.
Ingin sekali rasanya memeluk lelaki tinggi di depannya. Tapi rasa waras masih bisa mengurungkan niatnya. Sebelum nanti mungkin bisa membuatnya malu.
“ Aku minta maaf. “
“ … “
__ADS_1
“ Aku enggak mau putus. Aku mau hubungan kita kayak dulu lagi. “
“ Apa sih kamu harapin dari aku? Aku cuman bocah yang bahkan enggak tau masa depannya. Mantan kamu jelas lebih segalanya dari aku, “
Benar-benar drama.
Dita langsung mendongak, “ Nyatanya aku mau kamu. Aku enggak mau balik lagi sama Ryo, “
“ Maafin aku, Sayang. Ya? “
Adam melepas genggaman, “ Emang kamu salah apa sampai minta maaf? “
“ Adam, aku mohon!! Please, jangan giniin aku… “ kata Dita sendu.
Sayangnya Adam tak terpengaruh, “ Lusa mau ujian, butuh belajar. Saya balik ke kelas dulu. “
Lalu beranjak pergi. Meninggalkan Dita yang harus menghela napas berat lagi. Setidaknya sudah ada kemajuan. Bisa berbincang dengan Adam, meski pemuda itu terlihat tak peduli.
***
Tidak tahu kenapa, hari ini rasanya Adam lebih malas beraktivitas. Bahkan untuk sekadar bangun dari bangkunya tadi pun ia tidak sudi. Makan saja sampai memaksa Affan untuk membawakannya dari kantin.
Gara-gara patah hati?
Mungkin sedikit. Karena memang ia mulai tahu diri. Bocah satu ini memang penyuka dangdut dan lagu pop. Yang katanya baperan. Dan sepertinya hal itu memang benar adanya pada Adam.
Sama sekali tak bergairah hanya untuk menghabiskan hari ini saja. Walau hanya tinggal satu jam dari sisa jam kerjanya hari ini. Nyatanya Adam benar-benar malas.
“ Lo ngapa, Dam? “
Ocha, salah seorang karyawan di café. Gadis yang sedang dalam tahap mengerjakan skripsi duduk di sampingnya.
“ Abis putus ya? “
“ Tau! “
Ocha terkekeh. Melihat Adam yang murung seperti ini adalah sebuah keasyikan untuknya. Jarang ia melihat Adam dalam kondisi down seperti ini.
“ Lagi berantem sama Anin? “
Adam mengangguk.
Entah kebetulan atau apa, Ocha adalah senior Dita di kampus. Makanya gadis itu kenal dengan Dita. Satu lagi, dia juga lulusan Arastamar.
“ Lo enggak pengin kerja, Kak? “
Menoleh, “ Ini kan gue lagi kerja, “
“ Maksud gue kerjaan tetap. Enggak mungkin kan, selamanya lo kerja di sini? “
“ Jelas pengin, Dam. Tapi lo tau sendiri kan, cari kerja sekarang susah. Sarjana enggak bisa dijadiin patokan buat dapat kerjaan. Makanya gue masih bingung, “
Adam diam. Ia juga berpikir hal yang sama selama ini. Bahkan bisa dibilang itulah yang menjadi topik pikirannya selama mengenal dunia kerja.
“ Kerja di sini enak kok! Gajinya gede, waktunya juga enggak terlalu mengikat. Bosnya enak, lagi. “
Si pemuda mengangguk setuju. Adam juga merasakan hal yang sama jika bosnya selama ini baik pada karyawan-karyawan, meski ia belum pernah bertemu bosnya itu.
“ Saking banyaknya perusahaan kali ya, sampai Pak Deny bisa kasih gaji segede gini ke kita, “
Adam menoleh, “ Pak Deny? Maksudnya Deny Prasetyo, Kak? “
Ocha mengangguk, “ Emang lo belum tau nama bos? Gimana sih, sama bosnya sendiri kagak tau! “
“ Lah, gue kirain bosnya Mbak Mila, “
Bukan salahnya juga jika ucapan Ocha itu adalah fakta. Selama ini Adam tak pernah bertemu dengan sosok bos di café ini. Dulu memang Deny yang menyuruhnya bekerja di sini. Tapi tak pernah menyangka jika Deny lah pemilik tempat ini. Entah apa alasan pria itu merahasiakannya.
“ Mbak Mila itu cuman manajer. Yang punya Pak Deny, “
Lagi pula yang membayar gajinya selama ini adalah orang yang ia kira sebagai bosnya adalah manajer. Mana ia tahu kalau nyatanya begitu keliru dengan pemikirannya. Satu yang membuatnya masih penasaran.
Kenapa dulu Deny tidak berkata jujur saja padanya. Dan malah mengatakan jika café ini adalah milik temannya.
“ Meja 13! Black lava sugar sama American juicy fit. Buruan anterin! “
__ADS_1
Ocha terkekeh, “ Ngelamun mulu! Sana anterin! “