
Sebuah ruangan terasa sepi. Meski nyatanya ada empat orang yang menempati di dalamnya. Dengan dua buah papan berbeda jenis di hadapan mereka.
“ Skak! “
Dengan pongah Adam menggerakkan bidak caturnya menjauh. Menuai decakan kesal dari sang lawan main.
Tak lama berselang pintu apartemen diketuk.
Sadar jika tidak ada yang berniat membukanya, Dika menghela napas. Lalu dengan terpaksa membuka pintu yang mulai mengganggu itu.
Dan mendengus saat melihat siapa yang datang. Nadine dan orang tuanya. Orang yang begitu sering ia temui di tempat ini setahun terakhir.
“ Masuk gih! “
Berempat mereka masuk.
“ Anjing! Sialan lo!! “
Leon berteriak kesal. Tak peduli jika bukan hanya dirinya yang berada di ruangan itu. Dua kali berturut-turut ia kalah bermain catur dari Adam.
“ Kalian pada habis ngapain? “
Tiga orang menoleh.
“ Loh, Om Deny? Tante Vina? Ngapain? “ Affan balik bertanya.
“ Malah nanya balik. “
Si tersangka terkekeh, “ Biasa, Tan. Main-main aja. “
“ Main apa emangnya bisa sampai kayak adonan roti semua gini? “
Hari ini sekolah pulang pagi. Mereka jelas tidak mau tahu apa alasannya. Yang penting pulang.
Lalu memilih apartemen kawan karib satu ini untuk menjadi lokasi bermain. Karambol dan catur adalah yang mengisi kegiatan mereka. Tentu saja dengan hukuman bagi yang kalah.
Dan karena kebetulan Dika masih memiliki sisa tepung dari kelas memasak kemarin, digunakanlah itu sebagai hukuman. Berawal dari coretan kecil di wajah, lalu merembet hingga warna putih memenuhi sekujur tubuh. Dengan telanjang dada dan hanya celana pendek yang tersisa.
Dan korban terparah adalah Adam. Meski beberapa kali menang bermain catur, dia memang benar-benar payah urusan karambol. Bahkan ada beberapa titik yang tepungnya melekat kuat di kulit.
“ Maaf nih, Om, Tan! Ruangannya lagi berantakan. “ kata Adam.
“ Lah, suami Tante dulu malah lebih parah, Dam. “ kata Vina tertawa ringan.
Seisi ruangan memang banyak bertaburan butiran tepung. Hanya menyisakan sedikit tempat untuk duduk tanpa kotor.
“ Nanti kuliah di mana, Kak? “
Nadine menoleh, “ Penginnya di luar negeri. Tapi enggak dibolehin Mama tuh! “
“ Kamu masih kecil, Ra. Lagian kalau kamu pergi, Mama nanti enggak ada temannya. “ Nadine mencibir jawaban itu.
Sementara Adam berbincang, tiga temannya sudah kembali asyik dengan papan berlubang itu. Bersama Deny yang tertarik bermain. Mencoba kemampuannya dengan melawan anak-anak muda.
“ Lee. “
Leon mendengus seraya menoleh. Demi Tuhan, dia tidak mempunyai darah Cina ataupun Korea!
“ Kamu tatoan? “
Meneguk ludah. Teman-temannya hanya memandang geli. Seolah mengatakan ‘Mampus lo! Ketahuan kan!’.
Lalu mengangguk kaku. Ia menyesal tidak memakai kausnya kembali tadi.
Sebuah tato pohon tak berdaun di lengan kirinya bagian atas. Dengan akar di pergelangan lengan ke atas, batang dan cabang-cabangnya hingga bahu. Katanya tato ini mempunyai makna tersendiri.
Keluarga sebagai simbolnya. Cabang pohon adalah siapa saja anggota keluarganya. Lalu batang adalah dirinya, dan akar adalah pondasi keluarga.
Sebenarnya sudah sejak awal SMA Leon memiliki tato. Namun tak pernah diketahui kecuali teman-temannya. Jawabannya karena dia selalu mengenakan kemeja lengan panjang. Terkadang juga masih ditutupi jas almamater.
Dan saat voli, meski hanya mengenakan kaus tanpa lengan, ia menutupinya dengan deker lengan dan manset.
Lebih jelas lagi tato yang di punggungnya.
Seni bergambar sayap malaikat yang seakan patah menutupi sebagian besar punggung tegapnya. Saat Leon merentangkan kedua tangannya, akan terlihat seperti sayap yang membentang.
Hanya bisa tersenyum canggung saat ketahuan seperti ini.
Sedang Vina hanya menghela napas mengetahui anak didiknya begini. Mau bagaimana lagi. Leon jelas tidak mau jika diminta menghapusnya.
“ Pokoknya selama sekolah jangan sampai ada yang tau!! “
__ADS_1
“ I-iya, Tan. “
Satu lagi. Tato daun maple di punggung tegapnya. Untuk yang ini, Leon tidak mau memberitahu maknanya. Rahasia perusahaan, katanya.
“ Pakai baju dulu ih, Dam! “ Nadine cukup terganggu dengan tubuh atletis sang adik.
“ Ngapa sih? Lagi gerah juga, “ balas si pemuda di balkon. Masih dengan celana pendeknya. Belum berniat membersihkan diri karena memang masih lumayan pagi.
“ Kamu sendiri nanti kuliah di mana? “ tanya Vina.
Adam menggeleng kecil, “ Belum tau, Tan. Sekolah aja belum lulus. “
“ Belum tau? Berarti ada keinginan buat kuliah kan? “
Mengangguk. Kembali ke dalam saat dirasa dia mulai kedinginan. Juga karena di luar tadi seperti membuatnya merasa jika Vina adalah ibunya. Tidak nyambung sekali.
***
Yang aneh dari tempat kerjanya sekarang adalah tentang gaji.
Adam hanya bekerja sebagai pramusaji di café ini, tapi gaji yang diberikan mencapai empat juta per bulan. Luar biasa aneh, bukan. Dia juga hanya bekerja dari siang hingga jam sembilan malam.
Tapi Adamnya hanya bodo amat. Tidak peduli selama tidak merugikan dirinya.
Lagi pula dia juga butuh waktu belajar lagi. Sekarang sudah mendekati ujian.
Namun yang harusnya digunakan untuk belajar, malah untuk pacaran. Memang benar-benar anak muda sekarang ini!
“ Udah pulang? “
Adam tersentak kaget. Menoleh dan mendelik kesal. Lantas mengangguk.
“ Kamu ngapain di sini? “
“ Baru pulang kuliah. “ jawab Dita.
Berjalan beriringan dengan sang pacar yang kebetulan bertemu.
“ Jam segini baru pulang? “ tanya Adam tak percaya. Pasalnya, ini sudah jam delapan lebih.
Dita mengangguk lesu, “ Sekalian mampir ketemu kamu. “
Sebelah alis si pemuda naik. Membuat Dita tertarik.
Tak ada tanggapan. Adam sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
“ Coba sekali lagi, Dam! “
“ Huh? “
Pemuda tampan itu bingung. Memangnya apa yang dilakukannya sampai Dita meminta mengulanginya lagi.
“ Apanya yang lagi? “
Dita tak menjawab. Menarik tangan Adam dan membawanya ke sebuah kursi.
“ Loh, kok udah di taman aja? “
Dita terkekeh. Manis sekali, “ Segitu cantiknya aku ya, sampai enggak sadar udah sampai di sini? “
Adam mendengus. Niatnya sepulang dari café tadi langsung pulang. Dan sekarang bertemu Dita. Bukannya tidak suka, dia rindu malah. Hanya saja ia sedang lelah.
Duduk di kursi taman berhadap-hadapan. Dengan Dita menggenggam tangannya.
“ Coba sekali lagi dong! “
“ Apanya yang lagi? “ Adam mulai gusar.
Sedangkan Dita hanya terkekeh. Mencubit pipi sang kekasih gemas.
“ Coba gerakkin lagi alis kamu! “
Masih bingung. Alhasil kedua alisnya bergerak naik. Seperti sedang menggoda.
Dita berdecak. Bukan itu yang ia mau.
“ Satu alisnya aja, Dam! “
Baru sekarang Adam paham. Meski itu bukan kemampuan besar, nyatanya tidak banyak orang yang bisa melakukan itu.
“ Kok direkam sih!! “
__ADS_1
Dita tersenyum puas. Intinya dia menyukai gerakan itu. Berkali-kali mencoba dan hasilnya gagal juga berkali-kali. Lalu karena itu juga mereka berdua tertawa.
“ Anin? “ keduanya menoleh.
“ Kamu lagi ngapain? “ tanya seorang lelaki yang terlihat seumuran dengan Dita.
Tak ada jawaban. Karena memang Dita tak ingin menjawabnya. Sedangkan Adam diam karena memang tak tahu-menahu soal ini.
Dia memilih mengalihkan pandangan. Biar saja agak ketutupan topi yang ia kenakan. Ke manapun yang penting tidak menatap lelaki ini.
Lelaki yang dulu ia lihat berpegangan tangan dengan Dita di sebuah restoran. Sebelum mereka berpacaran.
“ Mau ngapain lagi sih?! “ kesal Dita.
Lelaki itu duduk di samping Dita. Mencoba meraih tangan si gadis untuk digenggam. Tapi dengan cepat segera ditepis.
“ Nin, aku mau jelasin! “
“ Apanya bakal dijelasin sih, Yo? Udah setahun kali, “ Ryo, nama lelaki itu berdecak gusar.
“ Aku sama Oliv enggak ada apa-apa, Nin! Sumpah! Enggak ada apa-apa! “
“ Lo bohong pun gue juga enggak bakal tau, santai aja. “ balas Dita tak tertarik.
Dan itu membuat Ryo kesal.
“ Aku enggak bilang setuju waktu putus! “
Dita berdecak tak peduli, “ Biarin. Emang gue peduli. “
Mantan rupanya. Dalam diam Adam mengangguk paham. Pastinya lelaki ini pernah menjadi yang terpenting dalam kehidupan kekasihnya.
Dan bukan tidak mungkin jika Dita masih menyimpan rasa. Untuk yang terakhir, ia benar-benar tidak menyukainya. Berharap pemikirannya salah.
Pikiran Adam sedang kacau.
Pagi tadi otaknya digenjot untuk berpikir keras. Lalu sepulangnya masih harus bekerja. Dan pengunjung café hari ini lebih ramai dari biasanya. Masih ditambah dengan panggilan lembut yang dilontarkan lelaki itu untuk kekasihnya.
Benar-benar menguras pikiran. Bohong jika Adam tidak emosi. Sayangnya ia masih bisa menahan itu. Mungkin jika tidak, lelaki bernama Ryo ini sudah tepar karena kepalan tangannya.
Tapi lama-kelamaan kok sakit ya.
“ Aku mau balikan sama kamu. “
Deg
Sialan. Tangannya terkepal kuat menahan amarah. Menanti jawaban yang mungkin akan dikeluarkan Dita.
Sementara gadis itu bergeming. Tak tertarik memberi jawaban karena memang sudah lama move on. Memilih diam tapi tetap menggeleng tegas.
Sayangnya Adam tidak melihat gerakan kepalanya. Cukup lama tak ada jawaban dan sebab itu ia menyimpulkan jika Dita memang masih menyimpan rasa untuk Ryo. Karena itulah ia memilih pergi.
“ Adam? “
Bergeming.
“ Lepasin! Yo, kita udah lama putus dan gue udah enggak ada rasa buat lo! “ Dita melepas cekalan di tangannya kasar.
Menyusul sang kekasih yang ia tahu sedang marah.
“ Adam! Jangan gini dong?! “
Tetap tak ada jawaban. Peristiwa ini hampir sama dengan beberapa bulan lalu. Bedanya saat itu mereka belum berpacaran.
“ Adam! “
Berhasil.
Adam berhenti. Menatap Dita dengan enggan dan malas-malasan. Masih dengan rasa kesal yang tiba-tiba saja mulai menyala lagi di hatinya.
“ Aku bisa jelasin! “
Tersenyum sinis, “ Kata-kata kamu persis kayak cowok tadi, Dit. “
Lalu berjalan kembali. Namun baru beberapa langkah, tangannya ditahan.
“ Kenapa lagi sih?! “
“ Aku sama Ryo udah enggak ada hubungan apa-apa!! “
“ Terserah. Aku capek, mau pulang. Selesaiin urusan kamu sama dia. “
__ADS_1
Sepertinya benar kata banyak orang. Pacaran memang membawa dampak buruk.
Lelah hati misalnya.