
Bukan maksudnya untuk tidur selama jam pelajaran Bu Dewi berlangsung. Dan setelah pelajaran bahasa Indonesia, Adam harus rela mengoreksi setumpuk jawaban milik teman sekelasnya.
Karena itu juga dia tidak mendapatkan jatah jam istirahat.
“ Kenapa lo? “
“ Lo pikun? Gue kan habis disuruh koreksi semua jawaban lu pada!! “ sungut Adam.
Leon juga tampak lesu seperti Adam. Ia juga mendapat ‘hadiah’ yang sama.
“ Tadi dicariin Kak Nadine. “ kata Affan.
Adam mengangguk, “ Hampir tiap hari kan, dia nyariin gue. “
“ Emang lo ada apa sama Kak Nadine? “
“ Ada apa yang gimana maksudnya? “
“ Alah, sok enggak paham! “ balas Leon.
Si pemuda berdecih tak peduli, meletakkan kembali kepalanya ke meja, “ Enggak ada apa-apa. Jadi, stop nanyain itu ke gue! “
“ Oi, oi, minggir! Bu Anin udah datang noh!! “ Dela mengusir dua pemuda yang duduk di bangkunya itu.
“ Jam saya sampai pulang kan? “ tanya Dita selesai menjelaskan satu materi.
“ Iya, Bu. “ jawab Vira.
Sistem simbiosis mutualisme sepertinya sedang dipakai oleh Dela dan Adam. Saat pelajaran fisika, Dela seolah menjadi tutor untuk Adam. Begitu juga sebaliknya saat bahas Inggris.
Itu salah satu alasan kenapa mereka berdua sepakat menjadi teman sebangku lagi.
Tapi sepertinya pemahaman itu kurang terlihat oleh Dita.
Dia melihat interaksi mereka lebih dari sebatas teman. Dan itu membuatnya sedikit tidak suka.
“ Dela? “
Si gadis mendongak, “ Iya, Bu? “
Ia agak heran. Sejak kapan gurunya sudah berada di samping bangku. Sama halnya dengan Adam yang juga tak mengetahui kehadiran Dita. Mereka fokus mengerjakan soal yang baru saja Dita berikan.
“ Udah selesai? “
Dela menggeleng, “ Kurang nomor tujuh. “
“ Kamu, Dam? “
“ Udah. “ balas Adam singkat.
“ Kenapa? “ tanya Adam karena Dita tak melepaskan pandangan darinya.
“ Enggak apa-apa. Kumpulin ke depan! “ Dita berlalu kembali ke meja guru.
Terhitung sekitar sepuluh menit Dita mengoreksi jawaban-jawaban muridnya. Delapan puluh persen dari mereka sudah paham dengan kerangka bahasa Inggris yang benar. Hanya tinggal kosakata yang perlu ditambah dan pengucapan.
“ Astaghfirullah, Dam! Gue lupa! “ bisik Dela.
Adam langsung menoleh, “ Lupa apaan? “
Tidak langsung menjawab, Dela malah sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
“ Tuh, udah 7 lap kan! “
Si pemuda langsung menatap layar ponsel temannya semangat. Dela pun sama.
Tak peduli lagi dengan interaksi guru dan siswa di kelas mereka.
__ADS_1
“ Taruhan bakso, yang menang siapa? “
Dela menoleh, “ Gue pegang Mercedes, “
“ Gue Ferrari. Kimi menang. “
“ Enggak mungkin! Lewis dong yang bakal menang! “ Dela balas berbisik.
Merasa tak puas, Adam mengeluarkan ponselnya dan mengakses sendiri. Ia juga menggunakan earphone di satu telinga.
Mereka berdua seolah larut dalam aksi-aksi para pembalap F1. Wi-fi sekolah ini sangat cepat untuk mengakses situs seperti ESPN, yang kali ini sedang menayangkan langsung balap jet darat itu.
Sudah menjadi rahasia umum jika mereka berdua sangat menyukai F1. Semua murid di kelas sudah tahu tentang itu. Adam bahkan hapal jadwal dan tempat berlangsungnya race.
Hampir setiap Minggu ia streaming balapan itu. Tak peduli sedang di kelas dan pelajaran berlangsung. Karena itu pula ia cukup sering dihukum karena tidak memerhatikan pelajaran. Biasanya juga bersama Dela.
Kali ini sepertinya Adam harus mengeluarkan uang lebih untuk menraktir Dela besok. Lewis Hamilton berhasil menjadi yang tercepat. Sementara yang ia jagokan, Kimi Raikkonen hanya menempati posisi delapan.
“ ****!! “
Telinga Dita seolah berdiri, “ Siapa itu? “
Sontak Adam menutup mulutnya rapat. Reaksinya benar-benar spontan karena kesal. Rasa gugup langsung menjalar begitu saja ke seluruh tubuh.
“ Siapa yang omong kasar barusan?? “ tanya Dita tegas.
“ Adam, Bu! “ kata Affan.
Kepala si pemuda langsung menoleh ke belakang, “ Ember lo!! “
Tak bersuara, namun dapat Affan mengerti dengan mudah.
“ Adam? Benar? “
“ I-iya, Bu. Maaf. “
“ E-enggak kok, Bu. Saya dengar penjelasan Ibu tadi. “
“ Terus ini apa maksudnya? “ Dita mengangkat ponsel itu di hadapannya.
“ I-itu, saya baru aja kok lihatnya! Enggak dari tadi, “ elak Adam.
Di sampingnya, Dela berlagak sibuk dengan kamus. Seolah mencari tahu kata baru untuk dihafal. Padahal sebenarnya ia sudah berkali-kali melirik Adam dengan menahan tawa. Ia tepat waktu mematikan ponsel sebelum Dita datang tadi.
“ Temui saya sepulang sekolah! “
Adam langsung mendongak, “ Tapi Bu, saya harus kerja! “
Suaranya agak memelan di akhir kalimat.
Dita tersenyum sinis, “ I don’t care! “
***
Sudah hampir sepuluh menit Adam terlambat berangkat kerja. Hanya karena menunggu Dita, yang entah sedang melakukan apa di ruang guru. Dia juga harus merelakan waktu makan siang dan kembali sebentar ke apartemen.
Kali ini harus langsung berangkat ke café.
“ Ayo pulang!! “
Adam menoleh. Lalu mendengus kesal, menyusul Dita yang berjalan di depannya.
“ Mau ngapain sih? Pakai minta nunggu segala!! Aku telat kerja nih! “
Kerja hanya beberapa jam, masih saja telat. Entah bagaimana tanggapan bosnya nanti.
“ Kamu ada hubungan apa sama Dela? “
__ADS_1
Kening si lelaki mengerut. Bukan hanya karena Dita yang tak memberinya jawaban, tapi juga karena pertanyaannya.
“ Aku enggak paham maksud kamu, “ jawab Adam menggeleng.
“ Kalian pacaran? “ tanya Dita.
“ Enggak lah! Apaan nanya kek gitu?! “
“ Seriusan? Kedekatan kalian tuh bikin orang lain salah paham, Dam! “ ‘Salah satunya aku.’ Lanjut Dita dalam hati.
“ Ya, namanya teman sebangku. Aku enggak pacaran sama Dela. “
“ Alah, ngaku aja deh! Orang gila juga tau kalau kalian pacaran. Akrab banget gitu, “
Decakan kesal sukses keluar. Merasa bingung dengan pikiran Dita.
“ Tuh, benar kan? Kamu aja enggak jawab lagi! “
“ Ya, ya, ya. Terserah. “ balas Adam malas.
Bukan itu jawaban yang Dita inginkan. Dia sebenarnya juga terjebak pertanyaannya sendiri. Berupaya menyingkirkan rasa sakit saat bertanya seperti itu.
Dita bukannya tak menyadari gelenyar aneh tiap kali bersama Adam. Namun ia memilih berpikir rasional, tentang makna dari rasa itu.
Cinta?
Huh, sudah berapa lama ia melupakan rasa itu. Terakhir kali saat kelas 12. Putus dengan alasan mantannya selingkuh.
Dan kini rasa yang sama kembali hadir, pada orang yang berbeda. Pada laki-laki yang bahkan lebih muda dua tahun dari dirinya.
Memang banyak laki-laki yang datang mendekatinya. Namun belum ada yang berhasil menarik perhatiannya.
Hingga beberapa bulan lalu.
Saat pertama kali ia berjumpa dengan Adam di jalan. Berlanjut dengan menjadi guru dari si pemuda tampan. Membuatnya sedikit mengenal lebih jauh tentang Adam.
Belum sampai satu tahun ia mengenalnya, sudah ada rasa nyaman bersama Adam.
Entah apa yang Adam pikirkan, Dita belum ingin tahu. Yang ia mau adalah menjadi seakrab mungkin dengan anak didiknya itu. Sedikit demi sedikit berusaha menghilangkan rasa canggung.
“ Pulang jam berapa nanti? “
Adam menoleh, “ Sore, sebelum Magrib. “
“ Malam juga masih kerja? “ tanya Dita lagi.
“ Iya, kayak biasanya. “
Anggukan paham didapat Adam.
“ Kamu ada apa hari ini? “
“ Ada apa maksudnya? “ Dita balik bertanya bingung.
“ Kelihatan sensi banget kalau bahas sesuatu. “
“ Sesuatu? Coba lebih spesifik, deh. Aku jadi bingung. “
“ Kamu kayak enggak suka kalau aku dekat sama Dela atau yang lain. “ jelas Adam pelan. Takut lawan bicaranya tersinggung.
Langkah kaki Dita terhenti. Membuat Adam juga ikut berhenti.
Menatap Dita bingung karena si gadis tak kunjung bersuara.
“ Kenapa? “
Dita menggeleng. Kembali melanjutkan langkah menuju café.
__ADS_1
Adam heran, Dita ragu.