
Mendekati ujian kenaikan kelas seperti tak ada yang berbeda. Hanya suasana yang menjadi sedikit lebih sibuk. Sedang Adam masih dengan rasa malasnya jika belajar. Membuka buku jika ingat saja.
Baginya, tidak penting berada di peringkat berapa. Yang penting naik kelas. Mengenai akademik, Adam akui jika dia memang di bawah teman-temannya. Tapi ia masih punya prestasi di bidang olahraga.
Dan baru terpikirkan tentang itu untuk menggunakannya mengambil beasiswa nanti saat kuliah.
Tentang hubungan Adam dengan Dita, memang agak merenggang. Selain karena kejadian beberapa hari lalu, Dita jadi jarang bisa menemui kekasihnya karena jadwal kuliah yang padat. Juga dengan Adam sendiri yang seperti menutup diri.
Adam yang dua hari penuh mengabaikan panggilan dari Dita. Sampai kesal sendiri dan memilih mematikan ponselnya. Tak ingin diganggu sementara waktu.
Meski berkali-kali gadis itu menjelaskan, nyatanya sulit untuk percaya. Namun akhirnya memilih untuk mengalah dan tidak lagi mempermasalahkan itu. Dia malu dengan umur. Masih bocah, katanya.
Lagi pula Adam juga sudah diberitahu Alan jika memang kakaknya itu sudah lama putus dengan sang mantan. Mengenai masih suka atau tidak, Alan tidak tahu.
Yang penting sekarang sudah tidak ada masalah lagi.
“ Del, bantuin ya? “ pinta Adam berharap.
Mati-matian otaknya bekerja tentang banyaknya variabel ini. Berpikir tentang apa gunanya x dan y di kehidupannya. Juga pada sinus dan cosinus yang ia pikir sama sekali tidak berguna.
Tidak mungkin, kan, meletakkan lemari saja harus menghitung sudut. Atau saat membeli cilok harus menghitung aljabar dulu. Kan bikin kesal.
“ Kalau minta bantuin terus, kapan pintarnya? Katanya jadi kuliah, “
Berdecak kesal. Adam jelas tidak akan memilih jurusan matematika nanti jika jadi kuliah. Kembali melanjutkan mengerjakan ulangan harian matematika ini. Rasanya dia benar-benar putus asa.
“ Awas aja kalau nanya bahasa Inggris! “ gumamnya kesal.
Dan sepertinya memang hari ini bukan hari keberuntungan para murid. Entah kebetulan atau bagaimana, semua mata pelajaran hari ini mengadakan ulangan harian. Bahkan bahasa Inggris sekalipun, yang setiap hari ada.
“ Dam, bedanya have sama has tuh apa sih? Penggunaannya di mana? “ tanya Dela.
Adam menggeleng, “ Katanya mau kuliah. Kalau minta bantuin terus, kapan pintarnya? “
Dela merengut lucu. Kesal sekali karena teman sebangkunya ini membalasnya. Dan mencubit lengan si pemuda adalah pilihan terbaik baginya.
“ Aduh! Sakit tau!! “ Adam mengusap tangannya beringas.
“ Pelit banget sih! “ kata Dela.
“ Gue harusnya juga bilang gitu tadi! “
Si gadis memicing, “ Oh, jadi lo mau balas dendam, gitu?! “
Adam tak menjawab. Tapi dalam hati menggerutu. Salah sendiri enggak mau bagi-bagi, batinnya.
“ Bedanya, kalau have itu buat subjek I, you, they, we. Kalau has itu buat he, she, it. “ jelas Adam.
Dela yang awalnya cemberut, mulai tersenyum. Bahkan terkekeh. Namun itu jutru membuat Adam mencibir. Sudah terlampau hafal dengan sifat gadis ini.
“ Adam! Dela! “
Dua tubuh menegang. Lalu menormalkan diri setelah sadar dipanggil.
“ Udah pada selesai? “ tanya Dita.
Adam berjalan dan berhenti di depan meja guru, “ Udah, Bu. “
“ Taruh situ dulu, Yang. “
Tersenyum geli, “ Dih, masih aja colong-colongan. “
Dita terkekeh. Meletakkan ponselnya di meja, “ Duduk dulu. “
Si pemuda menempati kursi di depannya.
“ Pulang sama siapa nanti? “
Adam memicing. Tiba-tiba ditanya seperti itu oleh Dita membuatnya merasa aneh.
“ Basa-basi, ya? “
Dita tersenyum lagi. Dia bingung harus bagaimana. Di saat separuh hatinya masih merindukan Adam. Jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
Biasanya hampir setiap hari mereka bertemu. Tapi selama beberapa minggu terakhir, maksimal hanya seminggu lima kali. Itupun jika beruntung.
Ah, memang dasar tidak bersyukur.
“ Kangen, Dam! Gimana sih?! “
“ Orang baru pacaran itu emang kelihatan banget alay ya? Baru juga kemarin enggak ketemu, udah bilang kangen. “
Dita mendengus. Mau bagaimana lagi. Adam ini memang berbeda dengan dua mantannya terdahulu. Berbeda karena hanya dia yang jelas-jelas mandiri. Dalam hal apa pun.
“ Nanti ada kuliah enggak? “
__ADS_1
Mengangguk. Dengan bibir mengerucut.
“ Jam berapa? “
“ Enggak tau jamnya. Pokoknya sore udah pulang. “
“ Mampir ke café ya? “ pinta Adam.
Sebelah alis si gadis mencoba ia gerakkan, seperti Adam. Namun yang terjadi malah dua-duanya yang bergerak naik. Membuat pemuda di depannya menahan tawa berat.
“ Kalau enggak bisa, jangan nyoba deh. Malah kelihatan kayak kelilipan, “
Cemberut lagi.
“ Katanya kangen, ya nanti mampir aja ke café. Ngobrol santai aja bisa, “ kata Adam masih mencoba menahan tawa.
“ Sambil ajarin ya? Biar bisa unik gitu, “ Dita menggoda dengan alisnya lagi.
“ Ehem!! “
Terhenti.
“ Tolong ya, kalau pacaran jangan di sekolah! Belajar yang rajin dulu! “ lanjut Leon dengan wajah judesnya.
Menyerahkan lembar jawabannya.
“ Dan buat lo, Dam. “
Leon agak mendramatisir.
“ Kimi kangen lo. Ngomel terus, “
Sepasang mata memicing tak suka.
Adam terkekeh, “ Bilangin, gue juga kangen sama dia. “
“ Kimi siapa? “
Dua pemuda itu menoleh, “ Weits, saya balik dulu, Bu. Enggak mau ikut campur. “
“ Siapa, Dam?! “ Dita mulai kesal.
“ Bukan siapa-siapa. “ balas Adam santai. Seakan itu bukan masalah besar.
“ Kayaknya topik ini enggak pantas deh buat dibicarain di sini deh, Dit. “
“ Jangan ngelak! “
“ Aku balik. “
Sementara Dita menggeram kesal. Tapi tidak mungkin ia berteriak kesal sekarang. Hanya bisa mencoba tenang. Akan menanyakannya saat di café nanti.
***
Hanya karena masalah tak mutu tentang baju apa yang akan Dita kenakan, kencan mereka batal. Ketika acara kencan mereka gagal beberapa hari yang lalu, Dita meminta ganti, meski dia sendiri penyebabnya. Malam ini, tepatnya malam Minggu, ia mengajak Adam jalan-jalan.
Dengan alasan agar hubungan mereka kembali membaik. Demi apa pun, Adam bahkan baru mendapat KTP. Dan sudah dihadapkan dengan masalah yang seolah adalah masalah rumah tangga. Hidup bocah itu memang kurang beruntung.
Makanya ia pulang dengan motor trail milik Leon tadi. Sampai dicurigai oleh Fitri karena tiba-tiba pulang membawa motor.
Adam sendiri menulikan telinga. Malah sibuk bermain dengan kucing peliharaan Fitri di apartemen orang tuanya. Sudah lama tidak berkunjung ke tempat itu.
“ Mbak, Whiskas sekarang berapa? “
Kerutan tercetak di kening mulus sang gadis, “ Kamu dengarin enggak sih?! “
“ Dengar sih, cuman malas aja. “
Fitri mendengus, “ Mahal. Makanya Mbak enggak beli Whiskas. “
Jam lima sore Adam kembali ke apartemen. Mandi dan bersiap untuk ke rumah Dita. Ceritanya dia akan apel.
“ ****, udah kayak anak kecil aja gue. Malu-malu sendiri gini. “ gumamnya.
Tidak sadar dirinya sendiri masih bocah.
“ Halo, kenapa? “ Adam menjawab panggilan dari Dita.
“ Kok suara kamu santai banget sih?! “
Mengernyit, “ Maunya gimana emang? “
“ Chk, udah siap-siap kan? “
“ Yaelah, Dit. Kayak baru pertama aja nanya gitu. “
__ADS_1
“ Kamu lagi ngapain? “
“ Nonton tv. “
“ Kok malah nonton tv!! Buruan siap-siap dong, Dam! Nanti telat kamu! “
“ Apaan sih, baru jam segini. Belum Magrib juga. Udah ah, lagi enak ini. Bye. “
Langsung mematikan sambungan tanpa menunggu sahutan dari seberang.
Baru selepas salat Magrib ia berangkat.
Dengan perpaduan kaus berwarna biru tua yang dilapisi kemeja lengan panjang berwarna merah. Dengan lengan dilipat hingga siku. Tanpa mengancingkannya.
Lalu di kepalanya dihiasi dengan topi snapback bermerek ternama. Sudah pasti hadiah. Memang rada aneh memakai topi di malam hari. Tapi begitulah stylenya.
Bawahannya mengenakan celana jeans hitam model lawas. Dan juga sneaker Converse yang baru ia beli saat liburan ke Bali lalu. Adam adalah pencinta topi dan sepatu sejuta umat.
Karena sudah memakai topi, Adam tak perlu lagi menggunakan helm. Sebuah prinsip yang sangat tidak bagus sebenarnya, tapi tetap dipakainya.
Motor berkubikasi 150cc melaju dengan kecepatan normal. Jalanan kota memang selalu padat. Di hari biasa padat oleh para pekerja kantoran, dan di Sabtu malam ramai oleh muda mudi. Yang mungkin juga memiliki rencana sama dengan Adam. Jalan-jalan bersama pasangan.
Dua puluh menit cukup mengantarnya ke rumah Dita. Agak merasa aneh saat melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah. Adam yakin itu bukan salah satu milik keluarga Dita. Mungkin tamu.
Memasukkan motor keluaran Jepang itu setelan mendapat izin dari satpam.
“ Kak Adam? “
Menoleh. Lalu tersenyum saat melihat seorang gadis yang sudah tidak asing.
“ Dari mana? Jalan sama pacar ya? “
Alin merona, “ Enggak! Aku kan enggak dibolehin pacaran! Ini tadi baru beli jajan di depan kompleks! “
Adam terkekeh, “ Alan mana? “
“ Ke Kediri sama Papa. Ikut Kejurnas. Masuk yuk, Kak! “
Menganguk. Mengikuti jalan si gadis di depannya.
“ Loh, ada tamu ya? “ gumam Alin.
“ Mana tau! Yang punya rumah kan situ, “
Alin mendengus, “ Kakak masuk aja ya. Aku mau ke kamar, “
Adam mengangguk lagi. Membiarkan adik dari kekasihnya itu pergi menuju kamar. Ia masih berdiri di depan ruang keluarga.
Duduk di sofa saat dirasa kakinya cukup lelah berdiri. Namun hanya ada tv yang menyala. Tanpa ada orang. Baik Dita maupun ibu gadis itu.
Adam mendengar suara dari ruang tamu. Suara lelaki dan perempuan. Memang suara orang yang berbincang, tapi seperti sedang saling bantah.
Mulanya ia biarkan. Toh bukan urusannya. Mungkin tamunya Tante Dian, pikir Adam.
Namun yang sering dikatakan orang, rasa penasaran mengalahkan. Memutuskan untuk melihat siapa yang ada di ruang tamu sekarang. Sekadar melihat, berharap Dita di sana dan bisa segera jalan-jalan.
Dan sayangnya keputusan itu sedikit salah.
Rasa penasaran Adam memang hilang. Dita juga ada di ruangan itu, sedang berpelukan dengan seorang pria yang ia tahu adalah mantan kekasih gadis itu.
Adam tersenyum sinis. Dengan rahang mengeras. Mengembuskan napas ringan mencoba menurunkan emosi. Tidak bersuara sama sekali. Tak ingin mengganggu keintiman di depan sana.
Dan tak sengaja matanya bertatapan dengan Dita. Yang sontak melepas pelukan.
“ Adam! “
Hanya menatap sinis pada Dita yang terlihat sangat terkejut.
“ Lo siapa?! “
Pandangannya beralih pada Ryo. Namun dua detik kemudian menatap Dita lagi.
“ Dam, aku bisa jelasin. “ Dita mendekatinya.
“ Bukan siapa-siapa. Gue muridnya Bu Dita. “ kata Adam dengan menatap Dita.
Kemudian dengan langkah lebar keluar dari sana. Menghampiri motornya dan segera menyalakan mesin. Tak peduli dengan panggilan Dita di belakang. Yang Adam ingin sekarang hanya pergi dari sini.
“ Adam, tunggu!! “
Motor berwarna merah itu melaju cepat, keluar dari gerbang. Benar-benar tak berniat berhenti walau lampu merah sekalipun. Tak peduli juga dengan kemejanya yang basah karena cipratan air.
Dalam hati berdecih kesal sekaligus menyesal. Bisa-bisanya dia dibodohi oleh seorang gadis. Yang bahkan ia kenal secara tak sengaja.
Ah, cinta monyet memang semenyebalkan ini.
__ADS_1