Karena Apel

Karena Apel
Katanya Sih Patah Hati


__ADS_3

Tahun ajaran baru bukan berarti harus mempunyai peralatan sekolah baru. Begitu kiranya prinsip yang Adam pakai.


Tak masalah jika harus memakai sepatu bekas. Selama itu tidak dilarang, buat apa memakai yang baru. Padahal alasan utamanya adalah Adam tak ingin keluar uang lebih untuk membeli itu semua.


Buku tulis saja ia sambung dari kelas sebelumnya.


Pagi tadi saat ia baru saja sampai di kelas barunya, Nadine langsung menghampiri. Mengatakan untuk datang ke ruangan sang ayah sebelum pulang sekolah.


Tak berkata dengan jelas. Hanya berkata seperti itu dan mengancam akan mencoret namanya dari tim voli jika menolak.


Di sinilah ia. Di ruangan pimpinan yayasan. Bersama Nadine di sampingnya.


Adam sengaja menarik gadis itu untuk menemani. Tidak ingin semakin canggung.


Siapa sangka bukan Deny yang berada di sana, melainkan Vina.


“ Gimana liburan kamu, Dam? “


Adam mengangguk kaku, “ Baik, Tan. “


Dia agak menyikut pelan lengan gadis di sampingnya. Bermaksud meminta penjelasan tentang keadaan sekarang. Yang seolah dia menjadi tersangka akan kejahatan pada Nadine.


Sementara Nadine menoleh heran, lalu mengalihkan pandangan lagi ke ponselnya.


“ Oh ya, kamu udah beli peralatan sekolah yang baru? “ tanya Vina lagi.


“ Enggak, Tan. Aku enggak beli. “


“ Bagus kalau gitu, “


Dahi pemuda itu mengerut.


“ Tante bawain. Buat kamu semua. “ Adam menerima sebuah kardus dan tas dengan uluran ragu.


“ Buku, sepatu, sama tas. “ Nadine berkata.


“ Chk, aku juga tau. Maksudnya ini buat apa dan siapa? “


“ Ya buat kamu lah! Yang ada di sini siapa sekarang? Ara udah punya kok! “


Tetap saja Adam ragu. Dia tidak paham dengan yang terjadi sekarang.


Ini adalah pertemuan ketiganya dengan Vina. Yang kedua adalah saat hari raya beberapa hari lalu. Dan dia juga baru tahu jika ternyata Vina lebih sering memanggil Nadine dengan panggilan Ara. Kependekan dari az-Zahra.


“ Udah, terima aja, Dam! “


Nadine yang mulai geram dengan wajah ragu adik kelasnya itu mengambil paksa tas dan memakaikan ke punggung Adam.


“ Gratis kok! Tenang aja, deh! “


“ Makasih, Tan. Jadi enggak enak. “


Dia bahkan belum tahu nama lengkap wanita di hadapannya ini. Dan Vina malah sudah bersikap sangat baik padanya. Dalam hati, Adam bertanya.


“ Loh, jangan ngerasa gitu, Dam! Santai aja kalau sama Tante. “


Sejenak ruangan sepi. Hanya suara jarum jam dan ponsel Nadine yang terdengar.


“ Eee, aku boleh tanya sesuatu, Tan? “


Vina menoleh, tersenyum singkat dan mengangguk, “ Boleh kok, nanya apa? “


Adam agak ragu melanjutkan, tapi rasa penasarannya lebih besar, “ Waktu aku datang ke rumah Tante dulu, kenapa tiba-tiba Tante meluk aku? “


Jari tangan Nadine berhenti menari di atas layar ponselnya. Lumayan terkejut dengan pertanyaan Adam.


Begitu juga dengan Vina. Dia bahkan langsung menegakkan tubuh di kursi.

__ADS_1


“ Enggak apa-apa kok kalau Tante keberatan sama pertanyaan aku. Enggak perlu dijawab. “


“ Tante juga enggak tau apa alasan Tante meluk kamu, Dam. “


Bohong.


Bohong jika Vina berkata tidak punya alasan yang jelas saat memeluk Adam dulu. Beruntung suara sendunya bisa menipu Adam. Membuat pemuda di depannya tak lagi mengungkit perihal itu.


“ Jadi, selain ngasih ini, Tante manggil aku ada apa? “


Vina tersenyum, “ Itu doang kok, “


“ Aku kira ada yang penting. Kan bisa dititipin ke Kak Nadine. “


“ Tante harus kasih sendiri semua ke kamu. Enggak boleh diwakilin! “


Adam hanya mampu bergidik ngeri melihat tatapan tajam ibu kakak kelasnya itu.


“ Kalau gitu, aku boleh balik dulu? Aku ada kerja. “


“ Ya udah deh, tapi Tante antar ya? Sama Ara juga. “


“ Jangan nolak!! “


Kali ini giliran Nadine yang membuatnya menelan ludah. Ibu dan anak sama saja.


Sama-sama mengerikan.


***


Selama satu minggu kemarin, ia tak terlalu dipusingkan dengan jam pulang malam. Minggu pertama sekolah memang tidak ada pelajaran. Ia bebas tidur di kelas.


Lain halnya sekarang. Sudah mulai pelajaran seperti biasa. Adam tak bisa lagi bangun agak siang dan tidur di kelas.


Kegiatannya masih sama. Sekolah, kerja, dan pulang. Masih itu-itu saja.


Kadang juga ia keluar. Sekadar menghibur diri dengan lampu taman yang temaram. Baik bersama sahabatnya ataupun sendirian. Tapi jauh lebih sering ia pergi sendiri tanpa teman.


Setidaknya itulah yang selalu Adam gunakan sebagai prinsip ketika sedang dalam masa terpuruk. Istirahat saat suntuk dan mencari hiburan saat bosan.


Lalu penderitaannya berakhir saat Leon menyentil telinganya keras.


“ Anjing!! “


Si tersangka hanya menatapnya datar, seolah tak pernah terjadi sesuatu.


“ Lo pada ngapain sih ke sini?! “


Dia sedang sangat ingin menikmati malam Minggunya sendiri kali ini. Bukannya apa, Adam sedang patah hati karena gadis yang ia sukai baru saja jadian dengan salah satu teman sekelasnya.


Makanya sedari ekstrakurikuler tadi ia lebih sensitif.


Bola menjadi sasarannya. Puluhan smash yang ia lakukan hampir semuanya tak membuahkan poin. Hanya kekuatan keras yang keluar. Buktinya, satu bola pecah gara-gara spikenya yang terlalu keras.


Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menyalurkan rasa kesal. Meski bukan haknya juga untuk marah.


Rencananya ia ingin menghilangkan rasa kesalnya dengan bermalas-malasan.


Tapi harus gagal karena tiba-tiba Leon dan Ryan datang ke apartemennya. Masuk tanpa permisi karena mereka memiliki kunci duplikatnya.


Adam sudah hafal alasan mereka jika datang ke sini. Jika bukan karena dimarahi orang tua, pasti numpang makan. Dia tidak melarang, hanya saja Adam merasa tak enak dengan orang tua sahabatnya.


“ Lo enggak keluar? Jalan-jalan? “


“ Mata lo enggak lihat gue di sini?! Ya berarti enggak! “


Ryan hanya mendengus. Dia lupa jika sohibnya yang satu ini sedang patah hati.

__ADS_1


“ Keluar sono! Mi persediaan lo pada habis. Dihabisin Dika sama Affan. “


“ Ini emang mau beli, Dam. “


“ Beliin gue Red Bull sekardus. Ingat! Beliin, bukan utang! “


Leon mendelik, “ Buset! Lo kalau patah hati ngeri juga ye, “


“ Buruan! “


Adam kembali menjatuhkan diri ke sofa, berbaring menatap tv.


“ Affan sama Dika mana? “


Ryan menoleh, “ Ya pacaran lah, kayak enggak tau mereka aja. “


“ Lo kenapa enggak ikut? “


“ Ikutan pacaran? “


Adam berdecak, “ Ikut Ipung!! “


“ Buat apa gue ikut? “ Ryan balas bertanya.


“ Ya kali aja Ipung kesusahan. “


Sementara Ryan hanya mendengarnya tak peduli. Melangkahkan kaki ke dapur yang serasa bagai rumah keduanya itu. Mengambil piring dan nasi, lalu mencari-cari lauk pauk.


“ ****, lo enggak masak, Dam? “


“ Enggak! “ Tak perlu teriak karena jarak dapur dan ruang keluarga sangat dekat.


“ Terus gue makan apa dong?! “


“ Itu ada sambal tomat sama bakwan. Kalau cari tuh pakai mata, bukan bacot! Tungguin Ipung kalau sabar! “


Tidak mungkin menunggu Leon karena Ryan sudah sangat lapar. Sepertinya sambal dan nasi hangat tidak buruk.


Pemuda yang baru saja mendapat KTP itu kembali dengan piring penuh. Siapa yang menyangka jika laki-laki sangar seperti Ryan memiliki hobi makan.


Iya, hobi. Selain badminton tentunya.


Baginya, makan bukan lagi kebutuhan. Di mana ada makanan, pasti akan habis jika dihadapkan dengan Ryan. Terlepas dari kegiatannya sebagai atlet, Ryan tetap bisa menjaga tubuhnya tetap sehat dan fit.


Adam juga begitu. Semuanya, malah.


Mereka sehat-sehat saja meski suka makan. Alasan utamanya adalah justru karena mereka semua atlet, yang dituntut untuk selalu bugar.


Pintu apartemen terbuka. Leon datang membawa tiga buah kardus besar. Dua kardus berisi mi instan dan satunya berisi minuman soda pesanan Adam tadi.


“ Bantuin, *****!! Berat nih! “


Adam beranjak membantunya dengan malas karena Ryan masih makan. Tak peduli juga lelahnya Leon menaiki puluhan anak tangga hingga ke lantai teratas.


“ Cewek lo dari tadi nelfon mulu, Pung. Pecah kuping gue dengar ringtone HP lo yang lebay itu!! “ gerutu Ryan.


“ Katanya lo mau mi, kok udah makan? “ Leon malah balik bertanya.


“ Udah enggak tahan, keburu lapar. “


Leon berdecih, “ Dam, gue nginap ya? “


“ Gue juga. “


Adam hanya menoleh malas, “ Tumben pakai izin segala? Biasanya juga langsung pada tepar di sini. “


Lumrah jika mereka sering menginap di tempat Adam. Heran saja karena mereka masih ingat cara meminta izin yang baik dan benar.

__ADS_1


__ADS_2