
Tidak perlu menjadi gedung tertinggi dan terbesar untuk meraih gelar sebagai gedung terbersih di kota.
Kalimat itu pantas disematkan pada gedung apartemen yang ditempati Adam. Gedung itu juga pantas meraih gelar sebagai gedung terhijau di kota.
Bahkan jika dilihat dari jauh saja sudah terlihat begitu hijau.
Banyak indikator yang menunjukkan bahwa gedung berlantai tujuh itu pantas. Salah satunya adalah balkon di tiap lantai memiliki tumbuhan hijau. Baik itu tanaman hias atau juga sayuran. Bahkan banyak yang menanam toga.
Di unitnya, Adam memilih menanam tanaman hias. Lidah mertua dan beberapa lainnya mengisi slot di tempat kecil itu. Hanya beberapa dan masih terdapat tempat untuk bersantai memandangi jalanan kota yang hampir setiap hari padat.
Begitu pula dengan atap gedung.
Pemilik dan penghuni sepakat untuk menggunakannya sebagai lahan tanam sayuran organik. Mereka mengelolanya bersama. Hasilnya digunakan untuk kebutuhan penghuni gedung. Saat kebutuhan mendadak.
Masalah kebersihan, tidak perlu dipertanyakan lagi. Hampir tak ada sampah yang berserakan di gedung ini. Standar kebersihan di sini bisa dibilang selevel dengan gedung-gedung di Eropa. Tak pengaruh dengan lingkungan sekitar.
Gedung pasti akan mendapatkan gelar itu, jika saja ada penghargaan yang diberikan. Pemerintah terlalu ‘sibuk’ untuk mengurus hal-hal seperti ini. Padahal, ini merupakan salah satu cara menjadi kota terpadu.
Bukan hanya dari aspek fasilitas, tapi juga dibutuhkan pengakuan dari pemerintah untuk warganya. Bekerja di balik kubikel tentu lebih nyaman daripada harus panas meninjau lokasi.
Penghuni gedung memang bukan kalangan atas. Sebagian hanya bekerja sebagai buruh atau karyawan swasta. Tapi setidaknya ada rasa memiliki untuk merawat dan menjaga.
Ketika tahun baru, mereka berkumpul di atap gedung. Merayakan bersama penghuni lain. Acara barbeque sederhana sering mereka lakukan, hanya untuk tidak memutus tali silaturahmi.
Nyaman, itu yang Adam rasakan tiap kali berinteraksi dengan penghuni lain. Tak ada yang namanya sok kaya. Mungkin secara individu, masih ada yang merasa unggul.
Yah, itulah yang ia rasakan selama ini.
“ Uhuu!! “
Pikiran Adam tentang tempat tinggalnya terputus. Berdecak malas saat tahu siapa yang mengganggunya.
“ Jauh-jauh sana! Jijik gue, “
Kini Dika yang berdecak, “ Yaelah, gitu doang. “
Pemuda asli Bali itu mengambil tempat di sampingnya. Mulai menidurkan diri di meja perpustakaan.
Jangan pikir jika makhluk-makhluk sebangsa Leon dan Affan akan datang. Itu juga yang menjadi alasan Adam sering ke sini, tak ada yang mengganggu.
Namun belum juga terpejam, mereka berdua terbangun karena bel masuk.
“ Lo enggak balik, Ka? “
Dika menggeleng malas, “ Gue jamkos. “
“ Enak banget lo! Gue duluan ya? “
Tak ada sahutan. Namun Adam bisa melihat anggukan dari sahabatnya.
Sudah ada Dita di kelas, namun pelajaran belum dimulai.
“ Lo dari mana? “
“ Dari markas. “ jawab Adam sambil mengeluarkan buku dari tasnya.
“ Perpus? “ Adam mengangguk.
Mulai memperhatikan Dita yang mengajar di depan. Gadis itu mengajar di hari yang tak pernah sama. Tergantung ia kosong jam kuliah dan tak ada tugas dari dosen.
Dan juga, orang tua Dita adalah teman dekat Deny. Yang merekomendasikan pun adalah Vina,dengan persetujuan orang tua gadis itu. Jadi, datang kapan saja bukan masalah, asalkan dia tetap mengajar.
“ Bentar, kayaknya ada yang belum masuk. Ryan mana? “ tanya Dita menyadari satu muridnya tidak ada.
“ Ryan udah enggak sekolah, Bu. “
Dita mengernyit, “ Enggak sekolah? Kenapa? “
“ Dia kan udah gabung sama PB Djarum. Jadi udah pindah ke sana. “ kata Vira memperjelas.
Ya, sahabat Adam itu memutuskan menekuni hobinya. Bergabung dengan PB Tangkas sedari kecil, Ryan memutuskan hijrah ke PB Djarum Kudus. Sendirian, tanpa orang tua atau pun kakaknya.
Sebenarnya agak telat baginya untuk memutuskan menekuni badminton. Baru di umur ke 17 tahun Ryan memilih atlet sebagai profesinya. Meski bukan tidak mungkin ia masuk tim senior dalam jangka waktu satu atau dua tahun ke depan.
Pemuda yang bermain di dua nomor itu baru mengikuti Kejuaraan Asia. Bermain di nomor ganda campuran dan ganda putra.
Bulu tangkis adalah satu dari sedikit olahraga yang bisa berkembang dan berprestasi untuk Indonesia.
Tidak banyak olahraga seperti itu. Antara Adam dan sahabatnya, memang hanya Ryan yang memiliki prospek tinggi sebagai atlet profesional di Indonesia. Leon, Adam, Dika, dan Affan seperti mustahil untuk bisa menyaingi Ryan di bidang mereka.
__ADS_1
Affan dengan sepak bola, sudah bisa dipastikan tak akan pernah berkembang jika berkarir di sini. Sama halnya dengan Dika. Basket memang populer, namun banyak yang hanya menjadikannya sebagai hobi dan ekstrakurikuler, bukan profesi. Voli? Mungkin masih lebih beruntung.
Banyak turnamen tarkam di Indonesia. Tapi tetap saja, nasibnya bisa jadi akan seperti basket.
Mungkin akan beda cerita jika berkarir di Eropa. Hampir bisa dipastikan akan berkembang dan berprestasi.
Sepak bola kalah dengan Malaysia, voli masih bersaing dengan Thailand, basket hancur oleh Filipina. Butuh pemuda luar biasa untuk merombak negeri ini.
“ Sok-sok an enggak ngajar segala sih, makanya enggak tau! “ sindir Adam, yang sayangnya masih bisa didengar oleh Dita.
“ Kamu bilang sesuatu, Dam? “ Adam menggeleng. Dita tahu kebohongan itu.
“ Temui saya di ruang guru setelah pelajaran! “ titah Dita.
Si pemuda menghela napas kesal.
“ Rasain lo! Sama guru baru udah kelewatan! “ kata Dela.
***
Pintu kaca ruang guru terbuka. Tak ada yang memperhatikan itu karena semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.
Adam melangkah ke ujung ruangan, ke meja Dita berada.
“ Ada apa, Bu? “
Dita mendongak, lalu tersenyum, “ Kamu boleh duduk, Dam. “
“ So, apa maksud kamu bicara kayak gitu di kelas tadi? “
Jujur saja Adam terkejut, “ Seriously? Ibu manggil saya buat nanyain itu? “
Dita terkekeh, “ Ya enggak lah! Aku mau lebih tau soal kamu. Dan jangan panggil ‘Ibu’! Kita enggak lagi di kelas. “
“ Tapi masih di sekolah. “ kata Adam.
“ Chk, kita lagi berdua doang, Dam! “
Adam terkekeh. Sepertinya bukan hanya Dita yang suka menggoda, sebaliknya juga sama. Saling menggoda.
“ Mau tanya apa, hm? “
“ Chk, iya, mau tanya apa, sih?! “
“ Semuanya. Tentang hobi kamu, kehidupan kamu, semua pokoknya! “
“ Cuma itu? “
Dita mengangguk santai.
“ Enggak ada yang lain? “
“ Iya! Kenapa sih? “ Dita mulai geram.
“ Enggak kenapa-kenapa sih, “ jawab Adam santai. Ingin berlama-lama di sini karena guru yang sekarang harusnya mengajar belum datang ke kelasnya.
“ Makanya, jawab dong! “
“ Apanya yang dijawab? “
Hampir saja vas bunga di depannya ia lempar. Dita sudah terlampau kesal karena bocah di hadapannya ini.
Sementara Adam malah tertawa keras, membuat seisi ruang guru menoleh. Buru-buru ia menahan suaranya. Dita hanya tersenyum kaku menanggapi wajah-wajah bingung guru di sana.
“ Kalau mau tanya soal itu, jangan sekarang deh. “
“ Kenapa? “
“ Bakal panjang soalnya, Dit. Aku udah hafal sama yang kek beginian. “
“ Bikin pendek aja deh, Dam. Aku udah penasaran banget nih! “ kata Dita.
“ Kek arwah aja penasaran, “
“ Susah banget sih, cerita doang. “
Adam berdeham, “ Bukan gitu. Kalau aku pendekin, kamu bakal terus nanya ‘kok bisa gitu, terus gimana, serius?’, kek gitu. “
“ Enggak deh, janji! “
__ADS_1
“ Bullshit! “
“ Oi, languange please!! “
Adam terkekeh, “ Kapan-kapan aja deh, aku ceritain semuanya. Lengkap. “
“ Benar ya? “ tekan Dita.
“ Iya. Emang kenapa sih, mau tau banget? “
Sejujurnya Dita juga tidak tahu kenapa sangat penasaran dengan pemuda di depannya ini. Rasanya, Adam penuh misteri yang menunggu dikuak.
“ Aku juga enggak tau alasannya apa. Aku tertarik sama kamu, “
Ada kernyitan yang tercetak jelas di kening si pemuda. Bingung dengan jawaban ambigu yang dikeluarkan Dita.
“ Lupain! Jadi, kapan kamu senggang? “ Dita mengalihkan topik.
Sejenak Adam ragu. Namun memilih untuk melupakan jawaban ambigu tadi.
“ Kapan-kapan pokoknya, “
“ Chk, yang jelas dong!! “
Adam mengangkat tangan, “ Enggak tau kapan bisanya. “
“ Gini deh, kamu punya nomor aku, kan? “
“ Enggak ada kayaknya, “ Adam menggeleng.
“ Masa sih? Coba sini lihat HP kamu! “
Smartphone Adam berpindah tangan. Dita tidak kesulitan karena Adam memang tidak mengunci ponselnya.
“ Nih! Udah aku save nomor aku di WA kamu. Aku juga udah punya nomor kamu, kok! Kabarin kalau ada waktu! “
Adam menerima kembali smartphone lawas miliknya, “ Dih! Apaan namanya kek gini! Alay banget, “
Di sana tertulis ‘Si Cantik’ sebagai nama kontak Dita. Adam lalu memilih menghapus dan mengganti dengan nama sesungguhnya.
“ Yah, jangan diganti dong! “
“ Bodo! “
Dita hanya mendengus. Memangnya dia siapa, meminta Adam setuju begitu saja, pikir gadis itu.
“ Nanti pulang sekolah bisa? “
Adam menggeleng.
“ Malam? “
Menggeleng lagi.
“ Besok? “
“ Enggak bisa, “
Dita berdecak kesal, “ Kenapa sih, semuanya enggak bisa?! “
“ Aku sibuk. “ jawab Adam santai.
Jarinya menari-nari di layar ponsel.
Agak lama Dita berpikir. Mencoba mengingat, hari apa dia juga kosong. Tidak mengganggu keduanya.
“ Kapan kamu senggang? “
Mata pemuda itu menelisik langit-langit ruangan, “ Sabtu-Minggu kosong. “
“ Ya iyalah, weekend! Jadi Sabtu sepulang sekolah ya?!! “
“ Minggu aja, aku malas kalau Sabtu. “
“ Chk, iya! Minggu, jam 6 pagi sambil jogging!! Datang ke taman! Awas kalau enggak datang!! “
Si pemuda berjalan keluar, “ Bawel! Cantik-cantik, galak! “
“ I hear that!! “
__ADS_1
Adam agak menoleh, lalu menjulurkan lidah jahil.