Karena Apel

Karena Apel
Kabur ke Jogja 2


__ADS_3

Well, sepertinya keputusan Dita untuk menyusul Adam ke Yogyakarta adalah hal yang bagus.


Hari kedua di Yogyakarta masih mereka gunakan untuk wisata alam. Kali ini giliran Pantai Parangendog yang menjadi tujuan.


Berjarak 30 kilometer selatan Yogyakarta. Hampir sama dengan jarak ke Pantai Parangkusumo kemarin.


Bukan untuk berenang dan bermain air, tapi untuk menikmati pemandangan dengan paralayang. Sekaligus berburu sunset lagi.


Hari ini bukan kamera DSLR yang Adam bawa. Adalah Go-Pro keluaran terbaru tahun ini yang menjadi senjatanya mengabadikan berbagai momen. Kamera aksi yang diberikan Dika sebagai hadiah sehari sebelum ulang tahunnya.


Mereka baru berangkat siang hari. Karena pagi harinya mereka lebih memilih sekitaran Malioboro sebagai destinasi. Bukannya apa, Dita masih kelelahan karena kegiatan mereka kemarin.


Sekitar 50 menit mengendarai sepeda motor, mereka sampai di area Pantai Parangendog. Tidak langsung menuju tempat paralayang dan memilih sebuah warung di sana. Makan sekaligus salat Asar sebelum terbang.


“ Ini kamu seriusan pindah? Hotelnya kan enggak jauh-jauh amat, Dit. “


“ Telat omongnya. Udah tau aku pindah masih nanya aja, “


Jam delapan pagi tadi, Adam masih tertidur. Setengah jam kemudian terbangun karena pintu pintu kamarnya diketuk tak beraturan. Bukan service room, melainkan Dita dengan senyum lima jarinya.


Mengatakan jika kamarnya kini berjarak tiga ruangan dari kamar Adam.


“ Kerjaan kamu? “


Adam mengembuskan asap rokoknya dan menjawab, “ Aku udah izin. “


“ Tapi sekolahnya bolos! “


Si pemuda terkekeh. Membayangkan akan bagaimana reaksi guru dan wali kelasnya nanti saat tahu ia bolos sekolah selama seminggu penuh.


Tahun lalu ia mendapat 20 poin negatif gara-gara membolos. Dari maksimal total poin negatif di sekolah, sekarang Adam sudah mengoleksi sebanyak 8 poin. 20 poin di atas mendadak hilang dan berganti menjadi poin positif karena ia berhasil mengantarkan sekolah menjuarai kejurnas voli di Palembang lalu.


Kini malah poin positifnya yang lebih dari 20. Di Arastamar, poin positif bisa digunakan tolak ukur beasiswa ke perguruan tinggi. Sayangnya tidak bisa untuk keringanan biaya sekolah.


“ Dam, aku tunggin di sini aja ya? “


“ Enggak bisa! Kamu sendiri yang bilang ikut, kemarin. “


Wajah Dita terlihat lesu. Terus menahan lengan Adam di bukit tempat melakukan olahraga ini.


“ Tapi ini main paralayang, Dam! Aku takut ketinggian! “


Adam mengangguk santai, “ Aku juga sempat takut ketinggian. “


“ Cuma sempat! Berarti udah hilang! “ kata Dita ketus.


“ Makanya aku hilangin itu dengan main olahraga kek gini, “


Dita mendengus. Entah kenapa pemuda tampan ini tiba-tiba menjadi menyebalkan.


“ Tenang aja deh. Kamu bakalan didampingin instruktur kok! “


“ Bodo! “ sungut Dita.


Adam terkekeh. Tidak tahu betapa tegangnya Dita sekarang.


“ Kamu cuman sendiri? “


Adam mengangguk, “ Aku udah punya lisensi terbang. “


Si gadis menatapnya tak percaya. Berapa rahasia yang tidak ia tahu tentang Adam sebenarnya. Selalu ada saja yang membuatnya terkejut.


“ Bareng kamu aja ya? “


“ Boleh. “


Adam lalu pergi ke bagian pendaftaran.


“ Mas, daftar buat dua orang! “ katanya.


Seorang lelaki berambut gondrong mencatat namanya, “ 700 ribu ya, Mas! “


“ Yah, 500 deh! Kita terbang sendiri kok, cuman pakai satu set. “


“ Loh, emang e sampeyan sudah bisa, to? “


Adam mengangguk, “ Saya udah punya lisensinya. “


Lelaki tadi mengangguk setelah melihat lisensi Adam, “ Yo wis, ndak opo-opo. “


“ Boleh, Mas? “ giliran Dita bertanya.


“ Iya. Mbak bisa terbang sama pacarnya, tandem nanti. “

__ADS_1


Panas menjalari pipi gadis itu. Menoleh malu-malu ke sampingnya.


“ S-sekarang terbangnya, Mas? “ tanyanya agak ragu.


“ Sebentar lagi. Nunggu parasutnya disiapin dulu ya, Mbak. Biar dipakai pacarnya dulu. “


“ Iya, makasih, Mas. “ Adam membayar sewa parasutnya. Lalu menarik Dita untuk menanti parasut.


“ Kenapa? “ bingung karena perempuan di sampingnya terus menatapnya.


“ I-itu, masnya tadi bilang ke aku kalau kita pacaran. “


“ Emang iya, kan? “


Gelagapan. Itulah yang Dita alami saat ini. Bukan menyangkal, namun karena tak menduga Adam akan terang-terangan mengatakan tentang hubungan mereka ini.


“ Emang kamu udah nembak aku? “


tanyanya setelah normal.


“ Enggak perlu gituan, aku tau kamu juga suka sama aku. “ balas Adam percaya diri.


“ Dih! Enggak bisa! Harus nembak dulu pokoknya! “


“ Kemarin kamu udah ngangguk, jadi artinya paham sama yang aku bilang. “


Dita mengembuskan napas. Mencoba santai. Setidaknya untuk sekarang.


Karena dua puluh menit kemudian ia sudah berteriak tegang.


“ Dam!!! Bentar, bentar, bentar!! “


“ Kenapa sih?! “ balas Adam gusar. Ia dan Dita sudah siap terbang.


Hanya tinggal sedikit berlari maka kamera Go-Pro yang terpasang di helmnya sudah merekam pemandangan dari langit.


“ Aku kebelet pipis, “


Adam berdecak, “ Telat! Ini udah sore dan parasutnya udah dipasang. “


Lalu berlari ke ujung bukit. Dibarengi dengan teriakan kencang Dita.


Sementara Adam hanya terkekeh geli, dengan kedua tangan mengendalikan tali parasut.


Berkali-kali Dita mencoba menormalkan napas. Dadanya kembang kempis saat sadar sudah berada di langit. Di menit ke lima ia sudah bisa menikmati ini.


Dita langsung mendongak, agak ke belakang, “ Panggil apa barusan? “


Adam menggeleng, “ Enggak jadi. “


“ Adaaaammm!! “


Sayangnya teriakan itu tak berpengaruh untuk Adam. Tekanan angin membuat suara Dita tidak terlalu terdengar keras.


Sejak semenit lalu Dita live di Instagram. Agak aneh memang, ada jaringan di ketinggian seperti ini. Entah pergi ke mana rasa takutnya tadi.


Anginnya sangat mendukung. Hanya kurang beberapa hari dari musim terbaik melakoni paralayang di sini, yaitu Desember hingga April. Di waktu inilah angin selatan sedang kencang-kencangnya.


Rasanya begitu menyenangkan berada di atas sini. Sangat bebas melakukan gaya apa saja. Mungkin ini yang dirasakan burung selama ini.


“ Take me anywhere!!! “ teriak Dita merentangkan tangan.


“ Mau lihat sunset dari atas sini? “


Jelas saja Dita berbinar, “ Mau! “


“ Tapi enggak bisa. Kita harus turun sebelum Magrib. “


Dita cemberut. Kena php!


“ Tapi masih bisa lihat di tebing kok! Enggak kalah bagus, “


Setelah lelah terbang, tinggal santai di Tebing Parangendog. Lagi-lagi menikmati matahari yang terbenam di lautan. Tadi menikmati paralayang, kini dimanjakan dengan pemandangan indah di depan sana.


Dengan Dita yang menyandarkan kepala di bahu Adam.


***


Hari terakhir Dita dan Adam di Jogja bukan wisata alam atau wisata ekstrem. Hanya berkeliling Malioboro dan belanja oleh-oleh untuk teman-teman mereka.


Seminggu terakhir memang Adam rencanakan sepenuhnya untuk wisata ekstrem. Meski kedatangan seorang tamu, itu tak menghentikan keinginannya.


Setelah menjajal paralayang, Gunung Merapi menjadi tujuan untuk dijelajahi. Dengan paket tur long route selama tiga jam, ia dan Dita bisa menikmati indahnya Merapi dan bekas erupsinya dengan jip.

__ADS_1


Di hari berikutnya, giliran berwisata ke perut bumi dengan caving Gua Jomblang.


Dari sekian ratus gua di Gunungkidul, hanya gua ini yang menawarkan pengalaman susur gua. Gua Jomblang memiliki mulut vertikal dengan kedalaman bervariasi. Paling dalam sekitar 80 meter.


Cukup mahal, sekitar 500 ribu untuk menikmati keindahan alam ini. Tapi setidaknya sepadan dengan pengalaman yang diberikan.


Di hari yang sama beralih ke gua yang lain yang tidak jauh dari Gua Jomblang. Gua Kalisuci namanya. Menumpang mobil pikap dari Jomblang ke Kalisuci.


Melakukan cave tubing. Menyusuri sungai bawah tanah menggunakan ban dalam mobil. Mirip dengan rafting, hanya saja tidak ada jeramnya. Hanya sungai yang mengalir tenang dan keindahan gua.


Dengan 150 ribu, tiga gua dengan durasi selama satu jam sudah mereka nikmati. Go-Pro milik Adam sangat membantu.


Lalu kembali ke daerah laut. Bukan untuk berenang dan semacamnya, tapi untuk menjajal keberanian menaiki gondola di Pantai Timang. Jaraknya memang sangat jauh, sekitar 60 kilometer dari pusat kota.


Dita bahkan harus dipaksa dan diyakinkan dulu sebelum benar-benar mau.


Sehari setelahnya Air Terjun Pengantin, Sungai Oyo mereka datangi. Dita ingin mencoba cliff jumping, katanya. Tapi dengan ketinggian tidak terlalu tinggi.


Hampir seminggu ia dibuat senam jantung. Kegiatan setelah di cliff jumping inilah yang membuat Dita berhenti bernapas sejenak.


Rope jumping di Jembatan Duwet, Kulon Progo.


Jika menaiki gondola di atas besarnya ombak adalah hal ekstrem, lompat dari jembatan hanya dengan tali yang melilit tubuh lebih ekstrem. Untuk yang satu ini, Dita benar-benar menolak.


Tidak peduli dengan Adam yang malah tertawa geli melihatnya menangis di jembatan. Yang penting nyawanya selamat, kata Dita. Bahkan ia sempat mengancam akan melaporkan Adam ke polisi jika tetap memaksa. Yang tentunya hanya Adam tanggapi dengan tawa geli.


Sampai akhirnya hanya Adam yang lompat.


Dari sekian banyak wisata, Dita bisa mengetahui kebiasaan Adam.


Wisata kuliner setiap malam. Agenda malam hari memang paling bagus untuk acara makan-makan.


“ Ya Allah, Dit! Banyak banget belanjanya! Gimana bawanya nanti?!! “ keluh Adam.


Dita tersenyum tak bersalah, “ Kan ada kamu. Bisa bantuin, “


“ Dih, ogah. Aku juga bawa banyak ini, “


Adam menghabiskan 3 juta lebih untuk liburannya kali ini. Jangankan merasa rugi, menyesal pun tidak. Selama tabungannya masih ada, tidak perlu khawatir.


“ Nanti ke stasiun jam berapa? “


“ Rada sorean dikit lah. Kamu udah packing, kan? “ Adam balas bertanya.


Dita mengangguk. Kembali memilah baju bertuliskan I LOVE JOGJA.


“ Beli bajunya berapa? “


Adam menunjukkan beberapa lembar pakaian yang akan ia beli, “ Buat Ipung dan kawan-kawan. “


“ Cuma ini? “ tanya Dita lagi.


“ Iya lah. Buat apa banyak-banyak? Orang nanti bisa ke sini lagi, “


Dita mengangguk paham, “ Sekalian beli bakpia juga ya, Yang? “


Ganti Adam mengangguk. Namun seakan sadar akan sesuatu, telinganya berdiri.


“ Panggil apa barusan? “


Ada rona merah yang menjalari pipi Dita.


“ E-enggak panggil apa-apa kok! “ jawabnya kental dengan nada gugup.


Adam terkekeh, “ Seriusan enggak manggil tadi? “


Buru-buru gadis itu mengangguk cepat.


“ Duh, padahal aku udah ngarep banget loh tadi, “ kata Adam menjawil pipi tembam gadisnya.


“ Apaan sih! “ Dita melengos dengan wajah masih memerah.


“ Belum seminggu loh Dit, kita jadian. Enggak mau gitu, bilang sekali aja? “


“ K-kamu kenapa sih, Dam? A-aneh banget hari ini, “


Adam semakin gencar menggoda. Menilik dari suaranya, Dita benar-benar gugup.


Dita kesal. Entah kenapa tiba-tiba menjadi malu karena ulahnya sendiri. Merutuki kebodohannya karena asal ceplos tadi.


“ Manggil Sayang juga boleh loh, Dit. Enggak ada yang larang kok! “


“ Iya, Sayang. “ balas Dita pasrah.

__ADS_1


Sadar ia kalah digoda. Tersenyum manis untuk pemuda tampan di sampingnya kini.


Membuat Adam tertegun karena senyuman itu. Sedetik kemudian balas tersenyum.


__ADS_2