
Jam dua pagi Adam terbangun. Salah satu kebiasaannya saat semalam belum makan. Lapar di tengah malam.
Melupakan sejenak rasa pusing yang masih tersisa dan berjalan keluar kamar. Pelan, tidak ingin mengganggu Vina dan Nadine yang juga tidur di kamarnya. Kelihatan sekali mereka tidak nyaman hanya beralas karpet tipis. Sementara Deny meringkuk di sofa hanya berbalutkan kain sarung.
Di luar sedang hujan, jadi memasak mi adalah pilihan terbaik. Selain alasan bahan makanan yang habis.
Rasanya nikmat sekali. Mi rebus dengan jaket yang membungkus tubuh adalah kombinasi terbaik di tengah dinginnya udara. Lalu ada teh panas di hadapannya.
Juga masih ada pai apel yang dibawa Dita semalam. Mungkin jika tidak ia paksa, ia pasti akan menghabiskan pai itu semalam.
Lupakan kopi untuk malam ini karena Adam masih ingin tidur kembali.
“ Adam? “
Vina menatapnya dengan mengantuk. Mengucek mata dan menguap kecil. Wanita itu mengambil sebuah kursi dan duduk di sampingnya.
“ Kamu ngapain? “
“ Aku kelaparan, Tan. Tante mau juga? Aku buatin, “
Vina menggeleng, “ Kenapa enggak bangunin Tante? “
“ Enggak perlu kok. Udah kebiasaan kalau lagi lapar malam-malam. “
Adam meraih sebatang rokok di meja. Tapi belum sempat ia menempatkannya di bibir, benda putih itu sudah lebih dulu berpindah tangan.
“ Enggak boleh ngerokok lagi! “ Vina tidak membuangnya, tapi merendam semua rokok beserta bungkusnya.
“ Ini yang bikin kamu sakit. Awas aja Tante tau kamu ngerokok lagi! “ Adam kicep.
Tidak tahu harus membalas apa. Kepalanya masih pusing dan tak ingin berdebat. Alhasil hanya decihan kesal yang keluar dari mulutnya.
“ Aku mau tidur lagi, Tan. Masih pusing. “
Vina mengangguk. Membiarkan sang putra untuk kembali. Beralih pada mi instan yang mendadak menggoda perutnya. Ia tidak bilang tidak lapar, ingat.
“ Ngapain? “
Vina tersentak, “ Astaghfirullahaladzim!! “
Menoleh kesal pada Deny yang mengagetkannya. Lalu kembali meracik bumbu sembari menunggu mi masak.
“ Kok bangun? “
“ Badan aku sakit semua, Mas. “
Deny terkekeh. Ia juga merasakan hal yang sama sebenarnya, “ Bikinin juga ya. Aku mendadak lapar nyium bumbu mi. “
Vina mendengus, “ Mi apa? Mi goreng apa mi rebus? “
“ Mi rebus dong! Hujan-hujan gini kan enaknya yang pakai kuah, “
“ Tungguin di ruang tamu sana! “
Dengan anggukan sebagai jawaban, Deny kembali ke ruang tamu. Mencari-cari acara tv yang mungkin menarik di jam-jam ini.
“ Halo, Sufyan! “
Terdapat sahutan di seberang sambungan.
“ Maaf ganggu pagi-pagi gini. Minta tolong kirimin setelan saya ke alamat ini sekarang. Alamatnya saya WA aja ya. “
“ … “
“ Iya, makasih. “
Segera setelah sambungan telepon dimatikan, Deny mengirimkan alamat apartemen Adam ke asisten pribadinya itu.
Bersamaan dengan datangnya Vina dan semangkuk mi instan yang masih menguap.
“ Aku enggak mau tau, Mas. Pokoknya besok Adam udah harus keluar dari warkop itu! Kalau Adam masih ngeyel kerja, suruh kerja di café kita! “ kata Vina duduk di sampingnya.
“ Iya-iya. Lagian Adam juga masih belum sembuh. Belum bisa kerja. “
“ Bayar juga sewa apartemen Adam! Biar gajinya buat jajan! “
Deny mengangguk. Pria tegap itu terlalu menikmati karbohidrat berlemak.
“ Cabang yang di Malang gimana? “ Deny bertanya.
Vina menoleh. Rencananya, tadi malam ia berangkat ke Malang menghadiri pembukaan cabang baru toko rotinya. Tapi jelas tak mungkin karena putranya sakit. Jadi hanya diwakili manajer cabang.
“ Biarin aja, “
Sama-sama terhanyut mi rebus. Memang beda ya, romantisnya orang kaya tapi dengan cara yang sederhana. Prianya tampan, wanitanya cantik. Benar-benar perpaduan yang bagus. Wajar jika anaknya seperti Nadine dan Adam.
“ Mirip kamu banget, Mas. “
“ Huh? “ alis si pria naik. Tidak tahu dengan maksud perkataan istrinya.
“ Kalian suka ginian. “ Vina mengangkat kaleng bergambar banteng di depannya.
Minuman energi yang menjadi favorit Adam selama ini. Tak peduli dengan mahalnya benda itu di kantong pelajar seperti dia, kulkasnya dipastikan tidak pernah kosong, bersanding dengan apel yang menumpuk. Apalagi teman-temannya juga sering mengisi stok minuman itu.
“ Iya juga ya. Baru sadar aku, “
__ADS_1
Beberapa lama pintu diketuk.
“ Siapa pagi-pagi gini yang datang? “
“ Paling Sufyan. “ kata Deny berdiri.
“ Huh? Kamu emangnya manggil Sufyan? “ tanya Vina dengan kening berkerut.
Tak ada jawaban dari Deny karena pria itu sudah membuka pintu. Menerima sekotak barang dari asisten yang menampilkan wajah mengantuknya. Jelas sekali lelaki bernama Sufyan itu masih mengantuk.
“ Aku minta antarin baju buat kerja. “ Deny meletakkan kotak tadi di meja.
“ Aku masih ngantuk. Mau tidur lagi, “
Vina mengangguk kala sebuah ciuman terasa di kening. Lalu kembali ke kamar Adam untuk mengambil bantal. Dia ingin tidur di ruang tamu saja.
***
Sret! Sebuah kursi ditarik.
“ Pesanin bakso dua mangkuk! Buruan! Sambalnya yang banyak! “ titah Adam.
Affan yang kebetulan kebagian jatah memesan hari ini menoleh heran.
“ Tumben, Dam. “
Berdecak, “ Buruan! “
Affan mendengus.
Lama tak ada perbincangan. Leon dan Dika sama-sama sibuk dengan ponsel. Adam hanya memandangi sekeliling yang mendadak membuatnya tertarik.
Baru bersuara saat Affan datang dengan pesanan mereka. Bahkan melihatnya kesusahan dengan nampan besar itu tak membuat yang lain iba. Benar-benar persahabatan yang erat.
“ Potong rambut, Dam? “ ujar Dika menyuap mi ayam ke mulutnya.
Kantin sangat ramai. Biasanya juga, tapi kali ini lebih ramai. Cuaca tidak panas, malah mendung. Tapi banyak gelas berisi es di seluruh meja. Seolah menantang rasa haus yang dengan tidak elitnya menyerang.
“ Menurut lo rambut dari panjang jadi pendek kenapa? Masih nanya! “ balas Adam ketus.
Dengan wajah juteknya menikmati sajian kuah di panas di depannya. Bahkan kini ia sudah mulai menghabiskan isi mangkuk keduanya. Adam yang kelaparan itu ternyata mengerikan.
“ Lo kenapa sih, Dam? “
“ Apanya yang kenapa? “ balik bertanya pada Leon.
“ Ya lo kayak kesal banget gitu. Putus sama Anin? “
Adam mendelik. Kesal bukan main saat kekasihnya disangkutpautkan dengan masalah pribadinya kini.
Memang hanya teman-temannya yang tahu tentang hubungan istimewanya dengan si guru cantik. Backstreet dengan alasan tidak ingin satu sekolah heboh.
Uhuk! Uhuk!
Leon langsung menepuk pelan punggung Dika. Sedang Affan menyodorkan air putih.
“ Lo serius? “
Adam mencebik. Menggeleng kecil, antara tidak peduli lagi dan kesal.
Tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba saja bosnya di warkop memecatnya. Meski terlalu berlebihan mengatakan hal itu sebagai pemecatan. Alasan yang tidak masuk akal diberikan bosnya.
Sering terlambat masuk kerja.
Bullshit! Dia bahkan selalu datang sebelum Ashar tiap hari. Makanya dari pagi Adam uring-uringan. Tak peduli teguran wali kelasnya. Tak peduli juga dengan euforia tahun baru kemarin. Intinya dia kesal.
Hilang sudah sumber uangnya. Satu-satunya jalan adalah bekerja di café yang ditawarkan Deny. Tunggu!
Ia baru ingat itu. Membuka dompet dan bersyukur kala menemukan kertas kecil terselip di antara nota supermarket. Adam akan mencoba datang ke sana nanti.
Omong-omong soal uang, SPP sekolahnya sudah lunas. Adam berani sumpah jika ia sama sekali belum menjajaki ruang Tata Usaha. Heran sekaligus bingung saat apartemennya ternyata juga sudah dibayar, bahkan hingga dua tahun ke depan.
“ Terus sekarang gimana? “
“ Tau! Gue ditawarin Om Deny kerja. “
Leon mengangguk paham.
“ Sebenarnya lo tuh gimana sih, Dam? “
“ Huh? “
Dika sendiri juga bingung dengan pertanyaannya.
“ Lo dekat sama Nadine dan orang tuanya. Tapi pacarannya sama Anin. “
Sejak tahu kawan karibnya pacaran dengan gurunya, mereka tak pernah lagi memanggil Anin dengan ‘Kak’.
“ Ya terserah gue. Risiko cowok beken ya gini, banyak yang suka. “
Hampir saja Adam terbang jika tak ditarik.
***
“ Diary Depresiku, Bang. “
__ADS_1
“ Yo’i! “ si abang keyboard mengacungkan jempol.
Baru seminggu Adam bekerja di café ini dan ia tak memungkiri jika tempat ini lebih baik dari tempat kerjanya dulu. Tapi ia juga merindukan Radit dan sebangsanya.
Hah, ia menyesal bermain gitar di dapur beberapa hari lalu. Suaranya tak terlalu buruk, namun juga tidak bisa dibilang bagus. Dan sekarang malah disuruh menyanyi di café. Jika saja menyanyi adalah hobinya, Adam yakin pasti akan mencari hobi lain.
Petikan senar dari gitar akustik mulai terdengar. Jemarinya dengan lincah menari di sana. Tanpa perlu melihat karena sudah terlampau hafal dengan chord. Menatap ramainya café di malam Minggu ini.
Malam ini hujan turun lagi…
Bersama kenangan yang ungkit luka di hati…
Luka yang harusnya dapat terobati…
Yang kuharap tiada pernah terjadi…
Pengunjung belum terlalu fokus.
Kuingat saat ayah pergi, dan kami mulai kelaparan…
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan…
Di saat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian…
Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki…
Tidak tahu kenapa juga ia memilih lagu ini.
Wajar bila saat ini…
Ku iri pada kalian…
Yang hidup bahagia berkat suasana, indah dalam rumah…
Hal yang selalu aku bandingkan dengan, hidupku yang kelam…
Tiada harga diri agar hidupku terus, bertahan...
Melodi mengambil alih. Hanya sebentar karena suara Adam kembali mengisi.
Mungkin sejenak dapat aku lupakan…
Dengan minuman keras yang saat ini kugenggam…
Atau menggoreskan kaca di lenganku…
Apa pun kan kulakukan, Ku ingin lupakan...
Namun bila ku mulai sadar, dari sisa mabuk semalam…
Perihnya luka ini semakin dalam kurasakan…
Mengerjap kala tak sengaja melihat Vina di deretan pengunjung.
Di saat ku telah mengerti, betapa indah dicintai…
Hal yang tak pernah kudapatkan, sejak aku hidup di jalanan…
Menarik nafas untuk nada tinggi.
Wajar bila saat ini…
Ku iri pada kalian…
Yang hidup bahagia berkat suasana, indah dalam rumah…
Hal yang selalu aku bandingkan dengan, hidupku yang kelam…
Tiada harga diri agar hidupku terus, bertahan...
Persetan dengan banyaknya orang.
Adam membersit pelan saat air matanya luruh. Terlalu menghayati makna lagu.
Wajar bila saat ini…
Ku iri pada kalian…
Yang hidup bahagia berkat suasana, indah dalam rumah…
Hal yang selalu aku bandingkan dengan, hidupku yang kelam…
Tiada harga diri agar hidupku terus, bertahan...
Tiada harga diri agar hidupku terus, bertahan...
Membiarkan drum dan gitar yang mengisi setelahnya. Adam hanya menunduk menahan tangis. Tapi jarinya tetap bermain lincah. Menari di senar gitar.
Tepat setelah lagu selesai, tanpa kata-kata panjang, ia turun. Hanya terima kasih yang keluar setelah melepas gitar. Beranjak keluar café lewat pintu belakang.
Adam terbawa emosi. Lagu tadi seperti menyiratkan hatinya selama ini. Bohong jika dia tidak rindu pada orang tua yang belum pernah ia temui.
Lirik terakhir tadi benar. Sepertinya ia tak lagi memiliki harga diri untuk terus mempertahankan hidup. Lalu kenapa ia berharap besar. Pada apa yang sebenarnya hampir mustahil.
Kenapa juga ia merasa tenang saat berada di antara Deny dan Vina. Seolah merasakan kehangatan keluarga. Merasa aman dan nyaman saat bersama dua orang itu. Merasa sebagai anak.
__ADS_1
Sialan!
Adam menggeleng keras kala menjumpai keinginan ini. Hatinya memilih menolak. Sadar karena harapannya terlalu tinggi.