Karena Apel

Karena Apel
The Real Calon Mertua


__ADS_3

Mungkin saja bagi Adam ini adalah hal yang dari dulu ia impikan. Bertemu dengan keluarga kandungnya. Dalam keadaan apa pun bila saat itu tiba.


Pulang ke rumah dengan disambut orang tua, betapa menyenangkannya itu. Dan sekarang, impian itu terwujud.


Adam tak pernah tahu seberapa kaya keluarganya sebenarnya. Dia tak pernah membuang waktu hanya untuk mencari nama Deny Prasetyo di internet. Bisa saja keputusannya itu agak keliru.


Kemudian garis keluarganya yang juga menjadi satu konsorsium. Mungkin saking kayanya mereka ya, sampai keluarga sendiri mengadakan usaha bersama.


Sampai punya pesawat pribadi segala. Dia saja belum sampai lima kali naik pesawat, lah bapaknya malah sudah punya sendiri.


Kata Nadine, neneknya memiliki galangan kapal. Ralat, beberapa galangan kapal. Di Jepang dan di beberapa negara Eropa.


Hey, itu bukan usaha kecil!


Adam pernah membaca di internet. Perbedaan galangan kapal di Asia dan Eropa. Di Eropa ada galangan kapal yang kecil tapi jumlahnya banyak tersebar. Tapi di Asia hanya terdapat beberapa, namun dengan kapasitas dan ukuran yang besar.


Dan neneknya mempunyai keduanya. Apa itu kurang cukup untuk mencari tahu seberapa kaya keluarga ini? Bahkan kata Nadine lagi, sang paman dari pihak ibu hampir akan mengakuisisi setengah dari saham Royal Caribbean International, jika saja tidak gara-gara sakit gigi. Keluarga ini memang penuh kejutan sepertinya.


Lalu melihat Adam yang begitu menyukai buah apel, neneknya memberi sesuatu. Nama pemuda itu sudah mendapat tempat di kepemilikan kebuh buah apel di Malang dan di Polandia.


Kemarin Adam pulang. Pulang ke rumah barunya. Dan langsung disambut pelukan dari orang-orang yang menyambutnya di sana. Jujur saja ia canggung.


Belum pernah bertemu dan langsung dipeluk bergantian. Balasannya, ia hanya tersenyum kaku menanggapi mereka. Mau bagaimana lagi, ia belum kenal jauh dengan keluarganya.


Meski sudah difasilitasi dengan kamar mewah, Adam justru lebih suka kasur kapuknya di apartemen. Katakan lah dia norak, memang begitu kenyataannya. Badannya sudah terlampau cocok dengan lantai semen. Terlebih, ia harus beradaptasi dengan AC di kamar barunya.


Membuat perjanjian dengan sang orang tua sebelum kembali. Adam tetap tinggal di apartemen hingga lulus sekolah dan tetap bekerja. Meski begitu, seminggu sekali ia akan pulang. Meminta untuk merahasiakan statusnya sekarang dari karyawan café.


Untuk hal pertama, Vina menentangnya. Sekeras kepala apa pun Adam, ibunya lebih keras kepala. Vina masih membolehkannya menginap di apartemen, tapi tidak untuk menetap secara permanen. Masalah pekerjaan, Adam lebih keras lagi. Dia tetap memaksa. Belajar mandiri lagi, katanya.


Satu lagi, Adam meminta ayahnya untuk membelikan sebuah rumah untuk Abdullah dan keluarga. Sebagai tanda terima kasih atas semua hal yang pernah mereka beri.


Deny sangat setuju. Bahkan memberi pria itu pekerjaan pantas dengan gaji tinggi. Fitri mendapat beasiswa hingga lulus, berapa gelar pun. Tunjangan dan asuransi hidup untuk selamanya. Menganggap mereka adalah bagian dari keluarga.


“ Kak, temenin aku yuk?! “


Nadine menoleh, menatap Adam yang tengah berbaring malas di ranjang.


“ Temenin ke mana? ”


“ Beli HP. “


Kening mulusnya mengerut, “ HP kamu kenapa emang? “


“ Rusak. Kelindas motor di Malang. “


“ Kok bisa? “


“ Ya bisa lah! Orang jatuh, gimana lagi. Gimana, mau ya? “


“ Kapan? “ Nadine balik bertanya.


“ Nanti malam aja deh, “


“ Chk, maksudnya HP kamu rusaknya udah dari kapan? “


“ Oohh, kirain. Waktu sehari sebelum balik ke sini rusaknya. Gimana, mau ya, Kak? “


Nadine mengangguk menyetujui. Pantas saja sejak tiga hari lalu Adam tidak bisa dihubungi.


Adiknya sudah terbiasa hidup sendiri, ia hafal kenapa belum terbiasa dengan kehidupan serba ada sekarang.


Ada alasan tersendiri kenapa dia tidak membeli saja apartemen dan memilih menyewanya. Adam berpikir bahwa dia tidak akan selamanya tinggal di tempat itu. Akan ada waktu di mana ia akan pergi.


Entah itu hanya pergi dari apartemen atau juga pergi dari negara ini.


Dulu ia sangat membenci seluruh tempat di penjuru negeri. Karena menyisakan begitu banyak kenangan buruk tentang hidupnya.


Memilih pergi sejauh mungkin adalah pilihan terbaiknya saat itu. Merelakan mimpi-mimpi yang dulu sempat ia rajut, kembali tercecer.


Tapi siapa sangka kini ia malah bertemu keluarga kandungnya. Sebuah kebetulan yang agak lucu. Apa boleh buat, tetap saja ia harus merelakan sebagian besar mimpinya, lagi.


Setidaknya kini ia bisa sedikit tersenyum bahagia. Tidak tahu bagaimana nanti reaksi Dita saat tahu tentang ini.


Tunggu!


Adam melupakan yang satu ini. Saking sibuknya mengurus diri sendiri sampai lupa dengan hubungannya.


Mungkin di luar sana Dita sedang kesal sekali. Ponselnya rusak, jadi kemungkinan besar Dita akan menganggapnya tidak mau menerima panggilan darinya.

__ADS_1


Dia menghela napas pelan. Ingatkan Adam untuk menemui Dita besok. Sekalian memperbaiki hubungan yang selama ini terlihat aneh itu.


***


Suasana pusat perbelanjaan memang selalu ramai. Di bulan puasa sekalipun. Bahkan di beberapa tempat, semakin mendekati hari raya, semakin ramai pula pengunjungnya.


Bagi Dita sendiri, jalan-jalan ke mal seperti sekarang bukanlah hal asing. Dia sering mengunjungi tempat ini. Baik sekadar untuk refreshing ataupun juga untuk membeli barang.


Entah itu sendiri, bersama teman, atau juga bersama pacarnya.


Omong-omong soal pacar, Dita masih belum bisa menghubungi kekasihnya. Terhitung sudah empat hari Adam tidak bisa dihubungi. Selalu saja tidak aktif.


Terakhir kali saat Adam masih berada di Malang lalu. Setelahnya, pemuda itu seolah tidak ada kabarnya. Dan baru dua hari yang lalu ia bertemu lagi.


Pertemuan itu seolah menjadi titik balik membaiknya hubungan mereka. Meski Adam masih dengan balasan ketusnya. Itu bukan masalah. Yang penting Dita sudah bisa melihat senyum kekasihnya lagi.


“ Cari makan yuk, Nin? Lapar nih gue, “


“ Lo enggak buka tadi? Tumben banget ngajak makan malam-malam gini, “ Dita menanggapi Karin.


“ Gue kan lagi enggak puasa. Udah ah, yuk! Keburu tutup. “ Karin menarik lengan putih itu menuju sebuah café di mal.


“ Gue ke toilet bentar ya? “


Dita mengangguk. Memilih bermain ponsel sembari menunggu pesanannya datang.


Dirasa bosan dengan layar berpendar itu, maniknya bergerak ke sekeliling. Secara tak sengaja menangkap sosok yang begitu ia kenal. Otaknya menyuruh untuk segera melangkahkan kakinya ke sana.


Di sisi lain, sebenarnya Adam malas sekali membeli ponsel baru. Selain karena harus mengatur ulang semua, ia juga tidak sudi jika disuruh memilih ratusan merek yang bejibun banyaknya. Tapi mau bagaimana lagi, ini juga karena kesalahannya sendiri.


Mau menyalahkan diri sendiri, tidak bisa.


“ Jadi mau yang mana?! “ tanya Nadine mulai kesal.


Sedari tadi adiknya belum menentukan pilihan. Ia sudah menyodorkan belasan benda pipih itu padahal.


“ Cari tempat lain aja, Kak. Mahal-mahal semua, “


Nadine berdecak, “ Semua harganya juga sama, Dam!! “


Dengan kesal mengambil sebuah ponsel keluaran terbaru. Membawanya untuk segera dibayar. Tanpa peduli Adam setuju atau tidak.


“ Kok yang ini sih!! Buat dp motor aja bisa nih! Boros banget deh, “


“ Bodo! Orang dibilangin minta aja ke Mama, masih ngeyel. “ balas Nadine ketus.


“ Kalau aku minta ke Mama, yang ada malah dibeliin yang lebih mahal! “


“ Itu tau. Yuk ah, aku udah lapar! “ Nadine menarik paksa lengan kekar itu.


Duduk menanti pesanan, sambil sesekali melempar pandangan tanpa arti. Bosan sekali saat tidak punya ponsel. Tapi di satu sisi, Adam juga bersyukur. Ia bisa lebih menikmati rasanya kehidupan nyata.


Lalu menoleh mendadak saat satu kursi di meja mereka ditarik.


“ Kak Anin?? “ kata Nadine terkejut.


Dita mengabaikan sapaan itu dan memilih menatap Adam tajam.


“ Kenapa? “ tanya Adam bingung.


Sedari tadi ia ditatap terus.


“ Kemarin bilang katanya capek, kok sekarang udah di sini? Ngapain? “


“ Jalan-jalan. “ balas Adam singkat.


“ Sama Nadine? Enggak mungkin kan, kalian cuma kebetulan ketemu? “


“ Kamu sendiri ngapain? Sama siapa? “ Adam balik bertanya.


“ Enggak usah nanya balik! Aku nanya kamu lebih dulu! “


Nadine yang paham memilih diam memainkan ponsel. Meski nyatanya hanya bolak-balik membuka tampilan menu. Dia tidak ingin ikut campur saat ini.


“ Kamu jalan dan enggak ajak aku, malah ajak cewek lain? Kamu gimana sih, Dam?! “


Adam menghela napas pelan. Ia sudah menduga pasti suatu saat akan seperti ini.


“ Kak, aku bi- “

__ADS_1


“ Kamu diam, Nadine! “


Nadine merengut. Kalau begini, Dita akan semakin salah paham padanya.


“ Aku jelasin sesuatu, tapi jangan dipotong, oke? “


“ Apanya yang dijelasin? Soal hubungan kamu sama Nadine? “ balas Dita sarkas. Ia bahkan tak peduli dengan Karin yang mungkin sedang mencarinya.


“ Iya, soal hubungan aku sama Kak Nadine. “


Dita bungkam.


Bukan seperti ini yang ia inginkan. Dia ingin Adam menyangkal semua tuduhan dan bukannya mengaku seperti ini. Hatinya kalut dengan jawaban itu.


“ Bisa aku cerita sekarang? Mungkin kamu enggak percaya, tapi faktanya gini. “


Adam mulai bercerita. Tentang semua yang ia alami. Tentang dia yang percaya Dita dan Ryo memang tak memiliki hubungan apa pun. Tentang siapa dia sebenarnya.


Dita sama sekali tak menyela. Belum sepenuhnya memahami apa yang dikatakan Adam, juga pembenaran dari Nadine.


“ HP aku rusak waktu liburan di Malang. Tadi minta Kak Nadine buat nemenin beli HP ke sini. “ kata Adam mengakhiri cerita panjangnya.


Tak ada sahutan. Dita menunduk setelah mendengar cerita yang menguras emosi itu.


“ Maaf. “


Adam mengernyit, “ Kok maaf? kenapa? “


“ Karena udah nuduh kamu sama Nadine. Maaf juga buat sikap aku selama ini, “


Adam terkekeh, “ Bentar lagi lebaran, kok minta maafnya sekarang? Aneh kamu, “


Dita mendengus. Susah-susah membangun momen, malah jatuh dengan tidak elitnya.


“ Jadi, kita udah baikan ya? “ tanya Dita.


Adam mengedikkan bahu, “ Dari dulu sebenarnya udah aku lupain masalah ini. “


“ Ngeselin ih! Gitu enggak pernah bilang! Jadinya kan aku bingung! “


Nadine yang sedari tadi diam mulai merasa kesal. Dia seperti obat nyamuk di sini. Hanya bisa menghela napas pelan karena ia juga baru saja bertengkar dengan pacarnya.


“ Jadi kamu sekarang tinggal di rumahnya Om Deny? “


Adam mengangguk. Menyuapkan keripik ke mulutnya sendiri, “ Tapi masih sering ke apartemen juga sih, “


“ Nin! Gue cariin, juga! “


Tiga kepala menoleh, “ Oh ya, kenalin! Gue Karin, temannya Anin. “


Nadine takjub dengan pembawaan Karin yang begitu keren. Rasanya dia susah untuk bisa cepat akrab seperti itu.


“ Adam? Oh, jadi ini yang namanya Adam. Ganteng juga. Btw, pacar lo nih sering banget ceritain lo, Dam. “ dengan santainya Karin menempati satu kursi yang masih kosong setelah berkenalan.


“ Apaan sih, Rin! “ Dita merona.


“ Tau enggak sih, Dam. Doi sering curhat soal lo. Apalagi waktu kalian berantem, beuh! Dita murungnya ngeselin banget! “


Adam terkekeh. Sudah lama tak melihat wajah malu-malu gadisnya ini.


“ Dam, pulang yuk? Mama barusan WA suruh pulang. “


Adam mengangguk, “ Kamu mau bareng atau gimana? Sekalian aja. “


“ Makasih deh, aku masih harus nemenin nih bocah beli baju. “ balas Dita memiting Karin bercanda.


“ Btw tadi lo bilang sekalian. Sekalian apa, Dam? “ Karin bertanya.


“ Sekalian ketemu camer. Ya enggak, Dit? “ alis Adam naik turun menggoda.


“ Adam! “


Hanya tertawa. Sementara Dita mati-matian menahan rona merah yang sedari tadi mencoba menjalari wajah. Meski akhirnya gagal juga.


“ Bye, Babe. Don’t miss me so much, ok? “


Dan Dita semakin memerah. Tapi ia suka dengan kembalinya sikap Adam. Dalam rasa malu, ia tersenyum kecil.


Bertemu calon mertua, ya.

__ADS_1


Hm.


__ADS_2