Karena Apel

Karena Apel
Fakta yang Menyakitkan


__ADS_3

Adam benar-benar bersyukur saat berhasil keluar dari ruang ujian di hari terakhir dengan selamat. Satu minggu seperti pertaruhan hidup, katanya. Padahal itu hanyalah ujian kenaikan kelas biasa. Memang dasarnya laki-laki itu saja yang lebay luar biasa.


Total dua minggu penuh ia memfokuskan otaknya untuk belajar. Entah itu ada faedahnya atau tidak, Adam tidak tahu. Tentu ia berharap.


Hasilnya tidak buruk. Saat penerimaan rapor beberapa hari lalu, ia diketahui mendapat peringkat ke-8. Lumayan bagus untuk dirinya yang jarang belajar.


Seperti biasanya, setelah ujian kenaikan kelas yang ditunggu adalah liburan. Terlebih, tabungannya masih banyak. Dan bertepatan juga dengan libur bulan puasa hingga hari raya. Yang berjangka waktu lebih dari satu bulan.


Adam sampai bingung sendiri untuk liburan ke mana. Dia mempunyai bucket list yang banyak di antaranya masih belum kesampaian. Liburan kali ini akan ia gunakan untuk memberikan centang di beberapa daftar bucket listnya. Setidaknya agar bertambah banyak.


Sampai kapan?


Yang jelas ia tidak tahu akan sampai kapan berlibur. Menjalani puasa selama ini membuatnya merasakan dua hal berbeda yang selalu hadir bersamaan.


Bahagia dan sedih.


Untuk perasaan bahagia itu, Adam tidak bisa menjelaskannya. Ia sama sekali tak mengetahui alasan kenapa bisa sangat bahagia. Seperti ada rasa unik yang terselip dalam hatinya saat bulan puasa. Lalu saat mendengar takbir di malam dan pagi hari, ia bisa tersenyum tanpa alasan. Yang jelas, ia bahagia sekali di waktu itu.


Dan kesedihannya datang karena alasan kesepian.


Di kala hatinya dilingkupi perasaan senang, tiba-tiba saja rasa itu hilang. Saat sadar bahwa ia tidak mempunyai siapa pun untuk merayakannya. Bohong jika Adam tidak menangis saat itu. Bahkan ia pernah sejam menangis tanpa suara. Melihat orang-orang yang berbagi pelukan dan saling bersalaman dengan keluarga mereka. Sementara dia hanya bisa berdiam diri di apartemen. Menolak ajakan semua temannya. Bahkan Fitri sekalipun.


Lain halnya saat mendadak ia benci dengan suasana lebaran. Sama sekali tidak ada memori manis yang tercetak di kepalanya. Yang ada hanya ingatan buruk tentang begitu dinantikannya hari besar itu, tapi tidak untuknya.


Membersit pelan kala hidungnya mulai memerah. Membatin betapa cengengnya ia saat ini. Hanya karena teringat satu hal miris saja membuatnya hampir menangis.


Hari ke sembilan belas Ramadan. Baru kemarin ia pulang solo traveling ke Malang Banyuwangi, dan Pasuruan. Ia bersyukur bekerja di tempat dengan gaji yang besar.


Mengenai hubungannya dengan Dita, Adam masih sedikit bingung. Bingung dengan perasaannya sendiri, juga bingung dengan keadaan mereka saat ini. Yang seolah masih saling sayang, tapi egois.


Adam sadar jika dia lah yang egois di konteks ini. Mau bagaimana lagi, hatinya masih saja susah diajak kompromi. Meski sudah berkali-kali mencoba.


Tersenyum sinis. Memandang jalanan di depan apartemennya tanpa arti. Masih saja ramai meski sudah 20 menit sejak berakhirnya tarawih tadi.


Sengaja menolak ajakan teman-temannya untuk keluar. Sekadar jalan-jalan. Adam hanya ingin berdiam diri tanpa melakukan apa pun sekarang.


Bosan, tentu saja. Acara di tv juga hanya itu-itu saja. Setidaknya hingga beberapa menit yang lalu. Saat tiba-tiba pintu apartemennya dibuka.


Nadine, Vina, dan Deny datang dengan senyum lebarnya. Menenteng sebuah ransel besar yang ia tahu isinya hanyalah jajanan dan beberapa map milik Deny. Lama-lama mereka ini seperti Leon dan kawan-kawan, yang seenaknya masuk tanpa izin.


“ Dapur kamu kosong gini, Dam! “


Nadine kembali ke ruang keluarga dengan minuman kaleng di tangan. Duduk di sofa bersama orang tuanya yang sibuk mengunyah jajan yang mereka bawa.


“ Namanya juga dua minggu enggak berpenghuni. “


“ Habis ini mau liburan lagi? “ tanya Deny.


“ Enggak tau. “ tanpa perlu menoleh ke belakang karena ia membelakangi mereka.


“ Lebaran nanti kamu ke mana? “


Kali ini ia menoleh. Agak lama diam belum menanggapi pertanyaan Vina.


“ Belum tau, Tan. Paling jalan-jalan. Aku malas kalau cuman diam di sini, “


Vina menghela napas. Entah kenapa semua kalimat yang tadi ia susun tiba-tiba hilang. Kalimat untuk memberitahukan tentang siapa sebenarnya mereka ini pada Adam.


Tak sengaja Vina melihat Adam yang merogoh sakunya. Matanya menyipit saat melihat sebungkus rokok yang sudah terbuka. Adam mengambil sebatang dan mengapitnya dengan bibir.


Belum sempat memantik api, benda putih itu sudah lebih dulu diambil paksa. Adam melotot kesal pada si pelaku yang dengan enaknya mematahkan rokoknya.


“ Dibilangin enggak boleh ngerokok lagi! “


“ Emang kenapa sih, Tan!? Itu belinya pakai duit aku sendiri, bukan duit Tante! “ balas Adam mulai kesal.


Lalu membuka bungkus rokoknya lagi. Dan lagi, Vina merampasnya.


“ Kenapa sih?! “ kesal Adam tertahan.


“ Tante enggak suka kamu ngerokok! “ balas Vina tak kalah garang.


“ Kalau enggak suka, enggak usah lihat! “


“ Mama enggak mau kamu sakit, Dam!! “


Adam langsung menoleh. Dalam diam memandang wajah wanita di depannya dengan serius. Sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


“ Seriously, that’s so funny! “ Adam masih dengan tawanya.


Bahkan sampai menitikkan air mata.


“ Dam, serius. Tante ini Mama kamu. “


“ Iya, iya. Tante udah pantas kok kalau ikutan casting film. Aktingnya bagus, “


“ Muhammad Adam al-Ghifari! “


Derai tawa si pemuda terhenti. Agak heran karena Vina bisa tahu nama lengkapnya.


“ Ini Mama, Nak. Ibu kandung kamu! “ Vina bahkan mulai berkaca-kaca.


“ Err, maksudnya? Sumpah deh, Tan. Tadi itu emang beneran lucu, tapi sekarang udah enggak lagi. “


“ Emang enggak lucu! Tante ini emang Mama kamu! Ibu kandung kamu! “ Vina dengan tegas menunjuk dirinya.


Adam terpengaruh. Menggeleng tak percaya kala mendengar itu.


“ Enggak mungkin! Ini cuman bercanda, kan?! “ kata Adam mencoba memastikan.


“ Mama sendiri yang pasang kalung ini, “ Vina menyentuh permata biru itu.


Lalu Deny memberinya sebuah map.


“ Buka, Dam. Coba baca itu biar kamu tau kalau kita enggak bohong. “


Deny merangkul pundak istrinya. Mencoba memberikan Vina ketegaran. Karena ia tahu, Vina sedang terguncang.


Adam membukanya. Beberapa lama hingga kemudian hatinya mencelus. Membaca baris demi baris surat hasil tes DNA, akta kelahiran, kartu keluarga, dan beberapa surat lain yang semua postif menunjukkan bahwa yang Vina katakan memang benar.


Pandangan Adam kosong. Ia bahkan menjatuhkan map merah tadi. Dengan perlahan air mata mulai menggenang dan jatuh membasahi pipi.


Tak membalas pelukan Vina yang menangis meminta maaf. Hanya bisa diam termenung saat melihat kenyataan yang ada. Sebuah hal yang selama ini ia khayalkan.


***


Dunia bisnis itu keras.


Beberapa kali bahkan harus berurusan dengan yang namanya mafia. Vina saja sampai heran, ternyata ada juga mafia bisnis di negara ini.


Saat Nadine lahir, persaingan belum terlalu parah. Beda hal ketika mengandung Adam.


Saingan-saingan Deny bahkan tak segan untuk mengambil jalan kekerasan. Dan keluarga adalah ‘jalan keluar’ jika dirasa mereka gagal menjatuhkan dominasi bisnis lawan.


Dan ketika Adam lahir, tak ada yang tahu selain keluarga. Sengaja Deny lakukan untuk melindungi putranya itu. Nadine juga sama. Dititipkan ke kerabat di Bondowoso selama dua bulan.


Baru sepuluh hari lahir, Adam terpaksa harus berpisah dengan keluarga. Gara-gara keadaan yang tiba-tiba memanas. Dengan berat hati Vina menyerahkan sang putra ke sebuah panti asuhan. Dengan kebohongan di sana sini agar tak ada satu pun yang tahu tentang kebenaran keluarganya.


Tapi Vina membuat satu kesalahan fatal.


Ia tidak memeriksa terlebih dahulu latar belakang panti asuhan itu.


Hanya seminggu setelah menyerahkan Adam, panti asuhan itu digusur. Dengan alasan tidak mempunyai izin dan hak pendirian bangunan. Terpaksa pemilik sekaligus pengasuh panti memindahkan yayasan itu ke tempat lain.


Semenjak saat itu, Vina, Deny, dan keluarga tak pernah lagi melihat Adam.


Meski sudah berusaha keras dengan semua kemampuan. Tak pernah ada hasil. Bahkan Vina sempat berpikir jika ini adalah karma untuknya karena ‘membuang’ anaknya. Beranggapan bahwa seharusnya seorang ibu harus menjadi pelindung anaknya. Bagaimanapun keadaan saat itu.


Ia gagal.


Gagal menjadi seorang ibu yang baik, dan malah menjadi pengecut dengan melarikan diri. Jika saja bisa mengulang waktu, pasti Vina akan memilih mendampingi anaknya. Bukan hanya Adam, tapi juga Nadine.


Vina merasa paling bersalah atas hilangnya Adam. Berkali-kali diingatkan suaminya. Meski Deny sendiri juga sama sedihnya.


Kini, setelah belasan tahun mencari, Vina berjumpa kembali dengan sang putra. Dengan keadaan yang bisa dibilang begitu memprihatinkan. Sangat jauh berbeda dengan kehidupannya.


Saat tahu ia menemukan Adam, ibunya langsung memintanya mengajak Adam kembali. Sang suami tidak. Berpikir bahwa Adam tak akan semudah itu luluh.


Sekarang, harap-harap cemas mereka menanti apa pun yang mungkin akan dilontarkan Adam. Di belakang mereka, Nadine masih dengan mata berkaca-kaca. Tak mampu menghadapi situasi ini.


Adam melepas paksa pelukan.


“ Adam? “


Setelah mendengar cerita barusan, Adam merasa kehilangan gairah. Mencoba menahan air mata yang rasanya sudah mau kering karena keluar terus-menerus. Hatinya begitu sakit mendengar penjelasan orang yang ia kira hanya orang asing.

__ADS_1


“ Sekarang Tante mau apa? “ suara Adam terdengar sangat dingin.


“ Mama, Sayang. Bukan Tante lagi! “


Tersenyum pahit, “ Setelah dulu buang aku, sekarang berani ngaku sebagai ibu? “


“ Adam!? “ sentak Deny. Tak menyangka Adam berani berkata seperti itu.


“ Apa? Emang kenyataannya gitu, kan? Sekarang aku tanya lagi, Tante mau apa? “


“ Adam, ini Mama, Sayang. Please! “ mohon Vina menangis.


“ Ok, Mama. Mama mau apa lagi setelah ini? “ ujar Adam kesal.


“ Mama mau ajak kamu pulang. Kita pulang ke rumah ya? “


“ Rumah? Rumah itu apa sih? Keluarga itu apa sih? Rasanya aku enggak pernah tau, “ balas Adam sarkas.


“ Maaf… “ kata Deny dan Vina bersamaan sambil menunduk.


“ Aku mau bilang makasih karena udah mau berjuang buat lahirin aku, Ma. Tapi cuma satu pertanyaan buat kalian. Sama kayak dulu. “


Deny bergetar.


“ Kenapa bikin aku ada di dunia ini kalau akhirnya dibuang? “


Lagi, Vina jatuh terluruh. Hatinya sakit mendengar ini.


“ Mama enggak buang kamu, Dam. Ma- “


“ Tapi kenyataannya gitu, kan? Apa karena aku emang anak yang enggak diharapin? “


“ Enggak! Sama sekali enggak, Dam! Mama nyesel tentang itu, Mama minta maaf… “


“ Mama tau enggak sih gimana perasaan aku sebenarnya?! Orang boleh lihat Adam itu cowok yang santai, ceria. Tapi nyatanya enggak, Ma!! Sama sekali enggak!! “ teriak Adam kesal.


“ Aku sakit, Ma. Sakit. “ suaranya melirih di ujung kalimat.


Vina mendongak, “ Mana yang sakit, Sayang? Mana? Kita ke rumah sakit ya? “


Adam menggeleng, “ Aku sakit hati. Sakit banget rasanya. “


Wanita cantik itu kembali tersedu.


“ Mama tadi nanya soal lebaran, kan? Tau enggak gimana perasaan aku waktu lebaran? Aku kesepian! “


“ Aku sakit tiap lihat anak-anak lain main sama orang tuanya. Aku iri, Ma! “


“ Aku iri lihat mereka dijemput ayahnya. Aku iri waktu ambil rapor, mereka ditemenin orang tuanya. Aku iri lihat mereka bisa salim ke orang tuanya waktu lebaran. Aku sakit. “


Sakit sekali saat mengungkapkan apa yang selama ini Adam pendam sendirian.


“ Aku pengin kayak anak lain. Pengin bahagiain orang tuanya. Bikin bangga. Tapi apa? Enggak ada yang aku bisa bikin bangga kecuali aku sendiri! Aku enggak punya tempat berbagi! “


“ Aku punya banyak piala. Penghargaan yang aku dapat banyak. Tapi buat apa kalau enggak ada yang bangga? “


“ Mama benar-benar minta maaf, Sayang. Maaf banget… “


“ Mama enggak tau kan, aku pernah ngamen karena bener-bener enggak punya uang? Mama enggak tau kan, aku pernah patah tulang karena kecelakaan? Mama enggak tau kan, aku pernah depresi berat gara-gara kesepian?! “


Adam terisak. Teringat saat dulu ia pernah dalam titik terendah dalam hidupnya.


“ Aku pernah depresi, sampai hampir bunuh diri. “


Vina tersentak. Lalu dengan cepat memeluk Adam erat. Menangis dengan puluhan kata maaf yang keluar.


Tanpa diduga Adam membalas pelukannya. Vina yang terkejut lantas memeluk putranya lebih erat lagi.


“ I miss family that I’ve never seen. “


Bersamaan, Deny dan Nadine memeluk mereka berdua. Pria itu seperti orang linglung yang tak tahu harus melakukan apa. Emosi mereka benar-benar terkuras.


“ Aku takut sendirian… “


“ Aku enggak mau depresi lagi, Ma. Jangan tinggalin aku lagi… “ lanjut Adam terisak. Memeluk sang ibu demi menyalurkan perasaan.


Vina semakin kuat mencengkeram baju Adam. Seolah berkata jika dia tidak akan melepaskan putranya, lagi.

__ADS_1


__ADS_2