Karena Apel

Karena Apel
Kabur ke Jogja


__ADS_3

Sesuai rencana, Adam sampai di Stasiun Tugu sebelum Isya’. Semalam ia memang langsung menuju penginapan begitu sampai di sini. Malam Minggunya semalam ia gunakan untuk tidur.


Memangnya mau melakukan apa.


Begitu turun dari kereta semalam, hujan turun lebat sekali. Beruntung penginapannya tidak terlalu jauh. Masih di sekitaran Malioboro.


Terbangun Subuh tadi dengan tubuh yang segar. Lalu mengaktifkan ponsel hanya untuk melihat jam. Rasanya malas sekali, padahal sudah ada jam dinding.


Mendapati puluhan pesan dan panggilan tak terjawab. Terhitung sejak pulang sekolah kemarin hingga tadi malam.


Adam memang sengaja mematikan ponselnya kemarin. Tidak ingin diganggu selama perjalanan. Di kereta dia hanya fokus mengambil gambar pemandangan yang ia lewati sebanyak mungkin menggunakan SLR milik Dika.


Lagi pula sudah ada teman berbincang selama perjalanan kemarin. Seorang mahasiswi UNS yang pulang dari Cirebon. Tentu hanya sampai Jawa Tengah saja.


Jarang sekali ia bisa bebas jalan-jalan seperti ini. Makanya, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan tiap detailnya.


Selama seminggu ke depan, Yogyakarta adalah arena bermainnya.


Persetan dengan sekolah. Yang penting ia bahagia.


Sebulan lebih ia memersiapkan liburan ini. Mulai dari tiket kereta api, akomodasi, hingga agenda traveling per harinya, dan tempat wisata mana saja yang dikunjungi.


Ini juga kegiatan rutinnya setiap ulang tahun. Bandung dan Jawa Barat menjadi pilihan pada ulang tahun sebelumnya.


Waktu itu hanya tiga hari ia di sana, karena ada beberapa urusan penting.


Melakukan cliff jumping di Batu Payung, Pangandaran. Meski hanya tujuh meter, ia sudah puas. Lalu bungee jumping di Jembatan Rajamandala, Bandung.


Ini yang jarang orang ketahui tentang Adam. Dia adalah seorang adrenaline junkie.


Pencinta olahraga ekstrem yang gila dengan yang namanya adrenalin. Sudah tak terhitung lagi banyaknya kegiatan yang ia coba. Berbagai macam olahraga ekstrem sudah ia rasakan.


Baik yang di darat maupun di air. Hanya yang di udara ia jarang.


Selain karena alasan lokasi, masalah biaya juga menjadi penyebab ia belum melakukan sky diving.


Lainnya, Adam bahkan sudah mendapat lisensi paralayang sejak setahun yang lalu.


Jika saja di sekitaran kota ada, sudah dari dulu ia akan mencoba sky diving, mahal sekalipun. Sudah sering ia melakukan bungee jumping dan cliff diving. Kata takut sudah lama hilang dari kamus hidupnya.


Meski sebenarnya Adam adalah penderita akrofobia tingkat rendah. Katanya, dengan olahraga-olahraga tadi ia malah bisa menghilangkan fobia itu. Aneh memang.


Untuk masalah hobi, Adam tak pernah membatasi pengeluarannya. Dia juga pintar mengatur keuangan dan rencana liburan. Ia memilih penginapan murah namun bagus dalam hal pelayanan dan fasilitas.


Adam itu ahlinya mencari tempat menginap yang murah, kata Ryan.


Agendanya hari ini adalah pergi ke Pantai Parangkusumo. Ia akan menjajal bermain sandboarding di Parangkusumo. Biar saja jauh, ia sudah menyewa motor.


Inginnya langsung berangkat setelah sarapan di warung pinggiran tadi. Tapi sepertinya akan gagal. Akan sedikit tertunda maksudnya.


Karena sekembalinya dari warung pecel tadi, ponselnya di kamar sudah berdering belasan kali. Ada belasan panggilan yang masuk untuknya.


Agak heran saat melihat nama Dita yang tertera di layar. Dan begitu akan mengangkatnya, Dita sudah lebih dulu mematikan sambungan.


Adam mencebik. Mencari tas selempangnya untuk segera berangkat.


Namun lagi, ponselnya berdering. Kali ini dengan segera ia mengangkatnya.


“ Halo? “


“ Kamu di mana? “


Ia agak bergidik saat mendengar suara Dita dengan nada kesal.


“ Di Jogja. “ jawab Adam santai. Sambil memakai sneakernya.


“ Jogja luas Dam! Kamu di mana sekarang?? “ balas Dita.


“ Lagi di hotel. Kenapa sih? “


“ Hotel yang mana? Namanya apa? “


Adam memberitahukan tentang hotel tempatnya menginap. Entah apa yang dilakukan gadis itu sekarang, pikir Adam.


“ Lima menit! Tungguin aku di sana! “


Manik tajam si pemuda membola. Ia sudah curiga dengan pertanyaan kedua dari Dita. Menebak tentang apakah gadis itu juga berada di Yogyakarta.


Dan tebakannya terbukti benar saat ia keluar kamar. Dikejutkan dengan wajah cantik cenderung manis yang sedang merengut di meja resepsionis.


Adam menghampiri Dita santai.


“ Kamu ngapain ke Jogja, Dit? “


Dita cengo.


“ Serius? Itu pertanyaan kamu setelah ninggalin aku? Enggak izin sama sekali? “

__ADS_1


Adam terkekeh, “ Bahasanya. Kek apaan, “


“ Seenggaknya bilang dulu kemarin! Main pergi gitu aja, “


“ Duh, marahnya kayak aku ninggalin pacarnya aja. “


“ Emang, kan? “


Adam menatap Dita heran, “ Kamu aneh, “


Lalu berjalan keluar lobi hotel.


“ Mau ke mana? “ tanya Dita menyusul di belakang.


“ Jalan-jalan lah! Aku ke Jogja kan emang mau traveling. “


“ Kamu juga ngapain ke sini? Nyusulin aku? “ lanjut Adam.


Dita mengangguk. Adam bersumpah jika ia hanya bercanda saat bertanya barusan.


“ Kapan berangkat? “


“ Tadi malam. Naik pesawat langsung waktu tau kamu di sini kata Ipung. “


Adam menggeleng kagum. Gadis ini sulit ditebak.


“ Terus sekarang mau ngapain? Udah tau kan, kalau aku di sini? “


“ Aku ikut kamu ya? “ Adam mendengus. Sudah menebak akan begini jadinya.


“ Aku lama di Jogja, seminggu. Kuliah kamu gimana? “ katanya.


“ Enggak apa-apa. Aku udah izin cuti, “


Benar-benar!


Si pemuda menghela napas pasrah, “ Ya udah, ayo! Kita balik ke penyewaan motor dulu, pinjam helm lagi. “


Dita tersenyum girang. Menggaet tangan pemuda yang lebih tinggi darinya itu.


“ Kamu kok tambah tinggi sih, Dam? “


Bukannya risi, Adam malah anteng saja tangannya digandeng. Berjalan santai menuju tempat penyewaan motor yang dekat dari hotelnya.


“ Jelas lah! Kan ini lagi berdiri, “


“ Ini aku udah berdiri ya!! Mentang-mentang kamunya lebih tinggi! “


Adam tertawa ringan, “ Makanya jadi orang jangan serakah! “


“ Maksudnya? “


“ Udah punya susu sendiri, masih aja minum susu sapi, “


Dita membelalak, “ Mesum!! “


Si pemuda tergelak. Namun tak melepas tautan tangan mereka.


“ Bentar, aku pinjamin helm dulu. “


Adam merasa bodoh sesaat. Kenapa tadi ia tak membawa serta motor juga, jadi tidak perlu bolak-balik.


Sepuluh menit berselang ia sudah berada di perjalanan. Bersama Dita yang berada di boncengannya. Motor Vario itu melaju lumayan cepat menembus jalanan Yogyakarta yang tak terlalu padat.


“ Kamu udah planning semuanya, Dam? “ tanya Dita di samping kepala Adam.


Adam mengangguk.


“ Sekolahnya gimana? “


“ Biarin aja. “ balas Adam santai.


“ Kok biarin sih?! Nanti ketinggalan pelajaran loh, “


Si pemuda malah terkekeh. Seakan ia sudah kebal dengan kalimat itu.


“ Baru kenal setahun aja udah sok tau! “


Dita merengut lucu. Namun sayang Adam tak melihat wajah menggemaskan itu.


“ Mau enggak kenal aku lebih jauh lagi? “


Gadis itu gelagapan. Ia dapat menangkap maksud tersirat dari ucapan Adam. Tapi ia tak bisa membalasnya.


Bukan karena ragu dengan perasaannya, namun lebih karena bingung mau berkata apa. Otaknya seperti blank memikirkan kata-kata manis. Hanya ada ribuan kupu-kupu yang menyentak di perutnya.


Hanya ada kediaman yang mengisi selama perjalan itu, “ Ini kita mau ke mana, sih? “

__ADS_1


Hampir satu jam mereka duduk di jok motor, “ Ke Bantul. “


Dita melebarkan mata. Itu jauh sekali. Tapi kembali menormalkan dan memilih diam. Hingga akhirnya sampai di Parangkusumo.


Wisata romantis berbalut mistis di Jogja.


“ Turun, Dit! Mau seharian di motor? “


Dita terkekeh. Kemudian melepaskan helm dan menaruhnya di motor.


“ Mau ngapain ini kita? “


Adam berjalan lebih dulu, “ Main sandboarding. “


Si gadis mengikuti, “ Sekarang? Panas banget gini loh! “


“ Ya enggak sekarang, Anindita! Nanti agak sorean mainnya. “


“ Sekalian nyari sunset. “ lanjut Adam.


Manik si gadis mengerling lucu. Berburu sunset sepertinya lebih menarik. Dia jadi tidak sabar menunggu sore.


“ Terus kita ngapain sekarang? “ tanyanya.


“ Nyantai aja. ”


Ia menarik tangan si gadis. Menuju sebuah tempat.


“ Ini apa? “


“ Batu Cinta. “


Kening gadis itu mengerut. Mencoba menerka apakah Adam tengah bercanda atau tidak.


“ Eh, kamu ngapain? “ tanya Dita melihat Adam yang seperti sedang berdoa.


Namun Adam tak menjawab. Matanya terpejam dan fokus pada sesuatu.


“ Emang ada ritualnya? “


Adam tersenyum geli, “ Enggak tau sih. Iseng aja, siapa tau dikabulin. “


“ Doa apa tadi emangnya? “ tanya Dita penasaran.


“ Kepo! “


Dita mendengus.


ATV menjadi alternatif piihan mereka untuk menunggu. Lalu jam dua siang beralih ke Gumuk Pasir Parangkusumo.


Total 300 ribu mereka keluarkan untuk menyewa papan seluncur. Adam yang dasarnya sudah mahir bermain skateboard bisa dengan mudah beradaptasi ke pasir.


Lain halnya dengan Dita.


Dia masih harus ditemani instruktur satu jam pertama. Kemudian tertawa bersama Adam saat keduanya jatuh bersamaan.


“ Adam! Pegangin!!! “


Hanya ada rasa bahagia yang ada pada mereka. Lupa akan sibuknya dunia.


Menjelang sore mereka menyudahi kegiatan yang kata Dita ekstrem itu. SLR yang dibawa Adam benar-benar berfungsi dengan sangat baik. Dengan latar lautan pasir di belakang mereka.


Lalu menikmati es kelapa muda dan bakso bersama. Hanya untuk mengisi kembali daya hidup.


Senja di pantai memang selalu memiliki keunggulan tersendiri. Buktinya, para wisatawan seperti Adam dan Dita tak akan pergi sebelum melihat matahari terbenam.


Padang pasir yang tadinya menjadi arena bermain raksasa, kini mendadak menjadi tempat yang hening.


Adam duduk di pasir. Kamera ia gantungkan di leher. Sebelah tangannya menyangga tubuh ke samping. Dengan Dita juga duduk santai di sampingnya.


Langit mulai menguning. Cakrawala mulai berganti warna. Gradasinya berubah dari biru menjadi kemerahan.


Inilah momen yang ditunggu. Puluhan kamera mulai membidik. Adam dan Dita juga melakukan hal yang sama dengan kamera masing-masing.


“ Mau tau enggak doaku tadi? “


Dita menoleh. Lalu mengangguk.


Adam menautkan jemari mereka. Sukses membuat Dita merona hebat. Pipinya terasa memanas Belum pernah ia setegang ini sebelumnya.


“ Aku doa semoga perasaanku enggak bertepuk sebelah tangan. “


Adam lalu mengangkat tangan mereka ke pangkuannya. Dan gerakannya kemudian benar-benar membuat wajah Dita bersemu parah. Adam mencium punggung tangan gadis itu.


“ Mau enggak Dit, jadi lebih dari sekadar teman? “


Tidak tahu kenapa Dita tidak bisa menjawab. Hanya memandang mata di depannya kini dengan gemuruh di hatinya.

__ADS_1


Perlahan senyum manis tercetak di wajah cantiknya. Anggukan pun menyusul.


__ADS_2