Karena Apel

Karena Apel
Tragedi Apel


__ADS_3

Besok adalah hari pertama libur kenaikan kelas, sekaligus libur puasa dan hari raya. Adam tak mematok target muluk-muluk untuk ranking. Bisa naik kelas saja dia sudah sangat bersyukur.


Ia sadar bahwa kapasitas otaknya tak cukup besar untuk menampung semua pelajaran. Lagi pula, fisik dan waktunya banyak terkuras untuk bekerja. Belajar hanya di sekolah, tidak ada waktu lagi.


Beruntung dia mendapat teman sebangku seperti Dela. Munafik jika mengatakan Adam tidak mencontek. Hatinya melarang, tapi nyatanya hampir selalu melakukan.


Bukan apa-apa, Adam sendiri belum yakin dengan otaknya jika menyangkut pelajaran.


Berkat rekannya dan sedikit paksaan untuk berpikir itulah, dia mendapat ranking 9 dari 38 siswa di kelas.


Dela sendiri menempati peringkat kedua. Affan, Ryan dan Leon berturut-turut berada di peringkat 11, 15, dan 17.


Entah kenapa bisa begitu. Namun yang pasti, Adam tak ingin memikirkannya. Saat ini adalah waktunya untuk berhenti sejenak dari rutinitas sekolah.


Bukan untuk liburan, tapi untuk menambah uang. Dengan bekerja lebih selama sebulan ke depan.


Meski sahabatnya sudah mengajak liburan bersama, Adam menolak. Dia sudah terlalu banyak merepotkan keluarga sahabatnya dan tak ingin menambah hutang budi lagi.


Terakhir kali dia berlibur bersama adalah saat lulus SMP. Bersama Leon dan keluarganya. Meski tak memilih satu orang, Adam memang lebih dekat dengan Leon dari keempat sahabatnya.


Setelahnya selalu menolak jika diajak liburan bersama keluarga sahabatnya. Bahkan meski orang tua mereka sendiri yang mengajaknya. Adam lebih memilih mengisi waktunya untuk bekerja.


Bukan hanya untuk menambah uang, tapi juga untuk mengisi liburannya. Kalau ingin liburan, taman kota adalah pilihan utama jika ingin meresfresh otaknya saat ini.


Memang membosankan, namun itulah yang tidak mengeluarkan uang.


Beda lagi jika Adam benar-benar sedang ingin liburan. Berapa pun ia keluarkan untuk traveling. Tak peduli apakah sedang tanggal merah atau bukan.


Tapi itu hampir jarang terjadi. Masih ada sedikit rasa waras dalam dirinya untuk tidak menghamburkan banyak uang. Sebisa mungkin Adam berhemat, namun tetap bisa mendapatkan liburan yang berkualitas dan kalau bisa ‘mewah’.


“ ****, matematika gue dapat 6. “ monolog Affan melihat kertas ujiannya.


“ Lo masih mending, Fan. Lah gue, 5,5. “ balas Ryan.


Mereka berdua seolah mencari siapa yang paling tidak dalam bisa pelajaran hitung-hitungan. Aneh sekali.


“ Lo liburan ke mana tahun ini? “


Adam menoleh dari ponselnya, “ Enggak ke mana-mana. “


“ Kerja? “ tanya Dika lagi.


Yang ditanya mengangguk. kembali fokus pada ponsel.


“ Waktu lebaran lo masih kerja? “ giliran Leon bertanya tak percaya.


“ Chk, ya enggak lah! Gue enggak kerja di hari pertama lebaran. “


“ Maksudnya hari pertama? “ Leon masih belum sepenuhnya paham.


Adam mengembuskan napas ringan, melupakan sejenak ponselnya, “ Mulai H-2 gue enggak kerja. Mulai kerja lagi hari ketiga lebaran. “


Sulit sekali memahami jalan pikiran sahabat mereka ini.


“ Dam, ini lebaran loh! Bukan liburan biasa. Seenggaknya jangan pikirin kerjaan dulu lah. “ nasihat Ryan.


Kali ini embusan napas lelah dan pasrah yang keluar dari Adam, “ Mau gimana lagi. Gue enggak ada kegiatan kalau libur lebaran kek gini. Enggak ada kerabat yang bisa gue kunjungi. “


Ryan paling benci jika nada sendu ini sudah keluar dari Adam. Seperti menyatakan bahwa dia sudah putus asa.


“ Udah, gue mau pulang dulu. Ada yang nawarin kerjaan. “


***


Bulan puasa bukan menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Rasa lapar dan haus juga bukan halangan untuk melakukan kegiatan seperti hari biasa.


Adam tetap bekerja meskipun sekarang adalah musim libur sekolah. Bahkan dia sengaja mencari pekerjaan lagi untuk sementara hingga liburan berakhir.

__ADS_1


Bukan apa-apa, selain karena uang, alasan lain dia memilih kerja tambahan adalah karena Adam tidak memiliki kegiatan apa pun selama libur. Juga sebab café tempatnya bekerja hanya buka malam hari.


Dia sama sekali tidak memiliki rencana untuk liburan tahun ini.


Aneh memang, tidak seperti biasa, yang ada saja rencana akan ke mana. Tapi lebaran kali ini, Adam ingin berdiam diri saja. Tak ingin ke mana-mana selain ke tempat-tempat yang ia perlu datangi.


Sebelum bulan puasa, dia bekerja setelah pulang sekolah dan malam hari. Tapi selama bulan puasa hingga lebaran, Adam bekerja dari pagi hingga sore.


Sebelumnya bekerja di warung kopi dan café, sekarang ia ganti bekerja di toserba di pagi hari. Sementara siang hingga sore, bekerja di katering rumahan.


Gajinya bisa dibilang sama, hanya sedikit lebih kecil. Bukan masalah, lagi pula ia hanya satu bulan bekerja di sana. Setelah lebaran kembali lagi bekerja di café dan warung kopi.


Adam tidak bekerja saat malam hari kali ini. Di bulan puasa ia ingin sedikit istirahat, juga ingin lebih fokus untuk ibadahnya. Yang selama ini sering ia abaikan karena alasan pekerjaan.


Sekarang, dia baru saja selesai tadarus di masjid sekitar apatemen. Menyelesaikan ayat terakhir dan melirik ke jam digital yang sudah menunjukkan waktu 10 lewat.


Tak langsung pulang, dia memilih rebahan sejenak di pelataran masjid. Hampir saja ketiduran jika tidak dibangunkan takmir. AC di sana jelas lebih nikmat dibandingkan dengan kipas angin butut miliknya.


Meski sebenarnya dia juga tidak dilarang oleh pengurus masjid. Yang semua mengenal Adam.


Pemuda itu sudah menjadi panitia amil zakat fitrah selama tiga tahun. Meski baru pindah ke apartemennya saat ini beberapa bulan lalu.


Buka puasa di masjid dengan jamaah lain yang kebetulan juga di sana. Sahur juga di masjid yang lumayan besar ini.


Dia hanya memasak ketika sedang lapar di malam hari. Itu saja hanya masakan simpel seperti nasi goreng dan mi instan.


Makanya, kulkas mininya jarang terisi bahan makanan di bulan suci. Hanya ada beberapa kaleng minuman soda, camilan, dan botol bekas air mineral yang ia isi kembali dengan air putih.


Dia hanya tinggal sendiri, jadi tak perlu repot menyiapkan tambahan.


Adam mengambil peci hitamnya dan mengenakannya. Berlalu keluar area masjid dengan sandal jepitnya.


Masih lumayan banyak kendaraan yang berlalu-lalang malam ini. Bukan hal yang mengherankan jika terjadi di hari biasa. Tapi sekarang ini sudah H-9 lebaran dan masih banyak warga yang belum mudik ke kampung halaman mereka, pikirnya.


Sedikit menguap karena rasanya udara malam ini begitu sejuk cenderung dingin. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang panas dan gerah. Udara malam ini membuatnya cepat mengantuk.


Biasanya dia sangat mengantuk saat salat tarawih dan tadarusan di masjid. Tapi saat di kamar, jangankan tidur, mengantuk pun tidak. Entah bagaimana bisa seperti itu. Adam yakin bukan dirinya saja yang mengalami hal aneh ini.


“ Cewek bukan sih? “ monolognya.


Di depan, dia melihat siluet orang berjalan.


Sepuluh detik kemudian, kantong plastik yang dibawa orang di depannya sobek. Membuat barang di dalamnya jatuh berhamburan. Adam agak mempercepat langkah kakinya.


Agak sulit karena sarung yang ia kenakan.


“ Saya bantuin, Mbak. Mumpung lagi bawa tas kecil nih. “


Si gadis menoleh, “ Enggak usah, Mas. Makasih. “


“ Serius enggak butuh bantuan? Saya bukan orang jahat kok! “ jawab Adam mengerti akan suara ketus si gadis.


“ Iya, enggak usah. “


Pemuda itu lantas berdiri, “ Ya udah. Duluan ya. “


Gadis itu menatapnya heboh, “ Eh, eh, tolongin deh, Mas! “


Adam mendengus, namun tak urung tetap membantunya. Bukan hanya memunguti belasan buah apel yang berhamburan, tapi juga membantu membawakannya.


“ Makasih ya, Mas. Udah bantuin. “


“ Enggak apa-apa kok, Mbak. Santai aja. “


Kening gadis itu mengerut, “ Kok panggil Mbak sih! Aku baru masuk 19 tahun loh! Kedengaran tua banget akunya. “


“ Lah, saya baru mau 17 dan Mbak emang lebih tua dari saya. “

__ADS_1


“ Serius? Berarti kamu masih 16? “


Adam mengangguk santai, “ Bentar lagi dapat KTP. “


Perempuan cantik itu terkekeh, “ Jangan formal gitu dong! Pakai aku-kamu aja, lebih enak didengar. “


“ Oh ya, ngobrol dari tadi tapi belum kenalan. Kenalin, aku Anindita! “


“ Adam, Mbak. “


Dita merengut, “ Tuh kan, pakai Mbak lagi! Aku masih muda ya! “


Kini giliran Adam yang terkekeh, “ Maaf, lupa. “


“ Kamu masih sekolah ya, Dam? “


Adam mengangguk.


“ Sekolah di mana? Aku juga baru masuk kuliah. “ tanyanya lagi lebih lanjut.


“ Di Arastamar. “


Dita mengangguk paham, “ Baru kenaikan kelas, kan? “


“ Iya, belum sampai sebulan masuk kelas sebelas. “ jawab Adam ringan.


Dita mengangguk lagi.


“ Ini beneran aku boleh panggil kamu langsung nama? Enggak pakai ‘Mbak’? “


“ Enggak apa-apa kok. “


Adam mengangguk setuju, “ Bawa apel banyak banget buat apa, Dit? “


Dita mengernyit, “ Panggil apa barusan? “


“ Dit? “ jawab Adam mulai bingung.


“ Dita maksud kamu? “


Adam mengangguk, “ Kenapa? “


“ Enggak apa-apa, aneh aja. Orang-orang manggil aku Anin. Cuma kamu yang manggil Dita. “


“ Jadi, enggak boleh manggil gitu? “


“ Ya boleh lah! Kamu jadi pembeda. Btw, makasih ya udah bantuin tadi. “


Tak sampai lima menit mereka sampai di halte TransJakarta tujuan mereka tadi.


“ Ini, aku lagi pengin pai apel. “ Dita menjawab pertanyaan tadi.


“ Kamu lagi ngidam? “


“ Enak aja!! Nikah aja belum. “


Adam terkekeh, “ Iya, sama-sama. Aku pulang dulu ya? “


“ Iya. Eh, tas kamu ini gimana? “


Si pemuda menoleh, “ Ambil aja, aku ada banyak. Duluan ya! “


Dita melambai ringan sembari bus yang ia tunggu datang.


Tiga menit berselang, Adam sampai di gedung apartemen. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.


Dan benar saja, rasa kantuknya mendadak hilang.

__ADS_1


Benar-benar menyebalkan!


__ADS_2