
..."Aku akan tetap sabar sampai nantinya Tuhan memberiku suatu hadiah yang membuatku menangis dalam kebahagiaan"...
...~ Siti Anum Anggrani ~...
...----------------------------❤-------------------------...
"Anum, kamu sudah siap belum?" teriak suara paruh baya dibalik pintu gadis yang masih terlelap di tidurnya. Gadis itu sudah berusaha membuka matanya, suara mamanya mampu membuatnya membuka mata. Meski, tak sepenuhnya terbuka. Di rumah, hanya ada dua kepala. Tak ada yang lain selain mereka. Pembantunya masih libur, belum sempat bisa kembali. Ya, itu yang membuat wanita paruh baya ini mengerjakannya sendiri.
"Iya, Ma, bentar. Baru bangun tidur!" teriak gadis berumur 16 tahun, yang baru saja mengangkat badannya yang masih tertumpu oleh kasur kesayangannya. Cahaya matahari sudah berubah warna, yang awalnya biru cerah, kini menjadi hitam pekat. Ya, ini akan bertanda baik bagi gadis yang tahun ini berumur 16 tahun. Gadis ini memiliki khas pada wajahnya, mata bulat dan bulu mata yang lebat. Membuatnya, semakin cantik dan menggemaskan. Bagaimana tidak? Pipinya yang mengembang membuatnya semakin cantik. Siti Anum Anggraini, tagname yang berada di seragam sekolahnya.
Dia hanya memiliki Ibu. Ayahnya tlah lama meninggalkannya, beliau memutuskan untuk berpisah. Dan, semua tanggungjawab di ambil oleh ibunya. Hitam pekat. Itu yang dipandang Hanum saat matanya memandang langit. Lengkungan di bibirnya, membuat pipinya bertambah mengembang. Dia sangat bahagia, mungkin karena dia menyukai setetes air hujan. Kakinya melangkah menuju ibunya, bahagia terlintas di matanya.
"Ma, kita langsung berangkat saja, ya! Soalnya aku ada piket dikelas," pekik Hanum, tangan kirinya membawa roti selai coklat. Segelas susu coklat telah habis diteguk Hanum. "Ini baru jam berapa, Nak. Jam enam lebih dua belas menit," bantah wanita paruh baya ini, yang sedikit tidak menyukai cara makan anaknya ini. "Nanti akan hujan, Ma. Aku naik sepeda ya, biar cepat," jawab Hanum, lalu mencium tangan Ibunya.
Kakinya melangkah menuju ke garansi, ibunya ini hanya menggeleng pelan melihat tinggah laku anak semata wayangnya ini. Suasana sejuk. Itu yang dirasakan Hanum. Ia menggayuh sepedanya begitu pelan, rasa bahagia terlintas jelas diwajahnya. Terlihat laki-laki yang sedang menggayuh sepedanya di sebrang jalan, Hanum ingat betul dengan wajahnya. Laki-laki berhidung mancung, memiliki khas manis di sela senyumnya. Ya! Itu pria yang sedang dikagumi oleh Hanum saat ini, pria yang mampu memikat hatinya. Ia seakan terhipnotis, pria yang berada di sebrang jalan kini sudah berada disampingnya. Sejak kapan, dia berada disini. Batin Hanum, yang berkali-kali mengutuk dirinya sendiri.
"Adek sekolahnya di SMPN Nusa Bangsa ya?" Tanya pria itu, lalu lengkungan indah terlihat di wajahnya. Jika saja, ia tak menjaga image mungkin saja ia sudah berteriak dan berlari mengelilingi dunia. "Iya, Kak," jawab Hanum, lalu melempar senyuman semanis mungkin.
SMPN Nusa Bangsa
__ADS_1
Hanum terkenal akan seorang yang pendiam. Bukan berarti, ia tidak memiliki musuh. Kakinya melangkah berat, kepalanya menunduk. Ia tidak pernah tau, nasib yang akan menimpanya nanti. Enam pasang bola mata kini menatap tajam Hanum, ia mempercepat jalannya menuju karidor sekolah untuk menyelamatkan dirinya. Namun alhasil, semua rencananya gagal. Langkahnya terhenti, telapak tangan sudah berada dipundak. Dan, Ia menyiapkan diri akan kemungkinan yang akan terjadi.
"Hanum, yuk kesini sebentar," ajak salah satu krumpulan wanita itu. Dia bisa dibilang bos dalam suatu klompotan. Itu bisa dilihat, semuanya mengikuti apapun perintah wanita itu. "Kemana, Sya?" tanya Hanum, rasa takut menggerogoti tubuhnya.Mereka tidak punya niat baik kepada Hanum. Hanum diajak. Bukan! Melainkan diseret menuju papan pengumuman sekolah, yang jauh dari kuruman orang-orang. Tinta hitam di atas kertas, tertempel manis di papan pengumuman.
Beasiswa di SMAN MUKTI 2
Sista Fitriani Angel
Hamsyah Ramadhani
Siti Anum Anggraini
Vita Nuri Widya Putri
Hanum menyeret matanya begitu pelan, ia tidak pernah tau jika namanya akan tertera di sini. Mereka mulai menjambak jilbab yang melekat di kepala Hanum, begitu keras. Hingga, Hanum harus mempertahankan agar tidak lepas di kepalanya. "Kenapa bisa kamu yang dapet beasiswa culun!" bentak wanita tadi, matanya menandakan kemarahan saat ini yang tak bisa tertahankan. "Aku juga nggak tau," jawab Hanum, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ia memang tidak pernah tau jika akan dapat beasiswa di SMAN yang terfavorit itu.
Kini, air matanya tak mampu dibendung lagi. Di sela-sela lorong kelas, tempatnya mengadu saat ini. Hujan begitu lebat, membuat Gadis ini harus mengeratkan pelukan di tubuhnya. Tegar, itu yang berada dipikiran Hanum saat ini. Meskipun akan terlihat bodoh, ia berjalan dengan keadaan baju basah. Namun, semua itu tidak membuatnya malu jika harus dikatakan orang gila sekalipun. Antara senang dan gelisah. Sekarang ia sudah kelas tiga dan ingin ke SMAN. Dan, hari ini terakhir ia berada di SMPN ini. Dimana semua kisah bercampur aduk. Tidak. Kenangan itu tidak selalu berada dibenak Hanum. Ia memilih sendiri, dan tidak ingin pacaran. Ia tidak sama sekali berniat untuk menjalin kasih, tapi ia hanya suka dengan cara menganggumi. Menurutnya, sendiri adalah cara untuk bahagia.
SMAN Mukti 2
__ADS_1
Kaki gadis ini berlari menuju papan pengumuman, yang bertempat tepat di kelas Dua Belas. Deretan kertas demi kertas putih tergores tinta hitam. Sering kali, Hanum harus mempertahankan kokoh berdirinya, saat berdesakan puluhan orang. Alhasil, apa yang ingin dia temukan. Terlihat jelas didepannya, senyum indah terukir dibibirnya. Pipinya mengembang, bahagia terukir di peluk matanya. Akhirnya, selesai sudah tes yang dilakukan. Kini, telah berbuah baik.
BRUK!!!
Hari pertama, hari ini merupakan hari sial baginya. Itulah dipikiran Hanum saat ini. Dia tak habis pikir, dengan orang yang menabraknya tanpa sepatah katapun menolong atau meminta maaf. Matanya merayapi seorang pria yang menabraknya, pakaian putih biru itu yang ditangkap oleh matanya. "Aduh, kamu gimana sih jalannya?" keluh pria itu, wajahnya seakan kesal dengan kejadian ini. "Maaf saya tidak sengaja," jawab Hanum. Lalu, selang berapa detik ia mengulurkan tangannya. "Kamu?" ujar pria itu. Kerutan di kening Hanum.
Bertanda jelas, siapa yang bertubrukan dengannya tadi. Oh my god! Mungkin saja saat ini, banyak caci maki untuknya sendiri. "Kakak?" ucap Hanum. Antara percaya atau tidak, itu yang ada dibenak Hanum saat ini. Tidak ada sepatah katapun untuk memuji sosok pria ini. Tak ada kata-kata yang mampu menyerupai pria yang memiliki khas wajah tampan ini. Idaman!. Batin Hanum, ia tak sadar jika kebahagiaan itu terlihat jelas di raut wajahnya. "Kamu kenapa ada disini?" tanya pria itu. Lalu, berdiri dengan uluran tangan Hanum.
Meski berat. Setidaknya Hanum bisa membantunya untuk berdiri, ini lebih dari cukup. Itu lebay Hanum!. Pekik dalam batinnya, yang berusaha menyingkirkan pikiran gilanya ini. "Ehmm ... Aku daftar kesini kak," jawab Hanum yang sedikit canggung. Dan, itu terlihat jelas di sela-sela bicaranya. Pria itu hanya menatap Hanum. Tak ada yang menarik dari Gadis ini. Mungkin itu yang terlintas di otaknya. Percakapan mereka berhenti dengan senyum khas dari pria itu, Hanum hanya mengangguk pelan.
Kelas 10 Ips 2, kelas yang sedang diduduki Hanum. Dan, ia sangat bahagia. Bisa bersama pria yang diidamankan. Wanita yang cukup tinggi, sekitar 165 cm. Berjalan menuju tempat yang diduduki Hanum saat ini. Teman baru. Itu yang terbesit di otak wanita itu. Matanya menatap lekat kepada sosok wanita yang berada di meja sendirian, tak ada seorangpun yang menyapanya.
"Aku boleh duduk disini?" tanya wanita itu, sambari tersenyum manis. Memandang wanita yang dipandang, hanya termenung di sela-sela kesendiriannya. "Kamu ngelamun ya?" tanya wanita itu kembali, terdapat raut wajah kebingungan. "Ehmm anu eh itu, gak papa. Kamu duduk sini aja," ujar Hanum dengan gugup.
Sudah satu jam berjalan, namun tak ada suarapun yang keluar. Dingin ya!. Batin Hanum, ia merasa kurang pas jika disandingkan dengan wanita disebelahnya yang pandai bergaul. Hanum sering kali membuka menutup mulutnya, gugup yang didapatinya. "Ehmm. Ngomong ngomong sampai kapan kita diem aja," pekik Hanum, sambari menyengir tersenyum. Wanita itu, menatap pelan Hanum. Mungkin ia belum pernah bertemu orang yang begitu kaku dalam perkenalan, "Oh ya. Kenalin namaku Fatimah Nur Agraini," ucap Wanita itu. Lalu, menjulurkan tangannya kepada Hanum.
Entah, apa yang dipikir oleh Hanum. Ia ingin memperlihatkan giginya, dan juga pipi mengembangnya. Namun, nihil. Ia begitu baru saja mengenal Fatimah. "Heheh kok sama ya, kenalin namaku Siti Anum Agraini, sama ya," jawab Hanum. Sambari membalas jabatan tangannya. Heran. Itu yang terlintas di benak Fatimah. Itu bukan suatu kebetulan, tapi memang ini kesamaan. Fatimah tertawa kecil, "Kok bisa ya?" Tanya Fatimah. Hanum hanya mengangkat kedua bahunya yang berarti, ia sama sekali tidak mengetahuinya.
Pembicaraan mereka berdua, berubah menjadi sebuah luconan. Layaknya, mereka sudah mengenal lama. Memang diakui, Fatimah orang yang mudah bergaul. Ia slalu mendapatkan teman yang ia inginkan. Di ambang pintu terlihat sosok pria yang memiliki tinggi 175 cm. Tinggi bukan? Bahkan jika Hanum berada di sampingnya mungkin Hanum hanya sebatas dadanya. Dan, bisa jadi, hanya batas perut dan dada. Lambaian itu dapat dilihat, terarah pada Hanum. Eh. Bukan. Terarah pada Fatimah, Hanum menyeret bola matanya memandang tangan Fatimah juga melambai pria yang berada di ambang pintu. Langkah tegas pria ini mengingatkan sesuatu di otak Hanum. Bayangannya semakin terlihat dan semakin menempel di rentina mata Hanum.
Fatimah tersenyum manis, "dia mantanku," Fatimah berbisik kepada Hanum. Bayangan itu semakin jelas, semakin dekat. Wajah pria itu tidak begitu asing di ingatan Gadis yang memiliki pipi mengembang ini. Hanum berbisik, "Namanya siapa?" Fatimah tertawa geli, "Bagas Duwi Jaya." Pria itu kini berada di depan Hanum dan Fatimah, senyuman khas itu yang membuat Hanum tak pernah menyangkanya. Pria ini? Wanita ini?. Batin Hanum, ia tak bisa menelan salivanya sendiri. Rasanya sulit, ini bukan suatu penyatuan mantankan? "Kamu sekolah disini? Kok gak bilang aku?" tanya Bagas, seraya mendekatkan kursi pada Fatimah.
__ADS_1
Senyum khasnya membuat Hanum hampir menjadi wanita terkutuk, matanya berkali kali memandang secara bergulir. Dan, itu yang membuat ia merasakan sakit. "Ih deket deket" Fatimah berteriak, namun dengan penekanan dalam suaranya. Dapat dilihat, raut wajah Fatimah berubah menjadi Fatimah yang feminim, bukan yang memiliki cara gaul seperti tadi. "Dia siapa?" Tatapan Bagas kini beralih kepadaku. "Kenalin, dia teman baruku. Namanya, Siti Anum Anggraini," sahut Fatimah. Sedangkan, bibir Hanum masih kaku untuk membuka.
Bagas mengulurkan tangannya kepada Hanum, kringat dingin itu yang didapat ditubuh Hanum. Jantung berdetuk kencang, memompa lebih kuat, semakin membuat Hanum bergemetar. Berapa detik kemudian, Hanum membalas jabatan Bagas. Itu terbilang cukup lama. Dan Bagas, tripikal orang yang tak sabaran. Disinilah, Mereka dipertemukan. Entah, takdir Tuhan seperti apa lagi? Yang di pikir Hanum saat ini adalah, bagaimana cara bisa menghabiskan waktu dengan pria yang dikaguminya. Meski, ia tau. Itu akan mustahil baginya, lalu? Bagaimana lagi? Ia tidak ada akal sama sekali.