KAULAH IMAMKU

KAULAH IMAMKU
KAULAH IMAMKU 11


__ADS_3

Kebahagian menyertai mereka, sudah berjalan 3 bulan lamanya. Hari demi hari, Hanum mulai menerima adanya Firman sebagai suaminya.


Firman menatap kancing kemejanya yang belum terkunci, kakinya berjalan menuju arah ke istrinya, "Sayang, aku berangkat kerja dulu."


Hanum menatap arah suara tersebut, "Sarapan dulu," tangannya sambari mengambil piring dari rak.


"Oh ya," Mata Firman melayang melihat jam di tangannya, "Pulangku akan lebih awal, kita jalan-jalan ya."


"Iya," kakinya melangkah menuju ke ruang makan, "Ini makanannya, sarapan dulu."


Mata Firman terbelalak bahagia, sepiring tumis telur kesukaannya, "Inilah yang paling ku tunggu."


Hanum melangkah maju menuju kursi makan, tepat di samping suaminya. Pandangannya tetap terarah pada makanan yang di lahap hampir habis.


"Baiklah," Tangannya meraih tas di atas meja, "Nanti pulang mau makan apa? Biar aku siapkan."


Firman melahap makanannya, ia melirik istrinya, "Soto."


Hanum tersenyum manis, tetapi seketika hilang begitu saja. Ia merasakan perutnya seakan ingin muntah, sejak kemarin ia merasakan pusing di kepalanya.


"Sebentar ya, aku tinggal dulu."


Mata Firman mengekori tubuh istrinya yang mulai menghilang, memang akhir-akhir ini istrinya sedang sakit. Dia mulai mengeluh dengan rasa mual dan pusing, mungkin karena mereka sering bergadang setiap malam.


"Sayang," panggil Firman, lalu melahap suapan terakhir dari tangannya.


Ia berdiri menuju ke kamar mandi, menjenguk istrinya di dalam. Mengecek keadaannya apakah baik baik saja, perasaannya tercampur dengan khawatir.


Berkali-kali tangannya mengetuk pintu, namun tidak ada respon dari dalam. Tangannya menyentuh knop, memutarnya lalu membuka pintu itu. Matanya tertuju wanita yang sedang menahan muntahannya, kakinya melangkah pelan, bola matanya seakan memberikan sentuhan hangat untuk istrinya.


"Sayang," panggil Firman, lalu tangannya merayap di bahu istrinya.


"Kepalaku pusing," ujar Hanum, lalu memegangi kepalanya.


Sebagai suami sigap, Firman merogoh saku celananya. Bola matanya berputar, menandakan mencari sesuatu di saku celananya.


Kini, tangannya mengangkat sebuah ponsel genggam miliknya, "Halo, Hari ini saya tidak datang, tolong Dani menggantikan saya."


Tanpa menunggu balasan dari ucapannya, ia langsung menekan tombol merah dalam layar ponselnya. Kedua tangannya mengangkat tubuh istrinya, wajah yang begitu pucat membuat Firman segera membawanya kedalam mobil.


"Tahan sayang," lirihnya, sambari meluncurkan ciuman di kening istrinya.


****


Kini kakinya menuruni mobil, tangannya segera membopong tubuh istrinya. Hanum hanya tersenyum, wajahnya bersembunyi di balik dada bidang milik suaminya.


Langkahnya menelusuri setiap ruangan, bola matanya sering kali melirik, tempat yang kosong untuk istrinya. Dan, ia menemukan tempat kosong itu. Kakinya melangkah cepat, berlari kecil menuju ruangan persegi itu. Dengan cepat Firman menidurkan istrinya di tempat yang di sediakan.


Dengan sigap, dokter itu berdiri lalu menjalankan tugasnya. Firman terlihat begitu khawatir, hingga ia lupa jika ia hampir menghabiskan 2 botol air mineral berukuran tanggung.

__ADS_1


Dokter itu keluar dari tempat persegi panjang yang hanya di tutupi oleh tirai berwarna hijau, "Bapak, suaminya?."


Firman mengangguk dengan antusias, "Bagaimana keadaannya?."


Dokter itu memberikan ekspresi bahagia, "Selamat ya, Pak."


"Selamat?" Firman kini menyerngitkan dahinya.


"Iya, Pak," dokter itu mengulurkan tangannya, "Istri anda sedang mengandung."


Matanya berkaca-kaca, bola matanya bergeser memandang wanita yang tengah hamil muda itu. Rasa bahagia terlintas di wajah pria itu, ia sungguh menantikan anugerah ini.


Kakinya melangkah pelan, "Ini bukan mimpi?."


"Bukan, aku hamil mas."


Senyum bahagia menyertai mereka, kini Hanum turun dari tempat tidurnya dengan di bantu suaminya. Mereka keluar dari ruangan persegi itu, tangan Hanum masih berada di perutnya sedari tadi.


"Mau aku gendong, atau jalan?" tawar Firman, menatap wanitanya yang sedang memegangi perut datarnya.


"Jalan aja," balas Hanum, lalu memberikan lengkungan di bibirnya.


"Tapi, aku pengen gendong."


"Malu, banyak orang."


"Wajarlah, kita 'kan sebentar lagi punya anak."


"Nah, kena." Firman mengangkat tubuh mungil milik istrinya.


"Nanti kamu capek, sayang."


"Bilang aja, kamu malu dilihat orang."


"Hehehe." Wajah Hanum sudah tergelam di dada bidang milik suaminya.


Tangannya masih kokoh mengangkat tubuh wanitanya, senyuman bahagia tidak jauh dari wajah pria ini. Ia akan menjadi seorang Bapak, dan memiliki anak yang lucu bersama wanitanya.


Kini mereka sudah berada di parkiran mobil miliknya, ia menurunkan tubuh mungil itu, lalu membukakan pintu untuk wanitanya. Sungguh, perilaku yang sangat manis.


"Silahkan masuk," ucap lembut Firman, dengan bergaya seperti ala bodyguard.


"Terima kasih," balas Hanum, lalu mendaratkan ciuman di pipi suaminya.


Mobil menelusuri jalanan kota, Hanum tetap memandang ke arah depan, senyumannya masih sama seperti tadi. Firman masih membanting stirnya, sesekali matanya melirik perut istrinya yang masih datar.


Hanum menyerngitkan dahinya, arah jalan yang dituju bukan arah jalan kerumah, "Loh? Ini kita mau kemana?."


"Ketaman, sayang," balas lembut Firman.

__ADS_1


"Kamu gak kerja?."


"Hari ini libur, jadi ya, menurutku buat jalan-jalan sama kamu."


Hanum tanpa berkutik, ia hanya menggaruk pelipisnya yang tak gatal itu.


"Kita turun sini ya?" tawar Firman, istrinya hanya tersenyum manis pada Firman.


Firman memutar mobilnya, menuju tempat parkir. Hanum menatap lembut wajah suaminya, "Sayang," lirih Hanum dengan suara manjanya.


"Iya?" Firman menatap wanitanya, "Ada apa? Makan? Minum?."


Hanum menggeleng pelan, "Sepertinya, itu Fatimah sama suip deh."


Firman tersenyum, "Baiklah, mari kesana."


Langkah mereka beriringan, tangan Hanum masih belum bisa lepas di perut datarnya.


Hanum berlari kecil, saat Fatimah mulai memandanginya, "Hai, Fatimah," Hanum sambari melambaikan tangan.


"Hanum, kamu juga disini?."


Ia mengangguk antusias, matanya melirik buah hati keluarga di depannya, "Hai, putri kecil."


"Hai," sapa Firman, yang masih berdiri di belakang istrinya.


Suip melambaikan tangannya, menandakan untuk duduk di sampingnya, "Lama gak ketemu, bro."


"Anak lu, namanya siapa?."


Suip tersenyum, "Adelia," lalu matanya menatap tangan Hanum yang memegangi perutnya, "Istri lu, bunting?."


"Yaa, begitulah," balasnya dengan begitu santai.


Firman meluruskan kakinya, matanya menatap langit berwarna cerah itu. Sedangkan Hanum, masih bermain dengan anak Fatimah.


"Tadi gw ketemu sam--" Fatimah menghentikan bicaranya, Firman melirik tajam wajahnya.


"Ketemua sama siapa, Fat?" tanya Hanum, lalu memalingkan pandangan ke arah Fatimah.


"Ketemu sama tukang balon tadi," balasnya sedikit canggung, "Yuk, sayang. Kita beli balon dulu."


"Eh, biar aku saja," terang Hanum, lalu menggandeng putri kecil, "Sini, Nak."


Adelia mengangguk antusias, menatap dengan mata berbinar-binar. Tangan kecil tergenggam erat tangan Hanum, senyum sumringah di wajah Hanum.


Firman tersenyum hangat, matanya tak lepas dari punggung wanitanya, "Lu mau ngomong apa, Fat?."


Fatimah melirik, "Gue tadi ketemu Bagas, sama istri anaknya."

__ADS_1


"Istri?."


Fatimah dan Suip mengangguk mantap, Firman menatap satu pasangan itu secara bergantian, di otaknya tidak percaya apa yang dikatakan.


__ADS_2