KAULAH IMAMKU

KAULAH IMAMKU
KAULAH IMAMKU 4


__ADS_3

...Anum, sepulang sekolah...


"Sebaiknya aku kerumah Firman dulu deh" aku masih teringat kejadian kemarin kenapa nggak bisa hilang hilang ya? Ada yang disembunyikan dariku aku harus tanya Firman kenapa dia mengatakan bahwa dia mencintaiku


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalammualaikum Firman" teriakku, sepertinya tak ada seorangpun di dalam mataku mengintip jendela dan samping pintu tak ada orang pun. "Waalaikumsalam nak" suara serak di samping rumah, aku intip perlahan. "Eh, tante" ujarku dengan senyuman yang paling manis . "Cari Firman ya nak?" ucap ibu Firman sepertinya habis mencuci baju.


"Ya tante, Firman nya ada tante?" ujarku dengan mata yang mengelilingi ujung taman bunga itu. "Ehmm. Firman nya belum pulang nak, kamu tunggu didalam aja nggak papa" ucapnya sambil mengelus pundakku. "Oh gitu ya tante" ucapku sambil mengangguk artinya mengerti, ku tunggu kepulangan Firman.


Sudah 5 menit belum ada hidung Firman tiba, dari pada nunggu Firman boring mending baca buku dulu kan makin asyik.


Kring .. Kring ..


Suara bel dari sepeda Firman, setiap sekolahnya sama sepertiku dia slalu naik sepeda tapi berangkatnya lebih awal aku dan pulangnya lebih cepat aku. "Firman! Yuk belajar bareng" ucapku seraya menghampiri Firman yang memakirkan sepedanya disamping sepedaku. "Tumben, ada PRkah?" tanyanya sambil melihat buku yang aku pegang. "Oh, ada tadi masalah soal BK aku gak ngerti ini ngapain. Suruh wawancara tentang HIV itu apa dan AIDS itu apa! Trus aku kesini buat wawancara i kamu sama mama kamu" ucapku panjang lebar, tapi dia hanya menjawab oh, ya, gitu, ok makin sebel aja deh.


Firman tetap seperti tadi dia asyik dengan soal soalnya sendiri, sampai aku tanya dia tidak pernah kasih solusi sama sekali, jadi untuk bertanya kejadian kemarin gagal total. "Kenapa diem apa yang dipermasalahin" ujarnya matanya tetap memandang soalnya. "Aku udah bilang tadi tapi kamu malah nyuekin, ih kamu mah! Ya udahlah aku pulang aja!" ucapku, secepatnya aku mengambil semua bukuku di meja aku langsung beranjak pergi darinya


"Udah gitu aja marah, sini gimana tugasnya" ucapnya, ntah dia melihatku apa tidak aku tidak peduli sama sekali. "Eh jangan pergi katanya tugasnya ada masalah dimana masalahnya?" suaranya semakin dekat denganku. "Jangan coba coba mendekat!" teriakku, segera ku ambil sepedaku dari sebelah sepedanya. Ntah ngapain dia berdiri disitu bodo amat!


...Anum, kamar...


"Ih sebel, Firman di ajakin baik nggak mau!" aku merengek seperti anak kecil disebelah mamaku. "Ada apa sih nak? Firman kenapa?" tanya mama sambil mengelus kepalaku yang masih tertutup jilbab. "Tuh si Firman nggak tau apa tugas dari sekolah sulit diajak buat ngerjain bareng sapa tau nanti dia dikasih soal gini langsung bisa! Malah fokus sama soal soalnya kan sebel!. Dan juga ditanya cuman jawab oh, ya, gitu, ok trus apanya yang digituin ih sebel! Pokok hari ini sampai nanti Firman nggak boleh dateng kesini sepenting apapun itu" mama malah ketawa melihat prilakuku mengikuti anak kecil yang tidak dibelikan es krim, aku hanya mengerutkan jidatku dihadapan mama


Tok.. Tok..


"Mama yakin itu pasti Firman" mamaku terlihat seperti menggodaku. "Biar aku saja yang membukakan pintunya! Awas Firman" ujarku sambil melangkahkan kaki kejam menuju pintu. "Ya ada apa?" ucapku sinis melihat di luar pintu ternyata benar Firman. "Maafin aku num, masa gitu marah. Kan besok senin kita ujian kenaikan kelas masa kita marahan sih" ucapnya seraya memohon padaku


"Sorry, aku gak kenal sama temen yang cuma ngomong 1 kata, udah sana! Kita kerjakan sendiri sendiri aja!" ucapku kasar membuat Firman mati kutu didepanku, dan jujur ada suatu kebanggan yang tiada duanya di hatiku. "Eh tante, dari tadi Firman gak disuruh masuk tante" ucapnya melihat dibelakangku, aku tidak melihat siapa yang dibelakangku tapi pasti mamaku. "Biarin ma, aku nggak suka dia, jangan di suruh masuk!" ucapku dengan sinis, Firman tertawa terbahak bahak, aku mengerutkan dahiku menghadap Firman. "Kamu ngomong sama siapa num?" ucapnya membuatku spontan melihat kebelakang, tidak ada seorangpun dibelakang aku dibohongi!. "Firmaaaaaaaaaaaaan!!!!!!!" teriakku sekeras mungkin, segera dengan tepat ditutupi mulutku dengan tangannya. Firman menatapku "jangan berteriak tetangga sebelah sakit gigi ntar kamu kena mampus!" ucapnya seraya menaruh telunjuknya di bibirnya. "Lepasin" ucapku seraya melepaskan tangannya di mulutku. "Asin tau!" lanjutku, entah baru megang apa tuh Firman sampai tangan asinnya melebihi garam!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Libur tiba" teriak seorang pria yang melihatnya telah naik kelas, dan semua siswa siwsi di kelasku naik kelas semua

__ADS_1


"Libur tiba......"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Anum, masuk pertama kelas XI...


"Assalammualaikum kawan kawanku" teriakku, ini hari awal aku masuk ke kelas baruku. "Kayak gak pernah lihat kelas baru aja" ucap Bagas dengan menyengir melihatku bertingkah seperti itu. "Hey, diem lu" ucap kasarku di kelas baruku, di ujung aku melihat seorang pria yang aku kenal.


"Firman?" teriakku lalu menghampiri Firman. "Hanum," kedua kali dia menatapku. "Kok bisa kamu disini? Kamu minta pindah ya biar deket sama aku?" ucapku dengan memilih bangku dibelakang nya. "He, enggak tuh! Ya aku dipindahin soalnya banyak anak baru trus dikasih kelasku trus aku minta buat dipindah ternyata dipindah di kelasmu" panjang lebarnya.


Dia terdiam begitu lama, dan aku sedang asyik hp an. "Denger denger fatimah hamil ya?" ujar seorang wanita berambut agak pirang disampingku, telingaku segera ku dekatkan secara pelan pelan. "Katanya sih! Soalnya saat liburan dia nggak ada di rumah, katanya hamil 2 bulan" jawab seorang wanita berkuncrit itu, aku langsung menghampiri mereka dan memandang wajah mereka persatu satu dengan tatapan tajam. "Apa maksud kalian!" teriakku, semua siswa di kelas ini menghentikan kegiatannya dan melihat diriku. "Oh ya ini kembarannya aku lupa! Fatimah sedang hamil!" ucap wanita itu dengan begitu santainya. "Jangan fitnah orang kalau kamu tidak tau ceritanya, mana mungkin fatimah hamil?" kini suaraku menurun satu oktaf begitu terkejutnya diriku saat ini


"Mana mungkin fitnah itu dari mulut temanmu sendiri! Dan mungkin kamu selanjutnya! Jika temanmu seperti itu mungkin kamu juga!" tawa mereka makin menjadi jadi, air mataku tak mampu ku bendung lagi. "Udah! Jangan nyeplos kalau ngomong! Jaga bicaramu! Ucapanmu bisa membalik padamu sendiri! Paham!" wanita itu membukam saat Firman membelaku dan menyuruhku untuk keluar kelas karena suasana tidak mendukung. "Apa benar jika fatimah hamil? Tak akan ku biarkan!" batinku amarahku semakin menggebu gebu mendengar itu. "Firman nanti antarkan aku ke rumah Fatimah sampai ketemu" ucapku nada tinggi, lalu aku meninggalkan Firman sendiri.


...Anum, sepulang sekolah...


"Firman bawa mobilku langsung kita ke rumah Fatimah" ucapku tegas, kunci mobil sudah ku berikan, kami langsung berjalan menuju rumah Fatimah. Hampir 25 menit kami berjalan akhirnya sampai juga. "Assalammualaikum," salamku tiba tiba langsug dijawab oleh wanita paruh baya. "Waalaikumsalam." aku langsung menengok di belakang


"Eh bi, Fatimah nya ada bi?" ucapku, sepertinya Firman sedang mengode dan aku mengiyakan, "Fatimahnya udah 1 bulan nggak pulang neng, katanya ngekos karna ada urusannya sendiri ibunya juga nggak tau neng. Ibu sering sedih gak dikasih alamatnya." cerita bibi Fatimah.


"Firman" aku memasuk i mobil bersandingan dengan firman. "Gimana? Ada informasi?" aku hanya menggeleng, "lalu?" dia memelankan mobilnya. "Hmm. Sudah 1 bulan Fatimah belum pulang, dan katanya ngekos, orang tuanyapun belum mengetahui dimana alamatnya" ujarku, aku begitu bingung ada apa pada Fatimah? Dimana Fatimah berada, "Kita lanjutkan besok kamu tanya dimana alamatnya" aku mengangguk begitu pelan bertanda aku mengiyakan namun tidak yakin jika ini akan berhasil.


...****************...


Pesan demi pesan, telah berada di ponsel Hanum. Ia sudah mendapatkan kabar Fatimah temannya, ia belum punya pembicaraan yang menjurus kehamilan Fatimah. "Assalammualaikum," salam Hanum dalam telfon. "Waalaikumsalam," balasnya dengan lirih. "Fatimah udah berapa hari gak masuk kenapa? Terus kenapa nomormu ganti gitu aja?". Fatimah hanya tertawa kecil, Hanum melihat dinding ponselnya, tertera ada pesan dari Fatimah, "Kamu kangen ya Num, kalau kangen kamu dateng aja di Jl.**** no 4". Hanum segera mencatat alamat rumah Fatimah baru, ia harap akan menemukan kabar sesegera mungkin


...----------------...


Hanum berlari kencang, menuju rumah Firman. Ia tidak peduli, itu setelah magrib atau bukan. Yang terpenting, ia harus cari kebenarannya sebelum terlambat. "Firman ... Firman," teriak Hanum dari luar pagar rumah Firman. Pria memakai baju hijau tua dan sarung khas putih hitamnya, melekat di tubuhnya. Hanum menatapnya dengan lekat, dan akalnya mencoba menepis apa yang ia rasakan. "Assalammualikum," pungkas Firman, menatap wanita berpakaian serba hitam itu. "Waalaikumsalam, Firmanku." Firman tersenyum bangga."Ada apa Hanum? Kok kesini?". "Oh ya gini man, kita langsung ke rumah Fatimah, ntar aku cerita di mobil." Tangan Hanum melempar sebuah kunci mobil, dengan sesegera mungkin menangkapnya.


Hanum menceritakan semuanya di mobil, Firman yang masih menancapkan gas mobil hanya mengangguk saja tanpa membalas ucapannya. Perjalanan ini cukup jauh, bahkan Hanum yang berada didalam mobil sering kali menguap dan mengusap matanya. "Sudah sampai," ucap Firman, seraya melepaskan ikat pengaman pada dirinya. "Ih susah banget sih, gimana sih!" Hanum bergerutu, ia mencoba mengotak-atik pengaman di tubuhnya. "Mana ku bantu," tawar Firman. Namun, Hanum tidak menyukai tawarannya."Gak usah, Aku bisa kok," tolak Hanum, ia masih berusaha. Mungkin sebentar lagi akan bisa, pikirnya. Kan udah dibilang. Aku bantuin, keras kepala sih," bantah Firman. Ia mendekati Hanum, lalu mencoba mencopot ikat pengamannya.


DEG...

__ADS_1


Detukan jantung? Kenapa tidak seperti biasanya?. Batin Hanum, ia menatap pundak pria itu. "Udah selesai, ayo keluar." Tangan Firman kini merayap ke pintu mobil, untuk membukakan pintu untuk Hanum. Ia tersipu malu memandang begitu romantisnya Firman. Sayang, ia bukan yang diharapkan oleh Hanum. Tangannya mengetuk pintu yang berwarna merah itu, rumah yang biasa itu yang ditangkap oleh mata Hanum "Assalammualaikum, Fatimah." "Eh, Anum!" teriak Fatimah, lalu memeluk Hanum. "Balas salamnya jugalah," omel Firman. "Waalaikumsalam, masuk Num," ujar Fatimah. Lalu, menggandeng tangan Hanum untuk masuk. "Ehmm ... Kenapa kamu nggak pulang Fat?"


Hanum meraih tangan Fatimah dengan begitu erat, rasa bahagia di wajahnya telah berubah. "Aku hamil, Num." Dentuman apa lagi yang kini dapat Hanum tahan, rasa sakit itu terlukis kembali dihatinya. "Aku hamil, anak bagas, Num," lanjut Fatimah. "Aku akan menghampirinya, aku tidak akan terima!" Kini tinggal puing-puing harapan yang terbuang bagi Hanum, ia tak bisa terfikirkan jika akan sejauh ini rasa sakitnya. Sejak ia keluar dari rumah Fatimah, tak ada yang keluar dari bibir Hanum. Pria yang kini berada disampingnya, hanya memandanginya sesekali.


"Kamu nggak apa-apakan, Num?" Kini suara Firman memecahkan keheningan, ia sengaja menghentikan laju mobilnya. "Kenapa berhenti?" Hanum hanya memandang stir mobil yang dipegang Firman, "Apa? Ayo pulang," lanjutnya, lalu mengalihkan pandangan. "Kamu habis nangis?" Mata Firman kini tertuju ke punggung gadis itu, "Kamu kasihan sama Fatimah? Apa kamu suka sama Bagas?" Kini isakan tangis terdengar di telinga Firman, gadis itu merengkuh tubuhnya hingga benar-benar memojokkan di sudut pintu mobil. "Menangislah untuk hari, aku tidak pernah tau kamu menangis karena apa? Tapi menangislah, lepaskan apa yang terbebani dipikiranmu. Dan untuk besok tersenyumlah."


 


...----------------...


"Assalammualaikum, Tante" salam Firman dari luar pintu rumah Hanum. "Waalaikumsalam." Terdapat seorang wanita paruh baya membukakan pintu, ya itu ibu Hanum. Firman tidak sendiri, tangannya menggendong Hanum yang tengah lelap tidur. "Loh nak? Hanum kenapa kok kamu gendong segala? Dia sakit?." "Nggak tante, Hanum tadi kecapekan trus tidur selama perjalanan pulang, trus saya gendong." "Hehehe, dibangunin aja nak! Kasian kamunya keberatan." "Nggak kok tante, kasian juga Hanum capek. Jadi nggak tega buat bangunin, Hanum nggak terlalu berat kok tante kan dia kurus hehehe. Langsung aja saya bawa kekamarnya tante habis itu saya ijin pulang."


Firman berusaha tidak meloloskan tubuh gadis itu di tangannya, ia memiliki berat cukup sepadan dengan Firman. Namun, ia tak merasa keberatan untuk menggendong gadis yang dicintainya. Kakinya menulusuri menaiki tangga, tangannya tetap merangkuh badan kecil ini. Kini pintu itu telah dibuka oleh mama Hanum, Firman langsung melangkahkan maju menuju kasur kesayangan gadis itu. Firman langsung menyelimutinya, selimut berwarna merah itu yang ditangkap oleh pria itu, "selamat malam Hanum," lirih Firman, lalu meninggalkan hanum. "Tante saya izin pulang dulu ya, Assalammualaikum," pamit pria itu, lalu ia melenggang pergi.


...SMAN Mukti 2...


Tanda tanya besar berada di otak Hanum saat ini, ia tidak bisa berfikir lagi, atau bahkan menyangga tanda tanya besar itu di benaknya. Sejak tadi pagi, mamanya mulai bercerita tentang perhatian Firman kemarin malam. "Ehmm ... Firman," mulut Hanum terbuka, Firman hanya menatap santai gadis di depannya, "kemarin kamu menggendong ku?." "Iya, soalnya kemarin kamu tidur pulas banget, jadi mau bangunin takutnya kamu malah terganggu." Firman hanya tersenyum manis, tatapannya seakan menandakan sesuatu. "Apa yang akan kamu berbuat setelah tau kejadian kemarin?" Pertanyaan Firman, membuat Hanum terdiam dan menatapnya. "Num? Kok ngelamun?." "Eh anu, nggak kok."


Hanum terlihat gugup, Dia belum memikirkan apa yang akan menimpa pada dirinya. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah, kehamilan Fatimah, dan juga kejadian Firman yang begitu perhatian.Sebenarnya, Hanum mengetahui jika Firman menyukainya sejak kejadian yang tidak diinginkan dulu. Namun, pikirannya tidak terlalu menuju perasaan Firman.


...----------------...


"Bagas!" teriak seorang wanita yang memiliki badan kecil, tinggi sekitar 165cm. Menghampiri laki-laki di kursi yang tengah asyik memainkan gamenya. "Kau apakan Fatimah!" Wanita itu berteriak sekeras mungkin, hampir membuat telinga laki-laki mendengung. "Kau apakan Fatimah!" teriak wanita itu lagi. "Dia hamil anakmu!."


Teriakan wanita itu yang ke-empat kali, membuat laki-laki itu meletakkan ponsel yang digenggamnya. Otaknya memikirkan sesuatu yang dikatakan gadis didepannya, dia kenal betul nama wanita yang disebut dalam teriakannya. "Kamu harus tanggung jawab, Bagas!" Teriakan wanita itu, memecahkan pikiran Bagas. Bagas menatap gadis itu dengan lekat lekat, "Aku tidak pernah menjamahnya!."


Grombolan dari empat kepala, hanya satu yang berdiri, "Kami yang menjamahnya, sama sekali Bagas tidak menjamahnya." "Aku tidak bertanya denganmu," bentak Hanum, kepalanya terlalu panas jika untuk di tentang. "Jika memang kau tidak percaya denganku, Kamu boleh mengetes perjakaku, Sekarang juga!" Mata Bagas menjadi lebih tajam, seperti menyerang mangsanya untuk menerkam. Namun, itu tidak membuat luluh untuk gadis itu.


"Baik! Aku akan menunggu itu. Jika terbukti kamu tidak perjaka, Mau tidak mau. Nikahi Fatimah!." "Baiklah. Aku tidak takut selama aku benar!." Kaki Hanum melangkah keras, rasa kebencian, amarah itu terasa di dalam hentakan kakinya. Gadisitu terus menenangkan kepalanya, kini otaknya dipenuhi kobaran hati yang sangat sama di hatinya. Aku nggak pernah nyangka, kalau gini akhirnya cintaku. Batin Hanum, ia tak bisa berfikir kembali.


"Hanum, bagaimana?." Bola matanya memutar, mencari sumber arah suara itu. Matanya menangkap gambar sosok pria, ya itu Firman. Laki-laki yang slalu support keadaannya. "Eh ya, nanti antarkan aku ke rumah sakit ya!." "Untuk tes buat bagas?." Hanum mengangguk pelan, tatapannya seakan tak ada harapan lagi. "Yuk ke kantin," ujar gadis sebaya Hanum, ia memiliki wajah yang tirus dan hidung mancung bak layaknya orang luar negri.


Hanum menegakkan badannya, mengekori gadis dia depannya. Gadis itu teman baru Hanum, ia tidak seberuntung orang lain. Ia memiliki nilai minus dalam matanya, hingga dia harus memiliki alat bantu kaca mata. "Aku rasa, mendingan kamu jangan kasar dulu deh sama Bagas." Makanan yang hampir ditelan Hanum, seakan sebesar batu bata. Sulit untuk ditelan, dan rasanya begitu pahit. "Lalu? aku harus gimana?." "Gini lo, kalau ada masalah bicarain berdua kan bisa Num?." "Tidak! Nanti apapun yang aku lakukan itu menurutku sudah benar," tolak Hanum secara mentah, lalu melanjutkan makannya.

__ADS_1


Mella hanya tersenyum manis, ia tau apa yang dirasakan. Bagi Mella, permasalahan tidak harus dengan emosi meskipun besar. "Benar kata Firman, kamu kadang egois." Hanum, memberhentikan makannya. Ucapan Mella membuatnya seakan kehilangan nafsu makannya.


__ADS_2