
Cahaya menebus jendela kamarku, mataku sudah terbuka sedari tadi, menatap anakku belum bangun juga. Aku tak bersama Firman, dari kemarin dia tak kunjung pulang. Aku tak tau apa yang dipikirkan sekarang ini, dia terlalu egois dalam memutuskan masalah. Otakku teringat satu hal, jika kami memilih ego masing-masing pasti akan seperti ini.
"Mama tinggal dulu ya Nak," lirihku, sambari mencium kening anakku.
Kakiku melangkah maju menuju pintu, membukanya lalu menutupnya kembali seperti semula. Perasaan khawatir, sudah membaluti jiwaku. Pikiranku kemana-mana, Firman sepagi ini juga tak kunjung pulang. Mataku menatap jam dinding di ruang tamu, tanda arah panah menunjukkan pukul 8 pagi. Dan waktu ini, Firman sudah menghabiskan makanan yang aku sajikan, dan berangkat mencium Ryan dan aku. Kini, tertunda karena egois kami, aku tak habis pikir.
"Makan sebanyak ini, apakah akan aku habiskan ?" Lirihku, mataku menatap setiap makanan yang ada di meja makan. Tiga menu terdapat di depanku, sayur kesukaan Mas Firman, Setumpu nasi, potongan tahu dan tempe yang digoreng, dan sepiring mie goreng kesukaan Ryan. Mataku melamun, dan kembali meneteskan air mata.
Sepasang tangan menepuk kedua bahuku, "Nak, Firman dimana ? Dia gak pulang ?" Suara serak milik ibu, membuat lamunanku pudar. "Mas masih kerja" ucapku, sambil tersenyum tipis.
"Ya sudah, mama kira kamu sama Firman bertengkar" papar ibuku, aku menatapnya lembut. Ibuku belum terlalu percaya denganku, namun aku menyakini ibuku agar beliau tak juga ikut khawatir.
*****
Aku menatap jam dinding, waktu menjelang siang. Namun, tanda tanda dia pulang tak ada. Khawatir ini telah menjadi belahan jiwaku, selalu menyelimuti rasa percayaku. Aku berusaha bertahan dari segalanya, aku bahkan sudah memaafkan dia.
Drett .. dret..
Layar ponselku menyala, aku bergegas mengambilnya dan segera mengangkat telfon dalam hpku.
"Assalamualaikum," salamku dari telfon, "ini siapa ? Mas ?"
Tak ada jawaban dari telfon itu, nomor tidak diketahui tertera di ponselku.
"Mas Firman," panggilku, hening yang aku dapat. Rasa gemetar menyilimutiku, bibirku kaku tak bisa berkata kata lagi.
"Firman begitu beruntung berada dipikiranmu, aku Bagas, kau lupa ?" Jawabnya dalam telfon, kini rasanya tlah berbeda. Yang tadinya begitu tegang, sekarang biasa saja yang aku rasakan.
__ADS_1
Aku segera berpindah posisi, beralih duduk di depan televisi, "Ya, ada apa sesiang ini menelfonku."
"Jelas aku merindukanmu, ada waktu luang ? Aku ingin kita berjalan-jalan," tawarnya, aku hanya bernafas berat, "Atau kamu mau aku bawakan makanan ?" Lanjutnya.
"Aku sedang sibuk dengan anakku, sebelumnya minta maaf. Jangan hubungi aku lagi ya, aku ingin nikmati bersama keluargaku," jelasku, mataku memejam nafasku berat, "Wassalamu'alaikum" tutupku, telfonnya ku matikan dengan sepihak.
Bukan aku melupakan Bagas, aku memang rindu suasana keluarga kecilku. Bahagia disetiap sela sela kelelahan, meski kini aku harus menerima cobaan yang sangat berat. Tatapanku kosong, memandang wallpaper ponselku. Foto pria yang aku rindukan, senyum manis yang ingin aku liat.
Mas, kapan pulang?.- Batinku
****
"Mama," ucap lirih anak laki-laki, mataku terbuka secara perlahan. Rasa kantuk mengerogoti badanku, "iya sayang, kamu lapar Nak ?" Tanyaku, dia hanya tersenyum lalu mengangguk cepat, "Baiklah, Mama buatkan makanan siangmu ya sayang."
Putra semata wayangku menungguku di depan televisi, aku menatap jam dinding, arah panah yang sudah berpindah tempat. Aku menghela nafas, tidak menemukan sosok yang aku rindukan di ruangan ini. Tanganku meracik bumbu untuk masak, mataku kembali mengeluarkan air mata, rasa sakit ini kembali hadir, bukan aku mengingatnya. Bayangkan, aku sudah mempersiapkan begitu banyak makanan, aku juga yang harus menikmatinya sendirian.
"Nak, makan dulu" ucapku, Ryan berlari kepadaku menatapku dengan manis, "sayang kamu telfon Papamu ya, biar pulang cepat" Ryan mengangguk, tangannya segera meraih ponselku dan menelfon Papanya.
"Iya Pa, siap hehehe" ucap Ryan, lalu menutup telfon. Ryan membuka mulutnya, untuk memberikan sesuap makanan.
"Papa pulang jam berapa ?" Tanyaku, lalu memberikan sesuap makanan di mulut kecilnya.
"Kata Papa, pulang sekarang" jawaban Ryan membuatku bahagia, aku tersenyum manis lalu menyuapkan makanan ke Ryan.
"Assalamualaikum," suara besar terdengar di pintu masuk, Mas Firman menatap senyum kepada kami, "Anak Papa, ini buat kamu sayang."
Ryan bahagia, mainan yang pernah dimintanya telah dibelikan. Aku tersenyum bahagia, jika Mas Firman sudah membaik dari kemarin.
__ADS_1
"Mas ? Aku siapkan makanan ya ?" Tawarku, kuselipkan senyuman manis untuk Suamiku.
"Aku sudah makan diluar," jawabnya dingin, aku tetap tersenyum. Mataku menatap tempat makan yang penuh makanan pagi tadi. Dia tak memandangku sama sekali, cobaan seperti apa lagi ini.
Memang aku harus habiskan ini dengan sendirinya.- batinku, air mataku menetes. Segera mungkin ku usap dengan cepat.
Mas Firman bermain dengan Ryan, aku memakan makanan tadi. Menikmati sendiri masakanku, aku harus bisa menghabiskan semua. Seketika, air mataku menetes begitu deras, sudah berapa piring yang aku santap. Hingga, perutku merasa ingin mual.
Aku hentikan makanku, aku bergegas masuk ke kamar membuat aktivitas hingga perutku sudah membaik.
"Permisi," suara dari depan pintu masuk, aku segera berlari menuju pintu masuk, "Pesanan" mataku menatap tak percaya, aku tidak memesan makanan apapun dari online.
"Oh iya, makasih" balas seorang pria yang mendesak maju untuk mengambil makanan, "iya pak" kata pengantar lalu pergi.
"Aku memasak kesukaanmu, kenapa memesan makanan ?" Tanyaku, tak ada jawaban yang aku dengar, dia tetap melanjutkan makannya, "Mas, jangan pura pura tuli."
Dia menghentikan makannya, matanya menatapku tajam. Rasa amarah terlihat diwajahnya, mataku menatapnya mulai melemah. "Kumohon kamu pergi, selera makanku mulai hilang" terangnya.
Seujung tombak telah menusukku, mataku tak mampu lagi menatapnya. Nafasku terhenti, tubuhku dingin, tanganku bergemetar. Mataku sudah berkaca-kaca, aku mencoba untuk tersenyum sekali lagi untuknya, berharap dia meminta maaf padaku.
"Kantorku mengadakan sarapan, makan siang di kantor. Jadi, kamu gak usah repot repot memasakanku." Aku tak bisa berkata apa-apa selain aku ingin pergi darinya, aku tak tahan dengan tombak yang diberikan. Aku bukan salah satu orang yang kuat, namun aku berusaha menjadi orang yang kuat.
Kakiku melangkah pergi dari Mas Firman, derai air mata mengalir begitu deras. Aku membuang sisa-sisa makanan tadi, aku harus ikhlas. Menikah muda tak segampang mereka fikir, aku cukup bersabar dengan semua ini.
*****
Buku kecil ku simpan rapi, tempatku membicarakan hati. Aku tau harus berbuat apa lagi, semua berjalan sesuai kehendak Illahi. Aku mengingat buku yang dibawakan teman SMPku, kisah tentang seorang wanita yang cukup sabar dalam mempertahankan hubungan. Bagian terakhir yang membuatku pernah menangis, satu tahun berjalan tanpa salam, sentuh, senyum dengan suaminya. Aku tak habis pikir, jika kisahku akan sama sepertinya.
__ADS_1
Tuhan memberikan banyak cobaan, Tuhan sangat hebat membolak-balikkan hati umat-Nya. Cobaan akan dihadirkan pada sepasang kekasih, cobaan tentang apapun. Yang memperlihatnya baik buruknya pasangan, jika salah satu meninggalkan maka dia paling terburuk.
"Atas nama-Mu, semua cobaan-Mu, baik buruknya hikmah-Mu. Hamba ikhlas" lirihku.