
Rasa gelisah terlihat jelas di raut wajah umi Firman, beliau sedikit tidak yakin dengan lamaran yang minggu lalu.
Mata beliau menatap wanita yang seumuran dengannya, rasa canggung dapat di lihat dari mata mama Hanum.
Umi melumati bibirnya sendiri, "Mbak," mata beliau menatap meja di depannya, "Gimana? Sama Hanum?."
Mama menarik nafasnya dalam, seakan jawaban yang akan diberikan tidak akan menyelesaikan masalah ini. Namun, hanya itu yang diterima olehnya.
"Soal itu, saya belum tau. Soalnya, sudah berapa kali saya tanya, Hanum hanya menjawab, kalau jodoh, pasti bertemu."
Umi tersenyum tipis, "Tolong, ya, Mbak. Untuk dikasih kepastiannya, tidak baik lamaran digantung sama jawaban."
Mama hanya tersenyum, ia sangat mengerti apa yang dirasakan umi.
"Kalau begitu saya pamit ya," kaki umi berdiri dari tempat duduknya, "Salam untuk Hanum."
Rasa kecewa yang didapat umi untuk anak laki-lakinya. Beliau tidak tau harus bagaimana, jalan pintasnya hanyalah bersabar dan menunggu.
*****
"Assalammualaikum, Ma."
Mama hanya menatap anak gadisnya pulang sekolah, "Wa'alaikumsalam, Nak. Kemarilah dulu sayang."
Hanum melangkah kecil menuju mamanya, wajah lesuh terlihat di lengkuk bola matanya.
"Nak, uminya Firman kemari," ucap mama. Tangannya sambari memegang erat anak gadisnya, perasaannya mengharap kepastian dari bibir putrinya.
"Ish," Hanum menatap tidak suka atas pertanyaan mamanya, "Hanum sudah bilang. Nanti, kalau Hanum berjodoh pasti ketemu."
"Gini aja," mata Hanum memutar menatap langit-langit rumahnya, "Kalau umi tanya gimana lamarannya, bilang aja. Kalau gak bisa nunggu, dibatalin saja."
"Nak!" Intonasi mama semakin tinggi, tingkah putrinya terlalu menyepelekan, "Ini soal pernikahan, bukan pacaran."
Kakinya beranjak pergi, "Hanum butuh sekolah, pengen kerja, bukan nikah. Lagian, umur juga belum menyukupi."
"Kamu bisakan? Bilang ke umi atau Firman untuk menunggu."
"Hanum capek, Ma. Please!."
*****
"Mi," panggil Firman, matanya tidak menemukan sosok uminya.
"Umi."
"Ya, Nak," balas umi, beliau tersenyum manis setelah keluar dari ruang dapur.
Mata Firman menatap lembut, "Mi, minggu depan. Firman kan lulusan, Firman keluar kota ya?."
"Nak," beliau menyerngit, "Jika kamu keluar kota, bagaimana dengan umi?."
Tampak jelas di raut wajah beliau, rasa khawatir terhadap anak laki-lakinya.
Firman tersenyum manis, tangannya beralih ke pipi uminya, "umi ikut Firman."
Tanda tanya besar berada di benak uminya, Firman menangkap apa yang di pikirkan beliau.
"Umi, masih memikirkan lamaran itu?," Beliau hanya terdiam, "Sudah ya mi, Hanum sudah memilih lelaki yang lebih baik dariku."
Air mata berderai di kelopak mata umi, hatinya begitu sakit tidak bisa mewujudkan keinginan putranya. Benar saja, hati Firman yang tadinya kuat kini runtuh seketika.
__ADS_1
"Maafkan umi, Nak. Umi belum bisa mewujudkannya."
Isakan tangis terdengar jelas di telinga Firman, "Umi. Aku tidak mengharapkan harus mewujudkan yang Firman mau," lirih Firman.
Berulang kali Firman mengusap air mata umi. Beliau begitu berarti, ia tidak ingin umi semakin merasa bersalah hanya seperti ini. Baginya, ini adalah masalah dirinya.
Tok.. Tok..
Mata Firman membulat, panca pendengarannya mengarah ke pintu rumahnya, "Firman lihat dulu ya, Mi."
Kakinya beranjak menuju pintu rumahnya, tangannya menggengam gagang pintu, menekannya kebawah.
Dia disambut senyuman indah dibalik pintu, wanita yang selama ini telah ditunggunya.
"Assalammualaikum," salam lirih gadis itu.
"Waalaikumsalam," matanya menelusuri lengkukan wajah gadis itu, "Silahkan masuk, Hanum."
"Hmm," gadis itu tersenyum paksa di raut wajahnya, "Nggak usah, disini aja."
Hanum menatap tajam laki-laki yang melamarnya minggu lalu, "Fir, untuk jawaban lamaranmu. Aku belum tau pasti, ku harap kamu mau menunggunya."
Entah. Tekad, serta perasaan Firman kini kembali ke semula. Rasa bahagia terukir di wajahnya, meskipun ini tidak melegakan hatinya.
"Aku akan tetap menunggu. Jika kamu tidak mau, tidak apa-apa."
Gadis itu menundukkan kepalanya, ia tidak tau apa yang dilakukan lagi.
"Ngobrol sebentar, yuk," tawar Firman, ia memberikan sedikit bonus senyuman untuk gadisnya.
Ia mengangguk, lengkungan senyumnya menimbulkan bulat di pipinya. Sudah lama Firman merindukan kisah ini, tertawa bersama, bercerita.
Kerinduan masa dulu kini memeluk benak Hanum dan Firman. Mereka merindukan sosok orang di depannya seperti dulu, jarak mereka kemarin hanya suatu penghalang bagi Firman.
Kemeja putih telah menempel rapi di tubuh pria yang sejak tadi masih membenarkan kerah kemejanya. Jas hitam terkancing begitu rapi di kemeja dipakainya, senyuman manis sebagian bonus dari pantulan bayangannya.
Ini yang dinanti, kelulusan sekolahannya dan juga jawaban dari gadisnya. Sudah lama ia menunggu, dan ini adalah hari yang tepat baginya.
Firman duduk di antara para sahabatnya, senyum indah melukis di wajah pria itu. Bola matanya menuju ke arah gadis cantik di ujung panggung, baju warna hijau toska begitu cocok di kulitnya.
Siswa-siswi sudah terpanggil di atas panggung, tinggal dua nama orang lagi untuk namanya disebut. Rasa gemetar menyelimuti tubuh Firman, peluh keringat membasahi pelipisnya.
"Firman Firmansyah."
Kakinya beranjak dari tempat duduknya, senyuman percaya diri sudah terpancar mulus. Ia menjadi sorotan bagi wanita di sana, kakinya melangkah dengan tegap dan begitu gagahnya.
Kakinya menelusuri tangga kecil di samping panggung, senyuman manis terlontar di wajahnya. Di pikirannya sekarang ini, hanyalah menunggu jawaban gadis dicintainya.
Penghargaan dan kenangan kecil tergenggam erat di tangan Firman. Hatinya berdegup begitu kencang, setelah namanya disebut ada gadis dicintainya menaiki panggung.
"Siti Hanum Anggraini."
Senyum malu, itu yang terlintas di wajah Hanum. Langkah kaki yang anggun, memikat pandangan seisi ruangan itu untuk menatapnya.
Kakinya yang memakai sepatu tinggi sekitar 4 cm, membuat langkahnya semakin pelan dan anggun. Senyum manis terlintas, pandangan yang gugup tak luput darinya.
"Hanum," teriak seorang pemuda, ia tak kalah menjadi sorotan bagi wanita.
Hanum menoleh, "Ada apa?."
"Hmm, di sini saya akan bicara," Pria itu mendekati Hanum, tangannya menggenggam begitu erat, "Hanum, sawf tatazawajani?"
__ADS_1
*Note : Sawf tatazawajani \= maukah kamu menikah denganku.
Bagai tersambar petir di siang bolong, bagi Hanum dan juga Firman. Mereka sama-sama kaget dengan Bagas yang lakukan, namun tidak berarti sama.
Hanum tersenyum manis, lalu mengangguk kecil. Ia merasakan kebahagiaan tiada duanya, ia dilamar oleh pria yang dicintainya.
Tidak dengan Firman, hatinya patah dan rapuh. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergemetar. Pita suaranya seakan hilang mendadak, ia tidak bisa menghentikan semua ini.
Kakinya beranjak begitu keras, hatinya seakan tertusuk tombak begitu banyak. Cemburu, kecewa, marah beraduk menjadi satu. Ia tak sanggup menatap tontonan yang menyakitkan itu, ia memutuskan untuk pergi dari acara itu.
Sedangkan Hanum masih terseyum bahagia, ia sempat lupa dengan pria sesudahnya. Pria yang melamarnya, yang menunggu jawaban darinya.
"Nak," panggil mama di kursi yang tak jauh ia duduk.
"Iya, Ma?"
"Bagaimana dengan Firman, Nak?"
Senyumnya memudar seketika, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia lupa dengan apa yang dia janjikan, Hanum begitu cemas dan takut.
"Dia dimana?"
Ia berlari meninggalkan acara itu begitu saja, banyak mata yang memandanginya. Rasa menyesal telah menyelimuti tubuhnya.
"Firman, Firman," teriak Hanum, kakinya masih menelusuri seluruh penjuru sekolah.
Matanya tidak menemukan orang yang diinginkan, bendungan air matanya pecah. Kini tinggal kesalahan yang mengutuknya, ia begitu bodoh.
"Jangan menangis," Hanum menoleh ke sumber suara, "Kamu tidak salah, aku yang salah."
Senyuman terpaksa terlintas di wajah pria itu, tangannya berulang kali mengusap wajahnya. Ia tidak menyangka akan seperti ini, rasa kecewa dan sakit.
"Maafkan aku."
"Buat apa?," Firman mengangkat kedua alisnya, "ini sudah terlanjur."
"Aku," matanya berkaca-kaca, gadis itu menundukkan kepalanya, "A-ku, su-dah, me-nya-ki-timu."
"Aku sudah cukup sakit num, dari dulu aku sudah merasakan sakit ini. Kau tau? Seberapa aku belajar untuk tegar tanpamu, melihatmu bahagia bersama orang lain, itu menurutku sulit untuk menerima kenyataan. Dan sekarang, luka apa ini yang kau perbuat? Luka apa yang barusan kamu gores? Luka apa, Hanum? Katakan."
Isakan tangis yang didengar oleh Firman, ia sangat ingin memeluk gadis itu. Tetapi, ia sangat terluka kepadanya.
"Jika memang kau tidak pernah, atau sama sekali tidak mencintaiku. Jangan pernah memberiku suatu harapan, yang membuatku kini bertahan dalam luka yang cukup dalam. Aku ingin menghalalkanmu, dan benar-benar, ingin jadikan kau istriku."
Lidah gadis itu seketika kaku, matanya berkaca-kaca, perasaannya kacau. Rentinanya masih menatap laki-laki di depannya, ia tidak tau harus berbuat apa setelah ini.
Laki-laki itu menghempaskan nafasnya dengan kasar, "Jika maafmu itu dapat mengubah segalanya, aku ingin buat rasaku kepadamu hilang. Lenyap, hingga tak ada yang tersisa," bola matanya menaik, berusaha tidak menjatuhkan air mata, "Tapi sayangnya, maafmu hanya menambah luka. Dan, ku mohon pergilah."
Langkah kakinya gamang, pria itu berusaha untuk baik-baik saja. Perasaan itu hancur, menurutnya semua harapannya telah hilang, lenyap.
Gadis itu masih di lumuri kesedihan, ia tau apa yang dirasakan orang yang ditolaknya. Tapi, ia tidak menginginkan pria itu untuk menemani hidupnya.
Tak bisa lagi untuk memperbaiki, ini hal buruk yang Hanum lakukan seumur hidup. Cacian apa yang pantas untuknya saat ini, kesedihan teramat dalam.
*****
Badannya tergelempang di atas kasur miliknya, pria itu tersenyum kecewa. Otaknya masih mengingat begitu kejam dunia kepadanya, air matanya berderai begitu deras.
Laki-laki tidak boleh menangis. Pendoman itu seakan tak mampu membuatnya untuk memperhentikan air matanya, bukan penyesalan melainkan kecewa.
Keyakinan yang ia buat, tekad yang begitu bulat. Kini telah hancur berkeping-keping, orang yang ingin dinikahinya di pelukan orang lain.
__ADS_1