
Aku sudah selesai mandi, mataku melihat firman sedang marapikan rambutnya. Aku hanya tersenyum tipis, sambil menyisir rambutku yang ingin ku kuncir.
"Kita keluar berdua ? Atau bersama Ryan," ucapku seraya merapikan lipstik dibibirku, "jika bersama Ryan aku akan memakai celana."
"Pakai saja longdress merah yang pernah ku belikan, itu pasti cantik untukmu." Ujarnya, dengan merapikan bajunya.
"Yang mana ? Aku tak pernah melihat warna itu," dahiku mengkerut "almariku tak ada warna merah ?"
Dia melangkah menuju almari kita, tangannya menggayuh baju di dalamnya, "nah, ini yang ku maksud."
Mataku terbelalak, melihat longdress yang cantik di tangan suamiku. Warna merah dan berseling warna hitam di sampingnya, membuat baju itu terlihat elegan.
"Kapan ..." Aku tersenyum tipis, "aku memiliki baju se-elegan itu."
"Kemarin, aku iseng - iseng memasuki toko baju, keinget kamu, ya, aku belikan," tuturnya dengan manis, "kamu suka dengan ini ?"
"Yes, I like it."
Pakaian indah sudah menempel di tubuhku, aku tak bisa membohongi lagi, wajahku berseri - seri kebahagian melihat gaun ini. Begitu cantik, dan begitu cocok padaku.
"Selesaikan dandanmu, kita akan segera pergi sayang." Katanya, lalu terselip senyum manis untukku.
...*****...
Aku sudah siap sekarang, pakaian indah ini, make-up ku, dan juga jilbab yang menutupi rambutku.
Sedikit tersenyum, itu akan menghapus lukamu sayang.- batinku, menyemangati diriku sendiri.
Drett .. dret..
Layar ponselku menyala, tertera nama Bagas didalamnya. Aku tidak tau pasti, kenapa dia menelfonku sepagi ini.
"Hallo," sapaku di telepon.
"Apa kau ada dirumah ? Aku ingin berjalan denganmu," ujarnya, dalam telepon.
"Maaf Bagas, aku tak akan bisa untuk hari ini, aku menyibukkan diri untuk keluargaku, sudah ya."
"Dia sudah menjadi seorang penguntit saja." Hujatku dengan lirih, ya bagaimana memang dia sudah menjadi seorang penguntit, dimana aku ada pasti dia ada.
Kakiku menuruni tangga rumah ibuku, ibuku tersenyum manis melihatku menuruni tangga. Suamiku juga tersenyum begitu manis melihat, tak juga anakku dia ikut serta mereka. Entah, kenapa mereka melihatku seperti itu, aku tak semenarik itu kan?
"Kamu begitu cantik anakku," ucap ibuku yang menghampiriku di ujung bawah tangga, "betapa anggunnya, kamu Nak."
"Apa sih ma ? Aku biasa saja pakai baju ini, hehehe. Lagian baru kali ini aku memakai baju se- elegan ini." Ucapku.
Firman kembali tersenyum, wajahnya berseri begitu indah. Aku baru saja melihat suamiku setampan ini, dan baru saja aku melihat suamiku seperti umur 28 tahun saja, padahal dia baru memasuki 23 sama sepertiku.
"Kita keluar tanpa Ryan ya ?" Ujarnya dengan tersenyum.
"Kenapa ?" Jawabku, mataku melirik ibuku yang berada tepat di depanku.
"Sudahlah Nak, Ryan ditinggal saja. Kamu bersama Firman, sudah bertaun taun kamu belum keluar berdua dengan Firman," ucapku ibuku, beliau memegang tanganku, mengecup pipi kiriku, "dia akan menjagamu."
"Baiklah Ma, aku keluar dulu ya," jawabku, lalu melangkah pergi, "Ryan jangan nakal ya," ucapku, sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
"Iyaa Ma," ucap Ryan dan membalas lambaianku.
...******...
Mataku memandang cuaca malam itu, bibirku tersenyum tipis. Mencium setiap bau parfum suamiku menyebar di sekeliling dalam mobil, aku belum pasti yakin, dia akan membawaku kemana. Tapi, pasti ini bukan hal yang sederhana, dia suka dengan teka tekinya.
Lebih baik aku bicarakan ini.- batinku
"Mas, aku boleh bertanya ?" Tanyaku dengan pelan.
"Katakan saja, apa pertanyaanmu akan aku jawab," jawabnya sambil melirikku, "kau kan slalu menjebakku dalam kata katamu dan perkataanmu."
"Hmm .." bibirku membukam beberapa menit, "benar kau merelakanku dimiliki Bagas ?" Tanyaku, tanganku bergemetar, tatapanku tak sefokus tadi.
"Dengar, aku pernah mencintaimu bahkan ingin menikahimu, walau ku tau, kamu akan memilih Bagas dari pada aku. Aku tau soal itu, aku hanya menyiapkan hati, jika nantinya Bagas kembali, memintamu untuk kembali, mungkin saja aku akan menyerahkannya. Tentu saja, itu semua tergantung darimu, kau mau hidup dengan siapa saja, itu suatu keputusanmu." Terangnya, sebenarnya aku benar benar ingin menangis mendengar jawaban yang tidak memuaskanku ini. Tapi ? Bagaimana lagi ? Apa yang dikatakan semua real story tak ada yang di bohongi lagi. Jika aku mengelak maka aku tak punya alasan, mengapa dia mengatakan semua itu benar benar salah.
"Kenapa kamu tidak berusaha mendapatkanku ? Bukankah kamu tidak ingin kehilangan aku kedua kalinya." Terangku, dia tersenyum. Aku belum bisa menerkam pikirannya, sulit aku membaca pikiran orang sesantai ini. Bibirnya masih membungkam, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Dahiku mengerut, dia memandangiku dengan tersenyum lagi.
"Kamu benar benar menyerahkan orang yang menemani hampir 4 tahun ini ?," Pertanyaanku terlontar kembali, dia hanya menggeleng pelan.
Apa maksudnya ? Dia merelakan ? Apa dia menjagaku ? Apa maksudnya ?.
"Bisa dijelaskan ?" Pintaku, menatapnya lebih dalam
"Pertanyaanmu terlalu cukup ditanyakan sayang, kau tau ? Terkadang bunga cantik ditaman belum tentu kita bisa memetiknya. Bunga itu ada yang memiliki, ya tukang kebun di taman. Tapi apa dia slalu mengawasi tanaman bunga itu setiap harinya ? Enggak kan sayang. Nah, semua itu tergantung bunganya, jika memang tidak ingin dipetik, di petik apapun dia akan patah, jika memang dia rapuh, belum dipegangpun dia akan sudah mau dipetik. Kamu pernahkan memetik bunga namun sulit ? Itu yang aku perjuangkan." Jelasnya, dengan panjang lebarnya. Aku tak bisa berkata kata kembali, aku tetap mengulang kata kata itu di otakku, dia tak pernah bicara seperti ini. Jika dia marah dia akan mengatakan marah, tanpa harus mengibaratkan sepanjang lebar seperti ini.
"Sudah sampai," ucapnya lalu memandang manis padaku, "tenang, semua takkan ku biarkan."
Dia turun dari mobil, mataku menatap tubuhnya berjalan menuju pintuku. "Silahkan sayang." Ucapan sangat manis ditelingaku, aku beranjak keluar dari mobil, tangannya mengandengku dengan erat. Mataku menatap bangunan tinggi yang berada di depanku, tertera tulisan Hotel Spileave. Entah, aku belum tau tentang hotel ini, baru kali ini dia mengajakku disini. Tangannya masih menggenggam erat tanganku, aku berkali kali tersenyum melihat karyawan berbalik tersenyum padaku.
Di ujung ruang tunggu, seorang pria yang ku kenal berada di sana. Bersama dengan keluarga kecil mereka, aku tidak mengkhawatirkan tentang itu.
"Aaa!!!"
Badanku berbalik, menatap seorang anak kecil kesakitan, dan dibantu oleh ayahnya. Anak kecil itu menangis begitu keras, sedangkan ayahnya seakan tidak senang dengan tingkah putranya. Aku hanya menatap kasian, seorang bapak begitu terlihat tidak menyukai anaknnya. Aku kembali menatap repsionis hotel, Firman tersenyum setelah mendapat kunci kamarnya. Aku tersenyum manis memandang suamiku begitu bahagia, meskipun aku belum tau alasannya apa.
Kami berdua menaiki left, tanda panah menunjukkan naik ke lantai 7, betapa jauhnya kami memesan tempat tidur. Suamiku sering merangkulku, dan menyuruhku untuk mendekat padaku. Pintu left sudah terbuka, aku butu buru kelur dari left memandang nomor kamar yang kami pesan.
"Tutup matamu," ucapnya, lalu tangannya merogoh saku yang berisi kain penutup mata, "ada supraise untukmu."
Mataku di tutup oleh kain, tanganku menggengam erat tangannya. Aku hanya diam tanpa berkutik, tiba-tiba saja dia mengangkat tubuhku menuju kamar atau apalah itu aku tak bisa melihatnya. Detukan kaki terdengar keras di telingaku, Firman sering mencium keningku, dan mengatakan Bahagialah denganku sering kali terdengar lirih ditelingaku.
Kamar mewah berhiaskan warna merah, seakan menggugah seleraku untuk memasuki kamar itu. Aku tidak terlalu yakin pasti, jika kamar ini menggambarkan pengantin baru. Bunga mawar tersebar di depan pintu masuk, pengharum ruangan yang sangat indetik membuatku ingin mencium harumnya. Mataku mengelilingi setiap sudut kamar, menatap begitu indahnya kamar itu di hias hingga sedemikian rupa. Tempat tidur yang cantik, bunga mawar terhias di bawahnya. Aku tersenyum manis, menatap setiap hiasan yang ada di depanku. Vas yang berada di kamar ini, diisi dengan bunga mawar. Sudah ku bilang, semua didekorasi serba Red Color.
"Apakah kau suka ?" Akhirnya, bibirnya membuka untuk menghentikan kegagumanku ini.
Aku meliriknya pelan, rasa bahagia tak tertahankan. Terlihat jelas di bola mataku, "Aku sangat menyukainya."
"Aku harap, hatimu tak semakin luka menatap ini," ucapnya dengan manis, matanya tertuju di foto yang sudah terpasang tembok, di atas tempat tidur, "Aku tau segalanya, namun aku mencoba membuatmu ingat."
Dahiku mengerut, senyumku miring. Seolah katanya membuatku tersadar adanya Bagas di kehidupanku, "Sebentar, bisa dijelaskan," aku pura pura tak tau, meski aku tau, "Bisa kau jelaskan ?."
Dia tersenyum tipis, matanya menatapku dengan lembut, terlihat dia begitu menyayangiku dari bola matanya, "Dengar, aku hanya mencintai satu orang. Jika ada seseorang bersama orang ku cintai, maka aku gagal membuat dia bahagia," paparnya, dia tersenyum hangat, tangannya menggandengku dengan pelan, "Jika memang dia tak bahagia, aku akan membuatnya bahagia."
"Jika, orang yang, kau cintai, pernah terluka dengan sikapmu ?" Tanyaku dengan rasa gugup dan takut, berharap dia untuk mengerti.
__ADS_1
"Sikapku yang mana ? Bukankah sepasang suami istri saling mengerti ?" Jawabnya, aku mengangkat kedua alis, nafasku berat mendengar jawabnya.
"Kenapa cara bicaramu berbeda ? Apakah kau harus pura pura mengikhlaskanku di hadapan orang lain ?" Tegasku, dia membungkam. Aku tak tau, dia memikirkan apa tentang ucapanku tadi. Yang terpenting, aku sudah merasakan sakit setelah mengungkapkan ini.
Aku melangkah maju jauh darinya, melepas genggaman yang mulai pudar eratannya. Mataku menahan tangis, aku tak ingin dia kembali lolos dari mataku. Aku terdiam si ujung sofa, menatap bunga mawar yang aku sukai. Dia masih di depan pintu, dia sama sekali tak bergerak.
Aku menghela nafas, tanganku bergemetar. Rasa sakit ini perlahan menusuk hatiku, lemparan lemparan kata yang dia ucap kembali teriang di otakku. "Kenapa ucapanmu begitu tinggi seakan akan kau sangat takut, dan pada akhirnya di depan orang kau begitu menyerah tanpa ada resah," ungkapku, dia tetap terdiam, "Berjanji memang tak semudah melakukan, setidaknya kau menyesuaikan bicaramu dan sikapmu."
Dia berjalan menujuku dengan pelan, menatapnya aku sudah tak segan lagi, luka ini bertubi tubi. "Aku hanya takut kehilanganmu, aku hanya butuh waktu untuk bisa menyakinimu dan bisa memilihku," kini dia mengangkat suaranya, aku menelan salivaku, aku mencoba tersenyum, "Jika memang aku bukan yang kau pilih, aku akan pergi." Dia mengangkat suaranya lagi.
Dentuman keras di otakku, sakit itu belum juga sembuh, namun diberi luka kembali yang lebih sakit lagi. Aku merasa menyesal, dia yang membimbingku berapa tahun ini, tiba tiba berubah dengan sosok seorang pria yang putus harapan.
Aku benci ! Aku sangat benci ucapan itu. Aku tidak ingin melihat orang, terlalu ingin membuatku terpojok. Ucapnya untuk pergi, membuatku terpojok seakan akan aku salah menaruhnya di posisi ini.
"Dengar, aku tak tau apa yang harus aku bicarakan lagi. Aku terlalu sakit, aku bersalah manaruhmu di posisi ini, yang harus menuntun untuk berusaha membahagiakanku. Aku kecewa, katamu pergi membuatku terpuruk, jika saja aku tau semangatmu tak seimbang dengan dulu, mungkin, hari ini aku masih sendiri. Aku tidak menyuruhmu, bertahan bahkan harus membahagiakanku. Aku hanya butuh sosok orang, yang mampu mengertiku, memahamiku, bersabar dengan sikapku. Meski empat tahun berjalan, aku tak pernah melihatmu seputus asa ini. Aku kecewa, melihat seorang pria yang membuatku bahagia, harus menanggung rasa bimbang dihatinya." Ucapku dengan gemetar, bibirku kaku. Aku meneteskan air mata, perasaan benci, kecewa, sakit, mencampur jadi satu.
Aku tak tau harus bicara apa lagi, derai air mata semakin membanjiri pipiku. Dia hanya menundukkan kepalanya, dia tetap berdiri tepat di depanku, tanpa sepatah katapun dia ucapkan. Kami terdiam mematung, aku meneratapi kejadian ini, kenapa harus ada cobaan sehebat ini.
"Aku butuh waktu num, kamu juga butuh waktu."
Badannya membalik, langkahnya pergi meninggalkanku. Harus bagaimana lagi, dia memutuskan semua masalah ini sendiri.
*****
Mataku masih berkaca kaca, aku belum tau maksud dia kenapa harus mengatakan setinggi langit, dan pada akhirnya harus jatuh juga. Ruangan ini sudah menjadi saksi, aku bingung harus berbicara tentang soal ini. Aku terlalu rapuh, terlalu sakit, jika harus berhadapan dengan soal memilih hati.
"Aku lebih baik pulang" pikirku, mataku menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam.
Aku tidak mungkin menelfon Firman, disaat dia memutuskan untuk sendiri. Ku fikir lebih baik aku akan memesan taksi, aku ingin tempat yang lebih sederhana untuk meluapkan segalanya.
Aku kini sudah keluar dari hotel itu, bergegas menaiki taksi yang sudah ku pesan. Pikiranku aku hanya ingin pulang, bertemu dengan anakku, dan aku hanya ingin berhenti meresapi sakit ini.
Suasana malam ini, membuatku merasa tak berguna. Firman memilih untuk tidak bertemu denganku, aku tak bisa harus dengan rasa sakit ini. Aku juga tak ingin melibatkan anakku masalah ini, entah bagaimanapun caranya, aku harus bisa menyembunyikan rasa kecewa ini.
"Mbak, berhenti dimana ?" Tanya sopir taxsi, memecahkan lamunanku.
"Disini pak," jawabku, sambil memberikan secarik kertas, "nanti pagar hitam berhenti ya pak."
******
Mobil taksi tepat di depan rumah ibuku, aku tersenyum manis. "Berapa pak ?," Tanyaku, sambari melihat dompet di tasku. "22 ribu bu," jawab beliau.
"Ini pak" tanganku mendorong kedepan, memberikan selembar uang.
"Makasih mbak"
Kakiku turun dari mobil taksi, air mataku berulang kali ku usap usap, sejak tadi aku ingin menangis, bagaimana tidak ? Aku belum bisa melupakan rasa sakit ini.
"Assalamualaikum" salamku dari luar pintu, sambari mengetuk pintu.
"Waala'akumsalam," jawab wanita paruh baya, matanya menantapku kaget, terlihat jelas saat memandangku pulang hanya sendiri tidak bersama suamiku, "Firman kemana nak ?"
Aku tak menjawab sepatah katapun, badanku menerobos masuk dalam rumah. Aku begitu rapuh, hingga tak mampu berkata apa apa. Langkahku menuju kamar, aku tidak melihat anakku, pasti dia sudah tidur. Tanganku meraih gagang pintu kamarku, air mataku jatuh perlahan. Aku masuk kedalam kamar, dan kini, aku menangis dengan lirih.
"Aku tak bisa menahan ini sendiri, aku harus berusaha. Semangat Hanum." Aku bersemangat, menyemangati rapuhnya aku tentang ini. Sungguh aku takut, tak bisa dibayangkan kembali jika nasibku akan serumit ini.
__ADS_1
"Aku ikhlas Ya Allah" lirihku