
Sudah satu minggu berjalan, Mas Firman tetap sama, acuh denganku seakan aku tak hadir di keluarga ini. Sakit ? Itu yang aku rasakan, aku tak percaya jika dia akan sekejam ini, bukan kejam mungkin dia tak ingin kehadiranku lagi. Tapi, ya sudahlah aku harus mempertahakan ini, meski bukan demi Suamiku setidaknya demi Anakku.
Setiap pagi aku hanya menyiapkan makanan Anakku, aku ingin menangis saat menatap Anakku, aku takut dia akan sepertiku, hidup tanpa seorang Ayah. Aku tak ingin anakku merasakannya, biarlah aku saja merasakan tanpa dekapan ayah.
"Nak, kamu memikirkan apa ?" Tanya seorang yang ada disampingku.
"Ma, aku rindu ayah" jawabku, air mataku kembali lolos.
"Kenapa tiba-tiba kamu seperti ini Nak ?," Tatapan ibuku sudah mulai melemah, beliau tak bisa menahan tangisannya, "Ayahmu sangat merindukanmu Nak," tangisanku dan tangisan ibuku menjadi satu.
"Sudah Nak, beruntunglah kamu memiliki Firman yang menyayangimu selayaknya ayah bagimu," ucap beliau dengan terbata bata, karena menangis, "Kamu sudah merasakan sakit, banyak cobaan bersamamu. Mama harap, itu bisa memberimu pelajaran agar tidak terulang kembali."
"Ma, kenapa Ayah meninggalkan kita" kenapa pertanyaan itu, dengan spontan terlontar di bibirku. Beliau hanya tersenyum manis, mencium keningku dengan pelan.
"Mungkin ini sudah waktunya kamu tau segalanya Nak," ucap ibuku, dengan isakan tangis, "Mama sama Ayahmu dulu keluarga yang sangat bahagia," ujarnya, sambari dengan senyuman, "Dulu Ayahmu sayang sama Mama, selalu mengerti apa yang Mama pengen, cuman Mama ragu untuk berbicara."
Air matanya menetes, berkali diusapnya, "Ayahmu itu baik, pekerja keras, Ayahmu selalu memikirkan bagaimana membahagiakan Mama," terang beliau, Ibuku menarik nafas panjang, "Kami juga nikah muda sepertimu, Ayahmu menikahi Mama ketika berumur 21 Tahun, sedangkan Mama berumur 19 Tahun," jelasnya, setiap ceritanya beliau terlihat hancur.
"Mama memutuskan untuk kuliah, dengan biaya Nenekmu. Akhirnya, Ayahmu hanya mencari uang untuk makan saja. Ayahmu hebat, dia tak kenal lelah, selalu ingin membahagiakan Mama," jelasnya, sambari tersenyum lembut, "Namun, Ayahmu belum siap menjadi Ayah. Dan saat Mama mengandungmu, Ayah berusaha mencari cara agar bisa menghidupi kita. Hingga sampai, kamu terlahir didunia ini."
__ADS_1
"Ayahmu memutuskan pergi karena, dia tak sanggup membahagiakan kita. Sedangkan Mama, tidak terlalu mempermasalahkan ini semua. Hingga, Ayahmu menceraikan mama," jelas beliau, air matanya mulai deras, "Mama dulunya tak percaya, secepat ini pernikahan Mama. Sampai akhirnya, kamu Mama titipkan ke Nenekmu, sampai Mama benar benar bisa membuatmu bahagia. Sampai kamu sudah menikah, sebenarnya Mama khawatir tentang pernikahan mudamu Nak, namun Allah berkehendak lain, Allah mendekatkan orang yang pantas untukmu," paparnya, ibuku mengelus rambutku, "Pesan Mama, seegois Firman maupun kamu, jangan sampai memilih berpisah. Kalian berkeluarga bukan lagi cinta monyet, kalian memiliki Anak yang harus bahagia dan tau rasanya kasih sayang lengkap."
Mataku berkaca-kaca, menatap ibuku begitu kuat menghadapi semua cobaan. Beliau hanya memikirkan Anaknya, dari pada harus berhubungan lagi dengan yang lain. Aku terlalu lemah, tak sekuat ibu. Namun aku harus bisa, mempertahankan ini semua meski rasanya begitu sakit.
*****
Sejak tadi, perutku terasa ingin mual mual, entah kenapa tiba tiba saja aku merasa tak selera makan, "Kenapa ya?" Lirihku, sambari mengelus perutku.
Aku menatap pantulan bayanganku, tampak seperti biasanya. Namun, wajahku begitu pucat. "Apa jangan-jangan aku ?" Tanganku meraih laci dekat kaca di kamarku. "Untung aku masih banyak cadangan ini," bisikku pada diriku. Kakiku melangkah menuju kamar mandi, hatiku bergetar.
"Aku hamil," ujarku dengan terkejut, menatap dua garis berada di tespack milikku. Rasa bahagia terdapat di hidupku, pikirku mungkin aku akan memberi tahu ini kepada Mas Firman, dia akan kembali seperti semula. Langkahku bahagia, mataku tetap menatap tespack yang aku pegang. Aku berlari kecil mencari kertas dan pulpen, tulisan rapi tertulis di kertas ini, ku selipkan tespackku di sana. Kubawa kertas kecil itu di tempat dia menaruh tas kerjanya, aku harap ini hal bahagia untuknya.
"Mas, mau makan ?" Ucapku lembut, dia memandangku lalu menggeleng berat. Tangannya meraih kertas kecil di atas meja yang sering dia meletakkan tas kerjanya, matanya membulat menatap tespack terpapang di atasnya. Kenapa hatiku takut seperti ini, tanganku bergemetar, panas dingin menyelimuti badanku.
"Kamu hamil ?" Tanyanya, aku hanya tersenyum manis mengiyakan pertanyaannya, "Anak siapa ?" Tanyanya kedua kali, benar saja ini sungguh menyakitkan, aku sama sekali tak bersetubuh dengan orang lain. Dan, semudah itu dia mengatakan pertanyaan gila itu, "ini anak kita Mas," jawabku dengan senyuman tipis, sungguh aku berharap dia percaya denganku. "Aku tidak ingin memiliki anak yang bercampur tangan dengan orang lain," dia melangkah pergi meninggalkan kami, rasa tidak suka terdapat diwajahnya, aku tak bisa menjelaskan bagaimana lagi patahnya, sakitnya perasaanku.
****
Sejak kejadian itu, Mas Firman tak pernah tidur bersamaku. Dia slalu tidur di depan tv, aku menatapnya dengan sedih. Betapa tak percayanya dia atas diriku, aku harus apa agar dia mempercayaiku. Air mataku mengalir begitu deras, tak siapapun yang tau tentang kehamilanku kecuali Mas Firman dan aku. Aku mengelus buah hati yang ada diperutku, aku slalu mendoakan semoga Mas Firman cepat sadar dan menerima semuanya.
__ADS_1
Seperti biasanya, dia semakin dingin padaku. Dia menatapku dengan tajam, dan memandang anak yang ku kandung dengan benci. "Sungguh demi Allah, aku tidak bersetubuh dengan siapapun selain suamiku," batinku dengan menjerit, aku tak mampu menahan tangisanku. "Mas, bisakah kamu antar aku ke bidan ?" Pintaku, mataku menatapnya lembut, "Kenapa aku ?" Wajahnya terlihat semakin marah denganku, aku berusaha bersabar. "Ya sudah, aku akan ke bidan sendiri."
Aku merapikan bajuku, bersiap siap untuk ke bidan bersama taksi online yang aku pesan. Aku tersenyum saat mengelus perutku, aku begitu bahagia meski tak sepenuhnya. Aku memasuki taksi, mataku menatap perut kecilku, lengkungan senyum selalu terlintas diwajahku.
Bersabarlah nak, papamu akan menerimamu sayang.- batinku penuh resah, aku tak habis pikir dengan kejadian kemarin lalu. "Pak, habis ini berhenti ya," pintaku lembut, tanpa berkatapun beliau sudah mengiyakan permintaanku tadi. Bidan dan rumah ibuku agak jauh, baru kali ini aku priksa tak bersama suamiku. "Sudah sampai bu," kata supir taksi, menatap kaca di dalam mobil, "Oh baik pak, berapa ?" Tanyaku, lalu merogoh tas kecilku. "12 Ribu, Bu" tanganku langsung memberikan ongkosnya, dan segera turun.
Badanku memasuki klinik untuk ibu hamil, wajahku bersinar menatap alat cek kadunganku. Sudah lama, aku tak melihat alat itu. Tubuhku terbaring di kasur yang sudah disiapkan Bu bidan, senyum manis terukir di wajahku. Bu bidan memandangku dengan bahagia, "Alhamdulillah, usia kadungan ibuk 5 hari, mari buk duduk disana saya akan berikan buku panduan." Aku berdiri dan segera beralih ke kursi yang disediakan, "Bu, berapa kali saya akan priksa kadungan saya ?" Tanyaku, menatap buku panduan yang disodorkan padaku, "1 bulan sekali bu, lebih baik disaat bersama bapaknya. Jadi, jika ada sesuatu bapaknya bisa mengerti." Jawabnya, mataku menatap buku panduan, ini kehamilanku kedua.
"Jaga kesehatan, makan porsi yang cukup, disitu ada tanggal cek kandungan ya bu. Semoga sehat selalu dedeknya."
"Iya dok terima kasih," ucap terakhirku, aku segera pergi dari klinik itu, lalu memesan taksi untuk menjemputku.
******
Aku sudah berada di rumah, Mas Firman sudah berangkat kerja. Ryan bermain dengan neneknya, suasana menjadi hening. Foto pernikahanku dengan Mas Firman terpasang rapi di dinding, begitu lucunya aku pingsan gara-gara dia memanggilku ibu mertua. Tanganku mencari buku diary yang slalu ku simpan, kebahagiaan ini akan aku sampaikan dengan diaryku.
Anugerah Allah datang secara tiba-tiba, memberikan cerita baru, kebahagiaan baru, dan harapan baru. Aku harap Anugerah ini, membuatmu kembali seperti dulu Mas :)
~Diary Siti Hanum Anggraini~
__ADS_1