
...Rumah sakit...
"Bagaimana hasilnya? Dia nggak perjaka kan? Aku yakin." Suip hanya memberikan secarik kertas atas hasil yang ditunggunya, tangannya menggenggam erat kertas yang diberikan. Matanya meneliti setiap print tinta hitam itu. "Apa?" Mata Hanum terbelalak, "Ini pasti bohong!." "Ini benar terjadi!" tegas suip pada Hanum.
Flashback on
"Kita mau kemana bagas?" ujar fatimah seraya menggandeng tangan bagas.
"kita mau ke markas kamu ikut nggak? Kalau nggak aku ajak kamu pulang" ujar bagas, yang memperhatikan setiap lengkuk tubuh fatimah.
"Ikut aja deh" ujarnya, fatimah mulai menempel dengan bagas "kita sudah sampai" ujar bagas seraya keluar dari mobilnya.
"Hay bos! Eh loh kok ada fatimah juga?" ujar suip "ya dia mau ikut katanya?" jawab bagas, fatimah dan bagas mulai duduk disamping mereka yang sedang mabuk.
"Sini fatimah deket sama abang" ucap rey, fatimah hanya tersenyum.
"Loh, mah kok pake beginian? Mau goda kita ya?" ucap suip memandangi setiap badan yang tidak dilapisi kain itu, siapa yang tidak akan tergoda badan kecil tingginya 170cm dengan celana hotpen dan baju kemeja yang ketat tanpa kancingkan dan didalamnya ada baju tengtop dan itu pasti melihatkan yang terbentuk dalam badannya.
"Minum dulu dong," tawar rey, "asyik juga" ujar fatimah, mengambil 1 gelas tanggung full.
"Eh ternyata doyan tuh fatimah" ujar suip sambil nyengir, tanpa disadari kemeja yang digunakan fatimah dilepasnya dan dia hanya menggunakan tengtopnya saja
"Ajak dia masuk!" ujar bagas yang tak tahan dengan tingkah lakunya, teman karib bagas langsung membawanya dikamar, fatimah langsung menyiapkan dirinya diatas kasur
"Kesinilah kalian" ujar fatimah seraya membukakan kancing celananya
"Wih kita dapet jatah" ujar suip yang tidak tahan dengan fatimah
"Nikmatilah" tanpa disuruhpun mereka berempat sudah beraksi atas ditubuh fatimah. Sedangkan bagas hanya menunggu diluar.
Flashback off
"Kau menjual Fatimah?" Hanum menatap keras pada pria yang sekarang beranggap enteng.
"Aku tidak menjualnya sama sekali. Kau tau? Dia memang nakal. Dia suka mabuk, tapi baru kali ini dia dijamak empat orang!" ujarnya seraya menyengir.
"Jika benar, siapa yang menghamilinya?" Kontak mata satu per satu orang yang berhadapan dengan Hanum.
"Aku akan menikahinya sekarang juga," tegas Suip.
Takkan ku biarkan fatimah membohongiku!. Batin Hanum, ia tidak terima dengan bohongan ini.
Hanum menarik tangan Firman, menatap kasar dari sudut ujung rumah sakit. Hatinya seakan tertimpa beban 100 kilo gram hingga ia tidak bisa tahan lagi. Firman telah membating stir mobil yang mereka tumpangi, rasa benci yang ada di Hanum sudah menjalar ke Firman. Hanum masih termenung, ia merasa sudah salah sangka. Sedangkan, gadis itu telah mempercayai buaya dari pada kumbang.
"Assalammualaikum, Fatimah!" salam Hanum, ia menjaga kondisi emosinya. "Anum?" Tatapannya menatap ke sosok orang di ujung, Hanum tidak hanya bersama Firman saja. Ia juga bersama pria yang ingin bertanggung jawab. "Maafkan aku num, aku telah membohongimu. Sebenernya ini bukan anak bagas, cuman aku cemburu melihatmu mencintai bagas! Aku ingin memiliki bagas, maafkan aku." Tak ada sepatah katapun dari bibir gadis di depan pintu, rasa kecewa melumuri dirinya.
"Aku akan menikahimu."
"Aku tidak mencintaimu."
Brak.
Suara pintu jelas terdengar di telinga mereka, gadis yang masih berdiri itu hanya memejamkan matanya. Ia sadar, terdiamnya bukan suatu keputusan yang baik untuk masalah ini. "Aku tidak mau menikah dengan siapapun! Aku akan mengurusi anak ini sendiri."
"Jangan pernah terfikir untuk aborsi."
Lamunan gadis itu buyar, ia tidak bisa bertindak lebih. Badannya berbalik begitu tegap, kakinya melangkah begitu pelan. Tatapannya kosong tak ada yang terbesit dibenaknya, kecuali masalah seberat ini.
__ADS_1
"Ayo kita pulang." Ucapan terakhir dari Hanum, tangannya menggandeng pria yang berada di sampingnya. Jika saja ia menjadi Fatimah, mungkin otaknya akan buntu. Tak ada jalan keluar, semuanya seakan sia-sia jika dijalankan.
"Kamu kenapa nangis?"
"Aku cuman takut, kalau nanti dia aborsi, masa depannya sudah hancur. Pasti dia tidak punya harapan lagi, dia wanita aku juga wanita pasti sama perasaannya pasti sama, jika aku jadi dia aku juga tidak bisa buat apa apa!." Firman hanya menatap gadis itu, air mata telah membasahi kulit wajahnya. "Aku nggak akan bisa mikir, keadaan dia bagaimana?."
"Aku akan berusahakan menikahinya aku juga tau derajat wanita," sahut Suip.
"Udah jangan nangis gitu dong, kan udah mau dinikahin num." Rasa pasrah berada di ujung, rasanya dirinya sudah dijemput ajalnya. Air matanya tak mampu dibendung lagi.
...SMAN Mukti 2...
"Nggak ada kata maaf gitu?" ujar pria yang berada dibelakang Hanum.
"Apa maksudmu!?" Suara kecil terdengar di telinga pria itu.
"Udah nuduh kayak kemarin, masih kayak nggak punya salah aja," ucap Bagas, sambari mengangkat kakinya untuk tertumpu di kaki yang satunya.
"He! Itu juga salahmu! Karena idemu! Dia hamil, dimana derajat wanita bodoh," kini suara Hanum menambah satu oktaf.
"Gila banget! Salah nggak mau ngaku," bantah Bagas, ia juga menambahkan satu oktaf pada suaranya.
"hey! Itu juga salahmu ingat! Disini aku juga tidak salah," elak Hanum, ia tidak merasakan kesalahan apapun pada dirinya.
"Dasar keras kepala!" bentak Bagas, sambari memandang jijik gadis yang berada didepannya. Bagas melangkahkan kaki untuk pergi, ia muak melihat gadis keras kepala ini.
"Ada apa sih Num?" tanya Firman, sambil melihat kekesalan yang ada diwajah gadis didepannya saat ini.
"Ntah! Pria bodoh itu!"
"Hmm." Rasa tanda tanya di kepala Firman membuat ia tidak bisa berkata banyak. Sedangkan, ia tau Hanum hanya membenci pria yang dia ajak bicara tadi.
"Nanti sore aku rumahmu," ujar pria itu, llu menumpuki puluhan tugas di depan Hanum. Hanum menatap sekilas tumpukan buku di depannya, "Emang ada yang susah pelajarannya?." Bagas masih menatap gadis yang sedang asyik memainkan ponselnya, "Ya, banyak sih. Nanti aja bahasnya, malu kalau di sini."
Posisi Bagas lebih nyaman di kursinya, ia lebih rileks karena tumpukan buku itu sudah hilang di meja kesayangannya. "Gimana ya, kabar fatimah?" Tangan gadis itu tetap menggeser beranda Facebook, "Fatimah nikah sama suip!" "Ha? Yang bener aja?" Tangan bagas kini meraih ponsel yang di pegang gadis itu, "Waduh, cair nih duit."
"Ada apa sih?"
"Ini si suip nikah sama fatimah," sahut Bagas, pipi merah telah membaluti kulit pituh dimilikinya.
"Yuk, nanti ke kosannya kita jenguk, Num." Mata gadis itu masih menatap pipi merah milik Bagas, pria pernah di kaguminya. Ia hanya mengangguk pelan mengiyakan apa yang di ucap Firman.
"Kayak cewek aja sih lu! Ketawa sampe merah merah tuh pipi."
"Ngapain sih lu datang juga?!." Keadaan semakin menyulit, membuat Hanum miris.
"Emm, Fir yuk kekantin aku laper," ajak Hanum, dengan nada rengeknya. Firman hanya mengangguk, lalu melenggang pergi bersama Hanum. Tatapan Bagas semakin tajam, melihat tangan pria itu menggandeng Hanum.
"Nanti sepulang sekolah, kita ketaman yuk. Aku mau bilang ke kamu sebentar," ujar Firman. Makanan Hanum yang ditelan terasa besar di tenggorokannya, tatapan Firman yang tak habis-habisnya memandang setiap gerakan gadis di depannya."Emm. Tadi bagas mau kerumahku katanya." "Kamu milih dia?"
Uhuk. Uhuk.
Apa yang dibicarakan Firman, membuat makanan Hanum tersangkut di tenggorokannya. "Udah minum dulu, nanti aja di bicarain."
Apa maksudnya?. Bantin Hanum dalam kebimbangan.
Message : Bagas
__ADS_1
Gas, nanti pulang sekolah aku gak ada dirumah nanti sore aja, bareng belajar sama firman ya. Maaf banget
"Yuk balik," ujar Firman, lalu mengandeng tangan Hanum.
"Fir, ya nanti kita ketaman sebentar gak papa kok," pekik Hanum, wajah bahagia membaluti Firman saat itu.
"Jadi nih ke taman?" Hanum hanya mengangguk pelan, tanpa membuka sedikit pita suaranya. Mereka segera menaiki mobil yang dipakainya, Hanum mengangkat kakinya memasuki mobil itu.
Tak ada sepatah katapun yang hadir di bibir mereka, otak Hanum hanya memikirkan bagas. Sedangkan Firman hatinya merasakan kebahagiaan.
"Udah sampe yuk turun," ucap Firman dengan tersenyum.
"Eh ya."
Hanum turun dari mobil, pria itu menggandeng erat gadis disampingnya. Hanum hanya menangkap permainan anak kecil. Ayunan berisi 2 kursi, kini yang dipandang oleh gadis itu. Ia menduduki kursi sebelah kiri, dan pria itu berada di sebelah kanannya. Mereka tidak membuka pembicaraan apapun, tangan kananku memegang es krim yang baru saja dibeli Firman.
"Hmm. Aku boleh tanya?"
"Hmm."
"Kamu suka bagas num?"
Bukan sekali ia bertanya tentang apa yang Hanum rahasiakan, kini matanya seakan mau copot, membulat menatap es krim. Sedangkan, otaknya mengotak-atik agar bisa menjawab pertanyaan itu.
"Kamu mencintai bagas num?" Pertanyaan kedua kali, hati gadis itu semakin cemas.
"Kalau kamu tidak bisa menjawab juga gak apa apa." Tangannya kini mengelus kepala gadis itu, tatapannya penuh kasih sayang.
"Num," panggil Firman.
"Dulu aku tuh dingin ya sama kamu, pas dulu ngaji bareng, aku kadang bentak kamu," lidahnya menjilati es krim yang ada di tangannya, "Tapi aku suka kamu, bagaimana kamu tenang menghadapiku, tenang saat aku memarahimu memandangiku, tapi aku yakin, semua pandanganku maupun sentuhanku akan aku halalnya nantinya jika kamu siap."
Ini bukan hanya satu, atau dua kali. Namun, ini yang ketiga kalinya. Firman membuat gadis itu menelan salivanya dengan berat.
"Hehehe, kamu nggak apa apakan num?" Firman beranjak berdiri, lalu pergi menempati posisi di belakang Hanum. Tangannya menganyunkan kursi yang dinaiki Hanum. Sering kali pria itu memetik bunga tanpa izin untuk membuat Hanum sebuah bando dan cincin dari bunga. Badan gadis itu sudah berada di tangan Firman, sering kali ia meronta-ronta untuk minta diturunkan. Namun sayang, pria itu sudah berhasil membawa badan gadis itu di ayunan.
"Ih," badan kecilnya sudah duduk di ayunan, "Nanti kalau dilihat banyak orang gimana?." "Biarin, ngapain dipikirin," bantah Firman, lalu ia beranjak melangkah menuju ayunan di depan gadis itu. Angin kencang yang diciptakan oleh Firman, membuat Hanum berteriak seakan dikejar oleh hantu yang ingin membunuhnya. Berkali-kali Firman tertawa sambari mencepatkan gerakan ayunannya.
"Ngapain teriak diem aja, gak roboh kok," tenangnya, gadis itu hanya memandang sinis.
Matanya kini beralih kepada jam tangan miliknya, "Pulang yok."
"Masih jam segini, Num."
"Ayo pulang kasian nanti Bagas kerumahku, aku nggak ada dirumah." Pria itu tetap sibuk mengayunkan ayunan yang mereka naiki, Firman tidak tuli apa yang dikatakan Hanum. Hanya saja, ia tidak ingin diganggu oleh siapapun.
...*******...
Montor berwarna merah terpakir rapi di depan teras rumah Hanum, tampak seorang laki-laki melepaskan helm yang dipakainya. Kakinya melangkah pasti, rasa bahagia menyelimuti hatinya saat ini. Pria ini menginginkan melihat gadis yang akan di temuinya. "Assalammualaikum," salam pria itu, dari luar rumah. Matanya meneliti setiap ujung rumah tersebut, namun nihil. Tak seorangpun yang menampakkan wajahnya. "Dimana sih dia, katanya sore ini udah sore kali."
"Kemana sih dia!" gerutu pria itu, ia tak bisa jika harus menunggu lama. Selang berapa waktu kemudian, suara mobil terdengar di telinga pria itu. Kini ia sudah menebak siapa yang datang.
Tin.. Tin .. Tin..
Kaki yang ia kenal keluar dari mobil itu, bersamaan dengan seorang laki-laki yang ia sangat kenal. Kesal kini terlukis diwajah pria itu, bibirnya sudah bersiap-siap untuk mencaci maki gadis yang ditunggunya. "Eh," gadis itu menghampiri laki-laki di ujung kursi depan rumahnya, "Maaf banget ya, aku baru pulang dari taman."
"Aku dari tadi udah nunggu udah 1 jam lebih. Aku nunggu didepan rumah kayak orang gelandangan, katamu sore, aku berangkat sore. Sekarang malah kamu jalan sama Firman, tanpa ngabarin aku sama sekali, tau gini aku nggak akan kerumahmu, Num," bentak laki-laki itu. Mata gadis itu berkaca-kaca, Bagas memandang dengan tak tega. Ucapannya membuat gadis itu menangis.
__ADS_1
"Maaf, aku nggak ... ." Bagas tak bisa melanjutkan ucapannya. Kini air mata gadis itu berhasil lolos, rasa sakit dihatinya. Ia terlalu rapuh jika untuk dibentak, Hanum melenggang berbalik badan. "Tapi jangan kayak gitu ngomongnya kan bisa, Gas." Kaki Bagas melangkah berat menuju Hanum, ia ingin meminta maaf dan merangkul gadis di depannya. Seketika, semua keinginannya berubah. Badan gadis itu telah di rangkul oleh pria yang disampingnya. Bagas hanya mengepalkan tangannya, ia tak bisa jika harus berulah lagi di depan Hanum.