
"Papa." Suara kecil terdengar ditelinga mereka. Hanum tersontak kaget, menatap keberadaan putranya sudah diambang pintu. Ia sangat beruntung, putranya datang disaat yang tepat.
"Kemari, Nak." Hanum merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh mungkin untuk memeluknya juga.
Putranya berlari kecil menuju ibunya, ingin segera membalas rentangan tangan ibunya. "Mama, kok ninggalin Iyan sih?" ucap Ryan, ia mengerucutkan bibirnya yang semakin membuat wanita didepannya semakin gemas akan tingkahnya.
"Aduh, Sayang. Papa aja belum meluk mama," kata Firman, kedua tangannya juga terlentang, menyambut kedua tubuh kesayangannya untuk mendekat.
"Kalian itu, kesayangan Mama." Mereka berpelukan begitu erat. Hanum memeluk Ryan penuh sayang, dan di atas ada Firman yang memeluk istri dan juga anaknya dengan penuh bangga.
Hangatnya dalam keluarga, membuat wanita itu tidak merasakan sudah berjalan dua tahun lamanya. Pelukan hangat yang dirasakan wanita itu setiap harinya, tidak henti-hentinya ia menyayangi mereka.
Pelukan mereka berkurang, Hanum memutuskan mengajak putranya untuk membatu neneknya yang sedang memasak.
"Eh, tunggu." Firman merogoh saku celananya, seakan mencari sesuatu benda yang sudah disembunyikan sejak tadi, "Ini untuk kamu."
Hanum memandang benda itu, "Eh, kok kecil ya hadiahnya?"
Tampak Ryan sudah bahagia diraut wajahnya, "Ini yang kamu cerita kemarin?" Tanpa tunggu lama, pertanyaan Hanum langsung terjawab singkat oleh anggukan Ryan.
"Makasih, Pa." Gigi susu milik Ryan terlihat jelas, membuat Firman tersenyum bangga atas perlakuannya terhadap putra kesayangannya.
"Tapi janji, jangan sentuh ponsel milik mama ataupun Papa."
Ryan mengangguk dengan cepat, lalu mengacungkan jari kelingkingnya, "Janji, Pa." Langsung mendapat balasan dari Firman, ia mengaitkan jari kelingking ke jari putranya.
"Ayo, kita turun." Firman sudah bersiaga, ia berjongkok menunggu kedatangan putranya, "Cepat naik, nanti kita terlambat."
Ryan yang memandang Papanya dengan tersenyum langsung berlari menuju punggung milik Firman, melingkarkan kedua tangannya dileher papanya.
"Mama mau ikut gak?"
"Superhero ku, duluan saja. Mama akan menyusul."
Sudah mendapatkan jawaban dari Hanum, laki-laki ini sudah siap menggendong putranya. "Mari kita meluncur duluan, bye bye, moms."
"Dada, Ma," kata Ryan. Tangannya melambai-lambai kearah Hanum, wanita itu juga membalas lambaian putranya dengan pelan.
Ryan anak yang baik, seperti orangtuanya. Ia menginjak usia dua tahun, masa kecilnya begitu lekat dengan keluarga. Hanum tidak tanggung-tanggung untuk memberikan kehangatan untuk putranya, apalagi dengan papanya, ia juga tidak mempermasalahkan uang jika berhadapan dengan putranya.
Hanum merayapi setiap sudut ruangan kamarnya, kamar yang baginya penuh dengan cerita. Ia tersenyum pedih, saat matanya memandang surat undangan pernikahannya dulu, masih tersimpan rapi di atas meja belajar miliknya dulu.
Matanya mendapati tulisan bercetak hitam, ia kembali tersenyum pedih. Apa harus dirinya meratapi nasibnya, ia benar-benar susah menjabarkan bagaimana sakitnya mencintai orang yang namanya berada di undangan itu.
"Nama yang bagus," lirih Hanum, tangannya membuka undangan itu pelan.
"Dulu, aku selalu menunggumu disini." Air matanya turun begitu saja, ingatannya mengulang kembali kejadian tiga tahun lalu, "Menunggu kabarmu yang tak kunjung kembali, Gas."
Hanum.
Aku mencintaimu.
Hanum menepis air matanya, ia mendengar orang yang persis dengan laki-laki itu. Matanya terbelalak menatap seluruh ruangan tidak ada seorangpun, hatinya kembali teriris, ia merasakan cemas, khawatir, bahkan merindukan laki-laki itu.
"Bagas. I miss you," kata Hanum, kini kembali air matanya jatuh tanpa izin.
Brak.
__ADS_1
Kaki Hanum melangkah cepat keluar jendela, ia menatap laki-laki yang dirindukannya. Senyum manis yang Hanum rindukan selama ini, tangannya melambai membuat hati wanita itu semakin rindu.
Laki-laki itu membawa sebongkah bunga kesukaan Hanum dimasa mudanya, ia membungkuk menaruh benda itu di bawah. Sebongkah bunga di geletakan di halaman rumah, Hanum berlari keluar hendak ingin mengambil sebongkah bunga pemberian laki-laki yang dirindukannya. Ia berharap bertemu laki-laki itu, tapi nihil. Setelah keluar, Hanum tidak mendapati siapapun di luar.
Hanum mengambilnya, menatap potongan kertas kecil di sana. Tinta hitam mengisi ruang kosong kertas itu, wanita itu tersenyum memandang kertas kecil yang baginya begitu bermakna untuknya.
Kamu milikku dia tidak berhak memilikinya
"Sayang?" Suara khas milik Firman memecahkan lamunan Hanum. Tangannya masih menyentuh kertas undangan pernikahannya lalu.
Wajah kaku, serta bibir yang ternganga. Ia baru sadar atas pertemuannya dengan mantan calon suaminya, itu tidak nyata.
"Kamu melamun apa?" kata Firman bertanya, membuat Hanum semakin gugup untuk menjawab pertanyaan itu.
Kedua tangan milik Firman menyentuh bahu Hanum, ia menuntun melangkah menuju tata rias miliknya. Pantulan mereka terlihat jelas, Hanum masih dengan wajah pusat nya, ia begitu gugup memandang mata suaminya di cermin.
"Kamu merindukan, Bagas?" Pertanyaan terlontar dari bibir Firman membuat Hanum semakin gugup, "Aku tau, aku telah merebut mu darinya. Jika memang kau masih mengingatnya, aku tidak masalah, karena harapanmu dulu, dia. Bukan aku."
Firman tersenyum miris, meski ia sebenernya tidak ikhlas berbicara itu, tapi ia sadar memang dia bukanlah harapan istrinya. Hanum yang menyaksikan tatapan Firman membuat hatinya semakin sakit, ditambah ucapannya yang membuat dia semakin merasakan bersalah.
Firman menatap pantulan bayangan istrinya, bola mata milik Hanum mengeluarkan air mata, "Kenapa menangis?"
Seketika Hanum berbalik, memeluk pria yang sudah menemaninya dua tahun itu. Rasa kehilangannya sama, sama seperti dimana ia merasakan takut kehilangan seseorang dimasa lalu.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak ingin terulang kembali," kata Hanum dengan menggelengkan kepalanya dibalik tubuh milik suaminya.
Sungguh, keduanya merasakan sakit teramat dalam. Mereka sama-sama menangis, Firman membelai rambut panjang milik istrinya. Ia berkali-kali mencium pucuk kepala Hanum dengan lembut, air matanya masih mengalir. Kenangan itu tidak akan mereka lupakan, meskipun berbeda cerita.
"Aku tidak akan melepaskan mu, aku sangat mencintaimu." Tangan Firman berlabuh di pipi Hanum, mengusap pelan setiap air matanya keluar.
Waktu yang sangat singkat, wanita paruh baya itu menatap masa depan yang ingin digapainya sangat sulit. Ia tidak bisa membayangkan kembali, bagaimana nantinya, ia tidak bisa jika hidup tanpa mereka, suaminya dan anak semata wayangnya.
Cahaya sinar masuk disela-sela kaca, menusuk kulit seorang ibu itu. Ia masih tertidur bersama putranya, ia tidak mendapati suaminya di atas ranjang bersamanya.
Ia menyadarkan dirinya, kakinya beranjak dari tempat tidurnya. Badannya begitu berkeringat, rambutnya seakan berantakan. Ia menatap pantulan bayangan dibalik kaca, wanita itu tersenyum lalu mengelus-elus perutnya yang kini masih rata.
Aku menginginkan Anugerah-Nya lagi. Batin Hanum, ia sangat mengharapkan seorang momongan lagi.
"Hanum, Sayang," teriak seseorang dari luar, ia menatap bibirnya hendak menjawab tapi sia-sia. Kamar mandi miliknya kedap suara, berteriak pun percuma tidak akan terdengar dari luar.
Suara langkah kaki terdengar jelas, pintu kamar mandi miliknya mulai digedor. Hanum menatap pintu itu yang masih bergerak karena mendapat pukulan dari luar, wanita menghela nafasnya. Ia tersenyum karena tingkah aneh suaminya, ia melangkah menuju pintu hendak membuka pintu.
Tangannya meraih gagang pintu menekannya ke bawah, matanya mengelilingi seluruh sudut kamarnya namun nihil tak ada seorangpun di dalamnya. Kembali ia menatap ranjang, ia tidak menemui sosok puteranya. Hanum keluar dari kamar mandinya, mengelilingi seluruh seisi kamarnya.
"Ryan," teriak Hanum memenuhi keheningan kamarnya.
Tampak langkah kaki berlari menuju kamarnya, ternyata itu adalah Firman. Wajah geram Hanum kini terpasang menatap keberadaan Firman yang masih ngos-ngosan.
"Bercanda mu keterlaluan!"
"Ada apa? Aku tidak mengerti maksudmu," ucap Firman, ia menatap kosong mata Hanum.
"Sudah ku katakan, jangan bawa-bawa Ryan jika ingin bermain denganku." Nada Hanum meninggi, ia tidak peduli jika Firman akan berbalik marah kepadanya.
Firman masih dengan tatapan kosongnya, "Aku sejak tadi bersama ibumu, Ryan tidur bersamamu."
"Ka–Kamu, tidak memasuki kamar ... Sejak tadi?"
__ADS_1
Firman menatap di seluruh penjuru, "Kamu di sini, aku akan mencarinya sendiri."
"Tap—." Belum sempat ia menyelesaikan bicaranya, Firman langsung melenggang pergi begitu saja.
Hanum yang masih terdiam kaku, otaknya kini berfikir begitu keras, pikirannya seakan terarah tidak jelas. Air matanya berlinang begitu saja, baru saja ia menginjakkan kaki di tempat kelahirannya, Hanum sudah mendapat musibah sebesar ini.
Baru saja, ia meminta Anugerah-Nya. Ia berharap bisa diberi kepercayaan untuk menjaga umat-Nya. Tetapi, apa yang dialaminya, ia sudah lalai menjaga puteranya.
Sudah dua jam berlalu, tapi ia tidak menemukan tanda-tanda kedatangan suaminya dan juga anaknya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, wanita itu benar tidak tau apa yang harus diperbuatnya.
Langkah kecil terdengar ditelinganya, ia menggelengkan kepalanya, wanita itu yakin ini hanyalah halusinasinya, seperti apa yang terjadi padanya kemarin.
"Mama." Suara kecil terdengar ditelinga Hanum, ia membuka kedua tangannya. Matanya mengerjap memastikan sosok anak kecil yang berada di depannya, ia sekali lagi menatap kembali anak itu.
Ryan memeluk erat mamanya, air mata lolos begitu saja dari Hanum. Tangan kecilnya membawa sebungkus kantong plastik hitam berukuran besar. Hanum melirik sedikit keberadaan kantong plastik itu.
"Nak, kamu darimana?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Hanum, ia mendapatkan senyum gigi susu milik putranya.
Ryan menenteng kantong plastik yang dibawanya, "Iyan tadi, bertemu dengan om baik hati."
"Siapa, Nak?" Hanum kembali mengamati baju yang dipakai putranya, ia mengingat kembali baju yang dipakai putranya kemarin malam, "Ini baju dari siapa, Nak?"
Ryan tersenyum lebar, "Dari ... Om Bagas."
Hanum terbelalak, jika dia tidak menjaga kesadarannya mungkin ia sudah pingsan mendengar nama itu, "Nak, nanti, kalau kamu bertemu dengan orang yang tidak dikenal, jangan langsung ikut ya. Tidak boleh nakal, ya. Jadi, Ryan harus sama Mama, papa, oma terus, selama disini, ya, Nak."
Kini ekspresi yang didapat Hanum adalah sebuah ketakutan, ia merengkuh tubuh Ryan dengan lembut, "Ryan, janji, gak bakal ngulangin lagi, Ma."
"Ryan janji gabakal ngulangin lagi ma," tatapannya dengan penuh takut. Tanganku merekuh badan kecilnya, dan Air mataku lolos lagi.
"Nak, jangan bicara dengan papa jika yang mengajakmu itu Om Bagas ya" ucapku pelan, dan kurasakan kepala Ryan mengaguk menuruti permohonanku.
"Sekarang kita turun cari papamu ya nak," tatapanku tulus pada Ryan, meski rasa takutku menjadi jadi saat ini.
langkah kakiku menuruni tangga, tanganku yang menggendong Ryan. Pikiranku belum tau kearah mana, kejadian ini memang sudah memory kecil untukku yang sulit ku lupakan.
"Oma, papa kemana ?" tanya malaikat kecilku.
"Ryan, kemari nak," tatapannya menuju padaku, beliau pasti tau tentang siapa yang membawa Ryan tadi pagi.
Aku melepaskan gendonganku dengan pelan, Ryan lekas berlari menuju ibuku. Pelukan erat yang aku lihat dari mereka, pandanganku beralih kesosok pria yang sedang tadi berdiri di ambang pintu.
Aku tersenyum tipis, melihat Firman tersenyum bahagia melihat Ryan yang berada disini.
"Kesayangan papa, kemari nak," ucap firman dengan membukuk dan melebarkan tangannya untuk menyambut tubuh malaikat kecil kami.
"Papa," senyum manis terlihat jelas di mata anak semata wayangku ini.
"Tadi kamu kemana sayang?" tanya suamiku seraya mengelus pipi Ryan.
"Tadi.." Ryan memotong bicaranya, menatapku dengan rasa takut. Aku hanya tersenyum, semoga dia tidak mengatakan apapun "Ryan di ajak sama tetangga depan"
"Berbicaralah jujur sayang tidak apa," ujarnya kembali seraya menatap tajam padaku, aku munundukkan kepalaku.
"Pa, es clim,"
"Kamu mau es krim nak? mari kita beli," Firman begitu bahagia, tapi tidak denganku dia seperti merasakan sesuatu.
__ADS_1