
..."Biarkan, aku berlari dari turunnya hujan, dan datangnya petir. Aku ingin merasakan perjuangan dirasa kecewa dan ketakutan."...
...~Siti Hanum Anggraini~...
...---------------------------------------...
Bulan Juli, inilah yang ditunggu gadis berusia 19 tahun. Baru saja bulan lalu ia lulus sekolahnya, kini dia akan menikah setelah minggu ini.
Bahagia menyertai seisi rumah Hanum, saudaranya berbondong-bondong mengucapkan selamat untuk keponakannya. Menikah muda, itu yang dipandang orang sekitar. Meskipun umur belum mencukupi matang, setidaknya mereka selalu ada setiap susah dan senang.
Semua telah dipersiapkan, undangan, tenda pernikahan bahkan gaun yang akan dipakai sepasang pengatin ini. Walaupun calon suaminya tidak selalu berada dalam pemilihan persiapan pernikahannya.
Sudah 3 bulan, Bagas merantau untuk menambah biaya menikah mereka. Namun, rasa khawatir dan tidak sabar segera ke hari H. Hanum selalu mengingatkan calonnya untuk lekas pulang, dan segera menemaninya di acara persiapan ini.
Drett.. Dret..
Bibirnya senyum merekah, pesan tertera dari layar ponselnya adalah calon suaminya.
Hatinya terpatah dua kali. Ini bukan pertama kali calon suaminya mengundur acara pernikahan mereka. Namun, ini sudah ketiga kalinya.
Perasaan khawatir, kecewa dan bingung. Bagaimana ia akan menjelaskan kepada mamanya, sedangkan ini berkali-kali.
Kakinya melangkah berat, jantung berdegup begitu cepat. Bokongnya terjun di samping mamanya, berulangkali ia membasahi bibirnya.
"Ma," bisik Haum. Matanya memandang beberapa baju yang di pegang mamanya.
"Iya, ada apa, Nak."
Bola mata gadis itu mulai basah, seringkali bibirnya melumati bibirnya. Seakan ia berada di gurun pasir, hingga menembus ke tenggorokannya begitu kering.
"Kamu kenapa, Nak?."
"Ma. Pernikahannya di tunda dulu ya," pinta gadis itu.
Rasa tidak terima terlihat di kelopak mata mamanya, beliau merapatkan bibirnya sampai menipis.
"Ini semua mintaku, Hanum belum siap minggu ini. Hanum masih bimbang, tolong pengertiannya ya, Ma."
Beliau tidak menatap anak gadisnya, gaun yang dipegangnya turun dari kedua tangannya.
"Terserah kamu, Nak."
Meskipun itu bukan jawaban yang memuaskan bagi Hanum, setidaknya ia berhasil membohongi mamanya tentang tertundanya pesta pernikahan ini.
*****
Berita pertundaan pernikahan gadis itu menjadi bahan perbincangan tetangga, mereka mengganggap Hanum terlalu meremehkan pernikahan.
"Eh, ada gosip terbaru," ujar wanita memakai baju hitam polkadot.
"Oh, itu ya, yang gagal nikah," timpal wanita memakai kemeja coklat.
"Eh," bentak wanita disampingnya, "Bukan gagal, tapi di tunda mbak."
Wanita yang mengawali obrolan itupun menyengir, "Biasa, anaknya wanita janda suka gitu. Aneh," matanya memutar ke atas, "Jangan-jangan Hanum menikah sama yang punya suami, idih."
"Itu mungkin saja ya, Mbak," bisik wanita berpakaian kemeja coklat, "Dia dapat karma dari Bapaknya."
Para wanita saling tertawa, apa yang dibicarakan terdengar di telinga Firman. Entah hatinya terketuk, atau seperti apa. Air matanya menetes begitu saja, hatinya begitu sakit.
Ia berdiri dari tempat duduknya, "Umi."
Umi hanya menoleh, "Apa benar pernikahan Hanum di undur?" tanya Firman matanya seakan mengharapkan jawaban baik dari uminya.
"Iya."
"Kenapa?."
Umi menghela nafas, "Hanum belum siap, mungkin itu hanya alasannya."
Kini dia menjadi bahan perbincangan. Batin Firman, lalu menarik nafasnya dengan kasar.
****
Wajahnya tergelam di lipatan tangannya, air matanya mengalir begitu derasnya. Apa yang ia harapkan, seakan harus menunggunya bertahun-tahun lagi.
"Bagas," batinnya teriris, terhempit, "Aku terlalu jauh melangkah."
__ADS_1
Pikir gadis itu saat ini hanyalah terlaksananya pernikahan, semua telah siap dan tertata baik. Sekarang? Apa yang diperbuat calon suaminya.
Tok.. Tok.. Tok..
Wajahnya mendongak, menatap pintu kamarnya di ketuk. Mata lesu terpapar di kelopak matanya, sebab air matanya begitu deras.
Kakinya melangkah beranjak dari tempat tidurnya, langkahnya gamang seakan tulangnya semakin lunak. Tangannya meraih gagang pintu kamarnya, menekannya di bawah lalu menariknya kedalam.
"Hanum," ujar pria sebayanya, senyuman indah terukir di wajahnya.
Entah kenapa? Seketika hati Hanum sedikit tenang. Ia menatap dua bola mata pria di depannya, perasaannya begitu merindukan sosok ini.
"Firman," bisiknya, gravitasi apa yang membuat badan gadis itu menempel di badan Firman.
Tangannya melingkar di pinggang Firman, begitu erat dan sangat erat. Pria itu tidak merespon balasan apapun, perasaannya begitu sakit saat dipeluk oleh wanita yang menolak lamarannya.
"I miss you."
Kedua tangan pria itu mendorong sedikit badan gadis itu, "Katakan sesuatu padaku, Hanum."
"I'am sorry, Firman."
Mata gadis itu berkaca-kaca, menatap begitu lekat kepada Firman. Bibirnya mengantup begitu rapat, hingga dia tak mempunyai daya untuk bersuara.
Kaki pria itu melangkah berbalik, meninggalkan gadis di sana. Hatinya seakan tertusuk beribu tombak, ia tidak menginginkan gadis yang pernah di cintainya itu menangis.
Badannya terhempas di tempat tidur yang siap menampung. Bayangan gadis dicintainya terlihat di kelopak matanya, ia tak mampu berbuat apa-apa.
"Aku," air matanya menetes begitu saja, "Begitu mencintaimu."
Tangannya meraih laci yang berada di sampingnya, air matanya berderai begitu saja. Beberapa foto tertata rapi di dalam plastik, wajah cantik memikat pandangan Firman. Ia benar-benar mencintai gadis itu.
Perasaannya tidak berubah, meski gadisnya menikah dengan orang lain. Kenapa masih utuh? Ia tidak mengerti tentang perasaannya.
Pukul 07.00 WIB tertera di alarm digital milik pria yang sedang terlelap tidur. Tangannya masih menggenggam foto kemarin, sampai ia lupa untuk mematikan lampu kamarnya.
Klek..
Wanita paruh baya berjalan menuju putranya, "Nak, bangun."
"Hanum datang, Nak."
Mukjizat apa? Seketika Firman bangun lalu mengangkat badannya dari kasurnya. Matanya seakan langsung sadar, nafasnya terengah-engah.
"Hanum? Kenapa ke sini umi?."
Umi tersenyum, "Tadi dibangunin gak bangun, pas denger nama Hanum langsung ngumpul nyawanya."
Firman menggaruk pelipisnya yang tak gatal, dari dulu sejak ia mengenal gadis itu, namanya mampu membuatnya terbangun.
"Ditunggu di depan, cepat kesana," ujar umi, lalu melipatkan selimut yang dipakai putranya.
Kakinya melangkah begitu bahagia, gadis yang memeluknya kemarin datang kerumahnya. Entah berniat apa? Namun hatinya terasa sedikit cemas.
Matanya menangkap dua sosok, Hanum tidak sendiri ia bersama calon suaminya. Hatinya terhempit dua batu besar, begitu sangat sakit.
"Ada apa?" Ucapan sinis terlontar di bibir Firman begitu saja, tatapan tajam mengiringi ucapannya.
Bagas menatap Hanum dengan lembut, gadis itu tersenyum lalu mengangguk, "Gini, gue kesini sama Hanum, ada perlu sama lu."
Tangan bagas mengotak-atik tas kecilnya, "Gue harap lu dateng bro," tangannya menjulurkan undangan bertema gold.
Firman menghempaskan nafas dengan kasar, tangannya meraih undangan itu, "Baiklah, gue datang."
Hanum tersenyum begitu manis. Firman menatap lengkung senyuman gadis itu, ia ingin membalas senyuman gadis itu tapi terasa begitu hampar.
"Yaudah, gue balik bro," pamit Bagas, laku menjabat tangan Firman dengan kasar.
Iya. Firman mengerti arti dari jabatan tangan kasar itu, sekarang Bagas mendapat segalanya, hidupnya begitu beruntung.
Matanya menatap dua punggung yang telah meninggalkan rumahnya, rasa sakit kembali hadir. Giginya mengerang, seakan ingin menghabisi laki-laki yang sesuka hatinya itu.
Matanya kini beralih ke undangan yang di pegangnya, nama gadis dicintainya tertera di sana. Bukan bersamaku, namun bersama orang lain.
"Undangan bernuasa gold."
Firman menoleh, "Ah. Abi ku kira siapa."
__ADS_1
Abi tersenyum geli, "Undangan dari Hanum?."
Firman berdecak, ia menelan salivanya begitu sulit. Seakan tenggorokannya tertekan oleh sesuatu, "Iya, Bi."
"Kau masih mencintainya?" Pertanyaan abi membuat Firman membulatkan matanya.
Ia menggeleng, "Itu tidak terpenting, Bi. Yang terpenting, mereka bahagia."
*****
Koper tersiap rapi telah di pegang Bagas, gadis itu masih menangis tersedu-sedu, ia harus berpisah lagi dengan calonnya.
"Tenang, paska pernikahan. Aku balik kok sayang," tenang Bagas, tangannya mengelus lembut rambut indah calon istrinya.
"Cepat kembali," rengek Hanum.
Bagas mendaratkan ciumannya di kening Hanum, "Secepatnya sayang."
Bagas menggeret kopernya, air matanya masih meluncur dengan mulus. Kakinya melangkah begitu tegap, rasa tidak rella meninggalkan wanita yang di nikahinya.
Semua orang menatap kepergian Bagas, tapi ia tidak menghiraukan semuanya. Baginya, ia punya kepentingan tersendiri daripada harus mempertanyakan pandangan mereka.
Hanum tetap mengekori calon suaminya, sampai berada di depan rumah. Mobil berwarna hitam sudah siap untuk di tumpangi Bagas, lambaian tangan mengakhiri pertemuan mereka.
Tangan lembut memegang pundak gadis itu yang tengah melamun kepergian calon suaminya, ia menghembuskan nafasnya seakan menutupi kesedihannya.
"Dia akan ke mana?."
"Ia akan kembali," kakinya melangkah berpaling, "di saat pernikahan kami."
Ia melangkah ke tempat ruang tamu, orang-orang telah pulang kerumahnya. Kini, Hanum hanya seorang diri.
"Hanum," panggil suara besar di luar pintu.
Matanya menatap kedatangan tamu di rumahnya, anak kecil berumur 4 tahun itu berlari menuju Hanum. Lalu, diikuti orang tuanya di belakangnya.
"Selamat ya," sambut Fatimah, ia teman lama Hanum.
Pelukan hangat yang diberikan Fatimah, ia sangat merindukannya. Senyum sampul manis tertera di wajah Hanum, mereka saling bertatap muka, Fatimah tersenyum kecil.
"Alhamdulillah, kamu bisa nyusul kami."
Hanum tersenyum miring, "bisa aja."
Anak kecil yang cantik, manis, dan imut. Itu yang di pandang oleh Hanum. Hatinya seakan tergoyah, pikirannya memikirkan kedepan.
"Num," suara itu membuat lamunannya buyar, "Bagas kemana?."
"Bagas." Bibirnya menjadi dingin seketika.
"Dimana?."
"Dia, memutuskan balik kerja. Ia akan kembali saat pernikahan kami."
Suip menatap calon pengantin itu, "Kamu yakin?."
Mata Hanum kini membulat, pertanyaan Suip bukan suatu lelucon.
*****
Apa yang di rasakan Firman, pandangannya begitu kosong. Ia menggempal undangan gila itu, rasanya harus bertepuk tangan begitu cepat.
"Aku harus kuat, Ya Allah. Ini adalah cobaanmu, yang mengurangi dosaku."
Tumpukan foto terbakar habis terlalap oleh api, dan diiringi dengan undangan itu juga menjadi abu.
Firman tersenyum miring menatap abu di depannya, "Aku sadar. Kau milik orang lain."
Air matanya mengalir begitu deras, seakan hatinya terenyuh ingin mengobrak abrik segalanya. Amarahnya tak terkendali, gadis itu telah hilang begitu saja.
"Arghhhh."
...----------------------...
^^^Percayalah tentang rasa tegar, jika dirimu percaya akan adanya rasa rapuh setelah merasa kuat setelah menghadapi semuanya.^^^
...~Firman Fimansyah~...
__ADS_1