KAULAH IMAMKU

KAULAH IMAMKU
KAULAH IMAMKU 14


__ADS_3

Laki-laki berkemeja hitam polos duduk di kursi milik temannya, sering kali ia menatap layar ponselnya yang sama sekali tidak menyala. Otaknya berputar, memikirkan kondisi istrinya yang hamil.


"Lu lebih baik pulang deh," saran Naeb yang memandang temannya sangat gelisah.


"Baiklah, gue pulang."


Laki-laki itu menjabat tangan teman sekantornya, ia melangkahkan kaki keluar dari rumah temannya. Pikirannya masih penuh dengan kebimbangan, tapi ia tak tau harus bagaimana.


Badannya memasuki mobil miliknya, tangannya meraih setir di depannya. Ia membelokan kunci di bawahnya, matanya menatap jarum panah kecepatan jalan mobil. Kaki kanannya menekan benda datar di bawah sepatunya, sedangkan matanya menatap kaca mobilnya.


Ia mengecek telepon genggamnya, menatap sekilas tapi beberapa kali. Ia mengharap ada orang yang menelfonnya untuk segera pulang, namun nihil.


Kini mobil telah beherti di teras rumah, matanya menatap pintu rumah yang terbuka. Tangannya mendorong pintu mobilnya, segera ia berlari kedalam rumah.


Pemandangan yang tidak mengenakan bagi Firman, semua hancur lebur karena ulahnya kemarin, ia menangkap seorang Wanita dengan baju dasternya. Wanita itu tergelempang lemah, kondisinya seakan sedang berada di ambang kritis.


Kedua tangannya mengangkat tubuh wanita yang tengah hamil itu, ia berlari kecil menuju mobilnya. Wanita itu mampu membuat Firman merasakan kesalahan yang amat terdalam, tubuh gadis itu tergeletak di kursi belakang mobilnya. Ia menduduki kursi supir, lalu membanting setir mobilnya dengan laju yang cepat.


Ia menghentikan mobilnya di rumah sakit, ia keluar dari mobil, lalu menarik pintu belakang dan mengangkat badan istrinya menuju ke rumah sakit.


Para suster menghampirinya dengan membawa tempat tidur pasien, laki-laki itu menaruh badan kecil milik istrinya dengan pelan.


"Bapak, tunggu sini ya," pinta suster itu sambari menghentikan langkah Firman.


Dokter itu melakukan tugasnya, dibantu oleh dua suster. Mata Firman menatap lemah pada objek didepannya, kesalahan itu terdapat pada dirinya.


"Silahkan masuk, Pak," ucap dokter itu, lalu melenggang keluar bersama susternya.


Kakinya memasuki ruang rawat istrinya, butir bening terjatuh di bola mata milik Firman. Istrinya kini berbaring lemas, selang medis menempel di tubuh Hanum.


Tangannya meraih jemari milik istrinya, "Sayang, bangun ya."


Air matanya lolos begitu saja, berulang kali ia mencium punggung tangan Hanum. Rasa bersalahnya begitu besar, jika saja bisa dirubah, mungkin saja ini tidak akan pernah terjadi.


"Aku dimana?" tanya Hanum dengan begitu pelan, ia menatap seluruh isi ruangan.


"Sayang, kamu sudah sadar?" Firman berdiri, tangannya merambat mulus di pipi istrinya, "Maafkan aku."


"Ada apa?"


"Aku egois, aku tidak memikirkanmu sama sekali."


Hanum tersenyum hangat, "Kamu darimana saja? Aku membutuhkanmu."


Air mata Firman kembali lolos di manik matanya, ia menggelamkan wajahnya di samping istrinya.


"Kenapa, Sayang? Kenapa menangis?" lirih Hanum, tangannya mendarat di atas kepala suaminya. Tatapan lembut terlontarkan pada Firman, ia tau apa yang dirasakan lelakinya.


"Kenapa gak bilang, dia sudah beristri?"


Firman menggeleng, ia tidak menyatakan apapun dengan pertanyaan ini. Baginya, ini jawaban yang begitu sulit untuk di utarakan.


Firman mengangkat kepalanya, "Aku tinggal keluar dulu ya."


Hanum mengangguk pelan disertai senyuman diwajahnya, laki-laki itu melenggang pergi keluar dari ruangan itu.


Hanum mengembuskan nafas dengan pelan, benda medis menempel begitu banyak di tubuhnya, "Bagas bukan milikku lagi, bukan hakku untuk mencampuri urusannya."


Hanum memiringkan badannya di atas ranjang, tangan kirinya terapit antara kepala dan bantal. Pikirannya begitu goncang, matanya begitu kosong.


"Hanum," panggil seseorang di belakang Hanum, ia berbalik badan menatap pemilik suara itu.


"Firman," ia melentangkan tubuhnya, "aku kira siapa, ternyata kamu."


Firman tersenyum manis, tangannya membawa sebungkus nasi untuk istrinya. Tidak tunggu lama, Firman membuka bungkus nasi lalu menyuapkan pada Hanum.


"Apakah, di rumah sakit ini tidak ada makanan?" tanya Hanum, matanya begitu polos.


"Aku rasa, kamu akan bosan makan yang disajikan rumah sakit ini."


Hanum membuka mulutnya lebar-lebar untuk suapan ke-lima, rasa bahagia tersirat di wajah laki-laki itu. Mata Firman menatap lembut istrinya, butir bening keluar dari manik indah milik Firman.


"Kenapa menangis, Sayang?" Tangan Hanum mendarat di bulatan pipi milik suaminya.


Firman menggeleng, "Tidak, hanya saja aku merasa bersalah."

__ADS_1


"Jangan merasa salah, aku sekarang tidak apa-apa."


Firman tersenyum manis, menatap istrinya dengan wajah tenangnya. Sejak dulu, Hanum sebagai penenang kesedihan Firman. Laki-laki itu menatap manik istrinya dengan penuh arti, rasa kesalahannya belum pudar dibenaknya.


Firman mengambil sesendok nasi, "Kata dokter, kamu harus dirawat disini dulu," sendok berisikan nasi itu menjulur tepat di mulut Hanum, "Sampai melahirkan nanti."


"Apa!?" Mata Hanum terbelalak begitu saja, padahal dirinya merasa hanya sakit yang ringan.


Firman tertawa kecil, "Kenapa harus kaget? Bukankah itu akan mempermudah proses melahirkan mu."


Hanum menggeleng cepat, "Dengar, aku tidak masalah jika harus melahirkan disini. Tapi, aku hanya sakit ringan kenapa harus dirawat sampai aku melahirkan?"


"Kamu masih stres, badanmu juga belum sepenuhnya pulih."


Hanum mendengar penjelasan dari suaminya hanya menaikan satu sudut bibirnya, ia tidak percaya jika ia harus dirawat dengan begitu lama.


"Nak." Suara menua mengisi ruang rawat milik Hanum, beliau tersenyum malu menatap anak dan menantunya semakin lengket.


Pasangan suami-istri itu tersenyum, Hanum menatap lekat wanita paruh baya yang masuk dalam ruangannya.


"Ma, sejak kapan datang ke sini?" tanya Hanum, matanya masih saja melekat pada wajah milik ibunya.


"Firman yang menjemputku, bagaimana keadaanmu?" Kaki beliau melangkah dengan lembut, kedua tangannya sudah siap untuk memeluk anak semata wayangnya.


"Baik saja, Ma. Anakmu satu ini kuat," ujar Hanum, kedua tangannya memeluk tubuh milik ibunya.


Firman menatap kejadian romance didepannya membuat laki-laki itu tersenyum hangat.


Bulan telah berganti, kehamilan Hanum kini semakin matang. Sudah 9 bulan telah berlalu, bayi kecil di perut Hanum akan keluar.


"Aduh," teriak Hanum, kedua tangannya meremas kuat seprai tempat tidur milik rumah sakit.


Firman tersontak kaget, "Sayang, kamu kenapa?" tanyanya, matanya menatap istrinya yang menahan sakit.


"Dok, Dokter." Firman berteriak sekeras mungkin, tangan mereka bergandengan dengan erat.


Suara langkah terburu-buru, alas sepatu milik dokter itu terbententur lantai hingga membuat ada suara dentuman begitu keras.


Wanita berjas putih ini mengecek keadaan Hanum yang melemah, "Istri bapak akan melahirkan."


Firman mendengar itu sudut bibirnya naik, "Kamu akan melahirkan," ucapnya dengan penuh kegirangan.


Firman hanya menatap acuh pada Hanum, tangannya mengelus-elus perut buncit yang akan tergelam itu, "Cepatlah keluar, Sayang."


Selang beberapa detik, Hanum sedikit mereda. Ia tidak merasakan sakit sehebat tadi, Hanum memejamkan matanya dengan pelan. Lengkung di sudut bibirnya sempat naik, pikirannya masih membayangkan kegirangan suaminya.


Firman menautkan alisnya, "Kamu kok nggak kesakitan?"


Mendengar pertanyaan itu Hanum langsung menatap tajam pada suaminya, "Kamu mau aku kesakitan lagi? Ha?"


Suara nyaring masih berada di telinga Firman, ia mengusap-usap telinganya berkali-kali, hingga suara nyaring itu hilang.


"Bukan begitu, Sayang." Firman menghempaskan pantatnya di sudut sofa.


"Ini sudah biasa, Pak," sela dokter itu, Firman menautkan alisnya menandakan tidak suka pada ucapan dokter ini.


"Biasa? Istri saya kesakitan. Langsung keluarin aja anaknya," kekeh Firman, tapi membuat dokter itu sedikit tertawa.


Dokter itu melangkah keluar, bolo matanya menatap keluarga dari pasangan suami-istri ini. Tiga orang paruh baya itu tersenyum manis kepada dokter, menatap hangat dan juga sebaliknya.


Abi dan ummi mendekat pada Firman, rasa bahagianya tiada duanya ketimbang Firman, "Nak, kamu sudah siapkan nama?"


Firman hanya menggeleng pelan, "Itu saja belum kami persiapkan."


Ummi yang menatap serius Firman tertawa kecil, "Umi punya nama bagus untuk anakmu."


"Apa itu, Mi?"


"Ryan Fimansyah."


Firman tersenyum bertanda dia menyetujui nama yang diberikan uminya, ia langsung melenggang keluar mencari dokter yang mengurusi istrinya.


"Dok," panggil Firman, dokter wanita itu membalikkan badannya.


"Kapan istri saya melahirkan?" Pertanyaan spontan terlontar dari Firman, ia merasa tidak sabar jika harus menunggu terlalu lama.

__ADS_1


"Sabar, Pak. Ini masih buka dua," jawab dokter dengan tenang.


Firman mengundurkan kepalanya, hingga membuat lehernya tidak terlihat, "Nggak bisa dibuka sendiri sampai seratus?"


Dokter itu tersenyum geli, "Nggak bisa, Pak."


Firman masuk kedalam ruangan istrinya, jawaban dokter itu baginya tidak masuk akal. Ia menatap istrinya yang sudah terbangun, badannya kembali dengan pulih.


"Sayang, udah bangun aja," Firman melengkungkan senyumannya, "Gak sakit lagi?"


"Oh, jadi kamu mau aku kesakitan?"


"Gak, iya 'kan. Salah paham, aku sudah sebel sama dokter ditambah lagi," jelas polos Firman.


"Lah, kenapa, Sayang?"


"Bagaimana mungkin, aku tanya kapan lahirnya katanya nunggu aja ini masih buka dua, terus aku bilang kenapa gak langsung dibuka seratus aja. Malah ketawa katanya gak bisa, kasian kamunya."


Hanum tertawa begitu keras, "Nak, nanti kalau lahir jangan kayak papamu, sukanya spontan."


Tawa keluarga besar ini memenuhi seisi ruangan membuat Firman memperlihatkan warna merah di pipinya.


"Aw, aduh."


Firman membulatkan matanya, menatap istrinya kini berjuang kembali, "Aduh, sabar ya, Sayang. Kamu kuat kok."


Hanum menggenggam erat tangan suaminya, peluh keringat bercucuran di pelipis calon ibu ini.


"Argh," geram Hanum, ia meremas kuat tangan Firman hingga tangan mereka benar-benar berkeringat.


Dokter bersama rekannya memasuki ruangan dengan terburu-buru, wanita memakai jas putih itu membuka tutup yang menutupi kedua kakinya.


"Persiapan," ucap Dokter itu lalu menyuruh calon ibu itu untuk bernafas dengan teratur.


Umi mencolek pinggang Firman, "Loh, Hanum mau ngelahirin."


"Ada yang jadi bapak baru nih," goda Abi, lalu merangkul istrinya dengan senyuman penuh isyarat.


"Ah, Abi. Ini situasinya khawatir," bantah Firman, tangannya masih mengelus-elus pucuk kepala Hanum.


"Tarik nafas," mata Dokter itu kembali menatap proses melahirkan, "Buang."


"Dok, bilang gitu mulu. Istri saya nih kesakitan," bentak Firman.


"Argh, sakit."


"Kamu ngeden terus, ya. Biar cepat keluar adeknya."


Hanum melirik sadis pada suaminya, "Ngeden itu sakit, kamu sana yang ngeden, biar tau rasanya kayak gimana?!"


"Masa sih? Aku harus ngeden kayak kamu, aku ngelahirin apa coba?" bantah Firman.


"Dikit lagi, Bu," ujar Dokter itu membuat Firman melompat-lompat kegirangan.


"Ayo dong, ngeden lebih kuat biar cepet keluar."


Mata calon ibu itu membulat, amarahnya menjadi-jadi berkat suaminya, "Dasar cowok."


"Alhamdulillah." Panjat syukur seluruh orang di ruangan itu, malaikat kecil yang dinanti-nanti sudah terlahir di bumi.


"Anaknya cowo, Pak, Bu."


"Selamat, ya," ucap suster itu, lalu menaruh bayi ditangannya didalam pelukan ibunya.


Firman mengangkat pelan buah hatinya, bibirnya mengumandangkan adzan begitu merdu. Orang disekitarnya menangis bahagia, karunia yang tiada duanya.


"Semoga saja, dia tidak memiliki sifat sama sepertimu," celetuk Hanum, menatap sinis suaminya.


"Terserah, habis ini aku mau ke dokter sebentar, tes kuping, rambut sama kulit."


"Kenapa?"


"Udah di teriakin, dijambak, ditampar juga. Nanti kalau mau ngelahirin lagi, aku buatin patung mirip aku, tusuk aja pakai pisau," jelas Firman.


Hanum mengerutkan dahinya, "Merasa kesiksa, nemenin istri lahiran?"

__ADS_1


Firman mengangguk antusias, "Firman!" Mata laki-laki itu membulat, memandang istrinya berubah menjadi singa.


"Mampus hidup gue."


__ADS_2