
Sudah satu bulan lamanya, Mas Firman tak pernah menyapaku. Sesakit ini cobaan-Mu? Bertahan dengan keluarga sedingin ini.
Drettt... Drettt
"Halo" sapaku dari telfon
"Hanum, kamu dirumah?" Ucapan dari telfon seakan terjadi sesuatu
"Iya, ada apa?" Suaraku mengisi keheningan "Firman ada dirumah?" Tanyanya kembali
"Ada, kemarilah jika kamu ingin bertemu dengannya Fat," jawabku dengan tenang.
"Aku segara kesana" sahutnya cepat, lalu menutup telfonnya sepihak.
Tak ada seorangpun dirumah, Mas Firman keluar dengan Ryan untuk jalan jalan, karena Mas Firman libur dan memanfaatkan bersama putranya. Aku bukan orang yang terlalu mencampuri urusan orang, namun ini harus aku lakukan, kenapa? Sejak Fatimah mulai berbicara tentang apalah itu, Mas Firman telah berubah. Bukan berarti, aku curiga tentang mereka, aku hanya ingin tau apa yang dibicarakan sebenarnya.
Pintu diketuk oleh seorang diluar, aku segera berdiri dan menghampiri pintu itu. Tanganku membuka gagang pintu itu, tatapan gugup yang aku pandang di depanku. Tak tau kenapa, dia begitu ragu dan gugup saat berhadapan denganku.
"Mari masuk, dan duduklah ku buatkan teh," ucapku manis, dia tetap menatapku dengan gugup.
"Firman tak adakah?" Tanyanya, aku hanya menatapnya manis.
"Mas Firman baru saja keluar sama Ryan. Oh ya kamu tunggu saja aku akan telfonkan Mas Firman."
"Soalnya aku buru buru, Num gitu."
Aku menyerngit, "Buru-buru kenapa? Bukankah kamu selalu menemaniku?" Wajahnya menunduk, "Ada apa? Kenapa menunduk seperti itu? Ada yang salah?"
"Num, bisakah Firman lebih cepat pulangnya?"
Aku tersenyum miring, aku menatap tajam Fatimah, "Racun apa yang kamu buat? Sampai-sampai suamiku sedingin ini?"
Dia menatapku dengan bingung, "Maksudmu apa?" Kini tatapannya semakin melemah, "Kamu menuduhku aku punya hubungan?"
Aku hanya menggeleng pelan, "Kita sama-sama seorang Ibu, memiliki anak dan juga suami," aku menatapnya begitu tajam, "Yang aku tanyakan hasutan apa yang kamu buat? Sampai dia tidak mempercayai sedikitpun diriku yang hampir empat tahun bersamanya! Apa yang kamu sembunyikan? Apalagi? Permainan seperti apalagi yang kamu buat? Hah?" Aku menggeram, amarahku tak bisa lagi terkontrol.
"Hanum!!" Teriak seorang pria yang berada di ambang pintu, tatapannya tajam kepadaku, "Apa yang kau perbuat? Apa ini? Kenapa menuduh Fatimah yang bukan-bukan?."
Aku tersenyum geli, "Apa yang bukan-bukan? Bukankah benar? Sejak kau berbicara dengan dia kau berubah? Dan kata-kata mu berubah! Ucapan tinggi selangit kemana? Hah?" Suaraku semakin serak, "Dengar! Aku sudah muak! Drama apa lagi yang kalian simpan! Aku butuh sosok Ayah untuk bayiku! Dan sekarang? Hahahaha, apa yang aku dapat?"
__ADS_1
Wajah Firman memerah, amarahnya tak bisa tertahan, dia menghampiriku. Tatapannya setajam elang, aku meneguk salivaku. Benar, aku tak seberani itu.
"Simpan baik-baik semua ucapanmu, itu tidak membuatku goyah untuk mempercayai bayi yang kau kandung adalah darah dagingku," tegasnya, matanya tetap menatapku dengan kebencian, "Jika kau muak, silahkan pergi, atau aku yang harus pergi?"
Benar saja, dia mengucapkan itu begitu fasihnya, "Baiklah, aku akan pergi! Jangan pernah mencariku! Aku titip Ryan dan Ibuku, aku akan merawat anak di kandungan ini sendirian! Aku tak butuh siapapun!" Kakiku melangkah pergi, air mataku mengalir deras begitu saja. Aku tak pernah berfikir, jika memang dia harus berkata seperti ini.
Semua baju milikku, tanpa baju yang dia belikan sudah tertata rapi di koper. Buku diary menemaniku, aku tak pernah terbayangkan jika dia akan segila ini. Langkahku cepat, aku tak menatap siapapun yang menatapku, suara kecil memanggilku. Aku ingin kembali, tapi ini keputusanku, dia telah memutuskan apa yang terbaik untuknya dan anak pertamaku. Meski aku harus merawat bayiku sendirian, aku tidak masalah dengan ini semua.
*****
Aku berada dirumah pamanku, tidak ada yang tau. Pamanku baru saja pindah, jadi beliau tak sempat mengabari ibuku tentang perpindahannya.
"Num, ada apa? Kenapa kamu harus pindah kesini?" Tanya Bibiku, saat aku benar-benar merasakan kecewa kejadian tadi siang.
"Bi, saya mohon, entah siapapun jangan katakan saya disini. Jika memang mereka mencari saya, saya mohon untuk berpura-pura lah mencari saya." Mohonku, sambari tersenyum menatap Bibiku.
"Baiklah, Bibi tau perasaanmu. Jagalah kesehatanmu, itu juga terpengaruh pada bayimu."
Aku tak tau bagaimana lagi, Mas Firman memutuskan begitu saja. Air mataku tetap menetes, tak bisa terhentikan. Aku begitu sakit, setiap ucapan Firman kepadaku. Aku sangat ingat betul, betapa setiap tekanan fasih diucapkan.
"Ibu akan merawatmu Nak, semua akan baik-baik saja. Dan bertemu dengan Kakak Ryan, Ayah, dan juga Nenek."
*****
"Hanum," teriak seorang paruh baya di luar kamarku, "Kamu tidak ingin periksa kandunganmu?"
"Astaga! Aku melupakan cek kandunganku," lirihku, lalu terbangun dan menyiapkan diri untuk cek kandunganku, "Iya bi, tunggu bi setelah ini saya turun." Aku segera turun, membawa buku kecil dan juga tas kecil. Mataku menatap di depan pintu, Paman dan Bibiku ikut serta mengantarku ke bidan.
"Ayo, Num," ucap pamanku, lalu menggandengku masuk dalam mobilnya, "Kamu sempat lupa memeriksa anakmu, kita akan melewatkan perubahan anak dikandunganmu."
Paman dan bibiku mereka belum diberikan Anugerah, dan aku sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Mereka keluarga keduaku menurutku, mereka sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri. Dan juga, mereka begitu menyayangi Ryan saat dia telah lahir sampai sekarang. Aku begitu bahagia memiliki keluarga senyaman ini, aku begitu bersyukur.
"Sudah paman, tempatnya disini" ucapku sambil mengelus perutku, "Mari turun bi." Kakiku turun dari mobil, aku di gandeng paman dan bibiku lalu memasuki klinik itu. Rasa bahagia terukir di wajahku, menatap dokter yang telah menungguku sedari tadi.
"Langsung kesini bu, kita cek ya bu," bu bidan mulai memeriksa kondisiku dan juga anakku, "Alhamdulillah, baik sehat bu. Dijaga slalu ya bu, diumur kandungan ini biasanya rentan. Jadi, jangan berpikiran berat, stressnya dikurangin, dan juga jangan beraktivitas yang berat berat dulu ya bu."
"Iya dok terima kasih," ucap terakhirku. Paman dan bibiku yang meneruskan pembicaraan dokter, aku pamit keluar untuk mencari udara segar.
Mataku menatap kaget, "Bagas?" Bisikku pada diriku sendiri. Dia bersama seorang wanita hamil disini, aku tak tau itu siapa entah istrinya sudah berbeda. Aku tak lagi menghiraukan dia, aku segara menaiki mobil pamanku yang terparkir didepan.
__ADS_1
Aku menatap ponselku, tatapanku kosong menatap layar hitamnya begitu lama. Tanganku meraih ponselku, daya hidup kutekan hingga logo ponselku terpasang dilayar. Menu isi ponselku tertera dilayar, 14 panggilan tak terjawab dari Mas Firman dan juga Ibu. Aku terlalu menikmati kesendirianku, hingga aku melupakan mereka. Rasa itu masih sakit, semua itu tak terjalin baik.
Drett... Dret..
"Hallo" ucap seseorang dalam telfon, air mataku menetes. Aku sudah rindu seorang dari balik telfon, aku sangat merindukan dia.
"Hanum? Sayang?" Ujarnya kembali, aku tak bisa berkata apa-apa, air mataku ingin turun.
"Kamu dimana? Kumohon bisakah kita bertemu?" Ungkapnya memecahkan keheningan, air mataku mulai deras, aku tak tau harus mengatakan apa? Rasa sakit dan rindu menjadi satu saat ini.
"Hanum, ternyata kamu disini" ucap bibiku, yang akan memasuki mobil, tanganku segera mematikan telfonnya sepihak.
"Iya bi, saya menunggu disini dari tadi" ucapku penuh senyum. Bibiku mencium keningku, senyum manis terdapat diwajah beliau.
"Baiklah, kita pulang ya?" Tanya pamanku, aku mengangguk pelan dan tersenyum manis.
******
Kamar indah tertata rapi, inilah kamar yang kini jadi milikku, sudah seminggu ada berada disini. Aku tak bisa menebak apa yang akan Mas Firman bicarakan, aku tak bisa menanahan tangis ini. Benar rasanya masih sakit, jika disaat itu aku tak selemah kemarin mungkin bibirku akan mengeluarkan hujatan begitu sadis kepadanya.
"Hanum! Sayang aku tau kamu disini?" Teriak seorang pria dari luar, aku tidak pernah lupa suara suamiku. Mataku menatap jendela terdapat mobil suamiku disana, dimana bisa dia tau? Dari mana ?
Brakkk...
Dobrakan pintu terdengar keras, pintuku didobrak oleh pria yang ku kenal. Tatapan seorang yang memiliki rindu itu yang aku lihat sekarang ini, dia meneteskan air mata menatapku.
"Sayang, maafkan aku," Dia melangkah maju berniat untuk memelukku, "Aku minta maaf"
"Kumohon berhenti!" Aku melangkah mundur untuk menjauh darinya, "Kenapa datang? Pergi!" Air mataku menetes begitu deras.
"Maaf, aku tidak berniat menyakitimu"
"Tidak! Kau tidak menyukai kehadiranku dan juga anakku! Pergi kumohon!" Mohonku, kedua telapak tanganku saling bertemu dan memohon kepadanya.
"Dengar! Dia anakku, maafkan soal kemarin!"
"Kau bilang anak ini bukan darah dagingmu! Bahkan aku bersumpah atas nama Allah, kau tetap saja tidak mempercayaiku! Kau bilang kau mengiklaskanku bersama yang lain! Kau bilang kau membuatku bahagia sampai aku benar benar memilihmu! Kenapa sekarang kau datang?" Ucapku sambari isak tangisku, "Ambil saja ucapanmu kemarin, aku begitu bertahan dengan sikap dinginmu! Aku bertahan demi Ryan, dan kau juga mengambil Ryan dariku! Sekarang apa? Kurang puas kau menyakitiku! Cukup Mas, aku tidak ingin mengikuti alurmu itu! Cukup! Dan kumohon pergilah! Aku tak ingin melihat siapapun!"
Pamanku bergerak, merangkul Mas Firman dan menyuruhnya untuk meninggalkanku. Terlihat air mata turun membasahi pipinya, entah kenapa? Rasa benciku tak kembali pulih. Dia membalikan badannya, dan melangkahkan pergi. "Dengar! Aku akan merawat bayi ini sendirian!" Ucapku lalu memeluk diriku sendiri, air mataku cukup deras.
__ADS_1
Aku tak tau, kenapa dia tau keberadaanku. Kenapa rasa benci ini tetap berada di hatiku, tatapan rindu itu masih terlihat jelas, meski dia tak ada disini. Air mataku turun begitu deras, mataku tetap membayangkan dia datang dengan sebuah kerinduan.