KAULAH IMAMKU

KAULAH IMAMKU
KAULAH IMAMKU 16


__ADS_3

Jika datang kenapa tidak diperbaiki saat kamu pergi, jika memang pergi kenapa harus kembali


-Siti Hanum Anggraini-


Buku kecil berwarna coklat muda sudah terisi cerita, semenjak pernikahannya Hanum sudah mengganti diary lamanya. Baginya semua hal baru harus diganti baru, senyumnya terbersit, sayatan di hatinya sebenarnya sedikit pulih.


Tangannya bergerak menggeser buku barunya di ujung tempat yang tidak pernah disentuh siapapun. Kotak berisi buku-buku bekasnya, ia menata rapi buku itu dan menyelipkan buku diary nya disela-sela.


Matanya menatap pantulan wajahnya di cermin, riasan make up begitu sempurna meskipun terlihat sederhana. Ia menambahkan sedikit warna merah muda di bibirnya, goresan pertama memberikan kesan manis, senyum itu terbit seketika.


"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Firman sedikit berteriak, ia berada dibalik pintu tertutup yang menunggu jawaban.


"Sudah," jawab Hanum. Ia meraih tas kecil berbentuk persegi, mengalungkan talinya di pundaknya.


Hari ini hari yang membahagiakan bagi Hanum.


Hari ini kami akan pergi ke rumah ibuku, aku sudah menunggu ini sejak kemarin.


"Tetaplah berjaga-jaga di sampingku ingat dia masih menginginkanmu, aku tidak ingin kehilanganmu kedua kalinya lagi."


Mataku berkaca-kaca, Firman sangat mencintaiku dengan penuh. Aku ingat dengan tinta pena baru yang melukis di kertas putih melukiskan hatiku dengannya, ia Bagas.


Sudah lama aku tidak melihat Bagas, dia menghilang begitu saja saat pernikahan kami dan digantikan oleh Firman.


"Mas, apakah Bagas masih ditempatnya?" ujarku dengan pelan berharap dia tidak marah dengan perkataan ku.


"Ada apa kamu masih mengingatnya apa kamu masih ... "


"Tidak. Aku masih ragu nanti kita ke rumah ibuku aku takut kalau dia akan mengajar kita."


"Bukan kita, kamu yang dikejar oleh dia rasa cintanya masih utuh. Apalagi, dia tau kalau aku menjadi suamimu mungkin dia akan menggantikan posisiku. Ah, jangan dibahas aku tidak ingin anak kita tau pada masa lalu kita dulu, karena dia masih belum tau apa-apa tentang kehidupan. Tapi, suatu saat nanti waktu dia menginjak dewasa aku ingin dia tau tentang ini."


Aku masih menangkap ekspresi terakhir pada wajahnya, aku tidak bisa untuk tidak menangis melihat dia sudah mengatakan ini dengan wajah suramnya.


Aku sangat bersyukur memilikinya saat ini meski dulu dia bukan harapanku.


****


Waktu telah berlalu, pagi sudah berubah menjadi siang perjalanan ini cukup jauh sudah 4 jam berada dalam mobil.


Ryan masih bermain dibelakang, aku menatap Firman penuh dalam. Selama 3 tahun berjalan ini aku sama sekali belum melihatnya seikhlas ini melepaskan ku. Aku belum tau pasti tentang bagaimana caranya berpikir tentang kejadian itu.


Ah, sudahlah aku cukup bersyukur memilikinya. Batinku penuh bersyukur.


"Kamu lapar?" tanya Firman menghadap ku


"Tidak, mungkin, Ryan lapar?" tanyaku sambil memandang kaca dalam mobil mengharap respon dari anakku.


"Dia tidur, jika tidak lapar kamu mau cemilan? Sudah berjam-jam kita di mobil kamu juga belum sarapan 'kan?" Tanyanya lembut padaku, aku hanya menjawab dengan tersenyum.


"Baiklah, aku akan pergi ke Alfamart. Kamu tunggu disini jangan kemana-mana."


Cup..


Lagi-lagi dia mencium keningku dengan tiba-tiba.


Dia keluar dengan pelan, lalu menatapku dengan senyuman lewat kaca pintu mobil. Sudah berapa kali aku mengatakan aku bersyukur memilikinya.


Firman seorang ayah yang unik, terkadang amarahnya kepadaku selalu ditutupi demi Ryan. Dia seorang yang perhatian, dia segalanya. Aku tidak bisa menjelaskan detail bagaimana sosoknya menjadi seorang ayah.

__ADS_1


Tok .. tok..


Aku langsung menghilangkan lamunanku, tatapanku berada dalam kaca pintu mobil. Secarik kertas ? Aku langsung mengambilnya.


Aku tidak ingin kehilanganmu


Tulisan latin berjejer rapi dikertas ini, tatapanku kosong. Apakah ini Bagas ? Bagas sudah mengetahui statusku ?


"Karna aku mencintaimu."


Dahiku berkerut, suara itu tepat pada telingaku. Kepalaku berbelok kearah suara itu, Firman tertawa lepas melihat ekspresiku saat ini


"Aku yang menulis itu, agar kamu tidak melamun dalam mobil. Jika aku keluar kamu jangan melamun, bahaya disini bukan tepat umum, Sayang," ucapnya sambil memegang kepalaku dengan lembut membelai rambutku.


"Kamu itu kalau gak iseng gak bisa ya?"


"Maaf."


****


"Maaf."


"Iya. Kamu tadi beli apa aku lapar," ucapku sambil memegang kantong plastik yang dibawanya.


"Katanya gak lapar? Kok sekarang lapar. Hayo," godanya lalu mengambil kantong plastik itu kembali jauh dariku.


"Ya emang si tadi gak lapar, terus aku pikir lama-kelamaan aku lapar. Ih, kamu itu."


Tangannya mengayuh sesuatu di kantong plastik itu, dia tetap mencari sesuatu di kantong plastik itu. Wajahnya sangat panik saat itu, aku hanya mengerutkan dahi.


"Kamu cari apa?" Aku membuka mulut "kok kamu kayak kehilangan gitu."


"Hm ... coba mana." Tanganku mengayuh kantong plastik itu dan dia menatapku dengan tersenyum.


"Apa harus sekarang?" tanyanya membuatku mengerutkan dahi, tatapannya tak bisa ku tebak.


"Apanya?"


"Ryan masih tidur? Dia belum bangunkan?"


"Ryan masih tidur emangnya kenapa?"


"Sekarang ya? Please."


"Apanya?"


Wajahnya mendekat padaku, aku langsung menutup mata. Mungkin saja dia ...


"Aku mencintaimu."


"Apa?" mataku membuka lebar, kami masih terhalang hidungnya yang menempel di hidungku.


"Nanti kalau dirumah ibumu saja. Ryan akan bangun bentar lagi. Cepat makan kamu," ujarnya lalu memalingkan wajahnya padaku.


"Mana? Aku lapar," ungkapku dengan wajah kekanak-kanakan.


"Ini, makan yang banyak jangan kalah sama, Ryan. Ya masa Mamahnya lebih kurus dari pada, Ryan. Hehehe." Tawanya membuatku tersenyum lebar.


"Papahnya juga makan yang banyak, biar bisa jaga, Ryan. Kalau pas mainannya mamahnya sita," ucapku ketus

__ADS_1


"Ya maaflah, Sayang. Dari pada Ryan kecanduan gadget mending dia main sama mainnya."


"Aku bangunkan, Ryan," ucapku lalu mengayuh ke tubuh Ryan.


"Buat apa? Dia masih tidur. Biar tidur dulu aku beli makanan dua jadi nanti pas bangun langsung makan yang aku beli ini."


"Ya sudah." Tatapanku tek lepas dari dia.


***


Setibanya di rumah ibuku, Hatiku merasa bergetar, tatapanku tidak fokus lagi.


Kepalaku slalu kugelegkangkan, tanganku menggenggam erat tangan firman.


"Kau tidak apa-apa?" Firman membuka pembicaraan.


"Tidak, mungkin cuman pusing saja."


"Ryan, kita sudah sampai, Nak," ujarnya, ia masih dengan tatapan penuh dengan kebingungan, dia belum pernah mengalami ini.


"Kamu gendong saja, Ryan. Aku akan memelukmu dari belakang," ungkap ku.


"Kalau kamu jatuh?" Tanyanya dengan tegas lalu menggendong Ryan di pelukannya, "Kamu jangan lepas kendali."


"Iya sayang."


***


"Assalamualaikum, Bu."


"Waalaikumsalam, Nak."


Pintu itu tergerak dari dalam, aku masih memeluknya dengan erat. Tangan kanannya menggenggam erat tubuhku di belakang, tangan kirinya memeluk Ryan yang saat itu masih tidur.


"Ya ampun kalian sudah datang, Nak. Cepat masuk," ujar ibuku, aku yakin saat ini mata ibuku menatap Firman dengan senyum miringnya itu.


"Nak Firman. Ada apa kepada mereka berdua?"


"Gini Bu, tadi Hanum ngerasa ga enak badan mau saya gendong tapi Ryan juga tidur jadi ya gini Bu. Hehehe."


"Ya sudah, Ryan ibu bawa, kamu bawa Hanum ke kamar."


Tangan ibuku sudah mengayuh badan Ryan, mengambil alih menggendongnya. Firman langsung berbalik dengan pelan, lalu menggendongku menuju ke kamar.


"Hehehe," tawa genitku, wajahku langsung bersembunyi di balik dadanya.


"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu," tanyanya dengan nada agak tinggi.


"Katanya gak mau kehilangan aku, masa gendong gini ngerasa berat sih." ujarku lalu melengkungkan tanganku pada lehernya.


"Kamu pura-pura?"


"Enggak kok, cuman ... "


Tiba tiba saja dia mencium keningku, melepaskan gendongannya di atas tempat tidur.


"Sekarang?" ujarnya menatapku dengan tidak jelas


"Sekarang?" Dahiku mengerut dengan cepat menatap wajahnya Firman.

__ADS_1


"Aku mau sekarang."


__ADS_2