
Minggu itu telah berlalu, hari ini adalah hal yang di nanti gadis itu. Ia memakai gaun berwarna toska kesukaannya, mahkota kecil di atas jilbabnya, dan make up yang cukup bagus untuk wajahnya.
Warna putih, hijau muda, dan merah muda mewarnai kelopak matanya, bulu mata yang lentik membuat matanya lebih indah. Serba warna merah tersebar samar-samar di pipi gadis itu, lipstik merah muda melengkapi semuanya.
"Cantiknya kamu, Hanum," pekik sahabatnya, yaitu Fatimah.
Calon pengantin wanita ini menunggu di kamarnya, melihat televisi lebar yang tersorot tempat penghulu. Hatinya berdebar begitu kencang, bahagia itu tiada duanya.
"Aku begitu gugup," lirih Hanum, matanya menatap layar televisi di depannya.
"Jangan gugup, suamimu akan datang menjemputmu," ujar Fatimah, lalu merangkul erat tubuh sahabatnya ini.
*****
Pesta dimulai dengan baik, tampak penghulu memutar jam tangan miliknya. Mereka duduk dengan rasa kegelisahan, jarum jam terus berputar.
"Mana calon suaminya?" tanya penghulu kepada wali Hanum, beliau begitu tergesa-gesa.
"Maaf, Pak. Mungkin sebentar lagi," ujar ibu Bagas, tangannya masih menggenggam erat tangan anak ke duanya.
"Sebentar lagi saya akan menikahkan orang," tegas penghulu, setiap menit matanya melirik jam tangannya.
"Ditelfon nggak bisa bu" ujar adik dari bagas, kini suasana ijab qobul serasa sudah menjadi kekhawatiran.
"Nak kau tau bagas berada" ujar abi firman yang sedari menunggu kehadiran bagas "Bagas belum datang?" tanya firman yang kini mulai merasa kecemasan.
"Belum, bagaimana ini penghulunya mau pulang lagi" ujar abi firman, baginya ini seperti pernikahan putrinya sendiri.
Hanum, kamar
"Bagaimana ini? Sudah jam berapa ini? Dia kok belum datang?" kini kecemasanku mulai.
Aku coba menghubunginya ternyata semua nomor tidak aktif, instragam ku di blok, WA juga di blok, di fb juga di blok.
"Bagaimana ini fat?" kini rengekanku mulai menjadi jadi "Sabar num, doain aja dia bakal dateng" tenang fatimah padaku.
"Bagas kemana sih" kesalku.
"Saya terima nikahnya Siti Anum Agraini binti Akbar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"Num, ijab qobulnya sudah di ujar" suara lantang kunantikan dan kudambakan sudah terdengar ditelingaku.
Pintu kamarku dibuka, mataku terbelalak seraya menangis, melihat sosok orang yang mengujarkan ijab qobul tadi.
"Firman" pikirku tak menyangka, ku peluk tubunya dalam tangisan yang tiada duanya.
"Maafkan aku, aku telah mengganti posisi bagas. Aku takut kamu kena ocean tetangga lagi, maaf aku lancang" ujar firman membuatku tergelam dalam tangis.
"Jika kamu belum mencintaiku, anggaplah aku sebagai bagas" kini air mataku begitu deras mendengar sebutan nama bagas, calon suamiku itu.
"Jangan tangisi bagas" ujar fatimah "Tapi.." ucapanku terpotong oleh fatimah.
"tapi apa? Bagas memang melamarmu! Tapi siapa yang mengucapkan ijab qobul yang lantang yang kamu dambakan? Siapa? Firman mau menanggung malu dimuka umum! Demi menyelamatkan martabatmu! Dan mana bagas? Dimana batang hidung orang yang kamu cintai? Kemana dia? Dia tidak menampakkan diri di ijab qobul yang slalu di nantikan istrinya!" kini air mataku terturun lebih deras sungguh sangat deras.
"Ini ada kertas untuk pembuatan buku nikah, ini pakai nama bagas atau.." belum selesai ucapan firman.
"Namamu" ucapku dengan tegas.
Firman menatapku dengan lekat lekat ku lihat penuh kebahagian padanya, dia mencium ubun ubunku, ku balas dengan senyuman hangat pada suamiku itu.
Aku keluar kamar tanganku digandeng suamiku itu, bukan bagas melainkan firman.
"Kenapa kamu mengujar ijab qobul?" tanyaku padanya seraya turun menuruni tangga
"Aku mencintaimu" ucapnya dengan senyuman, kini mataku tertuju disenyuman manis itu.
Dia tidak pernah merasakan benci padaku paska lamarannya tanpa ku jawab lalu ku memilih bagas.
__ADS_1
"Ya Allah jika memang firman imamku aku terima apa saja cobaan-Mu" batinku, kebahagian sudah terlihat diwajah umi abi dan juga mama.
"Jangan ngelamun" ujar firman mencubit lengan kananku "Ih apaan sih" jawabku seraya mengelus lenganku.
"Sakit ya?" ucapnya dengan merangkulku "Dilihat orang malu ih man" ujarku seraya mengalihkan tangan firman kembali kesemula.
"Wajarkan kita pengantin baru, pengantin barukan suka suka. Mau ku cium sekarang kamu juga nggak akan ada yang ngelarang" ujarnya seraya memajukan bibirnya menuju wajahku, benar benar dia melakukannya ditempat umum.
"Est, firman keburu aja" ujar wanita cantik yang memakai gaun longdress biru muda itu.
"Eh tante" ujar firman dengan salah tingkah "Kok tante sih firman?" goda mamaku.
kini benar benar pipiku memerah, aku hanya menundukan kepala ingin rasanya kututup telingaku aku tidak ingin mendengar jawaban dari firman
"Ibu mertua"
DAR!
Firman, ruang penerima tamu
"Ibu mertua" ujarku, tiba tiba hanum ambruk disampingku "Aduh" ujarku seraya menyangga badan kecilnya.
"kamu langsung bawa aja dikamar" ucap ibu mertuaku, dengan suami sigap (iyeeeh :V).
Aku langsung membawa hanum berada dikamar, ku bopong badan kecilnya lalu kuletakkan di tempat tidur yang sudah disiapkan ibu mertuaku buat bagas tapi sekarang buat aku 😂.
"Hanum, yalah malah pingsan baru aja ngomong ibu mertua gitu aja udah pingsan apa lagi kalau anu. Heheheh" ujar bodohku.
Ku elus elus rambutnya, ku sentuh hidung kecilnya. Benar aku tertawa keras berdua dikamar ini, ia begitu cantik saat tidur rasanya mata ini tidak ingin mengalihkan pandangan pada hanum.
"Bagas! Bagas!" teriak hanum yang masih tengah sadar, aku tersontak kaget dan juga sakit dia masih menyebutkan nama bagas.
"Hanum, sadar" ujarku seraya menggoyangkan lengannya "Bagas" ujarnya seraya memandangku.
"Maaf" lanjutnya dia langsung memelukku benar benar erat, ku balas pelukkannya.
"Ehmm hanum, jangan nangis" ucapku seraya mendorongnya pelan menjauh dariku, dia tidak sama sekali menjawab apapun bicaraku.
"Aku tau kamu masih mencintai bagas, nanti aku akan bilang sama pembuat surat nikah atas nama bagas, kalau bagas kembali dia sudah menjadi suamimu" ujarku benar benar aku sakit mengucapkan itu.
"Nggak usah man, bagas nggak bakal balik dan dia nggak akan mau nerima aku jadi istrinya" ucapnya seraya mengeratkan genggamannya pada gaunnya.
"Kenapa?" tanyaku mendekatkan pandanganku pada hanum, dia hanya terdiam tidak suarapun keluar dari bibir manisnya.
Ku peluk erat erat tubuhnya, ku cium ubun ubunnya berulang kali lagi dan lagi semoga hal ini dia bisa merasakan tenang di hatinya.
Tiga hari telah berlalu, hari ini adalah akhir pesta pengantin.
"Kita di kamar aja?" ujar Hanum, matanya menelusuri setiap isi ruangan kamar itu.
"Hm," badannya terletang di atas kasur, "Ya, gimana lagi. Di kamar, ya di kamar waktunya tidur."
Hanum hanya terdiam, matanya menatap langit-langit.
"Kita masih didalam berjarak gitu hanum?" ujar firman seraya melirik hanum yang dari tadi diujung kasur tanpa bergerak.
"Kayak patung hidup tau nggak sih?" lanjutnya kembali, hanum hanya melirik firman yang sudah tidur ditempat kasurnya.
"Aku mau ganti baju dulu" ujar hanum lalu melangkahkan kaki pergi "Ikut hanum" ucap nakal firman.
langsung dia berlari menuju hanum, langsung otomatis hanum membalikkan badannya menghadap firman lalu memberinya jarak dengan mengulurkan tangannya pada perut firman.
"Apaan sih" ujar firman lalu menatap tangan hanum diperutnya itu "Dasar otak mesum" bantah hanum lalu memalingkan wajahnya.
"Kan wajar sih hanum pasangan suami istri intip mengintip, hehehe" ujar firman sambil menarik tangan hanum, kini badan kecil hanum sudah melekat di tubuh firman.
"Udahlah, aku mau ganti baju dulu! Gerah tau" bantahnya lalu pergi meninggal firman, firman hanya tersenyum terbahak bahak melihat kelakuan istrinya.
__ADS_1
Firman.
"Coba ah ku lihat lacinya hanum sapa tau masih nyimpen foto bagas" ku otak atik laci kamar itu.
Aku hanya menemukan buku diary merah bergamabr hati yang retak tetapi kok digembok, aku mencoba mencari kunci itu.
Tak ada petunjuk apapun di diary itu dimana kuncinya, "Mana sih" kesalku dari tadi sama sekali tidak ada kutemukan kuncinya.
"Nah dapat" ujarku, aku mendapatkan kunci yang slama ini ku cari, kubuka buku diarynya di balik selimut, aku berpura pura tidur sebenarnya sih baca diarynya.
Rasaku makin ada, dan aku percaya jika bagas juga mencintaiku.
Kenapa semua berubah? Apa yang aku inginkan kenapa berubah?
Bagas duwi aji ku harap kau salah satu pria yang mampu membuatku tersenyum saat aku menyebutkan namamu
Aku rasa, ini sebuah perubahanmu
Aku tidak akan percaya perubahan diatas nama cinta, kecuali kau yang mengubahnya bagas
Kebahagiaan itu yang aku tunggu ucapan lamaran itu yang aku inginkan
Suamiku, izinkan aku tertidur pulas di sampingmu seraya mengucap syukur mendapat suami sebaikmu bagas
Kenapa kamu menjauh? Aku takut melawan rasa ini sendirian bagas
Firman fimansyah orang yang mampu membuatku merasakan kehilangan yang berharga
Aku merindukanmu firman, aku tak bisa berjalan sendiri tanpamu
Jujur aku m...
"Firman kamu tidur?" teriak hanum, aku langsung menutup diarynya tanpa aku melanjutkan bait berikutnya.
"Kamu sudah tidur? Cepet banget?" ujarnya seraya memelukku dari belakang, aku begitu merasakannya rasa itu yang aku inginkan.
"Hanum" aku membalikkan badanku. Kini kami saling berhadapan, jidat kami saling berpapasan.
Dia tidak memakai jilbab, rambutnya indah terurai sebagian berada di depan, kini tanganku merayap kerambut indahnya ku elus elus rambut panjangnya, dia menutupkan matanya.
"Hanum, diarymu ku pegang" ujarku seraya mencium keningnya.
"Apa?" kini matanya terbelalak melihatku, aku bangun dari posisi tidurku kini aku berhadapan padanya.
"Kamu kaget? Kamu marah? Aku sudah tau kamu merindukanku kan?" rayuku lalu dia memukul bahuku.
"Ih kamu ngotak atik barang sesuka kamu aja" ujar hanum sambil membolak balikkan badanku.
"Sayang sayang he" ujarku memegangngi kedua bahunya "Aku sudah tau, aku sudah membacanya lalu apa yang kamu cari" ujarku.
"Kamu.." ujarnya seraya matanya ingin menangis, "Jangan nangis, aku sudah tau dan tenang aku gak marah sayang" ujarku dengan senyuman
Kini hanya diam, tidak ada satu katapun "Ini malam pertama ya" ujaraku memecahkan keheningan dia hanya memandangku.
"Ngapain gitu" ucapku seraya memandangnya balik "Ngapain gimana?" tanyanya, di menghela nafas begitu kencang.
"Main main gitu" ucapku seraya tersenyum, sebernya sih ngode "Kayak anak kecil aja main" ujarnya, dia mulai memalingkan muka dia tidak menghadapku.
"Aku duluan apa kamu duluan" ujarku seraya merayunya, dia hanya tersenyum terlihat pipinya memerah.
"Kamu duluan?" tanyaku kembali dia menundukkan kepala "Apaan sih!" kini suara gugupnya dapat ku tangkap perasaannya.
"Aku ya duluan" ujarku lalu menatapnya serius, dia tidak memandangku dia hanya tersenyum lalu menggangguk pelan seakan juga ragu.
"Matiin lampunya biar nggak ada yang liat" ujarku dengan senyuman bangga terlintas dibibirku.
"Nggak kelihatan nanti" ujarnya dengan pipinya yang semakin memerah "Ya udah ayo" kini aku mulai mendekat pada hanum, ku elus rambut indahnya.
__ADS_1