KAULAH IMAMKU

KAULAH IMAMKU
KAULAH IMAMKU 3


__ADS_3

..."Dari doa aku menjagamu"...


...~Firman Fimansyah~...


...---------------------------...


 


 Satu rumah ada dua kepala, itu milik Firman dan Hanum. Mamanya sedang keluar, ada urusan dalam perkerjaan. Dan, Firman disuruh untuk menemani Hanum. Firman berpindah sekolah ke sekolah Hanum. Namun, ia tak sekelas dengan Hanum. Ia berada di Ips 3, karena ia baru saja pindah. "Kenapa kamu kehilatan murung?" Firman mencuri pandang disaat Hanum tak memandangnya. "Tidak aku hanya memikirkan tugasku yang belum selesai," balas Hanum, tanpa menatap sedikitpun Firman yang berusaha mengamati mood Hanum.


 Keheningan muncul, hanya terdengar suara kipas angin yang menyala. Mata Firman berkali-kali mencuri pandang Hanum, tapi tak ada suarapun dari Hanum. "Hey, kamu diam mulu. Ada apa? Cerita! Meski kita berjauhan ku harap kamu sedikit terbuka!" Firman membentak, matanya masih menatap Hanum yang masih terdiam di kursinya. "Nggak kok nggak apa apa Firman. Kamu mau teh? ku buatkan?" Hanum menggalihkan pembicaraan, tanpa ada persetujuan atas tawarannya. Hanum segera melenggang pergi begitu saja. Firman hanya menatap punggung gadis itu, ia tak bisa mengolah kata-kata untuk membuatnya nyaman untuk bercerita. “Sebenarnya kamu menyembunyikan sesuatu,” batin Firman.


 


 Tampak dari jauh, gadis itu datang membawa nampan dan dua gelas teh diatasnya. "Hehehe, sudah datang! Mau ditaruh mana?" Senyum manis terukir di wajah Hanum, terlihat jelas pipinya kini semakin membulat seperti buntalan. Hanum sebenarnya tau, laki-laki di depannya ini mengetahui segalanya tentangnya. Meski, hanya baru mengenal 2 hari, dia sudah bisa membaca isi di otak Hanum. "Taruh di situ aja ntar aku ambil sendiri" balas Firman. Suaranya masih dingin, sedingin kutub utara yang membuat Hanum menggigil mendengarnya.


 


 Sudah beberapa jam, mereka berada di dalam keheningan. Tak ada suara keluar dari mulut mereka, untuk membuka pembicaraan, membuat Hanum merasa kesepian. Hanum membuka suaranya, “Sampai kapan kita diem terus?”. "Trus mau bicara apa?" ucap Firman dengan khas kakunya. "Ehmm. Ngegame yuk!" Ajak Hanum, lalu merogoh ponselnya di saku kanannya. "Ngaji aja, ngabisin 1 jus. Lalu, gantian itu lebih baik dari pada ngegame," bantah Firman, lalu melenggang pergi begitu saja. Jika dia bukan orang baik, mungkin sudah kubunuh dia. Batin Hanum, menatap tajam pria itu.


 


 Mereka melantunkan Ayat Allah, suara merdu terdengar di telinga Hanum. Pemilik suara itu adalah Firman, orang yang sedang melantunkan Surat Al-Baqarah. Memang diakui oleh Hanum, membaca tanpa ada salah sedikutpun. Dan, itu berbeda dengan Hanum yang masih terbata-bata.


 


...*****...


... ...


 "Assalammualaikum" suara dari luar, membuat mereka terhenti membaca.


 "Waalaikumsalam" jawab mereka secara bersamaan, tanpa janjian.

__ADS_1


 "Hmm. Firman, aku tinggal bentar ya," Hanum mengucap dengan lirih, Firman hanya mengangguk pelan.


 Hanum bediri, menaruh Al-Qur'an warna merah itu di atas meja. Langkah berat yang dihentakan olehnya. Wanita dengan longdress warna hitam berada di depanku, dia seperti habis menangis. Terlihat dari mata sebabnya itu. "Fatimah? Ada apa kamu kesini?" Tanya Hanum, lalu mengajak temannya ini masuk kedalam rumah.


Tangisan isak terdengar ditelinga mereka berdua, Fatimah sulit untuk mengolah kata. Namun, ia berusaha untuk mengatakan apa yang harus dikatakan. "Aku mau ngomong sama kamu," ucap Fatimah dengan sedikit menahan air mata. Mata Hanum hanya memandang lemah, ia tidak tau masalahnya apa, namun ia merasakan jantungnya dipompa begitu keras.


"Num, aku tau kamu pasti sudah mengetahui semuanya," tatapan Fatimah mulai melemah juga, ia menahan tangisannya. Hanum langsung merangkulnya dan mengelus pundak kirinya. "Tim, aku tau kamu sedang sedih. Tapi ku mohon ceritalah sedetailnya, aku tau apa?" Ucap Hanum dengan nada lebih halus daripada biasanya. "Num, ku mohon aku takut rahasia kita ada yang tau. Hanya aku kamu dan Bagas yang tau aku takut." Fatimah merasa gugup, Hanum hanya menatap bolanya matanya dengan lekat lekat.


Hanum berusaha tersenyum, ia tau semua. Semua tentang kisah cinta Fatimah, itu yang harus dikuatkan di hatinya. "Ya hanya kita berdua, udah, jangan nangis." Mengapa cobaanku begitu menyakitkanku. Batin Hanum. Lalu, air matanya turun secara berlalu saja.


"Ada apa Hanum?" tanya Firman yang tergesa-gesa menghampiri Hanum, aku langsung menatap Firman dengan wajah yang tergesa gesanya. "Ah tidak Firman, ini temanku"ucap Hanum seraya menghapus air mataku ini. Mata Firman terlihat tidak percaya dengan semua apa yang Hanum katakan.


...🍁🍁🍁🍁...


... ...


 Empat teman karib, setanah air ini tertawa bersamaan di kafe dipinggir jalan. Terlihat, jika mereka sedang membicarakan sesuatu. "Hahahaha, lu tau? Gue apain tuh cewek bego itu," ucap seorang pria yang memakai jaket hijau botol. Dengan bangganya, ia mengangkat satu alisnya bertanda dia sedang bermain licik dipermainannya. "Emang lu apain? Fatimah sampe sampe dia curhat ke gue sambil nangis gitu?" Tanya seorang pria dihadapannya. Rasa penasaran telah mengkabuti dirinya.


 "Ya gue ciumlah, terus gue bilang kalau ada yang bahagiain aku selain dia, dia cuma jawab jangan tinggalin aku. Ya gue jawab aja, kalau gak mau di tinggal dia harus mau lebih seperti kemarin," ucapnya terhenti lalu memajukan wajahnya dihadapan temannya " tapi, sama temen gue, Hahahaha." Jawaban Bagas membuat temannya sulit menelan salivanya, namun ada rasa bahagia diantara mereka. Seluk beluk Fatimah belum segalanya terbongkar, dan sifat licik Bagas ia akan tau, seperti apa Fatimah sebenarnya. "Sumpah sadis lu, tapi lumayan juga kan bro."


... ...


... ...


 Hanum masih berada di ambang pintu. Tas ransel merah masih berada di punggung kecilnya, ia tak pernah perasaannya segelisah ini. Bismilah semoga tidak ada yang mengejutkan. Batin Hanum yang sering diucapnya. Kakiku menuju kedalam kelas, langkah tegap itu yang Hanum rasakan. Sepatu dan lantai seiring menyatu, dan menghasilkan suara khas. "Assalammualaikum," salam Hanum. Matanya menatap setiap siswa yang berada di ruangan itu.


 Serentak menjawab salam Hanum, senyuman banyak orang terlempar ke Hanum. Kecuali, iblis yang masih menatap tajam Hanum. Saat, gadis itu memasuki kelas. "Fatimah? Kamu kenapa?" Tampak Fatimah merasa resah, ponselnya berulang kaki diputarnya. "Nanti sepulang sekolah, aku ingin bercerita banyak hal, tentang hubunganku," bisik Fatimah, tepat di sela sela telinga Hanum. Rasa kegelisahan terasa di balik ucapannya.


 Waktu tlah berlalu, Bagas tidak begitu mengenakan kepada Hanum. Mereka saling memandang. Lebih tepatnya, memandang bagai mangsa yang ingin di terkam. Jam pulang tlah datang. Hanum dan Fatimah hanya berdua di kelasnya, sering kali Fatimah memastikan kondisi kelas bahwa ini sudah aman. "Num, aku sayang Bagas," Fatimah berkata dengan tekanan di intonasinya, matanya menatap Hanum begitu lekat. "Iya, lalu?" Fatimah langsung menundukkan kepalanya. "Tapi aku merasa, dia tidak menginginkan aku," ucap Fatimah dengan lemas, air matanya turun dengan pelan. Tangannya menggenggam ponsel miliknya, Fatimah mencoba membuka Instragram, menatap lekat akun milik kekasihnya. Foto beberapa wanita memenuhi isi Instragram pria gila ini.


 Sekarang bukan Fatimah yang sakit hati, bahkan Hanum juga lebih sakitya. Fatimah memandang Hanum, ia sedang membaca pikiran Hanum. Namun, ia hanya mendapat sedikit dari isi otaknya. "Num, kamu nggak apa apa kan?" Hanum membuyarkan lamunannya. "Ha apa trus gimana?" Hanum menatap Fatimah dengan teliti, "Berdoalah jika suatu saat nanti Bagas akan berubah." Bagas menginginkan apa?. Pekik Hanum dalam hati, banyak kata-kata cacian untuk pria yang pantas di panggil playboy.


 Hanum bukan orang yang mudah menaruh benci, jika ada yang menjadi korban ia merasakan iba. Itu yang diberikan oleh Fatimah. Walaupun akar akar kebencian itu tumbuh, Hanum tau bagaimana harus bijaksana dalam mengambil keputusan. "Hey!" Pria yang memiliki tinggi 175cm itu berteriak, menatap tajam kehadiran Hanun di ruangan itu. Dia menghampiri mereka dengan gagah, langkahnya lantang bagai jendral yang siap bertempur. Itu tidak pantas untuk di ibaratkan oleh pria sinting ini, penggila wanita itu yang pantas di nobatkan untuknya.

__ADS_1


 "Maaf num, aku harus pergi ditunggu bagas." Fatimah segera pergi menjauh dari Hanum begitu saja. Lalu, menyeret Bagas jauh dariku. Aku paham betul! Tentang soal ini. Batin Hanum. Mungkin, di hatinya saat ini hanya uraian kata-kata cacian untuk pria gila itu.


 Sudah berapa kilo ia berjalan untuk menuju rumahnya, tatapannya menuduk memandang serpihan debu yang ada di jalan. "Hanum!" teriak seorang pria dari depan rumah miliknya. Hanum menatap pria itu dengan lekat, pria memakai kaos warna mocca masih melambaikan tangannya. "Iya," teriak Hanum, ia ingat wajah pria itu.


 "Ibumu keluar. Nanti malam katanya baru pulang, aku disuruh untuk menjagamu. Jadi, menurutku nanti aku akan kesana saat ibuku sudah pulang," ucap pria itu dengan sedikit berteriak. Panjang kali lebar itu yang ada di pikiran Hanum. Pria itu membuatnya semakin menghancur mood-nya. Semenjak ada pria itu, Hanum harus ada di sampingnya saat mamanya tidak ada dirumah. Tatapan lesuh jelas di mata Hanum, ia hanya mengangguk pelan. Mengiyakan semua bicaranya, meskipun itu bukan suatu pertanyaan untuknya.


 Berkali-kali ia menghapus memory ingatannya. Meski itu bukan urusannya, namun Hanum memiliki perasaan yang sama dengan temannya. Walaupun, akan terlihat seperti orang ketiga dalam hubungan mereka. Setidaknya, ia tak pernah terfikir untuk merebut Bagas dari temannya. Kakinya melangkah pelan, kini sepatunya sudah bertemu dengan teras rumahnya. Rasa lelah terlihat diwajahnya, terukir banyak masalah di wajahnya. Namun, langkah gadis ini beralih menuju ke taman. Tubuhnya yang lemas membuatnya semakin frustasi, apalagi memandang galeri di ponselnya yang masih memiliki foto Bagas yang manis. Banyak kata yang diucapkan oleh Hanum, caci makian, bahkan hujatan. Atau, ia akan menyumpahi pria berwajah Arab itu dengan sadis. Ia tak bisa menahannya lagi, air mata begitu deras membahasi pipi mengembangnya. Kata-kata selingkuh, wanita, dan juga perusak kini terlintas di otaknya.


 Ku mohon ini bukan suatu yang adil. Batinnya.


 


 Jika dirinya kini menjadi malaikat pencabut nyawa, mungkin ia akan membunuh dirinya sendiri. Mengambil nyawanya, tanpa ada perhitungan. Cintanya sudah bertepuk sebelah tangan, dan kini apa yang ia dapat? Sebuah kenyataan yang sulit untuk ditelan. Sebrang rumahnya, ada mata yang slalu mengawasi Hanum. Iya, dia Firman. Pria yang tadi disuruh ibunya untuk menjaga anak perempuannya. "Dia kenapa?" Rasa penasaran telah menyelimuti pria yang memiliki badan gagah itu.  Jaket coklatnya sudah siap menempel di badannya. Pria ini memutuskan untuk menghampiri gadis yang sedang menangis itu. Entah, perasaan khawatir membalut setiap saraf-saraf otaknya. Kakinya berlari cepat, jantungnya berdegup begitu kencang. Ia tak pernah tau apa yang dilakukan gadis itu setelah ini.


 Gadis tergeletak di taman, itu yang ditangkap oleh mata Firman. Bibirnya kaku, untuk mengatakan sesuatu. Rasa khawatir itu berubah menjadi ketakutan, melebihi dari suatu trauma terdalam baginya. "Ha-num," ujar pria itu dengan terbata-bata, kakinya begitu berat untuk dilangkahkan. Tapi, ia berusaha untuk meringankan kakinya. Tubuh kecil Hanum kini sudah berada dipelukan Firman, lemas tak berdaya itu yang dilihat oleh Firman. Kaki pria itu melangkah masuk kedalam rumah Hanum, sering kali ia merasakan badan gadis itu mlorot dalam gendongannya. Namun, ia berusaha mungkin untuk gadis ini tidak jatuh.


 Sudah 25 menit ia tak bangun di atas sofa ruang tamu, badan Hanum semakin panas. Firman berkali-kali mengecek suhunya, dan menempelkan lipatan kain perasan air dingin. Upaya Firman kini telah maksimal, ia tidak tega menatap gadis itu lemah seperti ini. Wajah pucat pasi, terdapat di wajah Hanum. Rasa khawatir menjadi-jadi di tubuh Firman. "Hanum, jangan tinggalkan aku," lirih pria itu. Berkali-kali ia mengusap tangan gadis yang berbaring lemah itu. Berharap, ada respon dari Hanum. Pria ini meneteskan air matanya, hatinya rapuh dan begitu sakit menatap gadis itu tetap berada keadaan lemah, "Ku mohon bangunlah Hanum, aku sungguh mencintaimu." Mata gadis itu memberikan suatu respon. Namun, Firman telah terlelap dari tidurnya. Hanum sedikit demi sedikit membuka matanya, pusing itu yang dirasakan oleh Hanum.


Bruk.


 Lipatan kain yang terjatuh dipahanya, ia masih belum mengingat apapun, yang ia ingat hanyalah dia sedang mencaci pria itu. Meski, dari foto saja. “Hmmm. Aku kenapa? Kok bisa disini?” Batin Hanum. Matanya melihat keadaan sekitar, namun matanya tertuju pada objek yang berada di sampingnya. Sosok pria yang sedang tertidur lelap, Hanum tau pasti badan itu adalah milik Firman. Berniat untuk membangunkan Firman, namun hasilnya nihil. Ia tidak terbangun dari tidurnya, suara Hanum tak mampu menembus alam mimpi Firman saat ini. Hanum berubah posisi, ia sekarang sedang duduk disamping Firman. Menatap setiap sudut di wajahnya, pipi yang berisi terdapat di wajah pria ini. Namun berbeda dengan Hanum, ia memiliki pipi yang sangat kenyal dan bulat.


 Kakinya melangkah menuju dapur, berniat untuk membuatkan makan untuk mereka berdua. Menu ini, bukan yang spesial telur dadar adalah ide terbaik Hanum. "Hanum! Kamu dimana? Hanum," teriak seorang pria, yang tidak lain yaitu Firman. Hanum tersenyum licik, ia mencoba tak menampakkan diri pikirnya akan menyenangkan baginya. Hanum berlari di sebuah lorong, dimana itu menyatukan teras belakang yang diketahui oleh dirinya dan mamanya saja. Suara langkah kaki Firman terdengar jelas di ruangan itu, lebih tepatnya ia tidak sedang berjalan namun berlari.


“Apa Hanum di culik?” Pikir Firman. Kini pikiran Firman terombang-ambing, seperti tak ada harapan lagi untuk kembali berfikir positif. Ia mengelilingi setiap ruangan isi rumah ini. Langkahnya terdengar tergesa-gesa, sedangkan Hanum, hanya tersenyum bangga karena semua idenya ia membuat pria itu khawatir dengan keadaannya. Firman kini menaiki tangga, ia berfikir jika Hanum tidur dikamarnya. Nafas yang tak seimbang alurnya membuat Firman mengeluarkan biji keringat di dahinya. Hanum keluar dari lorongnya itu, menatap seluruh ruangan itu aman. Ia melangkahkan kaki Begitu pelan hingga ia bersembunyi di balik sofa besar tadi.


 


"Hanum, kamu dimana? Aku khawatir! Aku nggak mau kehilanganmu. Hanum ku mohon jangan bercanda!" Firman melangkah kesal, matanya tak menemukan sosok yang ingin ia temukan. Kakinya kini menuruni tangga, rasa khawatir sudah mendarah daging padanya. Ia mencoba merilekskan otaknya, pikirnya jika ia mencari dengan emosi itu tak akan menemukan hasil. Pria itu mulai menghempaskan bokongnya di tempat semula, dimana saat dia tertidur lelap.


"Cilupba."


 Tak ada respon dari pria itu, Hanum merasa bahwa dirinya gagal. Pandangan Firman kosong menatap gadis itu sudah berada di depannya. Dengan keadaan, yang sangat sehat. Benar? Dia tidak memarahiku?. Batin Hanum dengan penuh tanda tanya besar di otaknya. Ia mengalihkan posisinya berhadapan dengan Hanum. Ia langsung memeluk Hanum dengan erat, hingga pipi gadis ini begitu menempel di dada Firman. "Hanum, kau tau? Aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Disaat kamu pingsan tadi badanmu panas tinggi, aku takut terjadi apa apa denganmu. Ku mohon jangan diulangi, aku takut kehilanganmu. Aku benar-benar takut Hanum." Ciuman lembut terasa di ubun-ubun Hanum, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Selain berusaha bernafas di dalam pelukannya ini. Jantung Hanum berdegup begitu kencang, dunia seakan terhenti. Hanum merasakan ada rasa khawatiran dibalik pelukan pria itu.

__ADS_1


 "Aku sangat mencintaimu" ucapan itu sering diulang ulang oleh Firman namun, lirih diucapnya. Kini jantungku rasanya di pompa begitu kencang. "Firman, tolong lepaskan pelukanmu. Aku nggak bisa nafas" ucapku dengan mendorong badanku menjauh dari Firman. "Maaf Hanum aku khilaf" ucapnya dingin dia langsung menundukkan wajahnya dan menjauh dariku, aku hanya melihatnya dari perubahan 180° dia menjadi pria yang sangat peduli padaku. "Ehmm. Lupain aja, maaf tadi aku udah ngebangunin kamu tapi nggak bangun, trus tadi aku pergi ke dapur buat masak. Lihat kamu teriak teriak aku sembunyi, aku juga nggak tau kalau kejadiannya seperti ini, maaf aku yang salah dari kejadian ini, kalau seandainya aku nggak sembunyi gak bakal kayak gini. Maaf ya Firman" ucapku meliriknya sedikit, dia tidak menjawab apapundari pertanyaanku.


 Dia sudah berubah dengan sikap dinginnya sifat kakunya. Aku langsung pergi ke dapur untuk memasakkan Firman, jantungku masih dipompa keras entah apa yang terjadi, aku berkali kali menghapus memory masalah tadi tapi tidak bisa bisa. Kini masakanku sudah jadi, langsung ku berikan ke Firman sikapnya semakin dingin sejak kejadian tadi, tak ada suarapun yang keluar dari mulut Firman. "ini makanannya, dimakan ya aku mau keluar dulu buat beli garam di luar, ku tinggal dulu nggak papakan?" tanpa menjawab pertanyaanku, dengan cepat dia mengangguk, lalu aku meninggalkannya dirumahku sendiri.


__ADS_2