KAULAH IMAMKU

KAULAH IMAMKU
KAULAH IMAMKU 23


__ADS_3

Sejak kejadian kemarin, badanku sedikit meriang entah kenapa? Kemungkinan aku terlalu stress berat. Selimut biru menyelimuti tubuhku, badanku begitu kedinginan. Air mataku tetap mengalir deras, tatapan rindu itu tetap menjadi hantu bagiku.


"Aku juga rindu diaaaa" lirihku, wajahku bersembunyi di balik selimut.


"Rindu siapa, Nak?" Suara lembut membuatku mendongak, bibiku tersenyum manis kepadaku, "Ryan demam nak," terang beliau, membuatku terkejut.


"Ryan sakit? Ryan dimana?" Rasa khawatirku menyelimutiku.


"Dia dirumah, sekarang kamu balik saja. Mungkin, Ryan merindukanmu," papar bibiku, tangannya memelukku dengan erat, "Jangan ikutkan Anakmu dalam masalahmu, Nak."


Tanganku bergerak mencari seluruh bajuku tak terkecuali, koper kecil sudah siap menerima masuk bajuku. Rasa khawatir ini tak bisa terpungkiri lagi, meski Mas Firman salah aku juga ikut serta bersalah karena mengikutkan Ryan dalam masalahku dan Mas Firman. Air mataku turun begitu deras, aku tak pernah terfikirkan akan seberat ini lagi cobaan. Aku cukup egois dengan keputusanku untuk hidup sendiri bersama anak keduaku.


"Bi, setelah ini saya akan pulang, tolong bilang sama mama ya bi, suruh jaga Ryan sebentar" ujarku, lalu menutup koperku.


Kakiku melangkah pergi, ciuman bibi dan pamanku sungguh hangat dapat kurasakan. Taksi online sudah berada didepan, pamitku sudah cukup lama sedari tadi. Senyuman manis terukir jelas di wajah mereka, aku hanya menatap manis.


Ponsel kecilku berdering begitu keras, awalnya aku tidak menghiraukan tapi telefon itu berulang kali masuk dalam ponselku.


"Hallo," sapaku kepada seseorang di sebrang sana yang menelfonku.


"Hanum, kumohon temui aku sebentar di taman," jawab Bagas, suaranya yang fasih membuatku hafal.


"Ada apa? Aku sedang buru-buru Bagas!" Ujarku, benar rasa khawatirku semakin memuncak.


"Sebentar saja, aku ingin membicarakan sesuatu."


"Baiklah, tunggu lima menit lagi."


Taksi yang kutumpangi berjalan kearah taman, entah? Kenapa dia seserius ini. Yang terpenting saat ini, aku akan cepat pulang dan bertemu anakku.


Aku sudah berada di tempat yang dijanjikan, sosok Bagas berdiri tepat di depanku. Aku hanya menghela napas saat melihatnya hanya tersenyum memandangku, tak ada sepatah katapun yang diucapkan kepadaku. Lalu? Hal penting apa? Ingin memandangku dengan seperti ini?


"Mau apa? Kenapa dari tadi hanya memandangku?" Ucapku memecahkan keheningan diantara kami.


"Aku sangat merindukanmu, Num" balasnya, tangannya kini meraih tanganku menggenggam erat tanganku, aku hanya menghela nafas berat.


"Itukah yang dimaksud penting?" Tanyaku kepadanya, mataku tak terfokus kepadanya lagi.


"Aku ingin kamu menjadi milikku, Num" ujarnya, kakinya melangkah maju didepanku. Tangannya merangkul pinggulku dengan kuat, aku tak bisa melepaskan tangannya dari pinggulku.


"Aku sudah bersuami," mataku tak lagi menatapnya, "Lebih baik aku pulang." Tanganku berusaha melepaskan eratan tangannya yang melemah, aku muak melihat wajahnya yang terus-menerus memandangku. Kakiku melangkah pergi darinya, tak ada halangan apapun darinya.

__ADS_1


Aku memasuki taksi, sopir taksi segera menginjak gas untuk pergi dari taman itu.


Mata Bagas tetap menatap mobil taksiku hingga benar-benar pergi dari taman itu, aku tak bisa berfikir kenapa dia senekat itu untuk mendapatkanku kembali.


Sedangkan, kami memiliki pasangan hidup masing masing.


Taksiku berhenti dirumah yang kutuju, iya rumah ibuku. Tanganku segera memberikan ongkos antar kepada sopir, lalu melangkah turun dari taksi. Air mataku begitu deras, begitu rindunya aku dengan suasana ini.


"Assalamualaikum," salamku dari luar pintu dan disertai ketukan pintu. Tak ada balasan dari dalam rumah, aku mencoba mengintip di sela sela jendela, rumah sepi dan kosong. Mungkin Ryan ada dikamar, aku berlari menuju belakang rumah menatap jendela kamarku, tak seorangpun didalamnya. Kini rasa khawatirku menjadi sebagian jiwaku, melumuri tubuhku, tanganku bergemetar.


Ku raih ponsel kecilku, siapapun itu aku harus menghubungi mereka.


"Hanum, kamu dimana, Nak?" Sapa dari ibuku dalam telefon.


"Kalian dimana? Aku merindukan kalian?" Lirihku.


"Mama ada dirumah sakit, Ryan sakit demam berdarah, Nak."


Tanpa ada sepatah katapun dariku, aku langsung berlari dan memesan taksi. Ibuku langsung mengirimi alamat rumah sakit itu, rasa khawatir sudah menjadi-jadi, aku tak bisa menahan rasa tangis ini. Cobaan apalagi ini Ya Allah? Aku tak sekuat itu.


******


Butiran peluh membasahi wajahku, sering kali kuusap. Kakiku tetap berlari menuju kamar anakku, aku tak bisa harus diuji seberat ini. Diujung pemberhentianku, aku menangkap sosok ibuku yang mondar-mandir di ruangan ICU, air mataku mengalir begitu saja. Kaki berjalan pelan, hati bak tertombak, sakit dan rasanya membuatku ingin jatuh.


"Ryan sekarang dimana, Ma? Aku ingin bertemu Ryan sekarang?" Isakanku menjadi-jadi.


"Dia deman tinggi, Nak! Mama hampir ketakutan, dan, kamu disini Mama merasa sedikit tenang setidaknya ada kamu di sampingnya."


Aku mengajak ibuku duduk di deret kursi tunggu, tepat di samping ruang Ryan untuk melawan sakitnya. Semenjak tadi, aku tak melihat batang hidung suamiku, apakah dia belum tau keadaan Ryan?


"Ma, Mas Ryan dimana?" Tanyaku, ibuku hanya menatap lesuh, berapa menit ibuku menjawab, "Firman beberapa hari pulang slalu larut malam, Nak." Mataku terbelalak, aku tak tau bagaimana lagi harus menanyakan kabarnya. Curiga? Itu yang aku rasakan, dimana dia tidur? Lalu kenapa selalai itu!


Suara langkah terdengar jelas menuju kepada kami, tatapanku menatap sosok yang menghampiri kami. Rambut yang berantakan, kemeja yang tak rapi.


Seseorang itu semakin dekat, dan aku mengenali wajahnya. Mas Firman? Dengan keadaan seperti?, Langkahku berat, aku berdiri dari tempat dudukku, jiwaku tak sekuat tadi air mataku ingin menangis, aku ingin marah, ingin mencaci maki orang yang datang dengan serusuh ini.


"Mas, dari mana?" Tanyaku, matanya tak menatapku langkahnya melewatiku begitu saja, "Aku sedang bertanya, setidaknya hargai!" Aku menekan suaraku, langkahnya terhenti.


Dia tak memandangku sama sekali, atau bahkan berbalik untuk berada didepanku, "Aku tidak ingin bertengkar, aku ingin bertemu anakku," jawabnya, kakinya melangkah lagi melaju ke ruang Ryan.


Jika aku tak sekuat ini mungkin aku sudah tak sadarkan diri, dan itu akan memperburuk keadaan anakku.

__ADS_1


"Kemana saja? Sampai Ryan seperti ini?" Tanyaku, tak ada respon darinya. Benar ini sakit, rasanya aku ingin meneriakki telinganya.


Kepalaku sudah penuh dengan emosi, tanganku menggenggam pergelangan tangannya dengan erat dan menyeretnya jauh dari ruangan ICU.


"Kenapa menarikku disini?" Tanyanya, mataku menatapnya begitu tajam, "Katakan padaku! Dimana saja kamu?" Tatapannya sama sekali tak menatapku, bahkan tak sama sekali menjawab pertanyaanku, "Jawab!" Nadaku keras, amarahku menguasai diriku.


"Berhenti untuk bertanya! Itu bukan urusanmu! Kau yang mengatakan aku tidak untuk mengganggumu!" Terangnya, matanya setajam elang, namun aku tak berhenti menatap hal yang sama sepertinya, "Katakan! Dari mana!?"


Dia tak menjawab apapun, kesabaranku bukan solusi untuk menghadapinya, "Katakan! Kenapa sejak kepergianku Ryan bisa jatuh sakit! Dimana sosok bapak? Hah? Sampai Mamaku yang harus mengantar Ryan sendiri disini?" Tegasku, dia hanya melirikku tanpa sepatah katapun.


"Jangan membuatku marah Firman! Katakan saja? Aku muak dengan basa basi ini! Aku cukup menahan emosiku sedari tadi, tanpa sepatah katapun darimu!"


"Sudah kukatakan itu bukan urusanmu!" Bentaknya, aku tau semua ini akan terjadi, aku tau harus berbuat apa lagi. Dia terlalu dingin kepaku, "Percuma kemarin kau datang untuk menemuiku, mengakui bahwa ini anakmu. Aku tak tau, apa yang sekarang di otakmu, aku tak bisa harus menerka lagi isi otakmu."


Kakiku melangkah berat menjauh, menompang bayi yang dalam kandunganku. Kondisi ini tak baik pada bayiku, aku harus bisa memilah yang terbaik untukku dan anakku.


Meski aku bertahan bukan karena dia, setidaknya aku bertahan demi anakku. Anak pertama dan keduaku, aku tak harus mementingkan egoku, ada yang harus aku perhatikan lagi. Keadaan Ryan lebih penting dari segalanya.


"Nak," Sapa ibuku, aku menatap ibuku lembut, "Biarkan Firman menangkan diri, jangan terbawa emosi ya, Nak." Aku hanya tersenyum manis.


Jika memang semua ada jawabannya, mungkin masalahku ini ada jawabannya. Aku percaya Allah punya rencana yang baik, aku hanya merencanakan semua pasti ada jalannya.


******


Aku terbangun dalam tidur lelapku, ibuku tak berada disampingku, mataku mencoba untuk membuka alhasil, benar benar aku tak bisa membukanya.


Ruang Inap, Rumah Sakit


Langkah seorang pria berkali-kali terdengar, sampai ia harus memelankan tegapan langkahnya.


Matanya menatap seorang yang disayanginya, terlarut dalam tidurnya dikeadaan koma.


Anaknya belum sempat dikatakan sembuh, kini istri yang kemarin begitu tegas terhadapnya juga harus melemah keadaannya.


Tak ada pikiran lain selain khawatir di benak Firman, do'a yang slalu dipanjatkan olehnya.


Isterinya yang kini wajahnya pucat, membuatnya tersadar jika kesalahannya sudah melebihi batas. Sedangkan, isterinya mengandung anak keduanya yang pernah disia-siakan.


"Bersabarlah, Nak" sapaan wanita dibelakang Firman, terlihat beliau membawa makanan juga ditangannya.


"Iya, Ma" balas Firman, tak berkutik apapun tentang keadaan Hanum saat ini.

__ADS_1


Rasa sakit teramat dalam, itu yang dirasakan oleh Firman. Ia tripikal orang yang tidak ingin membagi masalahnya, apalagi masalah perasaannya. Ia mungkin, terbilang orang yang terbuka. Namun, ia tak pernah membagi apapun masalah perasaan, pedih, sakit, kecewa dan cemburu.


__ADS_2